
Kini semua sedang menunggu Zela di depan ruangan dengan keadaan cemas dan khawatir pastinya. Bahkan keluarga Adafsi juga sudah berada di sana semua, Pak Riko yang tadi hampir melupakan besannya itu sudah memberitahukan bahwa Zela akan segera melahirkan.
Dimas dan Xelo duduk di ruang tunggu, Seli dan Vani mondar mandir merasa khawatir, sedangkan Pak Riko dan Pak Adam berdiri menunggu, Bunda Wina dan Mamah Hana berdiri tepat di depan pintu, sesekali mereka saling pandang dan juga saling menguatkan satu sama lain.
Zifa belum datang karena tadi dia sudah berada di kampus. Dan akan segera ke rumah sakit setelah mata kuliahnya selesai.
Brayen kini menggenggam tangan Zela untuk memberi kekuatan pada Zela yang sedang berjuang untuk kelahiran anak mereka.
Hanya satu orang yang boleh menemani Zela di ruang persalinan. Dan itu adalah suami Zela sendiri Brayen, jujur saja awalnya Brayen ingin menolak karena tidak tega melihat Zela yang terus mengaduh sakit, tapi setelah di jelaskan oleh Dokter, akhirnya Brayen mnyanggupinya.
" Ayo... Sayang dorong lagi." Ucap Brayen berniat memberi semangat kepada istrinya.
Dokter dan beberapa suster juga sudah berada di depan Zela untuk memberi intruksi kepada Zela, kapan harus mengejan dan mengambil nafas.
" Mi num Kak." Ucap Zela lirih.
Dengan sigap Brayen langsung mengambilkan minuman untuk Zela, setelah selesai minum Zela kembali di beri intruksi untuk mengejan karena Bayinya juga kembali mencari jalan untuk keluar.
Sebenarnya Zela termasuk wanita yang beruntung, tadi ketika di bawa ke rumah sakit. Zela masih bukaan pertama, tapi setelah berapa menit Zela sudah bukaan sempurna, membuat Zela tidak harus merasa sakit yang berkepanjangan, karena biasanya ada yang sampai dua hari dua malam merasa sakit ketika akan melahirkan.
Melihat perjuangan Zela untuk melahirkan anak mereka, membuat Brayen sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya, tapi Brayen terlalu gengsi jika sampai mengeluarkan air mata di depan Dokter dan juga beberapa perawat di ruangan itu.
Brayen terus berjanji dalam hatinya jika anaknya sudah lahir dia akan semakin menyayangi istri dan juga anaknya.
God gue janji akan selalu menyayngi istri dan anak gue, please permudah Batin Brayen meminta agar di permudah proses persalinanya.
" Aya Nona Zela sedikit lagi." Ucap Dokter mengintruksi Zela untuk kembali mengejan.
Ujung kepala anak mereka sudah kelihatan, tapi Zela kembali berhenti karena seperti sudah kehabisan nafas, Brayen melirik ke arah bawah, di mana kepala calon anaknya sudah sedikit kelihatan, memanh hanya sedikit sekali tapi mampu membuat Brayen semakin semangat untuk memberi semangat kepada Zela.
" Sayang ayo semangat, kepala anak kita sudah kelihatan." Ucap Brayen membuat Zela menatap Brayen sekilas lalu kembali mengejan.
" I Love You." Bisik Brayen kepada Zela.
Zela hanya tersenyum tanpa menjawab, rasanya dia sudah lemas karena terus mengejan.
__ADS_1
" Kak Ray keluar, panggil Seli sama Vani." Ucap Zela seketika membuat Brayen, Dokter dan beberapa perawat saling pandang dan terdiam sejenak.
" Aku mau mereka di sini sekarang." Sambung Zela dengan suara lemah.
Brayen menatap Dokter, dan Dokter itu mengangguk mengiyakan permintaan Zela yang sebenarnya sangatlah aneh, hampir sedikit lagi saja anaknya keluar tapi masih menginginkan permintaan yang aneh.
Seperti yang Zela katakan, Brayen keluar dari ruangan. Ketika pintu di buka dan menampilkan sosok Brayen, semua orang yang berada di depan ruangan Zela tadi melihat ke arahnya dan terdiam.
" Sel Van, kalian di suruh masuk." Ucap Brayen membuat Seli dan Vani langsung masuk tanpa berganti baju terlebih dahulu.
" Ray apakah Zela baik-baik saja?." Tanya Mamah Hana cemas.
" Zela baik-baik saja Mah, Ray masuk dulu ya." Pamit Brayen yang di angguki oleh Mamah Hana dan juga mereka.
Brayen kembali masuk dan menghampiri Zela yang sudah di dampingi kedua sahabatnya. Seli berada di sebelah kanan, dengan menggenggam tangan kanan Zela, sedangkan Vani berada di sebelah kiri yang juga menggenggam tangan kiri Zela.
Brayen bingung, dia harus melakukan apa jika tangan Zela sudah di genggam oleh kedua sahabatnya, tidak mungkin Brayen ikut memberi intruksi seperti yang Dokter lakukan.
" Kak sini." Panggil Zela membuat Brayen menghampirinya dan kini Brayen berada di sebelah Seli yang sedang menggenggam tangan Zela.
Brayen langsung mencium kening Zela, dan tidak lama Dokter juga kembali menyuruh Zela untuk mengejan.
" Zezel... Semangat kita di sini." Ucap Seli yang di angguki oleh Vani.
Zela tersenyum, Seli dan Vani sudah berada di sampingnya, begitu juga dengan Brayen yang sedang menyium keningnya untuk memberi semangat.
Aneh memang permintaan Zela.
Huffh....
Zela menarik nafasnya dalam dan begitu panjang, lalu dengan semangat Zela kembali mengejan, tidak lama terdengarlah suara tangisan bayi.
Oeeeee....oweeeeee.....
Tangisan bayi yang baru lahir ke dunia membuat semua yang berasa di ruangan itu merasa lega dan haru. Begitu juga para orang Tua juga Dimas dan Xelo yang samar-samar mendengar suara tangisan Brayen mengucap syukur dan lega, mereka juga sangat bahagia akhirnya malaikat kecil yang di tunggu sudah hadir di dunia.
__ADS_1
" Selamat ya Nona Zela, Tuan Brayen, anak kalian sudah lahir normal tanpa kekurangan suatu apapun, dan sangat tampan." Ucap Dokter sembari memberikan bayi itu kepada Zela, membuat Brayen tersenyum bahagia melihat wajah malaikat kecilnya.
Zela masih begitu lemas, tapi dia mendekap anaknya dengan penuh kasih sayang, tetes air mata bahagianya mengalir begitu saja melihat malaikat kecil yang sudah lama dia tunggu kini berada di dekapannya.
Jangan di tanya, Seli dan Vani bahkan sudah sesenggukan saking harunya dan juga bahagia, mereka memang bukan hanya sekedar sahabat tapi sudah seperti keluarga.
Sedangkan Brayen terus menyiumi wajah Zela, tidak hentinya Brayen membisikan kata sayang dan terimakasihnya pada Zela.
" I Love You and thanks honey." Bisik Brayen di telinga Zela.
Ntah sudah berapa kali Brayen mengatakan itu untuk Zela.
" I Love You too Daddy." Jawab Zela membuat Brayen tersenyum.
Brayen menatap ke arah bayi mereka yang baru lahir tapi sudah pintar memainkan jarinya, bahkan dia tidak menangis berada di dekapan Zela, Brayen mencium lembut kepala anaknya.
" Nona Zela silahkan s*sui bayinya dulu sebentar, dan sebentar lagi Tuan Brayen adzani ya, buat Nona Seli sama Vani terimakasih sudah membantu kami, silahkan ke luar dulu." Ucap Dokter itu dengan sopan.
Seli dan Vani mengangguk.
" Kita ke luar dulu ya." Ucap Seli membuat Zela mengangguk.
" Big Thanks gaes." Jawab Zela yang langsung di angguki oleh Seli dan Vani.
Setelah kepergian Seli dan Vani, Zela langsung memberikan asinya untuk yang pertama kalinya kepada anaknya. Rasa lemas dan sakit seperti hilang begitu saja melihat malaikat kecilnya yang langsung pintar sekali meny*su kepada Mommy nya. Lucu sekali pikir Zela.
Anaknya sangat terlihat tampan, perpaduan antara Zela dan Brayen yang sangat adil, dan itu membuat Zela tersenyum bahagia.
Malaikat kecil yang sebentar lagi akan merubah kehidupan Zela dan juga Brayen, begitu juga dengan keluarga besar Adafsi dan Zafano.
Gaes... Yang mau kasih saran buat nama anak mereka commen di bawah ya, siapa tau kita sepemikiran 😊
Jangan Lupa Like, Comment and Vote ya..
Big Thanks 🙏🙏😘😘
__ADS_1