
Mobil mewah Brayen melaju membelah jalanan kota yang begitu padat. Sekarang ini mereka akan menuju ke rumah sakit Zafano untuk memeriksakan kandungan Zela. Bahkan sedari tadi tidak hentinya Brayen terus memikirkan bagaimana nanti hasilnya.
Brayen yakin jika anaknya nanti berjenis kelamin laki-laki, sedangkan Zela kini lebih bisa menerima apapun nanti hasil USG, awalnya Zela memang menginginkan anak perempuan, tapi melihat Brayen yang begitu antusias mengharap seorang anak laki-laki membuat Zela juga menginginkan hal yang sama seperti Brayen. Yang terpenting untuknya ialah anaknya sehat tanpa kurang suatu apapun.
Brayen terus mengelus perut Zela yang masih memakai seragam sekolahnya. Perut buncit Zela yang terlihat begitu bulat, dengan tangan yang satunya masih fokus pada setir mobilnya. Bahkan Zela sampai tertidur karena usapan lembut dari Brayen.
Melihat Zela yang tertidur membuat Brayen tersenyum.
" Kamu pasti capek banget ya yang." Gumam Brayen berbicara pada Zela yang tertidur di mobilnya. Sampai tidak terasa mobil Brayen memasuki rumah sakit yang bertuliskan Zafano di depannya.
Setelah memarkirkan mobilnya. Brayen kembali menatap Zela yang masih tertidur, rasanya tidak tega untuk membangunkannya.
Brayen mencium bibir Zela agar Zela terbangun, biasanya jika Brayen memberi kecupannya, Zela akan terbangun saat tidur.
Tapi tidak ada pergerakan dari Zela, membuat Brayen gemas dan kembali mencium bibir istri cantiknya itu.
Cup..
Brayen mencium bibir Zela, begitu juga dengan Zela yang merangkulkan tangannya pada pundak Brayen. Membuat Braye terkejut tapi juga gemas dengan tingkah istrinya yang sekarang sudah tidak lagi malu-malu seperti beberapa bulan yang lalu.
" Bangun sayang... Kita udah sampai." Ucap Brayen sembari mengecup bibir Zela sekali lagi.
Zela membuka matanya, lalu tersenyum manis ke arah Brayen, senyuman yang begitu teduh Brayen lihat.
" Janji dulu." Jawab Zela manja tapi membuat Brayen cukup bingung.
" Janji kenapa sayang?." Tanya Brayen masih dengan bingungnya.
" Ya bilang dulu janji." Jawab Zela lagi meminta agar Brayen mengiyakan apa yang dia inginkan.
" Iya janji." Jawab Brayen membuat Zela tersenyum senang.
" Nanti kalau hasil USG anak kita cewek, Kak Ray nggak boleh marah ya? Harus tetap bersyukur." Jelas Zela yang sontak membuat Brayen terkejut, tapi juga mengangguk, meskipun dalam hatinya Brayen terus berucap semoga anaknya seorang lelaki.
" Iya." Jawab Brayen mengangguk.
" Iya apa?." Tanya Zela lagi memastikan agar Brayen tidak mengingkari janjinya.
" Janji kan tadi?." Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela dengan senyumnya, juga mendekatkan hidungnya dengan hidung Brayen yang di gerak-gerakannya dengan pelan.
" Ayo kita keluar." Ajak Zela kepada Brayen.
" Kiss dulu tapi." Pinta Brayen membuat Zela langsung melakukannya tanpa pikir panjang.
Cupp...
Zela mencium bibir Brayen sekilas, lalu melepaskan rangkulan tangannya pada leher Brayen. Dengan segera mereka turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah sakit dengan bergandengan tangan.
Bahkan beberapa perawat yang melihat kedatangan Zela dan Brayen sempat menganggukan kepalanya, tapi aneh rasanya pasangan muda itu akan segera mempunyai seorang anak, di tambah Zela saat ini ke rumah sakit masih menggunakan seragam sekolahnya.
Mereka memasuki ruangan dokter yang memang di khususkan untuk memeriksa Zela.
" Eh... Nona Zela baru datang, ayo silahkan duduk sayang." Sapa Dokter kepada Zela, yang di angguki Zela dengan senyuman, tidak lama Brayen juga ikut masuk ke dalam ruangan.
" Lho... Ternyata sama calon Daddy ya? Ayo silahkan duduk." Ucap Dokter melihat kedatangan Brayen.
Brayen mengangguk, dia juga duduk di sebelah Zela yang sudah lebih dulu duduk tadi.
" Tadi Bunda udah kasih tau dokter ya?." Tanya Zela yang di angguki oleh Dokter itu, sembari tangannya mengambil beberapa alat untuk memeriksa pasien spesialnya.
" Tadi Bunda kamu sudah telp, katanya mau sekalian USG juga." Jelas Dokter yang di angguki oleh Zela lagi.
Seperti biasa Dokter akan memeriksa tensi, berat badan, lingkar lengan dan yang lainnya. Setelah itu Dokter menyuruh Zela untuk segera berbaring di ranjang yang sudah di siapkan.
__ADS_1
Berbeda dengan Brayen yang malah berdiam diri di tempat duduknya tanpa bergeser sedikipun apa lagi berkata, tapi dalam hatinya terus berdoa agar hasil USG sesuai dengan keinginannya. Yaitu calon anak mereka yang berjenis kelamin laki-laki.
Melihat Brayen yang masih anteng di tempat duduknya membuat Zela sedikit bingung tapi juga kesal, jika di lihat Brayen seperti tidak antusias, padahal sebenarnya Bdayen sedang sibuk dengan doanya di dalam hati.
" Kak." Panggil Zela tapi tidak ada jawaban dari Brayen.
" Kak Ray!!!." Panggil Zela lagi dengan nada cukup tinggi, dan sekarang mampu membuat Brayen menoleh ke arahnya.
Sedangkan Dokter itu menggeleng melihat pasangan muda yang terlihat begitu harmonis tapi juga sangat lucu itu.
" Eh... Kenapa yang?." Tanya Brayen yang langsung berdiri dan menghampiri Zela yang sudah berbaring di ranjang.
" Sini, mau lihat Baby nggak?." Tanya Zela yang di angguki oleh Brayen.
Hufh...
Brayen menghela nafasnya, jujur saja dia begitu gugup meskipun sekarang hanya melakukan pemeriksaan dan juga USG untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka. Tapi rasanya hampir sama seperti ketika Brayen yang akan melangsungkan akad nikah dengan Zela dulu.
" Tidak apa Nak Ray, kalau calon Daddy biasanya memang cemas." Ucap Dokter seperti mengerti apa yang di rasakan oleh Brayen saat ini. Dan memang benar apa yang di katakan oleh Dokter, Brayen cemas dan khawatir, bahkan rasanya dia seperti ingin mengurungkan niatnya untuk melakukan USG pada perut Zela.
" Silahkan Dok, lanjutkan." Jawab Brayen tidak ingin terlihat memalukan di depan istrinya.
Mendengar apa yang di katakan oleh Brayen, membuat Dokter itu mengangguk dan segera melanjutkan tugas akhirnya hari ini.
Dokter memberikan gel dengan rata seperti bebarapa bulan yang lalu di perut Zela. Dengan segera alat yang di pegangnya di usap-usapkan di dalam perut Zela, terkadang sedikit di tekan juga dan tampak pada layar yang berada di sebelah Zela terlihat bayi kecil yang begitu aktif dan lincah.
Bahkan gerakan bayi itu begitu terlihat jelas, yang langsung membuat Brayen terdiam mengamati dengan teliti setiap gerakan si kecil yang berada di dalam perut istrinya.
Zela melirik ke arah monitor yang berada di sebelahnya. Dia juga tersenyum haru melihat mailakt kecilnya yang ternyata begitu aktif di dalam perutnya.
Brayen menggenggam tangan Zela dengan begitu erat, bahkan terlihat seperti Zela sudah akan melahirkan saja saat ini.
" Anak kita yang." Ucap Brayen yang di angguki oleh Zela dengan senyum harunya.
" Jadi ingin tau jenis kelamin bayinya apa tidak ini?." Goda Dokter kepada Zela dan Brayen yang hampir melupakan hal itu karena saking terharunya.
Mereka mengangguk bersamaan, pertanda jika mengiyakan apa yang di katakan oleh Dokter. Dengan segera Dokter kembali bermain pada perut Zela dengan alatnya untuk mencari keberadaan jenis kelami bayi mereka agar bisa terlihat dengan jelas.
Dan.... Akhirnya setelah beberapa detik Dokter berhasil menemukan jenis kelamin bayi mereka agar bisa terlihat dengan jelas.
Tapi baik Zela maupun Brayen sama-sama tidak mengerti, mereka malah bingunh dengan bentuk yang ada pada monitor.
" Itu apanya Dok?." Tanya Zela membuat dokter itu tersenyum.
" Katanya tadi mau lihat jenis kelamin anak kalian? " Tanya Dokter kembali menggoda Zela dan Brayen.
" Itu jenis kelamin dedek bayi, kalian bisa lihat nah, itu tuh...." Jelas Dokter tapi masih tetap membuat Zela bingung.
Bahka rasanya yang nampak pada monitor itu seperti bulat-bulat, tapi kadang juga panjang, Zela tidak begitu mengerti, meskipun alat USG yang mereka gunakan ialah alat terbaik yang berada di seluruh rumah sakit Indonesia.
Sedangkan Brayen kini sudah bisa tersenyum , dia sudah tau jenis kelamin anaknya nanti.
" Kenapa senyum-senyum Kak? " Tanya Zela melihat gelagat Brayen yang aneh.
" Baby kita, baby boy, iya kan Dok?." Jelas Brayen yang juga bertanya kepada Dokter untuk memastikan.
Dokter mangangguk sambil tersenyum, membuat Brayen seketika melompat girang tanpa malunya.
" Yes... Yes... Yes...." Ucap Brayen begitu bahagia. Sampai membuat Dokter itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak pemilik rumah sakit yang dia tempati untuk bekerja itu.
Zela tersenyum, dia juga bahagia melihat suaminya yang begitu bahagia dengan hasil USG yang begitu memuaskan untuk dirinya.
Brayen memeluk Zela, dia juga mencium kening Zela berkali-kali. Sungguh rasanya saat ini Brayen sudah tidak sabar dengan kehadiran jagoan kecilnya nanti.
__ADS_1
" Eh... Sebentar Nak Ray, saya bersihkah dulu gel nya." Ucap Dokter melihat Brayen yang sudah memeluk Zela karena begitu bahagianya.
Brayen mengangguk, dia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Brayen akan memberitahukan kepada Bunda Wina, Mamah Hana juga Dimas dengan berita baik ini.
Sedangkan Pak Riko dan Pak Adam, biarkan saja nanti para istri yang mengabarinya pikir Brayen.
Setelah selesai, Zela kembali duduk di depan meja Dokter. Sedangkan Brayen sudah sibuk dengan ponselnya untuk mengabari orang-orang terdekatnya.
Brayen ingin mengajak makan malam bersama di hotelnya untuk merayakan hari bahagianya.
" Nak Zela, tolong di kurangi makan coklat atau makanan yang manis-manis ya, karena berat badan dedek bayinya sudah 2,3 kg, sedangkan sekarang baru 6 bulan, takutnya kalau kebesaran di perut nanti proses lahirannya tidak jadi normal, bisa jadi sesar." Jelas Dokter membuat Zela sempat terbengong sebantar. Tapi kemudian mengangguk.
Astaga... Pasti karena gue terlalu banyak makan ini, mana pernag gue makan coklat. Batin Zela beragumen sendiri.
" Ekhem...." Deheman Brayen dari belekang Zela. Membuat Zela menoleh ke arah Brayen dengan kesal.
Zela tau jika Brayen secara tidak langsung sedang meledeknya karena begitu banyak makan, meskipun hanya dengan sebuah deheman saja.
Setelah mendapat beberapa resep dari Dokter untuk tetap menjaga stamina tubuhnya, juga obat penambah darah, Zela dan Brayen pamit kepada Dokter.
Mereka segera keluar dari ruangan itu. Setelag keluar Zela langsung berjalan cepat meninggalkan Brayen, tentu saja Zela kesal dengan ledekan Brayen tadi. Membuat Brayen harus berjalan cepat untuk mengejar istrinya.
Bahkan beberpa perawat sempat mengamati kedua pasangan muda itu, ketika tadi datang mereka terlihat begitu mesra dan harmonis, lalu kenapa sekarang ketika pulang mereka seperti sedang perang dingin? Aneh memang pikir beberapa perawat yang melihat pasangan muda itu.
" Yang kamu kenapa sih?." Tanya Braye setelah berada di sebelah Zela.
Tidak ada jawaban dari Zela, membuat Brayen mendengus kesal, tapi sekali lagi Brayen harus bersabar menghadapi Zela yang saat ini sedang hamil.
Merasa tidak nyaman dengan keadaan marah seperti sekarang ini, membuat Brayen tanpa berkata langsung menggendong Zela dan membawanya ke dalam mobil. Bahkan beberapa perawat juga pengunjung yang melihat adegan itu sempat di buat meleleh oleh sikap Brayen yang begitu manis kepada istrinya.
" Hih... Gemes aku sama anaknya Pak Riko, udah ganteng penyayang lagi, benar-benar calon hot daddy." Ucap salah satu perawat.
" Iya aku juga sama, tapi sayang ya.. Dia nggak jadi Dokter aja di sini, kan lumayan kita jadi tambah semangat ada Dokter seganteng itu." Jawab salah satu perawat sambil berkhayal.
" Mana mau sih anak orang kaya jadi Dokter, yang ada ya tinggal duduk manis nerima uang aja beres." Sambung salah satunya lagi membuat teman-temannya tertawa.
" Duduk manis, di temani istri cantik, dan duit terus mengalir, siapa yang nggak mau coba jadi Brayen Zafano." Jelas salah satunya membuat yang lain semakin tertawa.
Zela kini sudah duduk di mobil Brayen. Begitu juga dengan Brayen yang duduk di kursi kemudinya. Tapi masih belum menjalankan mobilnya. Membuat Zela semakin merasa panas saja rasanya.
Zela terus mengkipas-kipaskan tangannya pada wajahnya yang terasa gerah. Dengan segera Brayen menambahka AC mobilnya. Tapi seperti sudah tidak terasa oleh Zela.
" Masih panas yang?." Tanya Brayen mencoba mencairkan suasana. Tidak ada jawaban dari Zela membuat Brayen menggelengkan kepalanya.
Brayen menambahkan lagi AC dalam mobilnya. Dan kini cukup berasa dingin untuk Brayen, tapi tidak dengan Zela yang masih sama seperti tadi, mengkipas-kipaskan tangannya pada wajah cantiknya.
" Masih panas ya? Buka aja bajunya biar ademan dikit." Suruh Brayen yang sontak mendapat tatapan tajam dari Zela.
Merasa amarah Zela yang semakin memuncak membuat Brayen terdiam, Brayen seperti suami yang takut istri saat ini. Padahal ini hari bahagianya setelah mengetahui jenis kelamin anaknya, tapi malah dapat ujian dari istri cantiknya yang sedang tidak bisa tersenggol sedikit dengan ucapan Brayen, meskipun hanya dengan deheman saja tadi.
Brayen segera menyalakan dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit yang membuatnya bahagia tapi juga kacau hari ini.
Karena mobil yang sudah berjalan. Membuat Zela tiba-tiba merasa sedikit dingin, tidak lagi panas seperti tadi, Zela ingin mengatakan kepada Brayen kalau dia kedinginan, Zela juga ingin mengecilkan AC mobilnya, tapi rasa gengsinya terlalu besar.
" Ekhem... Ekhem." Deheman Zela bermaksud agar Brayen peka dan tau keinginanya untuk mengecilkan ACnya.
Tapi yang namanya laki-laki kadang harus di jelaskan agar dia lebih mengerti keinginan wanitanya, begitu juga dengan Brayen yang saat ini tidak tau sama sekali dengan maksud Zela.
Brayen malah melirik Zela sekilas dengan senyum, Brayen berfikir jika Zela akan meminta maaf karena sudah terlalu lebay, marah padanya hanya karena sebuah deheman saja.
Sorry gaes sorean, sebenarnya tadi udah nggak mau up, tapi nggak tega sama readers yang udah nunggu kelanjutan cerita ini.
Pelase.. Vote ya gaes, banyak banget yang minta up cepet, tapi nggak vote sama sekali, dan buat yang kemarin vote banyak banget.. Big Thanks kamu, aku tau siapa kamu 😘
__ADS_1