Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Pernyataan Cinta


__ADS_3

Brayen menatap Ayahnya dengan sedikit kesal, tentu saja Brayen sangat kesal jika Pak Riko datang tiba-tiba di waktu yang tidak tepat. Tapi itu hanya untuk Brayen seorang, berbeda dengan Zela yang merasa jika dia begitu terselamatkan dengan kedatangan Ayah martuanya itu.


" Keluar kamu..." Suruh Pak Riko kepada Brayen, membuat Brayen semakin kesal saja.


" Zela juga Yah..?? " Tanya Zela kepada Ayah martuanya.


" Tidak Nak.. Kamu tunggu di mobil saja.." Jawab Pak Riko yang di angguki oleh Zela.


" Yang.. Bentar ya.." Pamit Brayen yang di angguki oleh Zela.


Dengan segera Brayen keluar dari dalam mobilnya. Lalu menemui Ayahnya yang sudah berjalan sedikit jauh dari mobilnya.


" Ngapain kamu berhenti di jalanan..?? " Tanya Pak Riko dengan nada sedikit tinggi.


" Kenapa memangnya Yah..??? " Tanya Brayen yang malah berbalik bertanya kepada Ayahnya.


Pak Riko menghela nafasnya, Dia lupa kalau anaknya ini memang menyebalkan seperti ini, sekarang saja sejak menikah Brayen menjadi sedikit ada perubahan dalam dirinya.


" Tidak baik parkir mobil keren seperti ini sembarangan.." Jelas Pak Riko beralasan.


Brayen tersenyum miring. Dia tau kalau itu hanya alasan Ayahnya saja.


" Kenapa nggak langsung saja Yah..?? " Tanya Brayen membuat Pak Riko sedikit terkejut, tapi apa yang di katakan oleh Brayen memang ada benarnya juga.


" Kalau sudah tidak tahan sana ke hotel.. Dasar anak nakal.." Ucap Pak Riko yang membuat Brayen tertawa.


Pak Riko menatap Brayen sekilas, kemudian berlalu pergi menuju kebmobil untuk menemui Zela terlebih dahulu.


" Nak.. Ayah duluan ya..." Ucap Pak Riko yang di angguki oleh Zela dengan senyuman manisnya.


Setelah Paka Riko pergi, Brayen kembali menemui Zela yang masih berada di dalam mobilnya. Brayen tersenyum ke arah Zela sambil menggelengkan kepalanya, membuat Zela sedikit penasaran apa yang terjadi di antara suami dan Ayah martuanya itu.


" Kenapa Kak..?? " Tanya Zela kepada Brayen.


" Nggak papa yang... Ayo..kita makan dulu.. Setelah itu......" Ucap Brayen dengan menampilkan senyuman menggodanya, membuat Zela melotot sambil memukul pelan dada Brayen.


" Kak Ray ikh... " Kesal Zela yang di jawab Brayen dengan mengacak rambut Zela pelan.


Brayen kembali melajukan mobilnya. Membayangkan kekonyolannya barusan kembali membuat Brayen tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


Sampai akhirnya mobil Brayen terhenti tepat di depan hotel. Dengan segera Brayen dan Zela keluar dari dalam mobil untuk menuju ke dalam. Sepanjang jalan Brayen terus menggandeng tangan Zela, tentu saja orang-orang yang berada di sana melihatnya dengan senyum, karena Brayen big Bos mereka yang dingin dan datar sekarang mulai tak sedingin dulu, dan itu tentu saja berkat istri cantiknya yang sekarang sedang bersamanya.


Tapi, tidak sedikit juga pegawai wanita yang menatap Zela dengan tatapan iri, gadis yang masih SMA bisa mengambil hati Brayen Zafano, bukan hanya hatinya tapi juga memiliki Brayen seutuhnya. Idola semua wanita dan juga pengusaha muda yang begitu sukses.


Jika saja mereka tau kekonyolan Brayen akhir-akhir ini, yang meninggalkan Zela ke New York tapi hanya beberapa jam saja, sudah di pastikan semua pegawai wanita di hotelnya akan semakin iri dengan Zela karena kebucinan Brayen.


Brayen membawa Zela menuju kamar. Bahkan saking inginnya dia menghukum Zela saat ini juga, Brayen melupakan jika tadi Dia mengajak Zela untuk makan terlebih dahulu.


Setelah sampai di kamar hotel VVIP yang memang khusus untuk dirinya saja. Brayen langsung memeluk Zela, mencium kening Zela cukup lama dan begitu terasa hangat untuk Zela.


" Yang.. Aku kangen banget sama kamu.." Ucap Brayen pelan sambil membelai wajah Zela lembut.


Zela tersenyum ke arah Brayen, dengan inisiatifnya sendiri, Zela mencium bibir Brayen tapi hanya sekilas.


" Kita juga kangen sama Kak Ray.. Kangen banget.." Jawab Zela dengan senyum manisnya. Brayen mengernyitkan keningnya bingung dengan apa yang di katakan oleh Zela barusan.


" Baby juga kangen sama Daddynya.." Bisik Zela semakin membuat Brayen ingin melahapnya sekarang juga.


" Kamu semakin nakal yang.. Dan aku suka itu.." Bisik Brayen di telinga Zela, membuat desiran pada tubuh Zela semakin naik, bahkan Brayen juga mulai mencium tengkuk lehernya juga telinganya. Membuat Zela menahan nikamat, Zela memejamkan matanya untuk merasakan sentuhan hangat Brayen yang memang akhir-akhir ini tidak dia dapatkan dan sangat dia rindukan, dan ini memang waktunya untuk itu, Zela tidak akan menolaknya.


Kedua pasangan muda itu sama-sama memberi kehangatan, dan juga sudah sama sama terbuai dalam sentuhan mereka, sampai akhirnya Zela terkulai lemas di pelukan Brayen, Zela memejamkan matanya merasakan waktu bersama dengan seseorang yang begitu membuatnya bahagia.


Brayen mengelus pundak Zela, sesekali mencium puncuk kepala Zela. Gadis yang hampir membuatnya gila sekarang sudah berada di sisinya lagi, dan Brayen tidak akan pernah lagi meninggalkan Zela, jauh dari Zela membuat Brayen merasa tidak waras, sepenting apapun urusannya, Brayen akan membawa Zela untuk pergi bersamanya, tidak lagi akan meninggalkan istri cantiknya.


" Sayang.. Makasih ya.." Ucap Brayen sambil mencium kening Zela.


Zela menoleh ke arah Brayen, lalu tersenyum dan mengangguk.


" Jangan pergi lagi tanpa aku Kak.." Ucap Zela kepada Brayen.


" Nggak akan.. Kamu akan aku bawa, keujung dunia sekalipun.." Jawab Brayen membuat Zela tertawa renyah.


" Konyol... Ngapain jauh-jauh ke ujung dunia.. Di sini saja juga udah bahagia kok.. Asalkan kita bersama.." Jawab Zela yang sukses membuat Brayen gemas karena jawaban Zela.


Brayen dengan sengaja menggigit bibir Zela, sampai membuat Zela mengadu sakit.

__ADS_1


" Kak Ray...!! " Kesal Zela yang di jawab Brayen dengan senyuman.


" Gemas yang... Kamu semakin menggemaskan dan menggoda.." Bisik Brayen membuat Zela menarik hidung mancung suami tampannya yang nakal itu.


Mereka kembali saling berpelukan dengan senyuman yang begitu bahagia di antara keduanya, sampai akhirnya ponsel Brayen berbunyi.


Dimas menelfon Brayen di waktu yang tepat, karena Brayen sudah selesai dengan urusannya, urusan menjelajahi istrinya ha..ha..ha..


Brayen baru ingat jika Dia memang membelikan jam tangan untuk Zela, tentu saja karena Dimas yang memberitahukannya barusan, bahkan Dimas memberitahunya kalau Dia dan yang lain sudah berada di bawah. Di resto hotel Zafano.


Setelah mematikan sambungan telp dari Dimas, Brayen segera mengajak Zela untuk mandi terlebih dahulu.


" Yang..." Ucap Brayen kepada Zela.


" Kenapa hubby..?? " Jawab Zela yang sukses membuat Brayen menarik hidungnya gemas.


Di panggil oleh Zela dengan sebutan hubby membuat Brayen begitu senang.


" Para Jompo sudah berada di bawah nungguin kita.." Jelas Brayen membuat Zela mengernyitkan keningnya bingung.


" Jompo ??? Maksud Kak Ray..?? " Tanys Zela dengan bingungnya.


" Itu Dimas CS.. jompo ( jomblo porever ) .." Jelas Brayen membuat Zela tertawa.


" Ha..ha..ha.. Jahat tau.. Tapi Kak Ray bahasa inggrisnya semakin hari semakin ngaco tau nggak.." Jawab Zela masih dengan tawanya, di jawab Brayen dengan tertawa juga, Brayen juga merasa semakin hari semakin konyol saja.


" So.. Kita mandi sekarang..?? " Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela.


Dengan segera Brayen menggendong Zela, mereka menuju ke kamar mandi masih dalam keadaan topl*s.


Setelah selesai mandi. Seperti biasa Brayen membantu Zela untuk menyamarkan bekas Kiss mark yang dia berikan untuk Zela. Bahkan di kamar hotel itu juga sudah tersedia beberapa baju Zela juga dirinya.


Brayen tersenyum ke arah Zela, begitu juga dengan Zela yang tersenyum kepadanya, mereka bergandengan tangan untuk menuju ke bawah. Dimana teman-teman mereka sudah menunggu.


Sampai di bawah. Benar saja teman-teman mereka sudah menunggu, bahkan Vani sampai sudah memesan dua gelas jus segar.


" Yang habis bertanam mah lama.." Sindri Dimas yang sukses membuat Brayen dan yang lain terkejut.


Seli melotot ke arah Dimas, membuta Dimas tersenyum sambil menangkup kedua tangannya pertanda maaf.


" Yang.." Ucap Brayen dengan nada manjanya.


" Jangan mesum deh Kak.." Bisik Zela kepada Brayen yang dapat cengiran dari Dimas dan juga Xelo.


Sedangkan Seli dan Vani jadi canggung sendiri kalau sudah bahas masalah pasangan suami istri.


" Kak.. pelase dong jangan bahas kayak gitu.. Ada kita yang jomblo dan juga masih polos.." Ucap Vani akhrinya membuat semua terkejut tap juga malah tertawa.


" Padahal ada orang yang siap bikin kamu nggak jomblo lagi Van.." Sambung Xelo membuat Vani terkejut.


" Wah... Kode keras itu Van.." Sambung Dimas, sedangkan Seli menyenggol siku Vani dengan senyum jailnya.


Vani tentu saja malu dengan perkataan Xelo yang terang terangan, meskipun ada rasa bahagianya. Tapi memang karena ungkapan rasa Xelo kemarin yang ntah dari hati atau tidak Vani menjadi sedikit berubah.


Mereka makan bersama sambil bercanda, juga bercerita tentang Zela yang sempat ngidam mangga muda sampai akhirnya Vani jatuh pingsan di pelukan Xelo, dan itu semakin membuat mereka gaduh, jika formasi lengakap seperti sekarang ini membuat mereka lupa waktu jika hari sudah semakin sore dan petang, tapi seakan enggan untuk sama-sama bernajak dari tempat duduknya.


" Dim.. Sssttt..." Brayen mencoba mengode Dimas, tentu saja karena sore yang sudah berubah menjadi gelap akan semakin terasa romantis jika Brayen memberikannya untuk Zela saat ini.


" Paan..?? " Tanya Dimas tanpa suara kepada Brayen.


Brayen memberi kode dengan melingkarkan tangan kanannya di pergelangan tangan kiri. Membuat Dimas tersenyum.


" Bentar ya gaes..." Ucap Brayen kepada mereka. Membuat Xelo, Vani dan Seli juga Zela bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Brayen.


" Sayang bentar ya.." Pamit Brayen kepada Zela.


Zela mengangguk tapi rasa penasarannya semakin tinggi.


Dengan segera Brayen dan juga Dimas segera pergi dari sana. Jujur saja Brayen kesal dengan Dimas yang malah membiarkan jam tangan yang dia beli di tinggalkan di dalam mobil. Membuat mereka harus mengambilnya terlebih dahulu.


" Kenapa nggak langsung di bawa aja sih tadi..?? Sialan Lo emang.." Kesal Brayen yang dapat cengiran dari Dimas.


" Biar Lo ada usaha dikit Ray.." Jawab Dimas enteng membuat Brayen semakin kesal saja.


Mereka sampai di dalam mobil Dimas, dengan segera Dimas mengambil dan menyerahkannya kepada Brayen. Karena memang Brayen yang berniat membeli meskipun dengan uang Dimas dia membayarnya.

__ADS_1


" Besok Gue kasih mobil buat Lo.." Ucap Brayen membuat Dimas nyengir.


" Kenapa bukan hotel Lo aja yang di Bandung Ray..?? " Jawab Dimas sekenanya.


" Iti hadiah kalau Lo udah nikahin Seli.." Jawab Brayen membuat Dimas tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Sialan Lo.." Jawab Dimas yang dapat cengiran dari Brayen.


Brayen memanglah mempunyai banyak hotel di Indonesia. bahkan hampir semua kota besar yang ada di negaranya terdapat hotel Zafano. Dan itu semua Brayen yang mengelola tanpa campur tangan dari Ayah Riko yang juga sukses di bisnis perkantoran.


" Pada kemana sih Kak Ray sama Kak Dimas..?? " Tanya Zela kepada Xelo.


" Tunggu bentar nanti juga kesini.." Jawab Xelo.


" Emang nggak bilang apa gitu ma Kak Xelo..?? " Tanya Seli kepada Xelo.


" Bilang sih.. Tapi rahasia dong.." Jawab Xelo membuat Zela mengerucutkan bibirnya.


Begitu juga dengan Seli dan Vani.


Ting..


Bunyi pesan pada ponsel Xelo, Dimas memberitahukannya jika semua sudah siap, membuat Xelo tersenyum.


" Ayo ikut.... Kakak.." Ajak Xelo kepads ketiga gadis cantik itu.


" Kemana Kak..?? " Tanya Zela dan Seli barengan, sedangkan Vani masih dengan diamnya.


" Nanti kalian akan tau.." Jawab Xelo dengan senyum tampannya.


Jujur saja Xelo juga merasa gugup dengan ini semua, terlebih sedari tadi gadis yang dia inginkan lebih banyak diamnya.


Xelo membawa ketiga gadis cantik itu ke atas atap hotel yang memang di jadikan taman di sana. Bahkan terdapat juga kolam renang hangat. Hotel Zafano memang memiliki beberapa kolam renang dingin dan juga hangat, Hotel yang di desain sangat berbeda dari Hotel lainnya.


Mereka sampai di mana Brayen dan Dimas sudah menunggunya, bahkan sudah banyak sekali lilin juga lampu yang sengaja di buat seromantis mungkin.


Zela, Seli dan Vani memandang kagum dengan apa yang mereka lihat. Bahkan Zela yang sering ke Hotel itupun tidak pernah tau dengan tempat indah yang berada di puncak gedung hotel itu.


Vani semakin terkejut saat melihat tulisan " I Love You " yang berada di papan berbentuk hati dengan warna merah dan banyak sekali lilin di pinggirnya.


Lalu Vani melirik lagi di sebelah papan yang berbentuk sama tapi berbeda warna, papan dengan tulisan " Vani ".


Hati Vani semakin berdebar, rasanya dia tidak percaya dengan semua ini, Zela dan Seli sudah memeluk Vani dengan bahagia.


Vani kembali melihat papan ketiga, papan yang juga sama bentuknya tapi dengan warna berbeda, yang akan menentukan setatus Vani sekarang, papan dengan tulisan,


" Maukah Kamu Jadi Pacar Aku ?? Xelo.."


Tulisan dari papan terakhir yang membuat Vani tidak bisa lagi menahan air matanya, air mata Vani mengalir begitu saja, air mata haru bahagia seperti yang Vani rasakan saat ini.


" Astaga..." Gumam Zela melihat keromantisan yang Xelo lakukan untuk Vani


" sweetnya..." Sambung Seli sampai senyum senyum sendiri.


Dan kini Xelo sudah berdiri di depan papan yang membantunya mengungkapkan isi hatinya untuk Vani. Dengan satu Kaki bersimpuh seperti orang yang sedang ingin menembak wanita pujaannya.


Dan memang itu yang sekarang sedang di lakukannya untuk Vani. Xelo memang sedang menyatakan perasaannya kepada Vani, gadis yang membuatnya ingin mengenal lebih jauh dari hanya sekedar teman saja.


" Vani.. Will you be my Lover..??? " Ucap Xelo mengungkapkan keinginannya kepada Vani.


Vani semakin gugup rasanya, ini pertama kali untuknya mendapat kejutan yang tidak pernah dia bayangkan selama ini, begitu mendadak tapi sangat romantis untuknya.


" Samperin Kak Xelo Van.." Bisik Zela kepada Vani.


Vani menatap Zela dan Seli bergantian, dan di jawab kedua sahabatnya dengan menganggukan kepalanya juga senyuman manis mereka.


Dengan ragu dan langkah yang begitu pelan Vani menghampiri Xelo di depan, Xelo yang sedang tersenyum tampan kepadanya, Xelo seseorang yang membuat hatinya berdebar akhir-akhir ini.


Gimana Gaes penasaran nggak dengan jawaban Vani...?? juga dengan Brayen yang akan memberi kejutan untuk Zela..?? dan hubungan antara Dimas dan Seli yang ternyata sudah backstreet sejak kepergian Dimas menemani Brayen ke New York..?? Di tunggu next partnya ya..


Sorry aku up siang.. Like, Comment dan Vote ya gaes.. Biar aku semangat buat lanjutin ceritanya..


Ingat Vote.. Vote.. Vote..


Big Thanks.. 🙏🙏🙏😘

__ADS_1


__ADS_2