
Ketiga gadis cantik itu duduk di kursi sebelah dan depan bangku Vera. Membuat Vera yang tadi sedang menangis dan menundukan kepala dengan beralaskan tangannya mengangkat kepalanya, dan mendapati Zela, Seli dan Vani yang sudah duduk di depan dan sebelahnya.
Vera menyeka air matanya, lalu mencoba tersenyum kepada Zela dan kedua sahabatnya.
" Lo kenapa? " Tanya Zela pelan dan terdengar begitu perhatian.
Vera menggelengkan kepalanya, kembali dia menyeka air matanya yang ingin kembali jatuh dari pelupuk matanya.
" Gue nggak papa kok " Jawab Vera mencoba tersenyum.
Zela tau jika Vera hanya berbohong untuk menutupi semua yang terjadi pada dirinya, Zela mencoba mendekat ke arah Vera, lalu memeluk Vera dengan tangannya mengusap pelan punggung Vera. Tentu saja hal itu membuat Seli, Vani dan juga Vera sendiri terkejut, tapi Vera membalas pelukan Zela yang memang terasa begitu menenangkan dirinya.
" Jangan sedih... Mereka yang ngejudge Lo karena mereka iri aja sama Lo" Ucap Zela sambil melepaskan pelukannya.
Vera tersenyum manis ke arahnya, juga menganggukan kepalanya, membuat Zela tersenyum cantik ke arahnya.
" Thanks ya Zel.. Lo baik banget sama Gue " Jawab Vera yang di jawab Zela dengan senyuman.
" Ekhemm.. Berasa lagi liat drakor Gue kalau mellow gini " Sindir Vani membuat mereka menoleh ke arah Vani dan tersenyum.
" Drakor mulu di otak Lo " Jawab Seli kepada Vani.
" Yeee... Tapi Lo sekarang ngekorin Gue kan jadi suka drakor? " Tanya Vani menyindir Seli.
" Bukan ngekor lagi tapi buntutin Lo Van.. " Jelas Seli membuat Zela dan Vera tertawa.
Tanpa mereka sadari teman-teman geng Vera melihat Zela dan kedua sahabatnya yang berusaha membuat Vera agar tidak sedih lagi. Dengan segera mereka masuk dan berhambur memeluk Vera, tentu saja Vera begitu terkejut tap dia juga membalas pelukan teman-temannya.
" Maafin kita Ver.." Ucap salah satu teman gengnya.
" Kita udah bikin Lo sedih dan sendiri di saat Lo butuh kita " Sambung yang lainnya.
Mereka melepaskan pelukannya, lalu menatap Vera yang sedang tersenyum manis ke arah mereka.
" Kalian nggak salah kok.. Justru Gue yang minta maaf karena udah bikin kalian malu dengan berteman sama Gue " Jelas Vera membuat teman-temannya langsung menggelengkan kepalanya.
" Nggak Ver.. Itu nggak bener, kita janji nggak akan tinggalin Lo lagi " Jawab salah satu teman Vera.
Mereka kembali berpelukan dengan bahagia.
" Zela, Seli, Vani.. Thanks ya kalian udah ngebuka mata kita, kalau apa yang kita lakukan ke Vera itu tidaklah benar.." Ucap salah satu teman Vera kepada Zela dan kedua sahabatnya.
" Itu bukan apa-apa kok.. Vera juga teman kita, jadi kita harus saling mendukung " Jawab Zela yang juga di angguki oleh Seli dan Vani.
" Kita juga minta maaf atas apa yang pernah kita lakuin ke kalian " Sambung teman Vera yang juga meminta maaf kepada Zela dan kedua sahabatnya.
" Kita udah maafin kalian, tapi kalau sekali lagi kalian cari gara-gara tamatlah riwayat kalian " Jawab Vani yang langsing di siku oleh Seli.
" Sssttt... Kebiasaan deh Lo nggak tau situasi " Bisik Seli yang dapat cengiran dari Vani.
" Kita nggak akan lagi mengusik kalian, sekali lagi kita minta maaf " Jelas teman Vera yang lain.
Zela, Seli dan Vani mengangguk, membuat Vera memeluk Zela sekali lagi, lalu tersenyum manis ke arah Zela.
Sampai akhirnya bell masuk berbunyi, membuat Zela dan kedua sahabatnya akhirnya memutuskan untuk pergi dari kelas yang belum pernah mereka masuki sama sekali kecuali hari ini. Tentu saja karena something yang terjadi dengan Vera.
__ADS_1
" Gue nggak nyangka ternyata tuh cewek hamil ada hikmahnya juga " Cletuk Vani sembari duduk di kursinya. Sontak saja Zela dan Seli menoleh ke arah Vani dengan terkejut.
" Lo barusan ngomong apa?? Hamidun itu hikmah? Astaga.. Konslet emang otak Lo Van.. " Jawab Seli yang tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Vani barusan.
" Ngomongnya di saring dulu dong Van.. Jangan asal mangap aja " Sambung Zela lagi.
" Ih.. Kalian telmi banget sih.. Hikmahnya itu ya karena kita jadi baikan sama geng mereka, secara mereka kan musuh bebuyutan ma kita " Jelas Vani membuat Zela dan Seli saling pandang lalu mengangguk.
" Ohh.... Gitu maksud Lo..???? " Ucap Zela dan Seli barengan, dengan nada surara yang begitu slowmotion.
Vani hanya menggelengkan kepala dengan tingkah kedua sahabatnya yang ntah kenapa sekarang jadi tertular telmi seperti dirinya.
" Tau ah.. Nyebelin !! " Kesal Vani yang membuat Zela dan Seli tertawa.
Sedangkan di tempat lain. Brayen dan Dimas sedang duduk sambil menunggu kabar dari bawahan mereka.
Brayen memainkan ponselnya dengan di putar-putarkan, sedangkan Dimas memegang dagunya sambil memikirkan sesuatu.
Dimas melirik Brayen yang masih dengan lamunannya. Tapi tentu saja dengan gayanya yang begitu Cool. Membuat Dimas menggelengkan kepalanya dengan pesona lelaki di depannya ini. Beruntung Dimas seorang lelaki jika dia seorang wanita, mungkin Dimas juga akan tergila-gila dengan Brayen sama seperti wanita-wanita yang menggipainya, apa lagi mereka selalu bersama dengan waktu yang cukup panjang, itu tidak membuat Dimas tau expresi wajah Brayen dari yang terlihat begitu tampan dan keren sampai yang begitu jelek. Catat.. Wajah jelek Brayen tetaplah tampan, dan membayangkan itu membuat Dimas menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.
" Sudah gila Gue " Gumamnya sendiri, tapi tentu saja terdengar oleh Brayen.
Brayen menatap tajam Dimas, lalu berkata denga begitu lantang sampai membuat Dimas sedikit terkejut.
" Emang Lo gila " Jawab Brayen dengan senyuman mengejek.
Sampai akhirnya ponsel Dimas berbunyi, dengan segera Dimas mengangkatnya karena yang menelfonnya memang seseorang yang sedang mereka tunggu kabarnya, siapa lagi kalau bukan suruhan mereka untuk mencari lelaki yang sudah menghamili Vera.
Setelah mendapat info dari bawahannya, dengan segera Dimas memberitahukan Brayen.
" Jadi tuh cowok mau Lo apain Ray? " Tanya Dimas kepada Brayen.
" Loe emang keren Ray " Puji Dimas sambil menepuk pundak Brayen. Tapi hanya di jawab Brayen dengan tatapan matanya saja.
Dengan segera mereka menuju ke suatu tempat di mana lelaki yang menghamili Vera itu berada sekarang. Tidak butuh waktu lama mereka sampai di tempat itu. Tentu saja dengan ski**ll tinggi yang Dimas miliki saat berkemudi.
Mereka masuk ke dalam ruangan di mana sudah banyak bawahan atau anak buah mereka yang bertugas untuk mencari lelaki brengsek yang sekarang sedang duduk di kursi dengan menundukan kepalanya.
Tidak ada luka lebam ataupun darah, karena memang tidak ads kekerasan sama sekali yang anak buah Brayen dan Dimas lakukan kepada lelaki tersebut.
Brayen dan Dimas berjalan ke arahnya, lalu berdiri tepat di depannya. Membuat lelaki itu mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berdiri di depannya.
Lelaki itu menatap Brayen dan bergantian menatap Dimas, dia tersenyum miring seperti senyuman yang mengejek.
" Lo pasti nyuruh Gue buat nikahin tuh cewek kan? " Tanya lelaki itu dengan nada suara yang terdengar mengejek.
Brayen masih diam tanpa menjawab, begitu juga dengan Dimas yang masih dengan diamya.
" Jangan harap.. Sampai kapanpun Gue nggak akan pernah nikahin tuh cewek " Sambungnya lagi dengan nada yang terdengar menahan amarah.
" Tidak masalah kalau Lo memilih untuk mati " Jawab Brayen dengan lantang.
Lelaki itu tertawa sambil menatap Brayen, lalu pandangannya kosong.
" Semua yang Gue lakuin itu sengaja agar Bokap, Nyokap Lo malu, begitu juga dengan Lo.. Gue benci dengan kalian !! Dengan keluarga Zafano !! " Sambungnya lagi dengan tatapan tajam ke arah Brayen.
__ADS_1
" Atas dasar apa Lo berani berkata seperti itu ? " Tanya Dimas yang sudah mengepalkan tangannya menahan amarah.
" Keluarga Lo udah ngambil kebahagiaan sahabat Gue.. Dengan Lo menikah sama Zela, Sandro semakin gila dan terpuruk.. Lagian tuh cewek juga sudah tidak virgin lagi, Gue hanya dapat sisa dari cowok-cowok brengsek di liar sana yang sudah memakainya..!! " Jelasnya lagi.
Ketika Cowok itu tidur dengan Vera, memang sudah ada yang beda dengan diri Vera yang tidak lagi seperti wanita pada umumnya yang masih perawan.
Deg..
Jantung Brayen semakin berdebar, jadi ini karena dirinya yang menikah dengan Zela, ternyata bukan hanya wanita yang mengidolakannya saja yang menyerang Zela dengan tindakan-tindakan konyol mereka, tapi juga lelaki yang begitu menyukai Zela sampai memilih jalan rumit seperti sekarang ini.
" Bodoh.. Lo terlalu bodoh !! " Bentak Dimas kepada lelaki itu. Sedangkan Brayen masih berdiam diri di tempatnya. Dia enggan menjelaskan kepada lelaki bodoh seperti yang berada di depannya saat ini.
Dimas mengambil ponselnya yang berada di sakunya. Dia menghubungi Mr Richard agar tersambung dengan Sandro. Tidak perlu menjelaskan kepada lelaki brengsek di depannya. Karena lelaki seperti itu harus langsung dengan bukti agar lebih tau diri.
Benar saja, munculah wajah Sandro di ponsel Dimas, dengan segera Dimas memberikannya kepada lelaki itu untuk menanyakan langsung kepada Sandro.
Sandro menjelaskan semuanya kepada lelaki yang merupakan sahabat karibnya itu, bahwa Brayen sama sekali tidak bersalah, karena pada dasarnya seseorang yang bersalah ialah Sandro sendiri yang sebelumnya begitu menggilai Azela, gadis cantik yang sekarang menjadi istri Brayen Zafano.
Bahkan Sandro juga memberitahukan kalau dia di New York begitu bahagia, karena Brayen yang memberinya pekerjaan, meskipun pernah ada sedikit masalah tapi semua sudah teratasi karena Brayen yang begitu bertanggung jawab atas dirinya, Brayen yang begitu berhati mulia kepada dirinya sampai memberi kesempatan untuk dirinya hidup lebih baik lagi.
Mendengar apa yang Sandro katakan membuat sahabatnya itu seketika menangisi perbuatannya, dia merasa tidak enak hati karena telah membuat Sandro kecewa dan malu atas perbuatannya, meskipun niat awalnya ialah untuk membalaskan dendam Sandro kepada Brayen, dengan menghamili salah satu siswi Sekolah yang Orang Tua Brayen dirikan. Tapi setelah mendengar semua penjelasan dari Sandro sendiri sahabatnya itu tersadar dengan semua perbuatannya.
Dia mengembalikan ponsel Dimas, lalu dengan segera bersimpuh di hadapan Brayen, meminta maaf atas apa yang sudah di perbuatnya.
" Gue minta maaf, Gue mau tanggung jawab " Ucapnya dengan nada suara yang terdengar begitu menyesal, tidak seperti tadi yang begitu menjengkalkan Brayen dan Dimas.
" Itu yang Gue ingin " Jawab Brayen singkat.
" Besok Lo ikut kita " Sambung Dimas menjelaskan membuat lelaki itu mengangguk.
Jujur saja dia sama sekali tidak ada rasa dengan Vera, bahkan mengenal Vera hanya untuk sekedar have fun sex saja selain membalaskan dendam kepada Brayen. Tapi nasi sudah menjadi bubur jika dia berbuat maka dia juga harus bertanggung jawab.
Brayen dan Dimas meninggalkan tempat itu. Masalah hampir terselesaikan lagi, begitu juga dengan masalah Sandro yang sudah selesai di New York. Tinggal satu masalah, ialah tentang Misha yang ntah sekarang tidak di ketahui keberadaannya, tapi selagi tidak mengganggu hubungannya dengan Zela, Brayen akan membiarkannya saja.
Dan kini Brayen dan Zela sedang berada di salah satu Mall terbesar di kota mereka. Mall yang juga di miliki oleh keluarga Zafano tentunya. Mereka sedang berada di toko baju khusus untuk anak-anak dan bayi. Kehamilan Zela memanglah belum begitu besar, baru memasuki usia 4 bulan, tapi rasanya Zela sudah tidak sabar ingin membeli baju baby yang begitu terlihat lucu-lucu dan menggoda matanya untuk membelinya.
Dan sudah ada peratura baru jika wanita-wanita yang menggilai Brayen sudah tidak boleh lagi sampai mengejar atau membuntuti Brayen, mereka boleh meminta foto tapi tanpa harus terus membuntutinya atau mengrubuni Brayen. Jika sampai melanggar, mereka akan di suruh keluar oleh petugas keamanan dari Mall itu.
Tentu saja membuat Brayen begitu leluasa menemani Zela, bahkan wanita yang sedang berkunjung ke Mall hanya terus menatap Brayen tanpa berani mendekatinya, begitu juga dengan para karyawan toko yang lebih memilih menatap lelaki tampan yang begitu menggoda mata mereka.
" Gila sih.. Emang ganteng parah sampai harus ada peraturan segala " Bisik salah satu karyawan toko kepada kasir yang berada di sebelahnya.
" Iya..Makanya Pak Riko sama Bu Wina ngasih peraturan yang menurut Gue aneh, secara anaknya kan ganteng banget njiirrrrrr..." Jawab karyawan toko yang merupakan kasir di toko itu. Dan di jawab oleh temannya dengan menganggukan kepala tapi matanya masih setia mengamati wajah Brayen yang sedang mondar mandir menemani istrinya memilih baju untuk calon anak mereka.
Bahkan sampai membuat si karyawan melamunkan dirinya jika berada di posisi Zela sekarang.
" Kak ini bagus nggak? " Tanya Zela yang di jawab Brayen dengan mengernyitkan keningnya.
" Janga yang.. Itu kan baju cewek, anak kita kan cowok nanti " Jawab Brayen membuat Zela gemas saja dengan jawaban suaminya.
Padahal mereka sama sekali belum mengerti jenis kelamin calon anak mereka, tentu saja karena kehamilan Zela yang baru memasuki 4 bulan jika di USG belum terdeteksi jenis kelaminnya. Tapi Brayen sangat menginginkan anak laki-laki sekarang, sedangkan Zela begitu menginginkan anak perempuan, meskipun pada awalnya mereka terserah dengan Tuhan yang di atas akan memberi anak laki-laki ataupun perempuan yang terpenting sehat tanpa kurang suatu apapun. Tapi nyatanya sekarang sudah sama-sama berubah 90° keinginan mereka.
Ah.. Ya sudah kita lihat saja, anak mereka laki-laki atau perempuan nanti.
Sorry gaes sorean.. Aku sibuk banget soalnya, tapi sebisa mungkin tetep up tiap hari kok..
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya.. Aku selalu liatin siapa aja yang Vote, sedih banget pas tau yang vote sedikit sedangkan yang like ataupun comment lumayan banyak. Makanya Vote ya gaes.. Biar aku semangat..
Big Thanks 🙏🙏😘😘