
Brayen dan Zela sama-sama terkulai lemas di ranjang kantor Brayen. Memang ada tempat tidur di ruangan kecil khusus untuk istirahat Brayen ketika sedang berada di Kantor Ayahnya. Tetapi mereka baru melakukannya di kamar kecil itu sekarang ini. Biasanya mereka akan melakukan di ruangan Brayen.
Zela menghadap ke arah Brayen yang sedang menatap langit-langit kamar itu.
" Kak Ray." Panggil Zela lirih, Brayen menoleh ke arah Zela dengan senyum yang sangat tampan.
" Thank honey." Jawab Brayen yang hanya mendapat anggukan kepala dari Zela.
Brayen mencium kening Zela cukup lama dan dalam, lalu berlanjut mencium bibir Zela sekilas.
Sebenarnya Zela memanggil Brayen ingin menanyakan tentang tadi pagi ketika di Kampusnya.
" Apa Kak ada yang Kak Ray sembunyikan dariku?." Tanya Zela dengan nada pelan dan sangat tenang.
Brayen menatap Zela lekat, lalu tersenyum sekilas dan menganggukan kepalanya pelan, Brayen pikir mungkin ini sudah saatnya untuk Zela mengetahui yang sebenarnya. Brayen akan menceritakan semuanya kepada Zela.
" Apa kamu siap dengan apa yang akan aku ceritakan?." Tanya Brayen membuat Zela menautkan alisnya.
" Kenapa harus siap Kak?." Tanya Zela sedikit bingung kepada Brayen.
" Ini berkaitan denganmu yang." Jawab Brayen seraya mengelus puncuk kepala Zela.
Brayen kembali mencium kening Zela, dia teringat dengan kejadian dulu ketika Sandro begitu kurang ngajar mengedit foto wanita cantik yang sekarang berada di depannya ini.
Brayen memeluk Zela begitu erat, keadaan mereka masih sama-sama nak*d, apa yang di lakukan oleh Brayen sampai membuat Zela sedikit geli dan merinding.
" Kak." Panggil Zela lirih, merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka sekarang ini.
" Kenapa? Udah biasa kita melakukan ini yang." Jawab Brayen sengaja menggoda Zela, sontak saja Zela langsung mencubit perut Brayen yang terasa keras itu.
Ah... Suaminya ini benar-benar sempurna, tidak hanya wajahnya saja yang tampan, tetapi bentuk tubuhnya juga sangat indah dan sexy untuk lelaki.
" Jangan mulai deh, katanya mau ceritain masalah yang tadi pagi, aku udah siap dengerin." Jelas Zela membuat Brayen lagi-lagi tersenyum seraya menarik hidung mancung Zela dengan pelan.
Brayen menghela nafasnya pelan, Zela begitu menatap Brayen dengan lekat, bahkan jakun Brayen yang sedikit naik turunpun tidak lepas dari tatapan mata Zela.
" Kamu pernah dengar teman sekolahmu yang bernama Sandro?." Tanya Brayen membuat Zela terdiam dan sedikit berpikir mengingat-ingat nama yang baru saja di beritahukan oleh Brayen.
__ADS_1
" Pernah sih, kalau nggak salah dia hilang atau pindah gitu sekolahnya." Jawab Zela yang di angguki oleh Brayen.
" Terus apa hubungannya ma aku? Kata Kak Ray ini semua ada hubungannya ma aku?." Tanya Zela lagi yang sudah semakin penasaran.
" Kamu emang nggak begitu kenal sama Dia yang, tetapi dia begitu mengenalimu." Jawab Brayen ambigu yang membuat Zela menautkan alisnya semakin bingung tetapi juga penasaran.
" Maksudnya gimana?." Tanya Zela kini sudah mulai serius untuk mendengarkan apa yang akan di beritahukan oleh Brayen.
" Dia sering mengambil fo..." Jelas Brayen menggantung karena tiba-tiba kamar kecil yang berada di ruangannya di ketuk oleh Dimas.
" Ray...!! Buka." Teriak Dimas dari ruangan Brayen.
" Ray..!!." Terika Dimas lagi dengan nada suara yang keras dan sedikit tidak sabar.
" Ah... Shit." Gumam Brayen kesal dengan kedatangan Dimas yang selalu saja tiba-tiba.
Beruntung mereka sudah melakukan pertempuran, jika tidak Brayen akan sangat kesal dengan Dimas yang sudah menganggunya itu.
" Bentar yang, aku urusin mahluk yang satu ini." Ucap Brayen yang di angguki oleh Zela.
Brayen berdiri dari ranjang, dia lalu memakai baju dengan sembarang juga celananya, sedangkan Zela masuk ke dalam kamar mandi yang berada di kamar kecil itu untuk membersihkan diri.
Dimas memandangi Brayen yang terlihat sangat kucel dan tidak rapih, lalu menatap ke arah dalam.
" Lo sama Zela?." Tanya Dimas yang di jawab Brayen dengan mengangguk malas.
Begitu juga dengan Dimas yang ikut menghela nafasnya kesal, selalu saja ena-ena di ruangan kantornya. Sumpah Brayen ini seperti bukan big bos hotel saja.
" Brengs*k emang Lo." Kesal Dimas yang hanya dapat cengiran dari Brayen.
Zela istri Brayen, jadi dia mau melakukan apa saja bebas, termasuk melakukan di ruangan kerjanya. Toh kantor itu juga punya Ayahnya. Tidak masalah menurut Brayen, tetapi berbeda menurut Dimas yang merasa heran dengan Zela dan juga Brayen yang mau saja melakukan di ruangan sempit seperti kamar kecil yang berada di ruangan kantor Brayen itu. Meskipun elegan tetap saja sangat jauh berbeda dengan hotel yang Brayen punya.
" Mau apa Lo?." Tanya Brayen membuat Dimas teringat dengan tujuannya memanggil Brayen.
" Ah iya... Ada cewek nyariin Lo di bawah, nyari ribut juga dia sama Satpam dan yang lain." Ucap Dimas membuat Brayen menautkan alisnya.
" Ah... Pasti dia lagi." Gumam Brayen membuat Dimas mengamati Brayen dengan seksama.
__ADS_1
" Maksud Lo adiknya si brengs*k?." Tanya Dimas yang di angguki oleh Brayen.
" Ah... Sial, kenapa Gue nggak kepikiran ke situ." Jawab Dimas merasa kesal dengan dirinya yang tidak cepat tanggap.
" Biar Gue urus Ray, Lo kalau mau lanjutin celup-celup sama Zela." Sambung Dimas menggoda Brayen sedang tersenyum miring.
" Tapi ingat Dim, jangan katakan tentang Bapaknya dulu dia bisa malu, kalau dia masih nekat biar Gue temuin nanti." Jelas Brayen yang di angguki oleh Dimas.
Dimas segera pergi dari ruangan Brayen tanpa pamit terlebih dahulu.
" Dim..!." Seru Brayen lagi membuat Dimas menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Brayen.
" Paan lagi?." Tanya Dimas kepada Brayen.
" Ayah tidak tahu kan?." Tanya Brayen yang mendapat gelengan kepala dari Dimas.
" Bagus, kalau bisa Ayah jangan sampai tahu dulu Dim." Jelas Brayen yang mendapat acungan jempol dari Dimas.
Dimas segera pergi dari ruangan Brayen untuk menemui gadis yang kini sedang menunggu Brayen di bawah. Lebih tepatnya bukan menunggu tetapi membuat onar dengan para pegawai kantor Zafano.
" Gadis bod*h, harusnya Lo nggak harus ngelakuin hal yang memalukan seperti ini." Gumam Brayen seraya menggeleng.
Jika Brayen mengatakan kejahatan yang sudah di lakukan oleh Kakak dan Bapaknya, mungkin gadis yang bernama Oliv itu akan terpaku atau mati mendadak mendengar kejadian yang sebenarnya, Brayen juga sangat menyayangkan keluarga Pak Septa yang tidak langsung memberitahukan kepada putrinya tentang hal ini. Harusnya tidak ada yang perlu di tutupi dengan keluarga sendiri, sebelum salah satu dari mereka membela dengan memalukan diri sendiri, seperti apa yang di lakukan adik Sandro saat ini di Kantor Zafano.
" Siapa yang bod*h Kak?." Tanya Zela yang sudah selesai dari kamar mandi.
Brayen menoleh ke arah Zela yang sudah terlihat segar dan cantik, lalu dia mendekap Zela yang masih berdiri menunggu jawaban darinya.
" Bukan siapa-siapa sayang." Jawab Brayen membuat Zela menautkan alisnya curiga.
" Awas aja kalau sampai bohong, puasa setahun Kak Ray." Jawab Zela seraya melepaskan pelukan Brayen.
Sontak saja apa yang di katakan oleh Zela membuat Brayen terkejut sampai terbengong.
Melihat wajah tampan Brayen yang terlihat lucu membuat Zela tersenyum simpul.
" Ayo lanjutin cerita yang tadi, aku udah siap dengerin, kalau nggak mau puasa setahun jelasin sekarang dan harus kelar sekarang." Sambung Zela dengan lantang dan tegas, yang lagi-lagi membuat Brayen terbengong seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
__ADS_1
Bahkan wajah Zela sekarang terlihat sangat serius untuk mendengar penjelasan dari Brayen. Apapun yang akan Brayen katakan nanti, Zela sudah siap mendengar dan mengetahuinya.