
Ketiga gadis cantik itu memasuki Hotel Zafano. Baru sampai di lobby . Mereka sudah di hadang oleh pegawai hotel atas suruhan dari Brayen CS.
" Mbak Seli sama Mbak Vani ya?." Tanya pegawai hotel kepada Seli dan Vani.
Mereka mengangguk bersamaan.
" Iya, kenapa Mas?." Tanya Seli kepada 2 pegawai Hotel yang menghampiri mereka tadi.
" Maaf saya ada tugas untuk mengantar kalian ke suatu tempat." Jelas pegawai hotel itu.
" Iya terus?." Tanya Vani kepada pegawai hotel Zafano.
" Kalian harus memakai penutup mata terlebih dahulu ya." Jawab pegawai Hotel dengan menunjukan penutup mata yang sudah di sediakan untuk mereka.
Seli dan Vani saling pandang bingung, sebenarnya apa sih kejutannya sampai haru menutup mata segala? Padahal jelas-jelas mereka juga sudah tahu tempatnya.
" Zel gimana dong di suruh pakai penutup mata segala ini?." Tanya Vani menoleh ke arah samping yang sudah kosong tanpa adanya Zela.
" Lha kampret tuh anak, kemana sih pakai ngilang segala?." Sambung Vani yang tidak lagi melihat keberadaan Zela di sampingnya.
Padahal tadi Zela masih berada di sebelahnya, tetapi tiba-tiba menghilang begitu saja. Mirip banget syaiton dah mahmud yang satu itu, tapi berwujud sangat cantik.
" Ikut nyiapin surprise buat kita kali Van." Jawab Seli membuat Vani mengangguk.
" Awas aja nih kalau kita sampai di ceburin ke kolam." Jelas Vani mendesah kesal.
" Gimana Mbak? Kita pakaikan sekarang ya penutup matanya?." Tanya kedua pegawai yang masih setia menunggu jawaban dari Seli dan Vani.
Seli dan Vani mengangguk, kemudian kedua pegawai itu segera memasang penutup mata yang sudah di sediakan untuk mereka.
__ADS_1
Dengan pelan, mereka berdua di tuntun menuju ke tempat yang mereka tuju. Di sana sudah ada Zela, Brayen, Dimas, Xelo, dan juga para orang tua dari mereka.
Hanya Dimas yang di wakilkan oleh orang tua Brayen, karena memang dia sudah tidak mempunyai orang tua lagi. Tapi sudah di anggap keluarga Zafano sebagai anak mereka sendiri. Bahkan Pak Riko dan Bunda Wina juga berniat unuk memberi marga Zafano di belakang nama Dimas, tetapi Dimas sendiri yang menolak, menurut Dimas itu terlalu berlebihan, Dimas di beri kerjaan, di sekolahkan sampai begitu tinggi dengan di berikan Apartemen dan juga mobil mewah itu sudah sangat cukup untuknya. Dimas tidak mau sampai melunjak dan nantinya malah tidak tahu diri dengan kebaikan keluarga Zafano kepadanya.
Semua orang yang menunggu kedatangan Seli dan Vani bersiap diri di tempat masing-masing. Zela mencoba menenangkan Arshaka yang baru saja bangun tidur.
Seli dan Vani berdiri dengan berdiam diri. Mereka tidak melakukan apa-apa setelah kedua petugas itu membawanya ke suatu tempat dan pergi begitu saja meninggalkan mereka.
" Sel Lo di sini kan?." Tanya Vani masih dengan mata tertutup.
" Iya Gue di sebelah Lo." Jawab Seli membuat Vani sedikit lega.
" Mana tangan Lo? Kita gandengan aja biar nggak ilang." Sambung Vani lagi, padahal mereka sudah jelas akan di beri kejutan, masih saja takut hilang Vani.
Seli tidak menjawab karena tiba-tiba ada yang menggandeng tangannya, dia pikir itu Vani, meskipun dari rasanya tangannya sedikit lebih besar dan tidak selembut telapak tangan wanita.
Begitu juga dengan Vani yang mengira jika yang menggenggam tangannya ialah Seli. Meskipun Vani merasakan hal yang sama seperti Vani, jika di rasa telapak tangannya jelas bukan telapak tangan seorang wanita.
" Sialan Lo, bukan tangan Gue aja kali, tangan Lo juga gede, kasar lagi nggak selembut tangan Gue." Jawab Seli tidak mau kalah.
Mendengar apa yang Seli dan Vani permasalahkan membuat Dimas dan Xelo hampir saja tertawa, yang menggandeng Seli dan Vani memang Dimas dan Xelo. Tapi seakan bod*h karena terlalu gugup alhasil Seli dan Vani tidak terpikir jika itu memang tangan pacar mereka.
" Cecel Gila ya Lo elus-elus punggung tangan Gue, najong tahu." Protes Vani karena tanpa sadar Xelo mengelus punggung tangan Vani.
" Yeee enak aja... Nggak usah halu Lo Van, lagi di bikin nerfouse gini Lo ngadi-adi aja dari tadi." Jawab Seli membuat Vani mengerucutkan bibirnya.
Dimas melirik tajam ke arah Xelo untuk mengisyaratlan agar tidak berbuat aneh yang akan membuat kedua wanita cantik itu menyadari keberadaan mereka sekarang.
Dan sampailah kini mereka di tempat yang memang sudah di siapkan oleh Dimas dan Xelo dengan bantuan Brayen tentunya.
__ADS_1
Baik Dimas ataupun Xelo langsung memeluk Seli dan Vani dari belakang, mereka sama-sama membisikan kata-kata yang membuat kedua gadis cantik itu semakin dag dig dug serr, dan baru tersadar jika sedari tadi memang yang mereka katakan benar, jika yang menggandeng mereka memanglah tangan pacar mereka masing-masing. Mengingat itu membuat kedua gadis cantik itu jadi semakin gugup dan sedikit malu.
" Sekarang saatnya buka ya." Bisik Dimas dan Xelo begitu pelan dan dekat di telinga Seli dan Vani.
Tanpa menjawab kedua gadis cantik itu hanya mengangguk setuju.
Dimas dan Xelo membuka penutup mata mereka dengan pelan, Seli dan Vani terkesima melihat wajah pacar mereka yang hanya di sinari sedikit cahaya dan terlihat sangat tampan di depan mereka.
Mereka melihat kesekeliling tempat yang tampak sepi, tidak ada seorangpun di sana.
Lalu terdengarlah suara alunan musik yang romantis, ntah dari arah mana mereka belum tahu, karena keadaan di ruangan itu masih minim cahaya.
Dimas dan Xelo mengajak Seli dan Vani untuk ke depan yang berada di tengah-tengah ruangan itu.
Mereka menyanyikan lagu Janji Suci milik Yovie & Nuno. Seli dan Vani mengikuti alunan dan irama yang di mainkan oleh pacar mereka.
Jujur saja mendengar suara kedua lelaki tampan itu membuat mereka terkejut dan sedikit minder, pasalnya suara Seli dan Vani yang cempreng sangat jauh di bawah dengan mereka. Tidak bisa di bandingkan lah pokoknya.
Setelah menyanyikan lagu itu dengan sangat romantis dan mampu membuat kedua gadia cantik itu menitihkan air mata harunya. Kedua lelaki tampan itu bersiap untuk mengatakan sesuatu dengan posisi setengah duduk di depan Seli dan Vani.
Dimas dan Xelo membuka kotak kecil yang berisi cicin cantik di dalamnya.
" Will you marry me?." Tanya Dimas dan Xelo kepada Seli dan Vani.
Seli dan Vani saling pandang, rupanya kejutan yang mereka berikan bukan untuk di ceburkan ke dalam kolam. Tetapi untuk di ajak menikah.
" Yes i want to." Jawab Seli dan Vani bersamaan seraya tersenyum.
Dimas dan Xelo langsung memakaikan cincin yang memang sudah mereka siapkan untuk calon istri mereka itu, setelah itu mereka memeluk kedua gadis cantik yang kini sedang tersenyum bahagia di pelukan mereka.
__ADS_1
Dan di saat itulah lampu tiba-tiba menyala, dengan banyak tepuk tangan dari orang-orang yang berada di ruangan itu. Beserta bunga-bunga yang bertebaran untuk menambah keromantisan di antara mereka.
Seli dan Vani terkejut melihat keberadaan semua orang yang sedari tadi tidak ada dan baru muncul dengan menyalanya lampu, terlebih juga ada orang tua mereka, ini pasti akan menjadi makan malam panjang yang penuh dengan kebahagiaan di antara mereka semua yang berada di ruangan itu.