
Seli masih terdiam, dia sendiri bingung harus mengatakan kepada Zela, tapi sekali lagi mengingat tatapan Sandro yang seperti meminta, membuat Seli harus berkata apa adanya kepads Zela.
" Siapa Sel..?? " Tanya Vani yang juga sama penasarannya dengan Zela.
" Dia ituuu...." Ucap Seli terputus karena ponsel Zela yang sudah berbunyi.
Ternyata Brayen yang menghubunginya, Brayen menanyakan keberadaan Zela, karena tak menemuinya di parkiran Sekolah.
Brayen memang sedikit telat dari biasanya, karena ada beberapa hal yang harus dia selesaikan terlebih dahulu di kantornya.
Membuat Seli bisa bernafas sedikit lebih lega, karena Zela yang sudah mengangkat telpnnya.
" Kita ke mall yuk.. Gue bilangnya kita lagi ngemall.." Ucap Zela yang rupanya membohongi Brayen.
Sungguh sebenarnya tidak ada niatan Zela untuk itu, tapi jika Brayen juga kedua orang tuanya dan martuanya tau, sudah dipastikan Zela akan berbaring di rumah sakit.
Dan Zela tidak mau itu terjadi, mengingat dirinya hanya kelaparan saja tadi, sungguh memalukan dan konyol memang jika Zela teringat akan hal itu.
" Loe beneran udah nggak papa..?? " Tanya Vani memastika.
" Iya..Gue nggak papa kok.. Sehat banget gue sekarang.." Jawab Zela mantab membuat Seli dan Vani mengangguk mengerti.
" Let's go...." Sambung Vani girang.
Urusan ngemall emang Vani ratunya, bahkan tanpa kedua sahabatnyapun kadang Vani suka kluyuran ke mall, siapa lagi kalau bukan Maminya yang menjadi teman mondar mandir Vani di mall.
Tidak lama, mereka keluar dari ruangan itu, dan ketika sampai di ruang tunggu tadi, tidak ada lagi sosok Sandro, membuat Seli celingak clinguk mencari keberadaan Sandro.
Kemana tuh cowok..?? Pikir Seli yang tak juga menemukan keberadaan Sandro.
Mereka menuju parkiran di mana Sandro tadi memarkirkan mobil Seli, masih saja tak menemukan sosok Sandro.
Tapi ketika mereka akan masuk kedalam mobil, ada satu kertas terjatuh, membuat Vani yang pertama melihatnya mengambil dan membacanya.
Azela.. Maafkan semua kesalahanku, aku hanya butuh maaf darimu...
Seperti itulah tulisan di kertas yang Vani temukan.
" Gaes...Ini kertas buat loe deh Zel.." Ucap Vani sambil menyerahkan kertas tersebut.
Zela menerimanya dan membacanya, diikuti Seli yang juga ikut membacanya dari samping Zela.
Zela mengernyitkan keningnya bingung, siapa yang menulis tulisan perminta maafan seperti ini, aneh sekali pikir Zela.
Sedangkan Seli tampak sedikit terkejut, dia tau jika tulisan ini di buat oleh Sandro, apakah Sandro tidak jadi menemui Zela..??
Lalu untuk apa dia meminta menemui Zela..??
Untuk meminta maafkah..?? Atas kesalahan apa yang Sandro perbuat kepada Zela..?? Pikir Seli kemana mana.
Seli teringat dengan sorot mata Sandro yang begitu meminta bantuan kepadanya, juga luka lebam pada sudut bibir Sandro.
Tapi kini malah Sandro menghilang dengan sendiri.
Sudahlah biarkan.. Ada baiknya itu anak tidak jadi menemui Zela, akan merepotkan jika hal itu benar terjadi pikir Seli.
" Udah ayo.. Cabut keburu Kak Ray sampai di mall duluan nanti.." Ucap Vani membuat Zela dan Seli langsung masuk kedalam mobil.
Mobil mereka pergi meninggalkan klinik, yang ternyata tanpa mereka tau, Sandro mengamati mereka sedari tadi dari kejauhan.
Sungguh melihat Zela dari kejauhan itu sudah cukup untuk Sandro, terlebih Sandro tadi sempat memandangi wajah ayu Zela ketika di gendongannya menuju klinik.
Kini Sandro harus benar benar ikhlas untuk pergi, untuk memulai kehidupan baru, kehidupan yang dia sendiri tidak tau akan seperti apa nantinya hidup di negri orang.
Tapi Sandro sangat beruntung dan bersyukur, Brayen berniat mengirimnya ke New York bukan hanya sekedar menjauhkan Sandro dari Zela.
Tapi Brayen berniat memperkerjakan Sandro di hotel yang ia punya di New York, dan itu sungguh membuat Sandro tidak hentinya mengucap syukur, juga merasa berterimakasih kepada Brayen, meskipun sama sekali belum dia ucapkan secara langsung, karena untuk menemui Brayen sekarang ini saja, Sandro benar benar tidak sanggup, Sandro terlalu malu kepada orang sebaik Brayen.
Sandro berjanji, jika suatu saat nanti dia akan menemui Brayen dengan keadaan yang berbeda, menjadi orang yang lebih baik lagi tentunya.
Mobil Seli terus melaju membelah jalanan ibu kota yang tentu saja sudah sangat padat, sudah sore memang, kendaraan berlalu lalang dijalanan.
Tapi tentu saja mereka tidak menyerah, da akhirnya sampai juga di parkiran mall, mereka bertiga langsung menuju caffe, untuk sekedar memesan minum juga makanan ringan.
" Zel beneran..??? " Tanya Vani tak percaya melihat Zela yang memesan makanan berat.
Sungguh itu membuat Vani terkejut, bagaimana mungkin Zea akan makan nasi lagi setelah tadi diklinik dia juga sudah memakan nasi..??
Akh... Biarkan yang terpenting Zela sehat.
" Beneran lah.. Gue tuh belum kenyang tadi makan di klinik, secara kalian liat kan.. Cuma dikit banget, mana nyuapinnya sedikit sedikit banget lagi.." Keluh Zela membuat kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepala tak percaya dengan penuturan Zela barusan.
Sungguh bisa dibilang Zela sangatlah rakus sekarang ini wkwk.
" Ya.. Udah makan yang banyak loe... Jangan sampe pingsan lagi karena kelaperan.." Sambung Seli yang dijawab Zela dengan mengacungkan jempolnya juga dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
" Btw Sel.. Loe belum kasih tau.. Siapa cowok tadi..?? " Tanya Vani yang seketika kembali membuat Seli terkejut.
" Iya.. Siapa sih..?? " Tanya Zela juga yang jiwa keponya mulai tumbuh.
" Oh... Tadi tuh cowok nanyain gue toilet.. Nggak tau juga gue siapa.. Mungkin dia lewat jalan depan terus kepengen kekamar mandi gitu.. So.. Numpang toilet Sekolah.." Jelas Seli yang sungguh tidak masuk akal sama sekali.
Tapi Seli beruntung karena Zela dan Vani hanya menganggukan kepalanya, tanpa bertanya lebih lagi kepada Seli.
" Kak Ray udah sampe belum Zel..?? " Tanya Vani kepada Zela.
" Katanya sih udah.. Bentar lagi juga kesini palingan.." Jawab Zela yang dapat anggukan dari Seli juga Vani.
Tidak lama terdengar suara gaduh dari mall tersebut, tentu saja suara kaum hawa yang melihat kedatangan pangeran tampan di mall.
" Brayen Zafano.... Boleh minta foto nggak..? " Tanya gadis cantik yang seumuran dengan Brayen.
Tentu saja dia memanggil Brayen tanpa embel embel Kak, sedangkan yang lain hanya memandangnya tidak berani meminta lebih dari seorang Brayen, mereka tau jika lelaki tampan ini suah mempunyai istri.
Tapi sungguh pesona Brayen tidaklah bisa diragukan lagi.
Kedatangan Brayen mampu membius kaum hawa yang sedang berkunjung di mall, juga banyak karyawan toko yang tak berkedip karenanya.
Ditambah Brayen ini sebentar lagi akan memiliki seorang anak, itu sungguh membuat Brayen semakin terlihat tampan dan juga sexy tentunya.
Bisa dikatakan mungkin Brayen akan menjadi hot Daddy nantinya.
Brayen menanggapi wanita itu dengan mengangguk juga dengn senyum tampannya, sontak saja wanita itu langsung berjingkrak senang, dan mengambil beberapa foto bersama dengan Brayen.
Setelah itu Brayen berjalan menghampiri Zela, masih dengan tatapan kagum dari kaum hawa yang melihatnya, dan itu sukses membuat Zela kesal karenanya.
Zela begitu cemburu karena Brayen terus saja memasang senyum tampannya kepada wanita wanita itu.
Bukankah Brayen ini datar dan dingin..?? Kenapa sekarang mengobral senyum begitu saja.
Dasar.. Tebar pesona.. Batin Zela kesal.
Dengan collnya Brayen duduk dengan ketiga gadis cantik itu, Seli dan Vani yang terbengong melihat kedatangan Brayen seperti aktor korea saja.
Sedangkan Zela sedari tadi sudah memajukan bibirnya persis seperti bebek cantik.
" Kalian jangan lebay deh.. Pake ikutan bengong kayak cewek cewek alay itu.." Kesal Zela kepada kedua sahabatnya, tentu saja membuat Seli dan Vani segera sadar dari lamunanya.
Sedangkan Brayen tersenyum tipis melihat muka kesal Zela.
Sungguh Zela sangatlah kesal dengan Brayen, bahkan dia duduk tanpa sepatah katapun dari tadi, hanya terus memandangi Zela, meskipun dalam keadaan kesal, tapi karena tatapan Brayen juga mampu membuat Zela sedikit gugup.
" Iya... Tapi sungguh Kak Ray semakin hari semakin ganteng.." Jawab Vani terkikik yang sukses membuat Seli memandang Vani dengan tatapan tak percaya.
Membuat Vani buru buru mengacungkan dua jarinya berbentuk V dengan senyum lebarnya, Sebelum terjadi kesalah pahaman tentunya.
Meskipun mereka tau jika Vani ini memanglah ceplas ceplos dan konyol.
Brayen masih saja memandangi Zela dengan tatapan mautnya, membuat Zela benar benar bertambah kesal dengan Brayen.
" Kak Ray kesini mau ngapain sih..??? " Tanya Zela karena begitu kesalnya dengan Brayen.
" Mau liatin cewek cantik yang lagi jealuose.." Jawab Brayen membuat Zela terkejut dan bertambah saja rasa kesalnya kepada Brayen.
" Huch... Kalau gitu ayo kita cabut... Biarin aja Cowok Idola ini.. Biar sekalian tuh di kerumunin cewek cewek lagi.." Jelas Zela dengan muka kesalnya.
Membuat Brayen tersenyum senang, sedangkan Seli dan Vani terkikik dengan tingkah Zela yang konyol itu.
" Makin cantik kalau lagi kesel..." Sambung Brayen sambil mengacak rambut Zela gemas.
Membuat Zela melotot dengan apa yang dikatakan oleh Brayen barusan.
Zela kemudian tersenyum mengembang, tentu saja karena kesalnya, kembali Brayen memujinya dengan kata kata yang sungguh Zela semakin kesal.
Tapi cinta
" Bertambah kali lipat cantiknya yank.." Ucap Brayen kepada Zela.
Zela mengembungkan pipinya, Brayen tersenyum sambil menarik hidung Zela.
" Mau diapain juga tetep cantik..." Jelas Brayen yang akhirnya membuat Zela tersenyum manis.
Seli dan Vani saling pandang, dan geleng geleng kepala.
" Sedetik yang lalu kesal, sekarang udah seneng gitu aja.. Dasar bumil.." Gumam Vani lagi lagi terkikik.
Kini Zela dan Brayen sudah dalam perjalanan pulang, Zela pulang dengan Brayen, sedangkan Vani dengan Seli.
" Yank..." Ucap Brayen dengan nada menggodanya.
Membuat Zela menoleh ke arahnya tanpa menjawab.
__ADS_1
" Sorry ya.. Karna aku selalu bikin kamu kesel.." Sambung Brayen lagi kepada Zela.
" Bukan salah Kak Ray.. Tapi wajahnya Kakak.." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum sekilas.
" Gimana kalau aku operasi plastik aja..??? Usul Brayen yang begitu terdengar sangat aneh.
" Ikh.. Kak Ray.. Tambah banyak dong yang suka sama Kakak.." Jawab Zela kesal.
" Oplas kayak pelawak indo aja dong yank biar kamu senyum terus.." Jelas Brayen.
" Maksud Kak Ray siapa..??? " Tanya Zela kepada Brayen.
" Itu loh yank.. Yang perutnya buncit kalau ngomong suka gagap gitu..." Jelas Brayen membuat Zela melotot.
" Ikh... Nggak boleh.." Jawab Zela singkat.
" Kalau nggak boleh.. Jangan cemberut terus dong.. Kasian babynya jadi nggak happy.." Jelas Brayen membuat Zela seketika sadar.
Zela memang berlebihan masih saja kesal dengan Brayen, padahal tadi moodnya juga sempat baik.
Tapi jika mengingat diparkiran tadi, membuat Zela kesal lagi.
Bagaimana tidak kesal, jika Brayen terus saja dimintai foto dengan Cewek cewek yang menurut Zela sangat centil dan alay itu.
Tanpa terasa mobil Brayen sudah sampai di pekarangan rumah, hari memang sudah gelap, Pak Riko juga sudah pulang dari kantornya.
Brayen dan Zela masuk dengan Zela meninggalkan Brayen, dan itu tidak seperti biasanya jika mereka pulang selalu bergandengan tangan atau jalan bersebalahan.
" Bunda..." Sapa Zela melihat Bunda Wina yang sedang duduk di ruang tengah.
" Sayang... Baru pulang..." Jawab Bunda Wina yang berdiri untuk menghampiri menantu cantiknya.
" Iya Bund.. Tadi kita nemuin fans fans Kak Ray dulu..." Jawab Zela dengan cemberutnya.
Dan Bunda Wina langsung mengerti, jika menantu cantiknya dengan anaknya ini sedang tidak dalam keadaan baik baik saja.
" Benarkah itu Ray... ?? " Tanya Bunda Wina kepada Brayen yang baru saja sampai.
Brayen hanya tersenyum tanpa menjawabnya, memangnya dia harus berkata apa..? Bukankah niatnya untuk menemui istrinya tanpa bertemu dengan tikus tikus kecil.
" Anak nakal... Jangan bikin istri kamu itu kesal.. Nggak baik buat kandungannya.." Jelas Bunda Wina yang membela Zela.
Membuat Zela tersenyum senang, sedangkan Brayen tampak menghembuskan nafasnya panjang.
" Ingat Ray lelaki itu mengayomi istri bukan memanasi..." Sindir Pak Riko yang juga ikut bergabung dengan mereka.
Sontak saja Brayen langsung menoleh ke arah Ayahnya, sedangkan Zela dan Bunda Wina saling pandang dengan senyum mereka.
" Ini semua juga salah Ayah..." Jelas Brayen membuat Pak Riko mengernyitkan keningnya, begitu juga dengan Zela dan Bunda Wina yang bingung.
" Kenapa Ayah..?? " Tanya Pak Riko kepada Brayen.
" Tentu saja karena Ayah yang membuat Brayen memiliki wajah setampan ini..." Jelas Brayen membuat Pak Riko terkekeh geli.
" Apa mau kamu Ayah bikin dengan postur tubuh pendek dan wajah pas pasan..??" Tanya Pak Riko membuat Brayen seketika melotot.
Sedangkan Zela dan Bunda Wina sudah tertawa melihat muka merah Brayen.
" Ayah..." Kesal Brayen kepada Pak Riko.
" Ha..ha..ha.. Makanya kamu itu bersyukur mempunyai wajah tampan seperti Ayah..." Jelas Pak Riko membuat Brayen hanya menanggapinya dengan tatapan sebentar.
Lalu menatap Zela yang tampak malu dan merasa bersalah dengan Brayen.
Memang bukan salah Brayen jika memiliki wajah begitu tampan, mengingat kedua orang tuanya yang berparas cantik dan juga tampan.
Tentu saja perpaduan itu akan menjadi sosok seperti seorang Brayen Zafano.
" Sudah sudah... Kalian ganti baju dulu... Setelah itu kita makan malam.. Bunda dan Ayah tunggu dimeja makan ya sayang..." Jelas Bunda Wina kepada Zela dan juga Brayen.
" Siap Bunda..." Jawab Zela lalu mencium pipi Bunda Wina, membuat Bunda Wina tersenyum senang ke arah Zela.
Sedangkan Brayen merasa sedikit iri, dengan ciuman yang Zela berikan kepada Bundanya.
Mengingat sedari tadi yang Zela berikan untuk Brayen hanyalah wajah cantik dengan cemberutnya.
Tanpa menunggu lama Brayen langsung menggendong Zela untuk menuju ke kamar mereka.
Membuat Zela terkejut dan mencoba untuk sedikit berontak, karena merasa malu adanya Bunda Wina dan juga Pak Riko yang sedang terkekeh karena ulah mereka berdua.
Sampai di kamar, Brayen tidak langsung menurunkan Zela, tapi Brayen malah menyerang Zela dengan ciuman mautnya pada bibir Zela.
Membuat Zela mau tidak mau menikmati ciuman hangat yang Brayen berikan, meskipun tadi Zela masih dalam keadaan kesal, tapi nyatanya Zela juga begitu menikmatinya.
Jangan Lupa Like Comment dan Vote ya Kak..
__ADS_1
Big Thanks...