
Setelah selesai makan malam bersama, Zela dan Brayen langsung menuju kekamar mereka.
Banyak yang harus Brayen persiapkan untuk keberangkatan Sandro besok, meskipun dia menyuruh Dimas untuk menyiapkan semuanya, tak berarti Brayen lepas tangan begitu saja.
Dia juga harus memikirkan tempat tinggal Sandro selanjutnya, tapi jika Sandro mau, Sandro boleh tinggal di hotel tempatnya bekerja.
Dimana hotel itu milik Brayen sendiri, bukankah Brayen begitu baik kepada Sandro atas apa yang sudah Sandro perbuat.
Nyatanya Brayen masih memikirkan kehidupab Sandro di negri orang, bukab hanya mengirim Sandro tanpa tujuan yang jelas.
Ting
Pesan masuk di ponsel Brayen.
Dimas
Gue tunggu di caffe biasa, ni anak curut ada ma gue..
Pesan dari Dimas yang dikirimkan kepada Brayen.
Hufh...
Brayen membuang nafasnya kasar.
" Kenapa Kak..?? " Tanya Zela kepada Brayen.
Jujur saja Brayen bingung harus berkata apa, jika dia meninggalkan Zela saat ini mungkin saja Zela akan kembali ngambek seperti tadi.
Tapi dia juga harus menemui Dimas sekarang ini juga.
" Nggak papa.. Bobo ayo yank.." Ajak Brayen berharap Zela segera tidur.
Karena tentu saja Brayen harus menemui anak curut itu malam ini juga, sebelum besok pagi pagi sekali dia sudah lepas landas.
Brayen memeluk Zela, dia ikut memejamkan matanya agar Zela juga tertidur.
Zela menatap Brayen yang sudah terpejam, Zela mengernyitkan keningnya, Aneh sekali pikir Zela, biasanya sebelum tidur Brayen akan menggodanya terlebih dahulu.
Atau jika tidak mereka akan sama sama bercerita tentang apa saja yang mereka lakukan di hari itu.
Cup...
Brayen mencium bibir Zela.
" Hampir lupa..." Ucap Brayen dengan senyum tampannya, membuat Zela rasanya ingin menggigit Brayen saja.
" Kak Ray udah mau bobo..?? " Tanya Zela yang ntah kenapa malah susah untuk tertidur.
Membuat Brayen semakin gusar saja, Brayen berharap untuk malam ini Zela bisa tertidur dengan cepat, tapi nyatanya mungkin harus dengan seribu cara untuk menidurkan wanita hamil yang sedang sensitif ini.
" Iya.. Ayo tidur..." Suruh Brayen pelan kepada Zela.
Zela menatap Brayen dengan kesal, sebenarnya hati kecilnya menginginkan jika Zela masih ingin mengobrol dengan suaminya, tapi bagaimana lagi Brayen terus memintanya untuk segera tidur.
Aneh sekali pikir Zela.
Sepuluh menit sudah berlalu, mata Zela masih enggan terpejam, masih sangat bulat bahkan belum ada tanda tanda ngantuk sama sekali.
Zela menatap langit langit kamarnya, sedangkan Brayen mengintip Zela dari sudut matanya yang dibuka sedikit, tapi melihat mata Zela yang masih begitu segar, membuat muncul ide jail Brayen.
" Hmmm.... Yang bumil harus tidur cepat, kalau tidak mau pas lahiran jadi zombi..." Ucap Brayen yang berpura pura mengigau.
Asli saat ini Brayen sangatlah konyol, bahkan lebih konyol dari Zela.
Zela menoleh ke arah Brayen yang masih memejamkan matanya, Zela tersenyum aneh.
" Bisa aja ya.. Cowok ganteng ngigaunya..." Ucap Zela yang tentu saja terdengar oleh Brayen.
Membuat Brayen seketika melotot kesal, bukan matanya yang melotot, tapi hatinya mendengar apa yang dikatakan oleh Zela.
Zela dengan gemas menarik hidung mancung Brayen, membuat Brayen reflek terengah engah nafasnya, Brayen terbatuk tapi masih saja memejamkan matanya.
Tentu saja agar dia benar terlihat tertidur, menyempurnakan sandiwaranya saat ini.
Bobo dong yank.. Please.. Mohon Brayen dalam hatinya.
Sampai akhirnya, Zela benar benar tertidur, tapi sayang bukan hanya Zela saja yang tertidur, melainkan Brayen juga.
Padahal sedari tadi sudah Brayen tahan tahan agar tidak ngantuk dan benar benar tidur.
Tapi nyatanya tidak mudah memang memejamkan mata hanya untuk pura pura tertidur dalam waktu yang cukup lama.
Sampe akhirnya Brayen dibangunkan oleh getaran Ponselny, untung saja ponselnya dalam mode getar saja, jika tidak mungkin Zela juga akan terbangun.
Dimas menelfon Brayen untuk cepat menemuinya, karwna sedari tadi Dimas dan juga Sandro sudah menunggu hampir satu jam di caffe.
Tapi Brayen tak kunjung datang, dan dengan kesal Brayen menghubunginya lagi.
Brayen dengan pelan mengambil jaketnya, juga kunci mobil kesayangannya, takut jika sampe terdengar oleh Zela, dia sendiri masih memakai baju santai, tak ada waktu memang jika harus berganti pakaian dulu.
Dan jangan lupakan, meskipun Brayen mengenakan pakaian rumahannya tapi sungguh pesona dan ketampanan Brayen tak berkurang sama sekali.
__ADS_1
Tapi saat sudah sampai di ambang pintu, Brayen kembali menoleh ke arah Zela yang sudah tertidur dengan pulasnya, lalu dengan berjalan pelan, Brayen menghampiri Zela, mencium kening Zela.
" Bentr ya Yank.. Ada yang harus aku selesaikan.." Ucap Brayen kepada Zela dengan pelan.
Dan kini Brayen benar benar keluar dari kamarnya, Brayen bernafas dengan lega, setelah berhasil dengan segala caranya untuk menidurkan Zela.
Brayen menuruni anak tangga dengan cepat, dan ternyata Bunda Wina juga Pak Riko masih berada diruang tv.
" Mau kemana nak..?? " Tanya Bunda Wina kepada Brayen.
" Ray ada urusan bentar Bund..." Jawab Brayen membuat Bunda Wina mengerutkan keningnya.
" Kamu keluar malam malam begini tanpa Zela..?? " Tanya Bunda Wina menyelidik.
Sungguh Bunda Wina tidak mau jika Brayen sampe menyakiti Zela.
" Zela udah tidur, nggak mungkin Ray bangunin.. Dan tolong jangan kasih tau Zela ya Bund.. Secepatnya Ray akan pulang.." Jelas Brayen yang langsung pergi keluar menuju mobilnya.
Sangat terlihat jika Brayen sedang terburu buru.
" Ikh.. Anak itu gimana sih.. Awas aja kalau mulai aneh aneh.." Kesal Bunda Wina yang merasa kurang dengan penjelasan Brayen.
" Biarkan aja Bund... Ray nggak mungkin aneh aneh... Kan dia anak Ayah.." Jawab Pak Riko mencoba menggoda istrinya.
" Ayah apa apaan sih.. Anak begitu masa dibiarin aja..?? Gimana kalau Ray melakukan hal yang... Akh... Bunda sangt marah pastinya.." Jelas Bunda Wina kepada Pak Riko
Membuat Pak Riko terkekeh dengan kecemasan yang ditunjukan oleh istrinya.
" Nanti Ayah ceritain Bund.. Biar nggak mikir Brayen yang tidak tidak.." Jawab Pak Riko.
" Beneran ya Yah...?? " Tanya Bunda Wina memastikan.
" Pasti Bund.. Ayo kita masuk kamar.." Ajak Pak Riko dengan menaik turunkan alisnya.
Membuat Bunda Wina tersipu malu, di usia mereka yang tidak lagi muda, tapi kehangatan cinta yang mereka berikan satu sama lain tidaklah pudar sama sekali.
Baik Bunda Wina maupun Pak Riko merasa begitu bersyukur, sama sama hidup dengan orang hebat, yang bisa menjaga hati dan perasaan satu sama lain.
Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sering sekali Brayen melajukan mobilnya seperti pembalap, tapi jika bersama Zela, tentu saja Brayen tidak akan berani.
Dia harua berhati hati, karena ada dua nyawa pada diri Zela, dan mengingat itu membuat Brayen tersenyum bahagia.
" Baru juga tadi Dad udah nengok.. Rasanya pengen nengok lagi son.." Gumam Brayen membuat dia tersenyum sendiri.
Sampai akhirnya Mobil Brayen berhenti tepat di parkiran caffe, dengan segera Brayen menemui Dimas dan juga Sandro.
Keadaan di caffe sudh cukup sepi, hanya tinggal beberpa pengunjung saja.
Ketika Brayen mendekat ke arah meja Dimas dan juga Sandro.
Tapi Sandor tentu tidak akan berani menertawai Brayen, jika masih ingin diampuni dan juga hidup.
" Bhaa...ha..ha.." Tawa Dimas pecah melihat penampilan Brayen.
Membuat Brayen mengerutkan alisnya bingung.
" Kenapa loe..??? " Tanya Brayen santai kepada Dimas.
" Gila.. Gila.. Gila.. Ludicrous..." Ucap Dimas masih dengan menertawai Brayen.
Beruntung beberapa pengunjung tidak mendengar tawa pecah Dimas, juga yang tidak sadar dengan kehadiran Brayen.
Brayen masih dengan bingungnya menunjuk dirinya, yang dijawab Dimas dengan menganggukan kepala.
" Liat kaki loe.." Ucap Dimas menyuruh Brayen.
Brayen langsung reflek melihat ke arah kakinya, yang ternyata sebelah memakai sepatu dan sebelah masih memakai sandal.
" Akh.. Shit..." Kesal Brayen yang langsung duduk agar tak terlihat dengan jelas oleh pengunjung yang lain.
Karena terlalu buru buru Brayen sampai tidak menyadari jika dia menggunakan sepatu hanya sebelah kakinya saja.
Dan sebelahnya masih setia dengan sandal rumahnya.
Jika saja ada istrinya, mungkin Brayen akan berkali kali lipat malunya, tapi dia masih beruntung Zela tidak melihat kekonyolannya saat ini.
Yang dirasa Brayen tingkah konyolnya saat ini sudah kelewat batas, belum pernah dan tidak akan pernah sampe terulang lagi.
" Jangan ketawa loe.." Ucap Brayen menatap tajam Sandro, yang membuat Sandro langsung mengangguk dan menunduk takut.
Tapi tentu saja dalam hati Sandro sangat ingin tertawa, karena Brayen begitu lucu.. Sang Idola sangat menggelikan pikir Sandro.
" Kalem Ray.. Masih ganteng kok.. Diliat dari atas wouw... Tapi begitu melihat kebawah... Huaha..ha..ha.." Jelas Dimas dengan tawanya, dan itu membuat Brayen cukup kesal.
" Sialan loe... Udah cepetan.. Gue buru buru.." Sambung Brayen membuat Dimas mengangguk tapi masih dengan tawa kecilnya.
Sedangkan Sandro kini mulai dag dig dug serrr..... Sandro mulai merasa tegang lagi jika akan memulai hal yang serius.
Padahal tadi hampir satu jam berdua dengan Dimas tak setegang ketika Brayen sudah datang seperti sekarang ini.
" Oke Ray.. Kalem dong..." Suruh Dimas membuat Brayen bertambah malas saja rasanya.
__ADS_1
" Gue tinggalin istri.. Nah loe... Teman kencan aja nggak.." Ledek Brayen berusaha membalas Dimas, membuat Dimas malah terkikik geli dengan apa yang diucapkan oleh Brayen barusan.
Dan Sandro tentu saja sudah menahan tawanya sedari tadi, rasa takutnya sedikit berkurang melihat dua lelaki tampan didepannya saling serang kata kata.
" Sejak kapan Brayen Zafano jadi sependendam ini..?? " Tanya Dimas yang lagi lagi malah membuat Brayen malu.
" Sialan loe..." Jawab Brayen akhirnya yang memang tidak akan menang jika berargumen
dengan Dimas.
Kembali Dimas hanya terkekeh, sedangkan Sandro berani menampilkan senyum simpulnya.
Meskipun hanya sekilas tentunya.
" Jadi ini Ray... Loe bisa cek dulu..." Ucap Dimas menyerahkan keperluan yang harus Sandro bawa besok.
Brayen menerimanya, lalu dia membaca dengan teliti biodata Sandro yang tertera pada pasporNya.
Brayen menyunggingkan senyumnya, ternyata dirinya dan si anak curut ini seumuran, tapi kenapa Sandro dibawah jauh darinya..??
Mungkin Sandro begitu bodoh, hanya bisa mengotak atik komputer saja, dan mungkin pelajaran yang lain Sandro nol besar.
Membuat Brayen malah tertawa memikirkan hal itu, Sedangkan Dimas dan Sandro saling pandang bingung melihat tingkah Brayen yang begitu terlihat aneh, hanya dengan membaca paspor Sandro saja bisa membuat tertawa sampe sebegitunya.
" Ray woy..." Seru Dimas membuyarkan lamunan konyol Brayen.
" Paan sih..?? " Tanya Brayen ketus.
" Uedan lue.." Ledek Dimas menggunakan bahasa jawa, yang malah membuat Brayen mengerutkan keningnya bingung.
Akh.. Sungguh Brayen tidaklah tau apa yang dikatakan oleh Dimas, apa lagi dia sendiri cukup lama tinggal di New York.
" Ngomong apaan sih loe..?? " Tanya Brayen tak mengerti.
" Gimana bahasa jawa gue..?? Keren kan..?? " Tanya Dimas kepada Brayen.
" Jadi tadi bahasa jawa..?? Tanya Brayen yang diangguki oleh Dimas.
" Kayak loe tau artinya aja.." Ledek Brayen meremehkan Dimas.
" Beuh... Sembarang loe... Artinya itu kamu gila..." Jawab Dimas yang langsung menunjukan jari berbentuk V.
" Hehe.. Nggak boleh marah.. Nanti ponakan gue jadi pemarah..." Sambung Dimas membuat Brayen bertambah kesal.
" Akh.. Udah diem loe.." Kesal Brayen yang dijawab Dimas dengan senyum tampannya.
Tapi begitu terlihat menyebalkan menurut Brayen.
" Oke.. Gue cuma mau bilang ke loe.. Tolong gunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, jika next loe nglakuin kesalahan lagi.. Nggak akan ada harapan lagi buat loe.." Jelas Brayen kepada Sandro.
" Baik.. Kak.. Terimakasih kak atas kesempatan ini.." Jawab Sandro dengan gugup.
Tapi mendengar Sandor menyebutkan dirinya dengan sebutan Kak, membuat Brayen tersenyum mengingat kejadian yang tadi.
Bha..ha..ha.. Dasar aneh Brayen, istrinya yang hamil dia yang bertingkah aneh.
" Ibu loe Bapak.. Dan keluarga loe udah tau kan..?? " Tanya Brayen lagi yang dijawab Sandro dengan menganggukan kepalanya.
" Jangan pernah berbuat hal yang akan membuat Ibu loe sedih reti..." Jelas Brayen lagu kepada Sandro.
Bahkan ucapan Brayen ini malah terdengar seperti wejangan kalau bahasa jawanya.
" So.. Ini buat loe.. Buat kehidupan loe selama awal awal disana.. Loe boleh kerja di hotel Zafano, tapi ingat.. Jangan melakukan kesalahan lagi... Berubahlah untuk hidup loe,, untuk keluarga loe.." Jelas Brayen sembari memberika satu kartu kredit untuk Sandro.
Membuat Sandro seketika menunduk malu, menyesal karena telah menyakiti orang sebaik Brayen, bahkan tanpa terasa Sandro sampe meneteskan air matanya.
Biarlah orang berkata apa tentang dirinya, seorang cowok yang menangis, tapi rasa bahagia dan bersyukur tak terbendung lagi.
Sandro bangkit dari duduknya, lalu tanpa Brayen dan juga Dimas sangka, Sandro bersimpuh dihadapan Brayen, bahkab rasanya Sandro ingin memeluk kaki Brayen dengan kata maaf.
Maaf yang begitu tulus dan dalam kepada Brayen.
" Makasih kak.. Terimakasih banyak.. Aku sangat berhutang budi sama Kak Ray.." Ucap Sandro dengan tangis yang sudah pecah.
Dan sialnya kini pengunjung caffe melihat aksi Sandro yang konyol ini menurut Brayen.
" Jangan bod*h ayo bangun.. Loe malu maluin gue.." Kesal Brayen yang akhirnya membuat Sandro langsung berdiri dan duduk ditempatnya.
" Sorry kak..Sorry.." Ucap Sandro merasa bersalah lagi.
" Hmm... Ya sudah sana pulang.. Ingat loe besok harus berangkat pagi pagi sekali..." Jelas Brayen yang dijawab Sandro dengan menganggukan kepalanya.
Sandro akhirnya pamit untuk pulang, menikmati waktu yang tinggal berapa jam lagi dia bisa bersama denga keluarganya.
Sedangkan kini di caffe tinggalah Brayen dan juga Dimas.
Dimas menepuk pundak Brayen, lalu tersenyum kepada Brayen.
Dimas begitu kagum dengan sikap Brayen yang begitu berbesar hati, sikap dermawan Pak Riko memang menuruni ke anaknya.
Dan itu sangat terbukti sekarang.
__ADS_1
Jangan Lupa Kak Buat Like, Comment and Vote...
Big Thanks... 🙏🙏😘😘