Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Lagi-Lag Tertunda


__ADS_3

Semua keluarga besar di antara keluarga mereka makan malam bersama. Sedari tadi tidak hentinya Seli dan Vani terus tersenyum malu mengingat kejadian tadi ketika Dimas dan Xelo melamar mereka berdua dengan begitu romantis. Bahkan baik Seli ataupun Vani terus memandangi jari manis mereka yang sudah terpasang cincin cantik pemberian dari calon suami mereka.


" Sel lamaran masal kita." Bisik Vani membuat Seli menoleh ke arah Vani dengan sedikit melotot, tetapi kemudian tersenyum malu seraya menganggukan kepalanya.


" Tahu Gue yang lagi pada bahagia karena di lamar masal." Ucap Zela lirih membuat Seli dan Vani terdiam seraya menatap Zela.


Zela menatap kedua sahabatnya sembari menaik turunkan kedua alisnya, melihat Zela yang begitu menyebalkan tetapi juga menampilakan wajah menggemaskannya membuat Seli dan Vani menarik pipi Zela di bagian kiri dan kanan. Sontak saja hal itu membuat Zela reflek menjerit.


" Auw! Cecel Vanvan!!." Teriak Zela membuat orang-orang di sekitarnya menoleh ke arahnya dan juga kedua sahabatnya.


" Kenapa sayang?." Tanya Bunda Wina kepada Zela.


" Nggak papa Bund." Jawab Zela seraya tersenyum kikuk.


" Bener tidak papa?." Tanya Bunda Wina memastikan, Zela mengangguk dan kembali tersenyum.


" Beneran nggak papa yang?." Tanya Brayen yang langsung duduk di sebelah Zela bergantian dengan Bunda Wina yang tadi duduk di sebelah menantu cantiknya.


" Beneran nggak papa kok Kak." Jawab Zela tersenyum.


Brayen melirik ke arah Seli dan Vani yang langsung menunduk. Ah... Mode garang Daddy baby Arsha muncul lagi sepertinya.


Makan malam kali ini begitu hikmad dan juga bahagua, tidak ada yang merasa tidak bahagia, semuanya tampak bahagia. Hanya ada satu orang yang sedikit merasa kurang dengan kebahagiaan yang sudah di dapatkannya sampai detik ini, ialah Dimas.


Dimas tidak bisa membagi kebahagiaannya dengan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal, dia juga tidak bisa membagi kebahagiaannya dengan Neneknya yang dulu sudah merawatnya sedari kecil.


Tetapi Dimas sangat bersyukur ada Bunda Wina dan Pak Riko yang begitu menyayanginya seperti anak sendir, bahkan tidak ada perbedaan antara Brayen dan dirinya, hanya saja sering kali Dimas yang menolak jika keluarga Zafano itu akan memberi sesuatu yang lebih, termasuk dulu ketika dia akan di kuliahkan di New York bersama dengan Brayen.


Dimas lebih memilih untuk kuliah di Indonesia. Dengan tujuan agar bisa membantu Pak Riko di kantor.


Setelah selesai makan malam bersama, semua pulang ke rumah masing-masing. Begitu juga dengan Dimas yang pulang ke rumah Zafano. Bunda Wina meminta Dimas untuk pulang dan tidur di rumah malam ini. Dengan senang hati Dimas mengiyakan apa yang wanita paruh baya itu inginkan.

__ADS_1


" Nak kamu nanti tinggal di sini kan setelah menikah?." Tanya Bunda Wina penuh harap kepada Dimas.


Kini Brayen, Dimas, Bunda Wina, dan Pak Riko sedang melanjutkan obrolannya di ruang tengah. Sedangkan Zela sedang meniduri Arshaka di kamarnya.


" Bund, Ayah, Dimas mungkin tinggal di Apartemen terlebih dahulu, setelah itu Dimas akan membeli rumah kecil-kecilan untuk keluarga Dimas nanti." Jawab Dimas dengan senyum tampannya.


Pak Riko mengangguk mengerti, Pak Riko tahu Dimas ialah orang yang sangat pintar mengatur rencana untuk segala sesuatunya, termasuk untuk kehidupan rumah tangganya nanti dengan Seli.


" Tapi Nak." Ucap Bunda Wina terhenti karena sudah di potong oleh Pak Riko.


" Sudah Bund tidak papa, Ayah percaya dengan Dimas, dia lelaki yang sangat cerdas bisa mengatur semuanya." Jelas Pak Riko membuat Dimas tersenyum tipis.


" Tapi ingat Dim, kalau kamu tidak bersedia tinggal di sini bersama kita, biar masalah rumah kita saja nanti yang pikirkan." Sambung Pak Riko menjelaskan, sontak saja Dimas terkejut.


Menurut Dimas keluarga Zafano sudah sangat baik kepadanya, bahkan masalah pernikahanpun sudah akan di tanggung oleh Brayen si big bis hotel. Ini masalah rumah nanti akan di tanggung oleh kedua orang tua Brayen. Sungguh Dimas sangatlah beruntung memiliki keluarga seperti keluarga Zafano.


Dimas langsung memeluk Pak Riko, bergantian dengan Bunda Wina, tidak hentinya Dimas terus berterimakasih kepada kedua orang tua paruh baya itu. Kebaikannya sungguh sangat luar biasa.


" Jangan seperti itu, kamu itu anak kami." Ucap Pak Riko membuat Dimas tidak lagi bisa menahan tangis harunya.


" Ehem." Deheman Brayen membuat Dimas melepaskan pelukannya.


" Cengeng Lo." Cibir Brayen membuat Dimas seketika tertawa dan melemparkan bantal sofa ke arah Brayen.


Pak Riko dan Bunda Wina tertawa melihat tingkah Brayen dan Dimas, mereka adalah kebahagiaan keluarga ini. Yang satu begitu humoris dan yang satunya begitu datar dan cuek, lengkap sudah memang apa yang di miliki keluarga Zafano. Terlebih sekarang sudah ada Arshaka yang nantinya akan menjadi Idola baru di kalangan remaja.


Pukul 11 malam. Brayen masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Zela dan si kecil Arsha yang sudah tertidur pulas. Brayen tersenyum melihat dua orang yang begitu sangat di sayanginya.


Brayen mencium kening Arshaka, lalu bergantian mencium kening istrinya.


" Sayang." Bisik Brayen seraya memeluk Zela dari belakang. Tidak ada jawaban dari Zela hanya pergerakan kecil dari tubuh indahnya.

__ADS_1


Brayen tersenyum tipis, dia dengan sengaja mencium tengkuk leher Zela, tangannya juga sudah mulai nakal mencari gundukan kembar yang sangat dia sukai untuk di mainkan.


Zela melenguh mendapat sentuhan hangat dari Brayen, matanya mulai terbuka pelan.


" Kak Ray." Panggil Zela lirih.


" Pengen yang." Bisik Brayen membuat Zela sedikit meremang.


Zela membalikan badannya untuk menghadap ke arah suaminya, terlihat Brayen yang sedang tersenyum tampan kearahnya.


Hembusan nafas Brayen juga sudah mulai berat, ini jelas karena Brayen sudah menginginkan nananina sampai ke ubun-ubun.


" Jam berapa Kak?." Tanya Zela pelan kepada Brayen.


" Baru jam 11 yang, masih ada waktu sampai jam 2 nanti." Jawab Brayen sengaja menggoda Zela dan sukses membuat Zela melotot.


" Nakal." Jawab Zela seraya tersenyum menggoda.


" Tapi kamu suka kan?." Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela dengan pelan.


" Kita bikin adek buat Arsha yang, sebelum keduluan Dimas sama Xelo." Ajak Brayen membuat Zela langsung mencubit hidung mancung Brayen dengan gemas.


" Now?." Tanya Brayen yang di angguki oleh Zela dengan malu.


Biasanya juga Brayen tidak pernah minta ijin dulu, dia akan langsung melancarkan aksinya dengan pemanasan yang membuat Zela mampu terbang melayang sebelum pertempuran terjadi.


Brayen langsung mengecup bibir Zela, tangannya sudah tidak bisa diam memainkan gundukan yang menjadi pegangan kesukaannya.


Zela dan Brayen sudah sama-sama menginginkan malam panjang terjadi sekarang, bahkan pusaka Brayen juga sudah siap untuk bertempur, di saat Brayen hampir saja menyerang Zela dengan pusaka berharganya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan Baby Arsha yang membuat keduanya menghentikan aktifitasnya dan menoleh ke arah baby Arsha dengan muka cengonya.


" Astaga baby, untung kamu anak Daddy." Gumam Brayen seraya menarik rambutnya frustasi.

__ADS_1


Zela tersenyum mendengar penuturan Brayen barusan, lucu banget pokoknya melihat muka Brayen sekarang ini yang lagi-lagi harus menahan hasratnya.


Sumpah rasanya tidak enak banget sudah di ujung ubun-ubun, tetapi harus tertunda karena tangisan baby Arshaka.


__ADS_2