
Arshaka Kaindra Zafano. Bayi kecil, lucu, tampan, dan menggemaskan itu kini sedang berjemur di pinggiran kolam renang rumah Zafano bersama Mommy dan Tita atau Neneknya.
Sudah lebih dari 2 bulan sejak kepulangannya dari rumah sakit. Bahkan keluarga Zafano juga sudah mengadakan syukuran aqiqahnya, berita mengenai kelahiran cucu pertama keluarga Zafano dan Adafsi sudah tersebar sampai masuk ke berita TV, memang tidak ada yang berprofesi sebagai pemain film atau artis, tapi mengingat 2 keluarga itu ialah keluarga yang sangat terpandang dan pembisnis besar membuat kabar tentang keluarga mereka banyak di sorot di stasiun tv.
Tidak lama datanglah Brayen yang akan pamit untuk berangkat kuliah. Brayen menghampiri mereka yang masih bersantai di pinggir kolam berenang.
" Morning son." Sapa Brayen kepada baby Arsha.
" Moning dad." Jawab Zela menirukan suara anak kecil.
Brayen tersenyum, lalu mencium puncuk kepala Zela, setelah itu mendekati baby Arsha yang sedang santai dengan kaca mata hitamnya.
" Gaya banget sih anak Daddy." Ucap Brayen sembari mengelus pipi bayi montok itu.
" Gaya dong kaya Daddy nya." Jawab Bunda Wina membuat Zela dan Brayen tersenyum.
" Ganteng juga ya kayak Daddy." Ucap Brayen seperti harapan.
" Jangan di tanya soal itu dong Kak, Arsha sudah pasti lebih ganteng dari Daddy nya." Jawab Zela membuat Brayen semakin tersenyum.
" Calon Idola baru, Baby Arshaka." Jelas Brayen membuat Baby Arsha seakan mengerti perkataan Daddy nya lalu tersenyum.
" Ih... Senyum dia." Ucap Zela membuat Brayen dan Bunda Wina semakin gemas dengan bayi laki-laki yang montok itu.
" Sini Daddy gendong dulu." Ucap Brayen sembari mengangkat Arsha.
Brayen sudah berani mengangkat Arsha setelah 40 hari kelahirannya, bahkan untuk menggendong Arsha kini dia selalu rebutan dengan Dimas, karena sejak kelahiran Arsha Dimas sering menginap di rumah Zafano. Meskipun masih tinggal di apartemennya yang dulu.
" Udah mau berangkat kan Daddy?." Tanya Zela kepada Brayen.
" Nanti dulu dong, Daddy kan belum gendong anak ganteng." Jawab Brayen sembari menyiumi pipi cubby Baby Arsha.
Zela dan Bunda Wina tersenyum melihat pemandangan Brayen dan Arsha seperti itu hampir setiap hari, lalu tidak lama Bunda Wina pamit untuk menyiapkan keperluan Arsha mandi. Memang Zela sangat di bantu oleh Ibu martuanya dalam mengurus Arsha juga keperluan Arsha, belum ada baby sister karena Zela masih ingin mengurus Arsha sendiri sebelum dirinya berangkat sekolah kembali.
__ADS_1
Trututt...trututt...
" Eh." Ucap Zela terkejut.
" Yang bau." Ucap Brayen dengan mimik muka yang sudah berubah cemas.
" Dia p*p Kak?." Tanya Zela yang langsung di angguki oleh Brayen.
Zela tersenyum dan menggeleng, kemudian dia mencium bok*ng Arsha yang memakai pamp*s karena Zela belum yakin jika Arsha pup, mungkin saja Arsha hanya kentut pikir Zela.
Zela tertawa setelah tau jika bayi montoknya memang p*p, dengan segera dia mengambil Arsha dari gendongan Brayen.
Brayen mengendus-endus tangannya yang tadi pas di bok*ng Arsha, sedikit bau memang tapi tidak masalah karena Arsha ialah anaknya, bahkan Brayen benar-benar berubah setelah kehadiran Arsha malaikat kecilnya itu.
" Pagi-pagi udah kasih parfum ke Daddy." Ucap Brayen sembari mencium pipi Arsha.
" Buat bekal Daddy ke kampus biar nggak nakal ya sayang." Jawab Zela kepada anaknya, sembari mengambil kaca mata yang tadi sedang di pakai oleh Arsha.
Brayen tersenyum, lalu mencium kening Zela dan pipi Arsha lagi, ntah sudah keberapa kalinya pagi ini Brayen menciumi bayi montok itu, bahkan rasanya sangat sayang untuk meninggalkan Arsha.
" Lho kak Ray nggak cuci tangan dulu? katanya bau." Tanya Zela yang dapat gelengan kepala dari Brayen.
" Nggak usah biar nggak ada yang deketin Daddy karena parfum alami Arsha." Jawab Brayen membuat Zela tertawa.
Sungguh Brayen benar-benar berubah setelah kehadiran Arsha, meskipun sikap datarnya masih melekat pada dirinya, jangan lupakan teman kampusnya kini semakin menggila setelah tau Brayen sekarang sudah menjadi seorang Ayah.
Brayen akan sangat terlihat berbeda ketika di luar rumah. Bukan diri Brayen yang merubahnya, tetapi pandangan wanita yang melihat Brayen semakin sexy and hot. Brayen yang sangat tampan dan mapan itulah yang mereka lihat pada sosok seorang Brayen Zafano.
Dan kini mobil Brayen memasuki gerbang tinggi kampusnya. Seperti biasa Dimas dan Xelo sudah lebih dulu datang, Brayen keluar dari mobilnya, keren satu kata yang selalu mahasiswi kampusnya lihat pada dari seorang Brayen.
" Gila sih semakin kesini semakin menantang Gue banget." Ucap salah satu mahasiswi kepada temannya, tentu saja mata nakalnya tidak lepas dari sosok Brayen yang sedang berjalan.
" Bener, melihat saja sudah bikin lamunan Gue jauh." Jawab salah satu temannya.
__ADS_1
" Lo ngelamunin doi?." Tanya temannya yang langsung di angguki olehnya.
" Iya lah, cowok setampan dan sekeren Brayen mubazir tau kalau nggak masuk dalam lamunan kita." Jelasnya membuat teman-temannya mengangguk setuju.
Mereka seperti tidak tau malu memang, membayangkan suami orang lain. Jika saja Zela tau suami tampannya menjadi lamunan teman kampusnya. sudah pasti perang dingin akan terjadi, meskipun itu bukan salah Brayen sepenuhnya, tapi tetap saja Zela akan menyalahkan Brayen yang memiliki wajah setampan itu.
" Wuih... Hot Daddy udah datang ini." Ucap Xelo melihat kedatangan Brayen.
Brayen tidak menjawab, dia duduk dibangkunya, sedangkan Dimas tersenyum sembari menatap Brayen yang baru saja datang.
" Ray.. Udah punya anak masih aja kuliah." Ledek Xelo lagi, kali ini membuat Brayen menggeleng dan tersenyum.
" Diem Lo Xel, syirik bilang." Jawab Dimas seakan membela Brayen.
" Wuih... Main kroyokan nih ya." Jawab Xelo yang tidak lagi di tanggapi oleh Brayen dan Dimas.
Dimas malah mendekat ke arah Brayen, lalu menanyakan tentang baby Arsha. Begitu juga dengan Xelo yang ikut mendekat.
" Gue nanti ke rumah ya sama yang lain." Ucap Dimas yang di angguki oleh Brayen.
Yang di maksud Dimas yang lain ialah, Seli dan Vani.
" Kita kangen sama baby boy." Sambung Xelo lagi.
" Shit Gue udah mulai kalah sama dia." Jawab Brayen membuat Dimas dan Xelo terkekeh.
" Tapi di hati cewek-cewek jablai Lo still number one." Jawab Dimas membuat Brayen menatap Dimas tajam.
Sedangkan Xelo sudah tertawa ngakak, Dimas dan Xelo memang tau jika masih banyak wanita yang masih mengagumi Brayen, meski kini setatus Brayen bukan hanya sebagai seorang suami tetapi juga seorang Ayah, tapi seakan tidak perduli wanita-wanita yang menggilai Brayen malah semakin menjadi. Bahkan sudah pernah ada yang terang-terangan mau menjadi madu seorang Brayen. Jelas Brayen tidak menanggapi wanita yang menurutnya gila itu.
Dan kini baik Dimas ataupun Xelo berkunjung ke rumah Zafano bukan untuk ketemu dengan Brayen. Melainkan ingin bermain dengan baby Arsha yang baru bisa tersenyum dan bersuara sedikit.
Tapi sungguh kedatangannya seakan merubah semua kehidupan orang di sekitarnya, banyak yang menyayangi Arshaka, membuat Zela dan Brayen begitu bersyukur akan hal itu.
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment dan Vote ya gaes
Big Thanks 🙏🙏😘😘