Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Masalah Baru


__ADS_3

Kini siswa siswi yang tadi sudah berada di kelas untuk mengikuti pelajaran pertama tiba tiba berhambur keluar.


Mereka sama sama terkejut dengan apa yang dilihat juga didengarnya tadi, ini benar benar begitu menggemparkan seisi sekolah.


Membuat para Guru yang tadi sudah bersiap untuk mengajar akhirnya tertunda juga, bahkan mungkin akan mengosongkan mata pelajaran pertama.


Begitu juga dengan Zela, Seli dan Vani, mereka baru tersadar di saat kelas , hanya tersisa mereka bertiga saja.


Saling pandang bingung dan sama sama mengernyitkan keningnya.


" Astaga.. Anak anak pada kenapa sih..?? " Tanya Seli akhirnya.


" Tau nih.. Tapi kalian denger nggak sih suara gaduh gitu.. Pasti ada sesuatu..." Jawab Vani yang mulai penasaran.


" Kita liat yuk.." Ajak Zela kepada kedua sahabatnya.


Seli dan Vani mengangguk, lalu mereka segera bergegas keluar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Ketiga gadis cantik itu semakin terkejut, pasalnya siswi siswi itu mengerubun menuju UKS, pertanyaan demi pertanyaan mulai mencuat pada pikiran mereka.


Apa yang sebenarnya terjadi..???


Siapa yang sakit..??


Mereka harus tau ini, dan harus memastikan sendiri.


Hanya ada beberapa siswa yang masih tinggal di depan kelas, itu hanya siswa siswa yang tidak sekepo yang lain, atau mungkin mereka memang cuek dengan kejadian apa yabg terjadi.


Juga siswa siswi kelas 3 yang berada di lantai paling atas, mereka juga tak keluar atau memang belum tau kejadian ini.


" Ada apaan sih..?? " Tanya Seli kepada siswa yang masih santai dengan temab temannya di depan kelasnya.


" Ada yang pingsan katanya..." Jawab siswa itu.


" Siapa..?? " Tanya Vani yang udah penasaran.


" Gue juga kurang tau.. Sorry.." Jawabnya lagi membuat Zela, Seli dan Vani menganggukan kepala dan langsung berlalu menuju ke UKS untuk mencari tau sendiri.


Sampai di depan UKS, samar samar mereka mendengar perbincangan beberapa siswi dengan temannya.


Bahkan tak sedikit siswa yang membicarakannya juga, membuat mereka semakin dibuat penasaran.


Kali ini The Most Wantednya SMA itu benar benar ketinggalan berita.


Lagi lagi mereka mendengar siswa yang membicarakan hal yang sama.


" Fix.. Tuh anak pasti udah lagi bunting.. Ha..ha..," Ucap salah satu siswa yang juga di iyakan oleh teman temannya.


" Kalian denger nggak barusan tuh anak ngomong apa..?? " Tanya Vani yang di angguki oleh Zela dan juga Seli.


" Kita harus tau apa yang sebenarnya terjadi.." Sambung Zela yang diangguki oleh Seli dan Vani.


Mereka menuju beberapa siswi yang masih berdiri di depan UKS, samar samar mereka juga mendengar suara tangisan dari dalam UKS, itu semakin membuat mereka bingung.


Kalau ada siswa atau siswi yang sakit, oke itu memang mereka sudah tau, tentu saja karena semua siswa siswi berdiri di depan UKS.


Tapi siapa..? Itu yang masih menjadi pertanyaan mereka.


Sampai akhirnya Vani menemukab sosok Dewi yang merupakan teman sekelas mereka.


Dengan segera Vani menuju ke arah Dewi untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


" Wi...." Ucap Vani yang membuat Dewi menoleh ke arahnya.


" Loe tau nggak siapa yang di dalam..?? Kenapa sih..?? " Tanya Vani kepada siswi yang bernama Dewi itu.


" Vera Van.." Jawabnya singkat.


Sebenarnya Dewi juga merasa tidak enak, secara satu sekolah tau jik Vera and the geng musuh bebuyutan Zela CS.


Vani cukup terkejut, tapi dia masih ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


" Kenapa dia..?? " Tanya Vani lagi kepada Dewi.


" Dia pingsan di dalam kamar mandi, tapi nggak tau kenapa ada banyak darah juga di dalam seragam roknya..." Jawab salah satu siswi yang berada di sebelah Dewi.


Kali ini jawaban siswi itu mampu membuat Vani melotot, bahkan Vani sampai terbengong dan menutu mulutnya.


" Astaga.. Lo yakin..?? " Tanya Vani kepada siswi itu.


" Gue liat sendiri tadi pas di bawa Pak Abi ke UKS.." Jawabnya lagi membuat Vani menganggung tapi masih dalam keterkejutannya.


" Oke Thanks ya.." Jawab Vani yang diangguki olehnya.


Vani segera berlalu menuju dimana Zela dan Seli sedang menunggu, jujur saja ketika tadi Zela berada di kerumunan banyak siswi dia tidaklah tahan dengan bau parfum yang tercampur begitu banyak.


Zela terus merasa mual, padahal sudah lama perutnya itu baik baik saja.

__ADS_1


Alhasil dia memutuskan untuk menunggu di tempat yang tidak begitu banyak siswa siswi, dengan ditemani Seli tentunya.


Huffh.... Hufh...


Suara nafas Vani yang ngos ngosan.


" Gimana Van..?? Terus siapa yang pingsan..?? " Tanya Seli yang sudah begitu penasaran.


" Kalian harus siap dengan berita ini..." Ucap Vani yang malah membuat Zela dan Seli semakin penasaran saja.


Zela dan Seli sama sama mengangguk.


" Vera..." Jawab Vani singkat, tapi mampu membuat Zela dan Seli seketika memelototkan matanya dengan sempurna.


" What...?? " Ucap Zela dan Seli barengan.


" Serius..?? " Sambunh Seli yang di angguki oleh Vani.


" Dia pingsan..?? Terus anak anak sampai heboh kayak gini..?? " Tanya Seli meyakinkan.


Vani langsung menggeleng, sedangkan Zela masih dalam diamnya, Zela memikirkan sesuatu.


" Dia pingsan tapi sampai pendarahan... Kalian inget nggak tadi tuh cowok ngomong apa..? " Jelas Vani membuat Zela dan Seli teringat dengan apa yang dikatakan oleh cowok tengil tadi.


" Astaga.. Berati bener.." Ucap Seli begitu terkejut.


" Gue juga nggak nyangka tuh anak sebin*l itu.. Gila banget sih menirut Gue kalau sampai bener bener hamil.." Jelas Vani kepada kedua sahabatnya.


Tak lama terdengar suara mobil ambulan datang, Beberapa Guru juga teman teman Vera keluar dari UKS, begitu juga dengan Vera yang masih pingsan langsung di bawa menuju ke ambulans.


Sebenarnya sudah sedari tadi pihak sekolah ingin membawanya menuju rumah sakit, dengan mobil sekolah, tapi mereka takut melakukan tindakan dulu sebelum pihak rumah sakit datang.


Zela, Seli dan Vani melihat jelas teman teman Vera yang sedang menangis takut terjadi apa apa dengan ketua geng mereka.


" Apa mereka tidak tau apa yang diperbuat oleh Vera sebenarnya..?? " Tanya Zela begitu pelan, terdengar seperti gumaman.


" Gue rasa nggak deh Zel.. Liat mereka begitu takut dan sedih melihat keadaan bakwan.." Jawab Vani pandangannya masih mengarah kepada ambulan.


Sampai akhirnya ambulan itu tak terlihat lagi, membawa Vera dan juga teman temannya, begitu juga dengan beberapa Guru yang menuju Rumah sakit dengan mobil pribadi.


Dan juga siswa siswi yang di bubarkan untuk menuju ke dalam kelas, meskipun fix.. Jam pelajaran pertama sudah pasti kosong.


" Gue kasihan..." Ucap Zela yang sontak membuat Seli dan Vani menoleh kepadanya tak percaya.


" Gue nggak salah denger kan barusan..." Sindir Vani kepada Zela.


Seli dan Vani mengernyitkan keningnya mentap Zela.


" Kalian tidak tau.. Kadang gue aja ada sedikit rasa malu sama anak anak karena di masa SMA gue udah lagi hamil, dan kalian pasti tau lah banyak anak anak yang ngomongin gue di belakang, mungkin juga ada yang bilang gue kegatelan atau apalah.. Tapi gue masih beruntung karena Gue ada suami, coba kalau itu benar terjadi sama Vera.. Gue nggak tau dia bakal sekuat apa ngehadapi ini.." Jelas Zela membuat Seli dan Vani terbengong.


Apa yang dikatakan oleh Zela memang ada benarnya, sudah dipastikan juga jika Vera tidak akan lagi bisa melanjutkan sekolah, juga tidak akan diterima di sekolah manapun.


" Lo bener Zel.. Meskipun tuh anak sering buat kita kesel.. Tapi gue juga kasian kalau benar benar terjadi.." Jawab Seli.


Hufh...


Lagi lagi Vani menghela nafas panjangnya.


" Gue merasa bersyukur banget, Lo hamil udah punya suami Zel.. Coba kalau nggak..." Cletuk Vani yang sukses membuat Zela dan Seli menoleh ke arahnya dengan tak percaya.


" Astaga Vani...." Kesal Zela yang langsung mencubit pinggang Vani.


" Auw... Zela ikh sakit...." Kesa Vani yang malah dapat gelitikan di perutnya.


Ketiga gadis cantik itu akhirnya menuju ke kelas, dimana teman teman mereka juga sudah berada di kelas, masih dengan obrolan yang sama seperti tadi, tentang Vera yang pingsan dan mengeluarkan banyak darah.


Sedangkan di apartemen mewahny Brayen masih tertidur, bahkan dia masih enggan mengangkat ponselnya yang dari terus berbunyi, meskipun dia mendengar tapi rasanya begitu malas.


" Akh.. Siapa sih..?? " Kesal Brayen akhirnya meraih ponselnya yang berada di sebelahnya.


Seketika matanya melotot melihat no yang tertera, no ponsel dari negara lain, dari mana lagi kalau bukan New York.


Dimana dia pernah hidup cukup lama di sana untuk menempuh pendidikan juga bisnis hotelnya.


" Mr Richard.. Ada apa..?? " Gumam Brayen yang ternyata mendapat panggilan telp dari Menejer hotelnya disana.


Brayen akhirnya mengangkat telpnnya, dia tau jika itu penting, mengingat orang yang bekerja dengannya di sana tidak pernah menghubunginya jika tidak benar benar penting.


Setelah mendapat penjelasan dari menejer hotelnya, Brayen menghela nafas panjangnya, dia tersenyum smirk.


" Anak itu.. Harusnya Gue buang aja ke laut.." Gumam Brayen dengan sedikit kesal.


Brayen merasa tidurnya terganggu hanya karena ank curut yang berulah, astaga.... Itu anak benar benar cari mati sekarang, pikir Brayen.


Dengan segera Brayen menuju apartemen Dimas, tapi saat dia masuk, Dimas tidak ada di apartemennya.


Brayen baru menyadari jika hari ini Dimas ada di kantor Ayahnya, mengingat Ayahnya tadi malam buru buru sekali ke luar kota untuk bertemu dengan rekan bisnisnya hari ini, bahkab Bunda Wina juga menemaninya.

__ADS_1


Tidak menunggu lama Brayen langsung turun menuju parkiran, melajukan mobil sportnya dengan cukup kencang.


Pikirannya hanya satu, dia mungkin akan meninggalkan Zela sebentar jika Dimas tak menggantikannya.


" Akh.. Shit..." Gumam Brayen kesal sambil memukul setir mobilnya.


Sampai akhirnya dia sampai di gedung tinggi yang bertuliskan Zafano cukup besar, dan sangat terlihat jelas dari jalanan juga gedung yang lain, apa lagi jika malam hari, meskipun tak ada penghuni hanya beberapa satpam saja, tulisan nama itu sangat terlihat indah dan megah.


Nama belakang Ayahnya dan juga dirinya tentunya, Brayen segera masuk, beberapa karyawana yang melihat kedatangannya mengangguk tapi Brayen hanya memberi senyuman karena dia begitu terburu buru ingin menemui Dimas.


Orang yang selalu di andalkan olehnya, seseorang yang menjadi tangan kanannya.


Mendapat senyuman dari Brayen yang sangat jarang sekali diperlihatkan kepada mereka, membuat beberapa karyawan wanita sampai terbengong.


Bahkan ada yang sampai tak berkedip karenanya, astaga....sosok Brayen Zafano ini memang Idola dimana mana, bukan hanya di Kampus juga Sekolah istrinya tapi juga di Kantor Ayahnya.


Fix.. Brayen memang Idola semua wanita, juga Zela tentunya.


" Astaga.. Tuan Brayen semakin hari semakin tampan saja.." Ucap salah satu karyawan.


" Iya.. Dan sekarang sudah tak sedingin dulu.. Barusan dia senyum.. Astaga.. Jantung gue masih saja dag dig dug gini." Jawab yang lainnya.


" Tapi sayang bentar lagi dia akan menjadi seorang Ayah..." Sambung yang lain.


" Tapi tetap ketampanannya tak berkurang sama sekali, semakin dewasa semakin tampan malah.." Jawab yang lain lagi.


" Hot Daddy itu malah semakin menantang, dan aku yakin Tuan Brayen Hot Daddy yang akan digilai banyak wanita nantinya.." Ucapnya lagi yang diangguki oleh teman temannya.


Sedangkan para karyawan lelaki hanya menggelengkan kepalanya dengan kelakuan karyawan wanita wanita itu, mereka memang mengakui jika Anak dari Bos besarnya itu memanglah tampan.


Mereka merasa lalatnya sedangkan Brayen sebagai kumbangnya, yang digilai oleh banyak kupu kupu.


Jika lelaki saja mengakui ketampanan Brayen apa lagi yang perempuan.


Brayen membuka ruangan Dimas, membuat Dimas menolehnya dengan bingung.


" Ada apa..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Anak curut itu buat ulah lagi.." Jawab Brayen membuat Dimas mengernyitkan keningnya, tapi kemudian dia tau siapa yang di maksud oleh Brayen.


" Sandro..?? " Tanya Dimas yang diangguki oleh Brayen.


" Kenapa lagi itu anak..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


Brayen berjalan menuju ke arah jendela ruangan Dimas, dia menatap ke luar dari kaca jendela.


" Anak curut itu tertangkap camera cctv hotel sedang memakai barang haram.." Jelas Brayen, membuat Dimas seketika meloto tak percaya.


" Brengsek... Dia memang tidak seharusnya di maafkan Ray.." Jawab Dimas dengan nada kesal.


Bahkan Dimas lebih marah dari Brayen, dia sampai berdiri dan memukul meja kerjanya.


" Lo bisa urus tidak..?? " Tanya Brayen yang sukses membuat Dimas lagi lagi terkejut.


" Lo nyuruh Gue..?? " Tanya Dimas tak percaya.


" Siapa lagi kalau bukan Lo.." Jawab Brayen enteng membuat Dimas menghela nafas panjangnya.


" Terus kantor..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Itu urusan Gue.. Lo tau Ayah sma Bunda lagi di luar kota.. Gue nggak mungkin tinggalin Zela.." Jelas Brayen lagi lagi membuat Dimas menghela nafas panjangnya.


Dimas memejamkan matanya sebentar, lalu menatap Brayen tajam.


" Kapan Gue harus kesana...?? " Tanya Dimas kepada Brayen.


" Secepatnya.." Jawab Brayen singkat.


" Tapi nggak hari ini juga dong Ray.." Jelas Dimas kepada Brayen.


" Besok.. Nunggu kabar dari Mr Richard dulu.. Kalau dia bisa mengatasi Lo nggak harus kesana.." Jelas Brayen membuat Dimas seketika mengehela nafas.


" Sialan Lo.. " Jawab Dimas kesal membuat Brayen tersenyum.


Baik Brayen maupun Dimas memanglah marah dengan apa yang di lakukan Sandro, lagi lagi dia berulah bahkan di negara orang, dan itu sudah pasti membuat Brayen mau tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang Sandro lakukan.


Tapi bukan berati Brayen harus datang kesana secara langsung, dia lebih baik menyuruh orang untuk mengurus semua, ketimbang harus bertemu langsung dengan Sandro si anak curut yang brengsek itu.


Kecuali jika memang benar benar genting, tentu mau tidak mau Brayen harus mengatasinya sendiri.


Brayen sudah cukup baik selama ini kepada Sandro.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya Gaes..


Vote.. Vote.. Vote...


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2