Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Mulai Rindu


__ADS_3

Zela berjalan melewati lorong kelas dengan langkah gontai, dia seperti kehilangan semangatnya untuk melewati waktu tanpa adanya seorang Brayen di sisinya.


Bahkan sampai kelaspun Zela masih saja terlihat murung, membuat Seli dan Vani menatapnya dengan bingung.


Tidak biasanya seorang Azela terlihat seperti sekarang ini.


Tapi dengan segera Seli teringat sesuatu, tentu saja Seli sudah tau dengan keberangkatan Brayen dan Dimas hari ini.


Siapa lagi kalau bukan Dimas yang memberitahu kepada Seli, bahkan sore kemarin mereka sempat jalan bersama untuk sekedar menikmati waktu bersama.


Meskipun belum ada kejelasan di antara mereka, tapi dengan saling perhatian satu sama lain itu sudah cukup mewakili bagaimana perasaan masing masing.


Meskipun pada dasarnya seorang wanita memanglah butuh kepastian, sama halnya dengan Seli, tapi sepertinya Seli bersedia menunggu sampai Dimas bena benar menyatakan cinta kepadanya.


" Zel..." Ucap Vani membuat Zela menoleh ke arahnya tapi tentu saja masih dengan keadaan yang sama, terlihat seperti tak ada semangat.


" Nggak usah sedih, ada kita.." Jawab Seli yang langsung membuat Zela menoleh ke arahnya.


" Lo tau..?? " Tanya Zela yang diangguki oleh Seli.


" Kak Dimas yang kasih tau..?? " Tanya Zela lagi, kembali Seli mengangguk dengan senyum semanis mungkin.


" Tau apaan sih..?? " Tanya Vani yang memang tidak mengerti apa apa.


" Kepo deh.." Jawab Seli membuat Vani membrengut kesal.


" Selalu aja Lo musuhin Gue.." Jawab Vani kesal.


Yang di jawab Seli hanya dengan cengiran saja, Seli melihat Zela yang masih saja seperti boneka hidup itu menjadi tidak tega.


Padahal baru berapa jam Zela di tinggal, tapi melihat Zela sekarang membuat Seli tak yakin jika Zela bisa menahan sampai beberapa hari kedepan.


" Nanti temenin Gue shopping yuk.." Ajak Seli mencoba untuk menghibur Zela.


" Gua nggak di ajak Sel...?? " Tanya Vani kepada Seli.


" Loe nggak usah Gue ajak juga pasti ikut kan..?? " Jawab Seli yang membuat Vani tersenyum kikuk.


" Zel.. Ayo.." Ajak Seli sekali lagi membuat Zela akhirnya mengangguk tanpa menjawab.


" Nah gitu dong kan cantik..." Jawab Seli sambil menjawil dagu Zela.


Membuat Zela melotot ke arah Seli dengan kesal.


" Dih... Sensi amat Bu..." Ledek Seli lagi kepada Zela.


Tapi tak dijawab Zela, tentu saja Zela jadi banyak diamnya hari ini, sedangkan Vani masih bingung dengan apa yang terjadi di antara Zela dan juga Seli.


Percuma juga dia tanya sekarang, karena nanti sudah dipastikan Seli akan menjawabnya dengan ledekan.


Oke sepertinya Vani harus menahan rasa keingin tahuannya sampai nanti Zela ataupun Seli bercerita.


Sampai akhirnya bell istirahat berbunyi, sedari tadi di dalam kelas saat pelajaran juga Zela masih sama terlihat murung, dan itu sukses membuat Seli jadi greget sendiri.


" Kantin yuk.." Ajak Vani yang diangguki oleh Zela dan juga Seli.


" Zel... Loe jangan kayak boneka hidup gini dong... Yang semangat gitu..." Ucap Seli mencoba meledek Zela agar ada respont dari Zela.


" Boneka hidup...?? Mana ada boneka hamil Sel.." Jawab Vani ngelantur membuat Zela akhirnya tertawa.


Begitu juga dengan Seli yang ikut tertawa melihat Zela yang sudah agak ceria karena celotehan Vani.


" Ada Van.. Gue.." Bisik Zela yang langsung membuat Vani melotot.


" Loe..?? " Tanya Vani membuat Zela mengangguk dengan senyum.


" Kok bisa..?? " Tanya Vani lagi kepada Zela.


" Nanti gue ceritain.. Udah ayo ke kantin.. Baby Gue udah laper.." Ajak Zela yang langsung menggandeng tangan Seli dan juga Vani.


Membuat Seli akhirnya tersenyum senang, sedangkan Vani masih seperti tadi, bingung dengan semua ini.


Setelah memesan makanan ke Buk kantin seperti biasa, mereka segera memakannya, terlebih Zela yang memesan soto satu porsi juga bakmie goreng 1 porsi, membuat Seli dan Vani menggelengkan kepalanya.


Beruntung meskipun dalam keadaan galau nafsu makan Zela sama sekali tak berkurang.


Jangan lupakan jika Zela selalu memesan makanannya dengan kadar garam yang cukup tinggi untuk selera orang yang normal, atau tidak dalam keadaan hamil.


Samar samar mereka mendengar beberapa anak yang sedang mengobrol tentang keadaan Vera, bahkan terdengar jika pemilik Sekolah yang tak lain tak bukan adalah Pak Riko martua dari Zela sendiri yang akan bertemu dengan Pak Dodi selaku kepala sekolah, juga kedua orang tua Vera tentunya.


Seketika membuat ketiga gadis cantik itu melotot.


Fix.. Vera benar benar dalam masalah, pikir mereka barengan.


" Gaes.. Jangan jangan pas waktu itu kita lihat tuh bakwan di parkiran Mall sama om om.. Lanjut ke hotel ya.." Ucap Vani dengan nada sepelan mungkin.

__ADS_1


" Bisa jadi..." Jawab Zela singkat.


Jujur saja Zela tidaklah mau berkomentar tentang hal ini, dia sendiri merasa tidak adil jika Vera memang terbukti hamil dan akan di keluarkan dari sekolah.


Sedangkan Zela sendiri yang sedang hamil masih bisa bersekolah, meskipun di antara mereka sangat berbeda, Zela sudah ada suami sedangkan Vera tanpa suami.


Tapi mengingat siapa pemilik Sekolah membuat Zela merasa tidak enak, juga tidak ingin jika Ayah martuanya sampai terlihat tidak adil.


" Gatel sih dia.." Sambung Seli yang memang sangat kesal dengan yang namanya Vera.


" Seli.. Ikh..." Tegur Zela yang mendapat cengiran dari Seli.


Bahkan sampai mereka masuk kedalam kelaspun sepanjang perjalanan yang mereka dengar adalah obrolan tentang Vera, dan itu sungguh membuat telinga Zela panas bukan main.


" Gila tuh anak anak.. Nggak ada apa obrolan yang lain.." Ucap Zela jadi kesal sendiri.


" Biasalah mereka suka gosip yang anget anget.." Jawab Seli santai.


" Gue rasa juga kemarin mereka ngomongin Gue pas tau Gue nikah ma Kak Ray.." Sambung Zela yang diangguki oleh Seli dan Vani.


" Mereka emang ngomongin Loe.. Tapi nggak kayak sekarang ini.." Jelas Seli membuat Zela mengernyitkan keningnya.


" Ya.. Kan mereka pada patah hati Azela.. Udah pasti lah ngomongin Loenya sambil nangis nangis... Hu..Hu..Hu..." Sambung Vani yang juga menirukan suara tangisan mereka.


Kembali membuat Zela tertawa, jujur saja untuk saat ini Zela sampai lupa jika suaminya sedang berada di perjalanan untuk ke negri orang.


Tapi mungkin sebentar lagi Zela akan ingat, jika dia membuka ponselnya, yang terdapat foto dirinya dan Brayen sebagai wallpaper di ponselnya.


Sampai tak terasa bell pulang berbunyi, dengan segera Zela berkemas dan keluar bersama kedua sahabatnya.


Tadinya Zela sangatlah bersemangat tapi tak lama dia terdiam lagi, mengingat jika bukan Brayen yang menjemputnya, melainkan supir rumahnya.


Membuat rasa sepi yang Zela rasakan tadi melanda hatinya lagi, bahkan ini masih sangat lama untuk dia dan Brayen bertemu lagi.


Ini baru setengah hari yang di rasa Zela sudah seperti setengah tahun lamanya.


Zela mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak di dalam tas sekolahnya, tapi hasilnya nihil, sama sekali belum ada pesan atau panggilan telp dari Brayen.


Membuat Zela menghela nafas panjangnya, tentu saja Brayen masih dalam perjalanan, bahkan masih lama untuk sampai di sana.


Seli yang melihat Zela kembali murung menjadi kasihan lagi, sedangkan Vani masih dengan bingungnya, melihat kedua sahabatnya dalam ke adaan yang melow melow begini.


" Oke.. Gue udah cukup nahan ya dari tadi.. Sebenarnya ada apa sih..?? " Tanya Vani yang udah penasaran di level tertinggi.


Membuat Vani meloto tak percaya.


Astaga... Zela ini benar benar seperti anak kecil, baru ditinggal saja sudah sebegitu galaunya, tapi apalah boleh buat, Zela sekarang ini memang sedang mudah sensi.


Ingat Zela sedang hamil so moodnya gampang sekali berubah ubah.


" Astaga.. Kak Ray tega ngelakuin itu ke Lo..?? " Tanya Vani yang mengira jika Brayen sudah meninggalkan Zela dengan menyakiti hati Zela atau bersama dengan orang lain.


Zela mengangguk dengan tangisnya.


" Udah... Ayo ke mobil dulu.." Ajak Seli kepada Zela dan Vani.


Setelah di dalam mobil, Zela kembali menangis pelan membuat Seli sedikit bingung bagaimana mengatasinya, tentu saja obat untuk menghentikan tangisan Zela adalah Brayen sendiri.


" Van.. Loe kedepan gih.. Bilang sama sopir Gue buat balik aja.. Gue pulang bareng kalian..." Suruh Zela masih dalam tangisnya.


Membuat Vani mengangguk dan langsung menghampiri sopir yang bertugas menjemput Zela.


Benar saja mobil mewah Zela sudah berada tepat di depan gerbang, dengan penuh amarah Vani menghampiri sopir itu.


" Pak.." Ucap Vani membuat Sopir itu menoleh ke arah Vani.


" Eh.. Non Vani.. Dimana Non Zela ya..?? " Tanya Sopir itu dengan sopan.


" Aku mau ngomong penting, ayo masuk dulu.." Ajak Vani kepada Bapak Sopir untuk masuk kedalam mobil mewah Zela.


Bapak sopir itu mengernyitkan keningnya bingung, tapi dia juga menurut apa yang di katakan oleh Vani.


" Ada apa ya Non Vani..?? " Tanya Bapak Sopir ketika mereka sama sama sudah berada di dalam mobil mewah Zela.


" Zela pulang ma aku dan Seli.. Bapak pulang aja.. Dan tolong bilang ke Kak Brayen.. Jangan seenaknya mainin perasaan Zela.. Kalau nggak mau berhadapan sama Vani.." Jelas Vani dengan emosi yang cukup menggebu, lalu keluar dari dalam mobil.


Sedangkan Bapak sopir itu malah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Vani, tapi tak lama dia juga melajukan mobil mewah itu meninggakan sekolahan SMA Nona mudanya.


Vani segera menghampiri Zela dan Seli yang masih berada di dalam mobil Seli.


Vani masuk kedalam mobil lalu memeluk Zela, bahkan Vani juga ikut nangis karena tidak tega melihat Zela yang begitu terlihat menyedihkan.


" Gue nggak nyangka Kak Ray sebrengsek itu.. Tapi Loe tenang aja.. Gue akan kasih pelajaran Kak Ray.. Gue nggak rela Loe di sakitin gini.." Ucap Vani panjang lebar membuat Zela dan Seli saling pandang bingung.


" Van.. Tapi.." Ucap Zela terhenti karena Vani sudah memotongnya.

__ADS_1


" Nggak tapi tapian Zel... Gue bener bener nggak mau Loe kayak gini... Gue harus kasih pelajaran Kak Ray.. Iya kan Sel..?? Kita harus balas perbuatan Kak Ray.." Jelas Vani lagi kembali membuat Zela dan Seli semakin bingung.


" Vani dengerin Gue dulu.." Ucap Zela lagi lagi terpotong oleh Vani.


" Udah Zel.. Stop.. Gue tuh nggak tahan lihat Loe dari tadi pagi udah murung terus.. Gue harus lihat Loe sampe nangis gini gara gara cowok seperti Kak Ray.. Ini nggak bisa dibiarkan.." Jelas Vani lagi dengan emosi yang masih menggebu.


" Vani sayang dengerin dulu... Biar Gue jelasin.." Ucap Zela yang akhirnya membuat Vani terdiam.


Vani menatap Zela, lalu kembali memeluk Zela.


" Vani.. Thanks ya Loe perhatian banget sama Gue.. Tapi kak Ray itu tinggalin Gue.. Bukan karena sama yang lain atau apa.. Tapi karena ada urusan ke New York.." Jelas Zela yang sukses membuat Vani melotot tak percaya.


" Really..?? " Tanya Vani memastikan, membuat Zela mengangguk.


Vani juga menatap ke arah Seli, sama halnya dengan Zela, Seli juga mengangguk pertanda mengiyakan.


" Astaga.. Mati Gue.." Gumam Vani yang masih terdengar oleh Zela dan juga Seli.


" Why..?? " Tanya Seli ingin tahu.


" Gue tadi udah marah marah ma sopir Loe Zel.." Jelas Vani membuat Zela terkikik geli, sedangkan Seli menempuk jidatnya.


" Astaga.. Miss telmi.. Makanya dengerin dulu napa.." Ucap Seli membuat Vani tersenyum kikuk.


" Tadi sih Zela bilang di tinggak Kak Ray.." Jawab Vani membela dirinya.


" Ya.. Tapi kan Loe nggak denger detailnya dulu.." Jawab Seli lagi lagi membuat Vani nyengir.


" Udah.. Ikh.. Kita jadi shopping kan..?? Biar Gue nggak galau nunggu Kak Ray ngabarin Gue nih..." Ucap Zela yang langsung di angguki oleh kedua sahabatnya.


" Oke.. Let's go..." Jawab mereka bertiga semangat.


Untuk menghilangkan kegalauan Zela memang sangat membutuhkan jalan jalan juga kedua sahabatnya tentunya, tanpa Seli dan Vani sudah dipastikan Zela tidak dapat tersenyum bahkan tertawa karena menahan rasa rindu ditinggal oleh suami tampannya.


Bahkan sebelum Brayen pergi, mereka selalu melakukan hal hal kecil yang begitu membekas di hati Zela, termasuk perlakuan Brayen tadi malam kepadanya.


Itu sungguh membuat Zela semakin merasa kehilangan sosok Brayen di sisinya.


Sedangkan di dalam pesawat, kini Brayen sedang duduk memejamkan matanya tapi tentu saja hanya matanya yang terpejam, sedangkan pikirannya masih tertuju kepada istri cantiknya, siapa lagi kalau bukan Zela.


" Ray...." Ucap Dimas yang duduk di sebelahnya.


" Hmm.." Jawab Brayen tanpa bergerak ataupun membuka matanya.


" Tuh cewek mirip banget ma bini Lo deh.." Jawab Dimas membuat Brayen seketika membuka matanya, tapi dia masih bersandar santai.


" Nggak mungkin.." Jawab Brayen tidak percaya.


" Makanya lihat dulu..." Jawab Dimas lagi.


" Mana....??? " Tanya Brayen akhirnya yang mulai penasaran.


" Tuh.. Di sana..." Jawab Dimas menunjuk orang tua paruh baya yang terlihat begitu gempal.


" Astaga... Sialan Loe.." Jawab Brayen tak terima jika Zela di samakan dengan wanita bertubuh gempal yang Dimas tunjukan.


" Ha..ha..ha.. Gue tau Loe udah kangen berat sama Zela, Siapa tau tuh Ibu Ibu yang Loe lihat bisa berubah jadi Zela.." Jelas Dimas dengan kekehan.


" Udah.. Brisik Loe.." Jawab Brayen singkat lalu kembali memejamkan matanya, mendengarkan musik juga membayangkan saat saat kebersamaannya dengan Zela.


Bukan hanya Zela yang merasa rindu meskipun baru beberapa jam mereka terpisah, bahkan belum genap sehari, tapi Brayen juga sudah merasa begitu rindu, rindu yang akan sangat berat dia rasakan.


Bahkan mungkin rasa rindu yang Brayen rasakan lebih dari Zela, hanya saja sebagai laki laki Brayen tidak akan mungkin seperti Zela yang sampai menangis atau yang lainnya.


Brayen hanya cukup merasakan rasa rindu yang tertuju untuk Zela, untuk istri cantiknya yang begitu sangat dia cintai.


Brayen juga ingin cepat menyelesaikan masalahnya nanti ketika sudah sampai di New York, agar dia menepati janjinya kepada Zela untuk berada di sana hanya satu hari saja.


please baby wait for me batin Brayen dengan senyum tampannya.


Bahkan tanpa Brayen sadari, sedari tadi ada beberapa wanita yang juga berada di dalam pesawat terus mengamatinya.


Menikmati mahluk Tuhan yang menurut mereka begitu sempurna itu, memang pesona Brayen Zafano tidaklah akan pudar meskipun hatinya sedang di landa rindu yang teramat untuk istrinya.


Hayoo.. Gaes masih amankan belum ngegalau?? Ntar dulu lah ya galaunya.. Next episode aja.. Nggak tega sama Babang Brayen juga Zezel..


Oke seperti biasa.. Aku minta Like, Comment dan juga Vote ya Kak..


Satu lagi.. Panggil aku Riria atau Riri aja juga boleh.. Nggak usah panggil author, Oke..??


Makasih ya kalian udah mau bersedekah buat NgeVote..


Big Thanks buat kalian


Aku sayang kalian.. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2