
Masih berada di dalam kamarnya. Vani melirik alat kecil yang sedang di bawanya itu. Dia menghembuskan nafasnya pelan untuk menenangkan dirinya.
Benda kecil yang akan merubah hidupnya setelah ini. Meskipun jalan hidupnya masih panjang, tetapi jika jawaban yang sekarang ini dia takuti benar adanya. Vani bisa saja kehilangan semuanya, semua yang dia ingin dan harapankan selama ini, kehilangan kebahagiaannya bersama orang-orang tersayangnya.
Vani memang akan mencoba benda kecil itu sekarang juga, dia tidak berani untuk mencobanya setelah bangun tidur seperti saran dokter yang sudah dia baca di googl*.
Sekali lagi dia memejamkan matanya untuk memberanikan apapun yang terjadi di hidupnya.
" Oh God please... Help me." Gumam Vani sembari memejamkan matanya, lalu menyeka air mata yang masih saja terus mengalir.
Vani berdiri dari duduknya, dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dengan mantab. Apapun yang terjadi pada hidupnya, dia akan tetap berusaha tegar, atau lebih tepatnya dia tidak akan berani menghilangkan malaikat kecil yang mungkin saat ini sedang tumbuh di rahimnya.
Sedangkan di depan kamarnya. Zela dan Seli sedari tadi menunggu dengan cemas, mereka tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar sahabatnya itu. Terlebih Brayen dan Dimas sangat lama sekali membawa Arshaka ke rumah Vani.
Tidak lama datanglah Xelo yang menghampiri mereka di depan kamar Vani. Dengan segera Zela dan Seli langsung menghampiri Xelo dan menyuruhnya untuk tidak berisik karena sedang dalam misi rahasia besar.
" Bukannya masuk malah di sini?." Omel Xelo dengan suara pelan.
Sedari tadi Xelo memang sudah berada di bawah. Dia mencari tahu apa yang di lakukan oleh Zela dan juga Seli, setelah mendapat kabar berita dari asisten rumah tangga Vani. Xelo segera menghampiri kedua sahabat pacarnya itu.
Benar saja apa yang di katakan oleh asisten rumah tangga pacarnya itu, bahwa gerak-gerik sahabat dari Nona mudanya itu malah mencurigakan, mereka malah seperti penguntit untuk Nona mudanya, jelas asiaten rumah tangga itu merasa aneh, dan Xelo harus memeriksanya sendiri, bahkan Xelo sempat berfikir jika yang membuat Vani aneh ialah Zela dan Seli.
Xelo tidak menyangka saja jika Zela dan Seli malah bersantai di depan kamar Vani. Mereka benar-benar gadis cantik yang unik.
" Hei kalian." Gertak Xelo karena tidak mendapat respon dari Zela dan Seli.
" Astaga Kak Xelo kaget Gue." Kesal Seli.
" Kenapa kesini sih? Tunggu di mobil dulu aja." Suruh Zela kepada Xelo yang sedang tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
" Kalian nyuruh Gue tunggu di mobil buat nunggu kalian yang lagi santai seperti di pantai? Nih apa lagi ada cemilan astaga...." Jelas Xelo menepuk keningnya.
__ADS_1
Pusing sendiri memang kalau berurusan dengan Zela CS. Tidak pacarnya tidak kedua sahabatnya unik semua.
Lagi keadaan genting masih saja bersikap konyol, pakai mengatas namakan misi rahasia segala lagi.
" Ngaco saja kalau ngomong, kita itu lagi dalam misi rahasia." Jelas Zela membuat Xelo semakin tidak percaya saja dengan mereka.
" Terus apa sudah ada kabar gimana pacar Gue di dalam hmm?." Tanya Xelo skakmat membuat Zela dan Seli seketika bungkam.
Memang iya, misi rahasia mereka berdua itu belum membuahkan hasil, mereka malah asik mengobrol di depan kamar Vani. Karena tidak ada tanda-tanda atau bahkan suara dari dalam kamar membuat keduanya mengira jika Vani sedang tertidur.
Meskipun mereka mengobrolnya juga bisik-bisik sembari terus menguping dan memberi kabar lewat chat untuk Vani. Berharap Vani merespontnya dan tidak merasa sendiri.
Mereka mau masuk juga cukup tahu jika Vani ataupun Zela dan Seli butuh waktu sendiri ketika ada masalah menghadapi mereka, ada saatnya nanti ketika mereka muncul dan menyelasaikan masalah bersama. Dan ini belum waktu yang tepat untuk mereka melakukan itu, tetapi Xelo pacar Vani sudah muncul saja dan mengira mereka santai seperti di pantai.
Xelo mencoba membuka pintu kamar Vani. Tapi baru saja akan menarik knop pintu. Sudah di cegah oleh Zela dan Xelo. Kali ini mereka menatap tajam ke arah Xelo, mereka tidak suka jika misi rahasia mereka di biarkan begitu saja. Mereka paham betul Vani bukan gadis bod*h yang akan menyerah begitu saja menghadapi masalah, maka dari itu mereka lebih baik menunggu sampai waktu yang tepat, yang terpenting mereka masih mengintai untuk tahu keadaan Vani.
" Kak Xelo mau bikin rencana kita gagal?." Tanya Zela setengah berteriak.
" Suara Lo Zel kecilin." Seli mengingatkan Zela, dan langsung membuat Zela menutup mulutnya dengan seketika.
" Sorry Gue kelepasan." Jawabnya tersenyum kikuk seraya memukul mukul pelan mulutnya.
" Nggak papa yang penting bukan lubang di belakang Lo aja yang kelepasan." Jawab Seli membuat Zela melotot kesal dan juga malu pastinya.
Meskipun tidak ada Brayen suaminya, tapi jika di ledek seperti itu setiap gadis pasti akan malu karena ada lelaki lain, termasuk juga Zela sekarang ini. Berbeda dengan Vani yang biasanya malah akan membuang gasnya di sembarang tempat secara terang-terangan dengan bunyi yang sangat besar.
Zela memukul pelan lengan Seli. Sedangkan Xelo sedikit tersenyum tapi hanya sekilas karena pikirannya penuh dengan Vani seorang sekarang.
Vani si plankton yang membuat hatinya risau.
Kamu kenapa si Beb bikin Gue cemas gini Batin Xelo lalu sedikit meremas rambutnya kuat.
__ADS_1
Sampai akhirnya terdengar suara teriakan dari dalam kamar Vani. Membuat ketiganya saling pandang dan terkejut.
Dengan segera Xelo langsung berusaha membuka pintu kamar Vani. Tapi tidak juga bisa terbuka karena kamar Vani memang sudah di kunci dari dalam. Dengan sekuat tenaga Xelo kembali mencoba mendobrak pintu kamar pacarnya itu.
Sekali dobrakan belum juga terbuka, alhasil membuat Xelo mengambil ancang ancang untuk kembali mendobrak pintu di depannya itu.
Pikirannya sudah kalut, di tambah mendengar suara palnktonnya membuatnya terus mengumpat kesal, kesal karena takut sesuatu terjadi dengan Vani, Xelo bisa saja menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga atau berada di sisi Vani saat ini.
Tapi dalam hatinya juga terus berdoa agar tidak terjadi apa-apa dengan plankton kesayangannya. Hati dan mulutnya memang sangat bertolak belakang ketika berucap. Dan dari hatilah yang tulus jika mengucapkan kata-kata.
Dan
Braakkkkk
Pintu kamar Vani akhirnya bisa terbuka dengan sedikit rusak karena dobrakan Xelo barusan. Tapi tidak masalah yang terpenting mereka tidak sampai telat untuk menyelamtkan Vani yang berada di dalam kamarnya.
1 detik
2 detik
3 detik
4 detik
5 detik sudah mereka terdiam sembari menatap seseorang yang berada di depannya.
Mereka terkejut bahkan bukan terkejut lagi tapi shok melihat keadaan Vani saat ini.
Kira-kira Vani kenapa ya?
Sorry gaes kemarin nggak up, lagi sibuk 🙏
__ADS_1
Like Comment and vote ya...