
Mobil Xelo melaju menuju rumah sakit. Sedari tadi ketiga gadis cantik yang sedang di antarkan olehnya terus berceloteh sambil tertawa, termasuk juga Vani yang tidak seperti kemarin banyak diamnya, sekarang Vani juga sudah kembali ke mode awal. Dan itu membuat Xelo tersenyum senang, meskipun Vani belum mengutarakan bagaimana isi hatinya. Tapi Xelo sudah cukup tau bagaimana perasaan Vani kepadanya.
Tuhan itu memang adil, tidak memiliki Zela tapi Xelo di dekatkan dengan Vani, sahabat dari Zela sendiri, dan Xelo tau apa yang di rasakan untuk Zela dulu dan apa yang sekarang dia rasakan untuk Vani sangatlah berbeda.
Xelo bukan hanya suka kepada Vani seperti yang dulu Xelo rasakan untuk Zela. Tapi dia juga sayang dan mencintai Vani, si plankton tercantik di dunia menurut Xelo.
" Kalian berlebihan.." Ucap Xelo yang lebih tertuju kepada Zela.
" Ikh.. Kak Ray tuh yang berlebihan.. Masa pakai cara extreme gitu.." Jawab Seli tidak terima.
" Pengen tau sesuatu nggak tentang Brayen..?? " Ucap Xelo yang langsung di angguki oleh ketiga gadis cantik itu.
Tapi tetap Xelo fokus dengan setir mobilnya.
" Apaan Kak..?? " Tanya Zela penasaran.
" Sebenarnya tuh Brayen kayak gitu.. Karena Gue kasih tau Lo udah ngerjain Brayen Zel.. Dengan pura-pura marah.." Jelas Xelo yang sukses membuat Zela terkejut dan langsung memukul lengan Xelo pelan.
" Ikh... Kak Xelo ember banget sih.. Jadi kacau gini kan..?? Gue sengaja pura-pura marah biar Kak Ray cepet pulang..." Jelas Zela membuat Xelo tertawa.
" Dengerin tuh Kak.." Sambung Seli kepada Xelo.
" Ha..ha..ha.. Sorry Zel.. Gue kasian dong ma Ray yang kata Dimas sampai mondar mandir nggak jelas, sampai gelisah banget.. Secara Dia kan best firend Gue.." Jelas Xelo lagi membela dirinya.
" Masih mending tau nggak mondar mandirnya di sana.. Sekarang Kak Ray lagi mondar mandir dan gelisah di rumah sakit.." Jelas Zela lagi membuat Xelo tertawa tapi juga mengangguk.
" Jangan bilang Kakak juga sekarang bilang ma Kak Ray tentang rencana ini..?? " Tanya Seli yang langsung di jawab Xelo dengan gelengan kepala.
" Ish.. Nggak dong.. Kali ini aman, tenang aja.. Iya nggak Van..?? " Jawab Xelo yang juga menanyakan kepada Vani yang sedari tadi diam lagi.
" Mana gue tau.." Jawab Vani membela sahabatnya Zela.
Membuat Zela dan Seli yang duduk di belakang mereka mengangguk dan mengacungkan jempolnya ke arah Vani yang duduk di depan. Tentu saja di sebelah Xelo.
Xelo tersenyum ke arah Vani, tanpa dia sadari Xelo mengacak rambut Vani pelan yang sukses membuat Vani terkejut, dan semakin tidak tau dengan debaran di hatinya.
Begitu juga dengan Zela dan Seli yang melihat secara langsung dengan apa yang di lakulan Xelo kepada Vani. Begitu membuat mereka terkejut.
Vani masih diam, rasanya tadi ketika di sentuh oleh Xelo ada desiran dari dalam dirinya yang berbeda. Dan Vani sadari jika memang dirinya mulai menyukai sosok lelaki tampan yang biasanya menjadi musuh bebuyutannya.
" Ekhem.... Saling suka tapi nggak jadian.. Ada, Ha..ha..ha.." Ledek Seli yang membuat Vani menoleh ke arahnya dan melotot.
" Ekhemm... Dari musuh akan jadi kekasih.. Juga ada.." Sambung Zela yang sama halnya dengan Seli menyindir kedua mahluk yang sedang sama kasmarannya tapi masih malu untuk melangkah lebih jauh.
" Gaes.." Ucap Vani mengingatkan kedua sahabatnya untuk tidak lagi meledeknya.
" Ampun.. Ndoro..." Jawab Zela dan Seli kompak lalu kembali tertawa.
Hufh... Vani menghela nafasnya, sahabatnya memang begitu, termasuk dirinya juga dan Vani tau itu.
Xelo menggeleng sambil tersenyum dengan tingkah kedua gadis cantik di belakangnya, pantes saja Brayen begitu konyol akhir-akhir ini, ternyata karena dia menikahi gadis SMA pikir Xelo.
Xelo melirik ke Vani yang masih diam, Vani begitu cantik dan menggemaskan membuat Xelo kembali tersenyum.
Gue rasa kalau udah jadian ma plankton juga bakal sama konyolnya dengan brayen batin Xelo tersenyum sendiri.
" Gaes.. Nanti sekalian jengukin Vera gimana..?? " Usul Zela kepada Seli dan Vani, membuta mereka berdua terkejut, bagiamana bisa Zela mengajak mereka untuk menjenguk musuh berakarnya mereka.
" Ogah..." Jawab Seli dan Vani kompak.
" Gaes...." Ucap Zela lagi seperti meminta.
" Zezel.. Masalah jengukin si bakwan menurut Gue nanti aja kalau semua udah clear.. Lagian memang di larang pihak sekolah buat jengukin si bakwan Kan..?? " Jelas Seli yang membuat Zela mengangguk.
" Iya Zel.. Bener tuh kata Seli.. Ya kalau Lo emang pengen banget jengukin si bakwan nanti Lo ijin aja sama Bunda Wina siapa tau boleh.. Gimana..?? " Tanya Vani yang langsung di angguki oleh Zela.
" Brilliant ideas.." Jawab Zela sambil mengacungkan kedua jempolnya.
" Cieee.. Vani jadi tambah pinter nih karena jatuh cinta sama Kak Xelo.." Puji Seli yang juga terdengar seperti ledekan oleh Vani.
" Seli ikh.." Kesal Vani membuat Seli terkikik.
__ADS_1
" Bagus dong kalau jatuh cinta tapi bisa bikin lebih pintar.." Jawab Xelo yang sukses membuat Vani terkejut dan juga malu.
Menurut Vani Xelo sangatlah terang terangan dengan perasaanya kepada Vani, meskipun Vani suka itu tapi dia masih malu.
" Cieee..Cieee.. Seli keduluan Vani nih.." Sambung Zela yang sukses membuat Vani dan Xelo tertawa, sedangkan Seli terdiam tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Zela.
" Nggak papa dong.. Yang penting jangan lupa aja makan-makannya.." Jawab Seli.
" Siap... Kalian doain aja ya.. Biar teman kalian nggak ragu sama perasaan Kakak buat Dia.." Jawab Xelo yang sukses membuat Zela dan Seli saling pandang, lalu melakukan tos kecil bersama.
Sedangkan Vani semakin di buat terkejut berkali kali lipat oleh Xelo. Fix.. Xelo benar-benar udah ngebet banget mengungkapkan perasaanya kepada Vani secara tidak langsung.
Sedangkan kini Brayen duduk di ruang tunggu sambil terus memijat pelipisanya. Rasanya sudah habis air matanya untuk menangisi Zela, yang sekarang harus dia lakukan adalah banyak-banyak berdoa agar Zela cepat sadar dari pingsannya.
Brayen menghampiri Bunda Wina dan juga Dimas yang sedang berdiri di depan pintu. Jujur saja Bunda Wina saat ini sangatlah ingin tertawa sendiri karena menunggu ruangan yang kosong tidak berpenghuni sama sekali.
Tapi sudah dibikin sedemikian rupa seperti layaknya ada pasian yang berada di sana. Lengkap dengan peralatan medis lainnya.
" Bund.. Sampai kapan seperti..??? Aku harus masuk Bund.. Aku harus ketemu Zela.." Ucap Brayen yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
" Sabar Ray.. Tunggu sebantar ya Nak.." Jawab Bunda Wina dengan muka di buat sesedih mungkin.
iya sabar ray.. sampai Zela pulang sekolah.. Batin Dimas terkikik karena sudah tau dengan sandiwara yang Bunda Wina buat.
" Tenang Ray... Zela pasti akan baik-baik saja.." Sambung Dimas kepada Brayen.
" Gimana Gue bisa tenang.. Sementara istri Gue sedang berbaring di sana Dim..?? Dan ini semua salah Gue..." Jawab Brayen dengan nada tinggi.
Dimas dan Bunda Wina saling pandang lalu tersenyum, jujur saja ada rasa kasihan dan tidak tega juga melihat Brayen yang begitu kacau saat ini.
Sampai akhirnya Dokter yang juga di suruh Bunda Wina untuk berpura pura menangani Zela datang menghampiri mereka.
" Dokter bagaimana istri saya Dok..?? " Tanya Brayen kepada Dokter itu.
" Tuan Brayen.. Sebentar ya saya akan memeriksa istri anda terlebih dahulu.." Ucap si Dokter membuat Brayen kesal bukan main. Bagaimana bisa sedari tadi Zela di biarkan terbaring sendiri di ruangan itu. Sementara Brayen sedari tadi ingin menemui Zela saja tidak diperbolehkan.
" Kenapa tidak dari tadi Dok..?? Akh.. Brengs*k... Saya bisa pecat anda sekarang juga.." Jawab Brayen yang sudah emosi.
" Ray.. Cukup nak.." Sergah Bunda Wina kepada Brayen.
Buughh...
Brayen memukul Dokter itu sampai membuat Dokter jatuh tersungkur. Dengan segera Dimas dan Bunda Wina menenangkan Brayen.
" Cukup...!! " Teriak seseorang membuat Brayen menoleh ke arah asal suara.
Betapa terkejutnya Brayen melihat Zela yang sedang berdiri sambil menatapnya. Brayen langsung berlari dan memeluk Zela.
Brayen memeluk Zela dengan erat, seakan tidak ingin lagi melepaskan, apa lagi sampai meninggalkannya kembali dengan jarak yang jauh, karena jauh dari Zela membuat Brayen benar-benar gila, Brayen tidak akan mampu menahan rindu yang begitu menyiksa dirinya.
" Ini kamu yang..?? Ini beneran kamu kan yang..?? " Ucap Brayen masih terus memeluk Zela dengan erat.
" Kamu baik-baik saja kan yang..?? Aku tau kamu baik-baik saja.." Sambung Brayen lagi kepada Zela, yang juga di angguki oleh Zela dengan pelan.
" Ray sudah lepaskan istri kamu.. Dia susah bernafas nanti.." Suruh Bunda Wina kepada Brayen, membuat Brayen menuruti apa yang di katakan oleh Bundanya.
Sedangkan yang lain sedang menikmati adegan live Zela dan juga Brayen yang sedang di persatukan kembali setelah jarak sempat membuat mereka merasakan rindu, rindu yang begitu berat seperti kata Dilan ha..ha..ha..
Brayen menatap Zela, lalu kembali memeluknya. Brayen menumpahkan rasa yang selama ini dia rasakan untuk Zela, rasa rindu, gelisah dan juga sayang, begitu juga dengan Zela yang membalas pelukan Brayen.
Zela merasakan sama seperti apa yang Brayen rasakan, meskipun tidak di ungkapkan dengan kata-kata tapi perasaan mereka sama.
" Jadi maksudnya ini..??? " Tanya Brayen setelah melepaskan pelukannya.
" Ini cuma prank...." Jawab mereka semua kompak, membuat Brayen mengernyitkan keningnya bingung.
Brayen menatap Dimas yang sedang tersenyum simpul sambil menunjukan dua jarinya berbentuk V, Brayen menatap Dokter yang juga sedang tersenyum kepadanya, bahkan tadi Brayen sampai memukul dokter itu.
Pantas saja tidak ada Mamah Hana juga Pak Adam di sana, Ternyata karena hanya sandiwara saja untuk mengerjainya.
Brayen kesal, tapi ini semua juga karena kekonyolannya yang mengerjai Zela terlebih dahulu.
__ADS_1
" Sayang.. Maaf ya.. Ini ide Bunda.. Biar kamu nggak nakal lagi ngerjai istri kamu.. Sampai Zela nangis-nangis tau nggak.." Jelas Bunda Wina kepada Brayen, membuat Brayen mengangguk.
Brayen menatap Zela yang juga sedang menatapnya, Zela tersenyum cantik ke arahnya dan itu semakin membuat Brayen ingin menghukum Zela yang sudah mengerjainya, meskipun itu ide dari Bunda Wina tapi tetap saja Zela juga ikut andil dalam sandiwara ini.
" Oke.. Gue nggak akan marah..." Ucap Brayen kepada mereka semua.
Membuat mereka yang berada di sana tersenyum dan merasa lega. Meskipun sandiwaranya tidak berjalan dengan baik dan kurang dramatis sesuai dengan rencana, tapi membuat Brayen menangis dan emosi seperti tadi sudah lebih dari cukup.
" Tapi Gue... Mau culik Zela.." Sambung Brayen yang langsung menggendong Zela dan membawa Zela pergi dari sana.
Membuat semua yang berada di sana saling pandang dan tertawa dengan tingkah Brayen yang masih saja konyol sekarang.
" Silahkan Ray.. Nikmati bulan madu kamu yang sempat tertunda.." Teriak Dimas membuat yang lain semakin tertawa.
Kini Brayen berada di dalam mobil dengan suasana yang berbeda. Tentu saja karena dia berada di dalam mobil dengan Zela bukan Dimas lagi seperti hari-hari kemarin.
Tidak hentinya Brayen terus mencium tangan Zela, membuat Zela tersenyum senang, karena jujur saja Zela juga sangat bahagia bertemu dengan suami yang sangat dirindukannya ini.
" Kak.. Sorry.." Ucap Zela meminta maaf kepada Brayen.
" No.." Jawab Brayen singkat yang membuat Zela bingung.
" Aku yang minta maaf yank.. Karena udah bikin kamu khawatir.. Jujur jauh dari kamu ternyata itu sangat menyiksa.." Jelas Brayen membuat Zela tersenyum.
" Udah aku maafin Kok Kak.. Tau nggak kenapa Kak Ray tersiksa...?? " Tanya Zela yang di jawab Brayen dengan gelengan kepala.
" Itu karena kita saling rindu Kak.." Jelas Zela yang sukses membuat Brayen tertawa kecil dan mengacak rambut Zela dengan gemas.
" I Love You sayang..." Ucap Brayen mengutarakan isi hatinya kepada Zela.
" I Love You Too.." Jawab Zela dengan senyuman cantiknya.
" Tapi beneran kamu nggak papa kan yang..?? Baby juga nggak papa kan..?? " Tanya Brayen khawatir dan juga masih fokus menyetir.
" Iya nggak apa apa kok Kak.. Babynya juga baik-baik aja.. Malahan katanya minta di tengokin sama Daddynya.." Jelas Zela yang sukses membuat Brayen semakin ingin cepat sampai ke hotel Zafano.
" Baru di tinggal udah mulai nakal ya..." Sambung Brayen membuat Zela tertawa.
" Nggak papa yang penting nakalnya cuma sama suami aja.." Jawab Zela semakin membuat Brayen gemas saja rasanya.
Mobil Brayen berhenti di pinggir jalan, lalu dengan wajah yang dilihat Zela mulai mesum itu menatapnya secara intens bahkan mulai membuat Zela gugup.
Sudah bisa di tebak jika ucapan Zela barusan sangatlah salah dan tidak di waktu yang tepat, Zela benar-benar sudah membangunkan Singa yang sudah lapar.
Dan sekarang Zela harus bertanggung jawab akan hal itu.
" Yang.." Ucap Brayen pelan.
" Kenapa Kak..?? " Tanya Zela kepada Brayen, tentu saja Zela sudah mulai khawatir.
" Di sini aja yuk..?? " Ajak Brayen sambil menaik turunkan alisnya.
Astaga.. Brayen ini memang tidak tau tempat, bahkan jika mereka benar melakukan di dalam mobil yang terparik di pinggir jalan. Sama sekali Brayen seperti bukan dari keluarga tajir dan terpandang yang mempunyai rumah megah dan banyak hotel tapi melakulannya di dalam mobil.
No... Itu tidak akan sampai terjadi. Pikir Zela.
Tuhan tolong bantu aku.. Batin Zela memohon.
Seperti doa Zela yang langsung terjawab, tidak lama terdengar suara ketukan dari arah luar yang membuat Brayen dan Zela menoleh ke asal suara. Dan betapa terkejutnya Brayen dan Zela melihat Ayah Riko yang sedang berdiri tegak di sebelah mobil Brayen.
Bahkan Pak Riko sengaja menunggu sampai Brayen membuka kaca mobilnya. Tentu saja membuat Brayen kesal tapi tidak dengan Zela yang merasa terselamatkan dengan kedatangan Ayah martuanya itu.
" Ahh.. Shit.." Gumam Brayen kesal yang membuat Zela terkikik.
Dengan segera Brayen membuka kaca mobilnya. Dan terlihat jelas sosok tinggi tampan yang sudah tidak lagi muda sedang berdiri dan bersikedap menatap tajam ke arah Brayen.
Kira-kira apa yang akan di katakan oleh Pak Riko kepada Brayen ya gaes..?? Di tunggu next partnya..Tapi..
Jangan Lupa buat Like, Comment and Vote ya gaes..
Ingat.. Vote.. Vote.. Vote..
__ADS_1
Big Thanks 🙏🙏😘😘
Buat kalian sesama author silahkan promo di sini..!!! Tapi jangan minta buat feedback karena aku nggak mesti baca cerita yang lain.