Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Asin


__ADS_3

Zela melangkahkan kakinya melewati lorong lorong kelas, Zela pikir hari ini akan terlambat tapi ternyata tidak, dan itu membuatnya sangat lega.


Zela jadi senyum senyum sendiri mengingat apa yang dia lakukan dan katakan kepada Brayen, sangat berani tentunya.


Sampai dikelas sudah seperti biasa, Seli dan Vani sedang menunggunya sambil mengobrol.


" Akhirnya loe dateng.. Nih anak dari tadi nungguin loe.." Ucap Vani kepada Zela.


Zela melirik ke arah Seli, tentu saja dengan senyum manisnya yang Seli berikan untuk Zela.


" Ke kantin yuk.. Gue belum sarapan.." Jawab Zela mengajak kedua sahabatnya.


" Let's go..." Jawab Vani semangat.


" Kebiasaan,, makan aja cepet.." Sindir Seli kepada Vani.


" Nggak papa dong Sel.. Kalau nggak makan mati dong.." Jawab Vani tidak mau kalah.


Zela hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, baru juga datang udah di suguhkan dengan celotehan kedua sahabatnya.


Sampai di kantin Zela memesan nasi goreng, gara gara nasi goreng buatan Brayen tadi malam, membuatnya jadi ketagihan ingin dan ingin lagi memakannya.


" Kalian sekalian nggak..?? Tanya Zela kepada Seli dan Vani.


" Minum aja deh gue... Pop Ice ya.." Jawab Vani yang di jawab Zela dengan jempolnya.


" Loe apa..??? " Tanya Zela kepada Seli.


" Samain aja sama miss telmi.." Jawab Seli membuat Zela tersenyum dan langsung menuju ke Buk kantin.


Sedangkan Vani mendengus kesal ke arah Seli, membuat Seli tersenyum tipis ke arahnya.


Tidak lama Vera the genk juga datang ke kantin, sama halnya dengan Zela, rupanya Vera juga ingin sarapan di kantin.


Seli dan Vani meliriknya sekilas, tapi kemudian mereka kembali pada obrolannya, juga dengan Zela yang sudah membawa tiga minuman untuk mereka, sambil menunggu nasi goreng Zela tentunya.


Tatapan mata Zela juga Vera bertemu, tentu saja dengan tatapan sinis yang Vera berikan kepada Zela, sedangkan Zela cuek saja dia tidak menganggapnya penting.


" Kak Zela.. Ini buat Kakak.." Ucap salah satu siswa membuat Zela, Seli juga Vani terkejut dan juga bingung.


Dari mana dia datang..?? Tiba tiba nongol aja kayak setan.


" Loe adek kelas ya..?? " Tanya Vani kepada cowok berseragam SMA itu.


" Iya Kak.. Tapi itu bukan dari aku.. Dari Kakak kelas 3.." Jawab cowok tersebut sambil menyerahkan bingkisan kepada Zela.


" Oke.. Thanks ya.." Ucap Zela kepada cowok itu.


" Sama sama Kak duluan ya.." Pamit cowok tersebut dengan sopan dan berlalu pergi.


Tapi baru berapa langkah dia membalikan badannya, menatap Zela yang sudah duduk dengan kedua sahabatnya.


" Kak Azela.. You are verry beautiful..!!! " Teriak cowok itu dan saking malunya, dia langsung ngacir pergi.


Jujur saja cowok SMA itu tidak pernah melihat Zela secara dekat seperti tadi, dan itu benar benar suatu keberuntungan untuknya.


Ternyata Zela memanglah sangat cantik, dan tidak sombong seperti yang teman teman cewek kelasnya katakan.


Zela, Seli dan Vani terbengong dan tak percaya, mereka tertawa bersama karena perkataan adik kelasnya barusan.


" Ada nyali juga tuh anak.." Ucap Seli kepada adik kelas tadi.


" Iya... Dan tampangnya lumayan lho.." Jawab Vani mulai ganjennya.


" Ikh.... Brondong.." Ledek Zela.


" Dari pada jomblo terus gue.." Jawab Vani yang malah membuat Zela tertawa.


" Makanya jangan pemilih.." Ucap Seli kepada Vani.


" Masa iya gue sembarang nerima cowok.. Siapa tau dapat yang...." Jawab Vani menggantung, Vani bingung ingin mengatakan apa.


Memangnya dia menginginkan cowok yang seperti apa..?? Tadinya kan dia begitu mengidolakan Brayen suami Zela, tapi sekarang Vani malah bingung sendiri dengan cowok kriterianya.


" Seperti Kak Xelo..." Ucap Zela dan Seli barengan.


Deg...


Jantung Vani bergetar hebat, tidak dipungkiri memang jika Vani sedikit menyimpan kekaguman kepada Xelo.


Meskipun jika bersama mereka akan terus bertengkar, tidak pernah akur, tapi itu yang membuat Vani merasa nyaman tidak ada kecanggungan lagi tapi itu ketika mereka saling serang kata kata.


Beda ketika Xelo menunjukan keseriusannya dengan Vani tentu saja gadis itu juga akan merasa gugup, memangnya cewek mana yang tidak gugup jika dihadapkan dengan lelaki tampan yang mencoba mendekatinya.


" Shok tau deh.." Jawab Vani dan menyruput minumannya, untuk meredakan rasa gugupnya.


Membuat Zela dan Seli saling pandang dengan senyum manis mereka.


" Dari siapa sih Zel..?? Tanya Seli penasaran.


" Mana gue tau.." Jawab Zela yang membolak balikan bingkisan sedang dan panjang itu.


" Gue rasa itu coklat deh.." Sambung Vani.


" Can be..." Jawab Zela meletakan bingkisan yang ntah dari mana.


Tentu saja Vera yang sedari tadi melihat kejadian itu sangatlah kesal, masih ada juga yang mengidolakan Zela, sedangkan Vera merasa dia sendiri yang paling cantik dan populer di sekolah ini.


Tapi tetap saja dia tidak dilirk sama sekali oleh teman sekolahnya, bahkan Cowok yang sangat Vera inginkan juga berada di pelukan Zela, itu membuat Vera semakin memendam rasa dendam untuk Zela.


Padahal semua ini bukan salah Zela, melainkan salahnya sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan, coba saja jika sikapnya dirubah mungkin Vera akan terlihat lebih manis dan mengagumkan.


"Yee... Pesenan gue datang..." Ucap Zela girang karena nasi goreng pesanannya sudah jadi.


" Silahkan Neng Zela.. Nanti kalau kurang asin.. Bilang saja ke Ibuk.." Ucap Buk Kantin sambil menyerahkan piring berisi nasi goreng.


" Siap Buk.. Makasih ya Buk.." Jawab Zela sopan dan dianggukin oleh Buk kantin, setelah itu pamit kepada tiga gadis cantik yang sangat dikenalnya itu.


Zela memakan nasi gorengnya dengan sangat lahap, bahkan terlihat sangat enak untuk Seli dan Vani yang berada di depannya.


" Enak Zel..?? Tanya Seli dan Zela menjawabnya dengan anggukan kepala.

__ADS_1


" Cobain dong..." Ucap Vani kepada Zela.


" Nih.. Dikit aja tapi.." Jawab Zela sambil mengunyah nasi gorengnya.


Dengan semangat 45 Vani langsung menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Seketika membuat mata Vani meloto karena rasa nasi goreng yang ia makan.


" Gimana enak kan..?? " Tanya Zela kepada Vani.


Sedangkan Vani masih melotot sambil menggeleng pelan, dan tak lam Vani langsung ngacir pergi menuju kamar mandi yang berada dikantin.


Vani memuntahkan semua isi nasi goreng yang baru saja disuapkannya.


Dia membasuh mulutnya dengan air, dan kembali pada tempat duduknya menyedot minuman yang tadi di pesannya sampai hampir habis.


Sedangkan Seli masih bingung dengan apa yang dilakukan oleh Vani.


Zela kembali memakan nasi gorengnya seperti tidak terjadi apa apa.


" Loe emang gila..." Ucap Vani ditujukan kepada Zela.


" Kenapa sih Van..?? Tanya Seli yang penasaran dengan apa yang terjadi dengan Vani.


" Cobain deh nasi goreng Zela.." Suruh Vani kepada Seli.


Tanpa menunggu lama, Seli menyendokan nasi goreng yang sedang Zela nikmati itu, tapi hanya sedikit saja.


Seketika dia langsung mengeluarkan dari mulutnya, dan meneguk minumannya juga.


" Astaga.. Lidah loe bermasalah deh Zel.." Ucap Seli kepada Zela.


" Kalian pada lebay deh..." Jawab Zela santai.


" Itu asin parah..." Sambung Seli kepada Zela.


" Loe yang dikit aja ngerasa asin apa lagi gue tadi.." Jawab Vani mengingat dirinya yang tadi menyendokan begitu banyak.


" Kenyang..." Ucap Zela tanpa menanggapi kedua sahabatnya yang sedang protes itu.


Zela berdiri untuk membayar kepada Buk kantin, tentunya kali ini Zela juga yang membayar minuman kedua sahabatnya.


" Buk.. Makasih ya Nasi gorengnya begitu enak dan pas.." Ucap Zela kepada Buk kantin.


Zela menyerahkan uang lembaran biru, dan sisanya Zela berikan kepada Buk Kantin.


" Makasih banyak lho neng.." Jawab Buk kantin yang dijawab Zela dengan senyuman manisnya.


Setelah itu dia kembali kepada kedua sahabatnya, mereka kembali menuju kelas.


Sedangkan Buk Kantin sedari tadi hanya geleng geleng kepala dengan apa yang di ucapkan oleh pelanggn setianya, siapa lagi kalau bukan Zela.


Sebelumnya tadi dia sempat mencicipi nasi goreng yang dia masak untuk Zela, mengingat Zela sendiri yang meminta untuk ditambahin garam, dan cukup banyak menurut Buk Kantin.


Sampai dia sendiri meringis merasakan nasi goreng yang di buatnya begitu asin.


" Kayak orang hamil aja neng.. Suka yang asin asin..Tapi ini asinnya kebangetan.." Gumam Buk Kantin sambil melihat kepergian Zela juga kedua sahabatnya.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Ditempat lain, Brayen sedang duduk di ruangannya, jarang sekali dia kekantor Ayahnya, hanya beberapa kali jika memang dibutuhkan dan juga dalam hal yang mendesak.


Ingat.. Brayen bukan seperti tokoh novel lain yang selalu menggantikan orang tuanya dalam urusan kantor.


Brayen masih sangatlah muda, tapi memang sikapnya seperti lelaki dewasa yang sangat mapan.


Brayen lebih sering mengurus hotel yang sebenarnya dikendalikan oleh dirinya sendiri, itu juga tak banyak orang yang tau, termasuk isitrinya Zela.


Hotel Zafano lebih terkenal atas nama Pak Riko sebagai bos besarnya, dan Brayen tak mempermasalahkan itu.


Brayen adalah lelaki muda, tampan, dingin, datar, tapi juga romantis dan memiliki rasa sayang yang begitu besar untuk keluarganya.


Teruntuk istri dan calon anaknya tentunya.


Tidak lama pintu ruangan Brayen terbuka, menampilkan cowok tampan yang sangat menyebalkan menurut Brayen.


" Meeting jam berapa ray..?? Tanya Dimas tho the point kepada Brayen.


" Setelah ini.. Nunggu Ayah datang dulu.." Jawab Brayen sambil memainkan tab yang berada di tangannya.


Dimas mengangguk mengerti, kemudian dia menatap Brayen seksama.


" Loe mau kasih hukuman apa ke anak curut itu..?? Tanya Dimas kepada Brayen.


" Gue mau kirim dia ke new york.." Ucap Brayen yakin.


Dimas menautkan kedua alisnya, dia mencerna apa yang dikatakan oleh Brayen barusan.


" Apa loe akan jadikan dia..?? " Tanya Dimas menggantung.


" Tepat... Anak seperti itu harus dibimbing.. Tapi diberi pelajaran juga.." Jawab Brayen mantab.


" Apa Ayah juga harus tau tentang masalah tuh anak yang udah melecehkan Zela..?? Tanya Dimas lagi kepada Brayen.


Brayen menghembuskan nafasnya, berdiri dari kursinya, menatap deretan mobil yang berada di jalanan Ibu Kota, juga gedung gedung tinggi yang berada di dekat gedung Kantor Zafano.


" Gue bakal jelasin semuanya ke Ayah.. Kalau Ayah hanya tau kesalahan Pak Septa tentu saja Ayah tidak akan memberi ijin gue buat kirim tuh anak ke negri orang.." Jawab Brayen menjelaskan kepada Dimas.


Dimas kembali mengangguk, dia tidak menyangka jika Brayen benar benar berbesar hati untuk tidak memenjarakan anak curut yang sudah berani bermain main dengannya.


Cara berfikir Brayen benar benar sangatlah dewasa, Brayen tau masih panjang perjalanan Sandro, dia memang marah dan kesal dengan apa yang sudah Sandro lakukan.


Tapi Brayen masih memikirkan kehidupan dan juga masa depan Sandro, yang tadinya Sandro akan dikirim keluar kota menjadi dikirim ke negara orang.


Dan itu karena ulah Sandro sendiri, harusnya Sandro benar benar berterimakasih atas apa yang sudah Brayen berikan kepadanya.


Sungguh itu tidak sebanding dengan rasa sakit Brayen dan juga amarahnya, karena tau wanita yang sangat dicintainya dilecehkan oleh pria lain, tanpa Zela sendiri tau.


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu dari arah luar.

__ADS_1


" Masuk.." Suruh Dimas.


Pak Rendy masuk, dan memberitahukan jika Pak Riko sudah datang, dan meeting bisa segera dilaksanakan.


" Baik.. Tolong beri tahu Ayah.. Aku segera kesana.." Ucap Brayen yang diangguko oleh Pak Rendy dan pamit untuk pergi.


" Ready..?? Tanya Dimas kepada Brayen.


" Ayo.. Kita buat pelajaran untuk anak curut itu.." Jawab Brayen dengan senyum smirknya.


Brayen dan Dimas menuju ruang meeting, disana sudah banyak orang orang penting kantornya, termasuk Pak Riko yang sudah duduk disinggah sananya dengan begitu elegan.


Semua berdiri dan mengangguk memberi hormat ketika Brayen dan Dimas masuk, hanya satu orang yang masih duduk tanpa bergeser sedikitpun, siapa lagi kalau bukan Pak Riko.


Setelah Brayen dan Dimas duduk, semua staf kantor kembali duduk.


Pak Rendy membuka meeting pagi ini, meeting dadakan yang membuat Pak Riko juga cukup heran dengan apa yang dilakukan oleh Brayen, karena mengadakan meeting dadakan ini.


Semua staf kantor yang ikut meeting, juga Pak Riko di bagikan beberapa lembaran kertas, itu adalah data dan bukti jika setahun ini Pak Septa telah melakukan korupsi tanpa mereka tau.


Bahkan Pak Riko yang membaca secara detail kertas yang sedang dipegangnya begitu sangat terkejut.


Pak Septa yang termasuk orang kepercayaanya tega menghianatinya, bahkan dalam waktu dan jumlah yang cukup lama.


Membuat Pak Riko menggeram kesal, begitu juga staf lain yang begitu terkejut.


Pak Rendy juga Brayen menjelaskan secara detail dan rinic semuanya, sampai akhirnya rapat selesai dan semua kembali ketempat kerjanya masing masing.


Mungkin saat ini dikantor Zafano sedang trending dengan kesalahan yang Pak Septa lakukan, tapi tentu saja mereka tidak berani bercerita apa lagi sampai kantor lainnya tau akan masalah ini.


Sepertinya hal ini tidak akan terjadi, mereka begitu menghormati Pak Riko karena begitu baik dan tegas.


Kini di ruangan meeting hanya ada Pak Riko, Brayen, Dimas juga Pak Rendy.


Rasanya Pak Riko masih tak percaya dengan semua ini, niat hati ingin menjenguk Putra Pak Septa juga bertemu dengan Pak Septa di Rumah sakit kini dia urungkan.


Mungkin Pak Riko tidak bisa memaafkan Pak Septa.


" Ayah.. Ada lagi yang ingin aku beri tahu.." Ucap Brayen kepada Ayahnya.


Pak Riko menoleh ke arahnya, dengan menautkan alisnya, rasa kesalnya belum juga reda dengan penghianatan yang Pak Septa lakukan.


" Katakan.." Jawab Pak Riko tegas.


" Ini tentang anak Pak Septa.." Sambung Brayen membuat Pak Riko semakin penasaran dan juga bingung.


" Jelaskan semuanya,, agar Ayah tidak lagi salah menilai orang.." Ucap Pak Riko.


" Saya akan mengirim anak Pak Septa ke new york..." Jelas Brayen membuat Pak Riko benar benar terkejut..


Pak Riko menatap Brayen tajam, seperti meminta penjelasan, bahkan Brayen tidak pernah ditatap Ayahnya seperti sekarang ini.


Pak Riko begitu hangat ketika berada di dalam rumah dengan keluarganya, tapi jika berada dikantor Pak Riko memanglah tegas dan jangan lupakan jika dia juga sangat dermawan.


Dimas dan Pak Rendy masih duduk tanpa kata, mereka masih sama sama menyimak, apa lagi mood bos besarnya saat ini sedang tidak baik.


" Anak Pak Septa yang bernama Sandro......" Ucap Brayen terhenti, begitu berat ingin mengungkapkannya dengan Ayahnya.


Brayen mengepalkan tangannya kuat, kemudian menghembuskan nafas kasarnya.


" Dia telah melecehkan Zela.." Sambung Brayen seketika membuat mata Pak Riko membulat dengan sempurna.


Braakkk....


Pak Riko menggebrak meja besar yang berasa di depannya.


Sampe membuat Dimas dan Pak Rendy begitu kaget dan sedikit gugup dengan amarah yang Pak Riko tunjukan.


Sedangkan Brayen masih duduk pada tempatnya dengan expresi datarnya.


" Apa maksud kamu ray..?? Katakan dengan jelas.." Ucap Pak Riko kini sudah semakin emosi mendengar menantu kesayangannya dilecehkan oleh orang lain.


Dan lagi Brayen sebagai suaminya hanya diam saja, tanpa mengirim bajing*n itu kepenjara.


" Zela tidak tau akan hal ini Yah.." Sambung Brayen lagi semakin membuat Pak Riko bingung.


" Katakan yang jelas ray.." Suruh Pak Riko kepada Brayen.


Brayen kemudian menjelaskan secara detail tentang apa yang sudah Sandro lakukan kepada Zela.


Begitu juga dengan ponsel Sandro yang kini berada ditangan Dimas, itu adalah bukti bukti kesalahan yang Sandro lakukan.


Pak Rendy, Dimas juga Xelo adalah saksi tentang apa yang sudah Sandro lakukan, tentunya jika semua ini akan di bawa kerana hukum.


Tapi semua berubah karena Brayen masih memiliki rasa kasihan kepada anak curut brengsek itu.


Pak Riko mengehela nafas beratnya, dia menatap Brayen sekilas kemudian kembali menatap kedepan.


" Sebaiknya segera umumkan pernikahan kalian.. Agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.." Suruh Pak Riko kepada Brayen.


Tentu saja Brayen sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Ayahnya, begitu juga dengan Dimas yang tampak terkejut.


Sedangkan Pak Rendy bersikap biasa saja, karena dia memang tidak begitu mengerti tentang rumah tangga Tuan Mudanya ini.


Pak Riko menepuk pundak Brayen, tau dengan apa yang sedang anaknya pikirkan.


" Percayalah ray.. Semua akan baik baik saja setelah pernikahan kalian diumumkan.." Ucap Pak Riko lagi meyakinkan Brayen.


Brayen menatap Ayahnya dengan seksama, kali ini dia yang merasa tidak percaya dengan apa yang Ayahnya katakan barusan.


Apakah pernikahan Zela dan Brayen benar benar akan segera diumumkan..??? Ditunggu next episodenya.


Jangan Lupa Like, Comment dan Vote.


Pleaseeeeeeee.....


Vote..


Vote..


Vote..

__ADS_1


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘


__ADS_2