Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Terselesaikan


__ADS_3

Zela dan Seli masih terus mengejar Vani, bahkan Vani sampai keluar dari kelas mereka. Dan tanpa sengaja, Vani menabrak Dara sampai membuat keduanya jatuh ke lantai.


" Auw !! " Pekik Vani dan Dara secara bersamaan.


Tidak lama Zela dan Seli yang tadi mengekar Vani datang, dengan segera Zela.membantu Dara untuk berdiri, begitu juga dengan Seli yang membantu Vani berdiri.


" Lo nggak papa Dar? " Tanya Zela kepada Dara.


" Gue nggak papa kok " Jawab Dara yang di angguki oleh Zela.


" Lo juga nggak papa kan Van? " Tanya Zela kepada Vani.


" Aman Zel Gue.. Sorry ya Kak Dara tadi " Ucap Vani meminta maaf kepada Dara karena telah menabraknya.


Seli dan Vani memang memanggil Dara dengan sebutan Kak, tentu saja karena Dara yang merupakan Kakak kelas mereka. Juga usia Dara yang lebih tua dari mereka, meskipun hanya selisih 1 tahun, tapi tetap saja mereka memanggil Dara dengan embel-embel Kak, tentu saja untuk menghormati Kakak kelas mereka.


Berbeda dengan Zela, yang sejal kecil memang sudah terbiasa memanggil Dara hanya dengan namanya saja, karena mereka selalu main bersama, tidak ada lagi kecanggungan sama sekali di antara Zela dan juga Dara.


" Iya nggak papa kok " Jawab Dara kepada Vani.


" Ini semua karena Zela sama Seli Kak yang terus ngejar Gue " Jelas Vani seketika membuat Zela dan Seli saling pandang lalu menggelengkan kepalanya dengan mulut lemes Vani.


" Astaga.. Salah siapa Lo kent...." Ucap Seli terpotong, karena mulutnya buru-buru di bekap oleh Vani.


" Karena Vani kentutin kita Dar " Sambung Zela menjelaskan, seketika membuat Vani melotot dan melespakan bungkaman tangannya pada mulut Seli.


Seli dan Dara langsung tertawa terbahak, niat hati Vani agar Dara tidak sampai tau, tapi malah dengan gampangnya Zela mengatakannya.


" Astaga.. Gue lupa sama ember yang satunya " Sindir Vani kepada Zela.


Sontak saja Zela, Seli dan Dara semakin tertawa karena ucapan Vani barusan.


" Iya Vani sayang... Lo lupain kalau ada mulut ember yang belum Lo tutup tadi " Sambung Zela dengam tertawanya.


Kembali Seli dan Dara semakin tertawa, sedangkan Vani semakin kesal saja dengan kedua sahabatnya ini, tapi juga malu dengan Dara yang merupakan cewek cantik dan sepupu sahabatnya sendiri, siapa lagi kalau bukan Zela.


" Ekhem... Lagi pada ngomongin apa sih? " Ucap Bintang yang tiba-tiba datang dan menghampiri mereka.


Vani yang melihat kedatangan Bintang sampai hampir salah tingkah, tentu saja karena jaraknya dan Bintang begitu dekat, Bintang sangat terlihat tampan, sampai hampir membuat Vani khilaf melupakan seorang Xelo yang sudah resmi menjadi pacaranya sekarang.


Seli yang menyadari mata jelalatan Vani segera menyikunya agar Vani tersadar dari pandangan dosanya terhadap Bintang.


" Woy.. Sadar... Itu Kak Bintang bukan Kak Xelo " Bisik Seli kepada Vani.


" Iya bawel ih....." Jawab Vani membuat Seli semakin kesal saja.


" Ekehmmm..!!! " Deheman Seli yang akhirnya membuat Vani segera tersadar.


" Eh... Kak Bintang, biasa Kak lagi becanda " Jawab Zela membuat Bintang mengangguk.


" Kita satu kelas kan ? " Tanya Dara tiba-tiba kepada Bintang, membuat Bintang hanya mengangguk tanpa menjawab.


Bintang malah menatap Zela begitu lekat, sampai membuat Zela sedikit salah tingkah, bukan karena grogi, tapi risih di tatap oleh cowok lain begitu lekat selain Brayen, Zela ingin menegur Bintang, tapi Zela urungkan, karena Zela takut kesannya nanti Zela yang terlalu percaya diri.


Tapi yang menyadari tatapan Bintang untuk Zela bukan hanya Zela sendiri, melainkan Seli, Vani dan juga Dara. Bahkan Dara sampai menebak jika Bintang sebenarnya menaruh hati pada Zela, dan tentu saja perkiraan Dara memanglah benar, Bintang menaruh hati pada Zela sejak pertama kali pindah ke sekolah itu, dan itu juga pandangan pertamanya ketika melihat Zela yang begitu menggoda hatinya.

__ADS_1


Sampai akhirnya bell masuk berbunyi, membuat Zela sedikit bernafas lega, dan bisa beralasan untuk masuk ke kelasnya. Tentu saja untuk menghindari tatapan Bintang padanya.


" Eh Kak, kita masuk duluan ya " Pamit Zela sambil menarik tangan kedua sahabatnya.


Dara dan Bintang mengangguk, lalu tanpa kata Bintang berlalu pergi begitu saja tanpa permisi dengan Dara yang masih berdiri mematung di tempatnya.


" Menarik " Gumam Dara dengan senyum misterisusnya.


" Zela Lo buru-buru banget sih narik kitanya ? " Tanya Vani seperti tidak terima.


" Ya kan udah masuk Van, Lo mau terus ngobrol di depan sana ? " Tanya Zela yang dapat gelengan kepala dari Vani.


" Gue tau Lo masih pengen liat Kak Bintang kan?? Dasar Bubet Lo " Sambung Seli meledek Vani.


" Hah.. Apaan tuh bubet ? " Tanya Vani bingung, begitu juga dengan Zela yang juga tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Seli barusan.


" Buaya Betina, puas Lo? " Jawab Seli seketika membuat Vani melotot.


Dengan segera Vani mendekat ke arah Seli, lalu dengan di sengaja Vani menggigit lengan Seli, sampai membuat Seli terkejut dan kesakitan. Begitu juga dengan Zela yang begitu terkejut dengan sikap Vani.


" Vani... Udah ih.. Jadi ganas gini deh " Ucap Zela berusaha melepaskan gigitan Vani dari lengan Seli.


" Auw... Vani Lo emang mirip banget buaya kalau gini " Ucap Seli yang juga mencoba melepaskan gigitan Vani.


Sampai akhirnya Vani mau melepaskan gigitannya pada lengan Seli, dengan senyum yang begitu puas pastinya. Sedangkan Seli sampai mengusap-usap bekas gigitan Vani.


" Gimana udah tau rasanya di gigit buaya? " Tanya Vani seperti meledek Seli.


" Paan sih Lo... Sakit tau ! Gue doain Lo mirip Artis Ely Sugigi tau rasa Lo " Kesal Seli membuat Vani cekikikan. Begitu juga dengan Zela yang langsung tertawa terbahak.


" Udah deh, kalian kayak anak balita tau nggak ! pakai gigit-gigitan segala...." Jelas Zela membuat Seli dan Vani saling pandang lalu tersenyum.


Sebentar perang, sebentar baikan, bahkan meski tidak ada yang meminta maaf terlebih dahulu di antara mereka tapi seperti baru saja tidak terjadi apa-apa, meskipun Vani tadi baru saja menyerang Seli dengan gigitannya. Tapi mereka sudah kembali ke mode awal. Begitulah persahabatan mereka.


Sedangkan kini di tempat lain. Brayen, Dimas, Pak Riko, Bunda Wina, Kepala Sekolah Zela, Wali kelas Vera, juga kedua Orang Tua Vera sedang duduk dan menunggu kedatangan Vera dan juga lelaki yang sedang sangat di nanti mereka, siapa lagi kalau bukan sahabat Sandro yang sudah menghamili Vera.


Tidak lama Vera datang di tempat yang sudah di beri tahukan oleh kedua Orang Tuanya, bahkan Vera sudah izin kepada wali kelasnya tadi untuk tidak Sekolah. Yang ternyata sekarang Wali kelas Vera juga berada di tempat itu. Membuat Vera sedikit terkejut, Vera menatap mereka dengan bingung, dia sadar kalau ini pasti menyangkut tentang masalahnya.


Mungkin Vera akan di sidang atau akan di berhentikan Sekolah. Pikir Vera karena begitu gugup, Vera menatap Brayen yang juga duduk di antara mereka, lelaki tampan yang sudah membuatnya benar-benar gila, Vera tersenyum kecut dengan apa yang menimpa dirinya, Vera sekarang merasa begitu kotor, bahkan untuk menatap Brayen saja rasanya dia terlalu kotor. Tapi ini memang jalan hidup agar dia bisa menjadi seseorang yang lebih baik lagi.


Hufh....


Vera menghela nafasnya, kemudian dia ikut duduk bersama dengan kedua Orang Tuanya. Vera mengepalkan tangannya untuk menguatkan dirinya, berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, karena baik Kepala Sekolah juga Pak Riko selaku Orang yang berkuasa belum membicarakan masalah yang menyangkut dirinya.


Sampai akhirnya seseorang datang menghampiri mereka, sontak saja semua yang berada di sana berdiri melihat lelaki yang selama ini memang mereka cari untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada siswi Sekolah mereka.


Tapi tidak dengan Vera, Meskipun dia berdiri tapi linangan air matanya mulai keluar dari pelupuk matanya, dada Vera begitu sakit melihat lelaki yang sudah membuatnya seperti sekarang ini, lelaki yang sudah merubah hidupnya menjadi kelam, lelaki yang membuat Vera merasa tidak adil dengan kehidupannya, lelaki yang pergi begitu saja setelah apa yang di perbuatnya kepadanya.


Vera memejamkan matanya, membuat linangan air matanya semakin deras mengalir di pipinya, rasa sesak di dadanya semakin terasa, bahkan rasanya Vera ingin mati saja melihat lelaki yang begitu dia benci sekarang, lelaki yang begitu pengecut menurut Vera.


Melihat Vera yang menangis tanpa suara, membuat Bunda Wina buru-buru menghampiri Vera, Bunda Wina merangkul pundak Vera dan menggenggam tangan Vera yang terasa begitu dingin karena menahan berbagai rasa dalam dirinya, amarah, malu dan kesedihan.


Vera menatap Bunda Wina yang begitu perhatian kepada dirinya. Bahkan dirinya yang bukan siapa-siapa saja di perlakukan dengan begitu baik, apa lagi Zela yang merupakan menantu kesayangannya. Memikirkan hal itu membuat Vera tersenyum, karena Zela memang pantas mendapat kebahagian dari suami dan keluarganya, Zela baik sangat jauh berbeda dengan dirinya.


Begitu juga dengan Ibunya Vera yang juga mengelus pundak Vera dengan senyumnya.

__ADS_1


Lelaki itu duduk di sebelah Dimas. Lalu dengan segera kepala Sekolah memulai maksud dan tujuan mereka semua di kumpulkan sekarang ini.


" Nak Vera, kita akan memebritahukan bahwa Dia... Akan bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukannya terhadap Nak Vera " Jelas kepala Sekolah membuat Vera terkejut.


Vera menatap lelaki yang juga sedang menatapnya sekarang ini. Vera memejamkan matanya pelan, merasakan jika ini bukanlah sebuah mimpinya yang begitu tinggi menurutnya.


Lalu Vera membuka matanya kembali, dan benar saja keadaan masih sama seperti tadi, ini bukan mimpi, tapi ini nyata, Vera meraba perutnya yang masih rata, seperti ada kekuatan lagi dalam hidupnya.


" Bapak, Ibu, Semua yang ada di sini, saya minta maaf karena sudah melakukan kesalahan yang begitu besar, sampai membuat anak anda harus mengalami masalah besar karena perbuatan saya, juga kepada Pak Riko dan Ibu Wina, saya juga minta maaf karena perbuatan saya membuat nama baik Sekolah tercoreng " Jelasnya membuat semua yang berada di sana mendengarkan dengan begitu seksama.


" Saya datang ke sini dengan maksud dan tujuan saya, kalau saya bersedia menikahi Vera, saya bersedia bertanggung jawab dengan apa yang sudah saya lakukan, semoga kalian mau memaafkan saya, dan mau menerima niat baik saya, sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya " Jelasnya lagi sambil membungkukan badannya.


Kedua Orang Tua Vera yang mendenga itu begitu lega dan bahagia, begitu juga dengan yang lain, hanya satu yang masih dalam bingungnya, Vera merasa ini begitu aneh, jika tiba-tiba lelaki brengsek yang sudah menghamilinya itu datang dan tiba-tiba ingin bertanggung jawab dengan perbuatannya, lalu untuk apa kemarin dia menghilang untuk menghindari ini semua kalau akhirnya dia mau bertanggung jawab sekarang.


Meskipun Vera merasa senang, karena anaknya akan mempunyai seorang Ayah, tapi ini begitu aneh menurutnya.


" Kami sudah memaafkanmu Nak... Kami juga menyetujui dengan maksud baik kamu " Jawab Ayahnya Vera kepada calon menantunya itu.


" Tunggu ! " Ucap Vera membuat semua Orang yang berada di sana terkejut dengan perkataan Vera barusan.


" Nak " Ucap Ibu Vera dengan pelan.


" Kenapa kamu baru muncul sekarang setelah apa yang aku lalui sendiri kemarin? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan ingin bertanggung jawab? aku rasa itu bukan niat tulus dari kamu " Ucap Vera kepada lelaki itu, sontak saja semua yang berada di sana kembali terkejut.


Lelaki itu melirik ke arah Brayen yang sedari tadi masih dengan diamnya, lalu dia melirik ke arah Dimas yang menganggukan kepalanya.


" Awalnya memang aku nggak ada niatan untuk bertanggung jawab kepadamu, tapi setelah semua di jelaskan oleh Tuan Brayen yang begitu bersemangat mencari keberadaanku, semua berubah, aku sadar jika apa yang sudah aku lakukan itu sangatlah tidak benar, aku tidak mau menjadi lelaki pengecut yang membiarkan anakku nanti harus tumbuh tanpa adanya seorang Ayah " Jelas lelaki itu yang membuat Vera semakin terkejut.


Ternyata Brayen yang sudah menemukan lelaki itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya kepada dirinya. Tentu saja karena Brayen tidak mau Sekolah yang Orang Tuanya bangun tercoreng begitu saja.


Vera tersenyum kecut, sudah pasti apa yang di lakulan oleh Brayen karena kedua Orang tuanya, dia juga merutuki dirinya yang sudah begitu bodoh menyukai lelaki yang memang bukan di takdirkan menjadi jodohnya.


Vera juga menyesal karena sudah banyak melakukan kesalahan kepada keluarga Zafano, keluarga yang memang begitu sangat baik dan dermawan sama seperti rumor yang beredar, bahkan keluarga yang berhati malaikat menurut Vera.


" Baik.. Aku terima niat baik kamu " Jawab Vera membuat yang lain tersenyum lega.


Semua orang yang berada di sana merasa bahagia, dan berterimakasih kepada Brayen dan Dimas yang sudah merencanakan ini semua.


Tidak lama ponsel Brayen berbunyi, membuat semua yang berada di sana menoleh ke arahnya, karena begitu menganggu suasana yang sedang haru itu.


Brayen mengambil ponsel yang berada di sakunya ternyata Zela yang menelfon Brayen, membuat Brayen tanpa malunya tersenyum dan langsung pamit untuk mengangkat telepon dari istrinya itu.


Pak Riko dan Bunda Wina saling pandang dan tersenyum, mereka tau jika sambungan telepon yang membuat Brayen tersenyum tidak lain dan tidak bukan ialah telepon dari menantu mereka, siapa lagi kalau bukan Azela.


" Untung Lo telpon di waktu yang tepat Zel " Gumam Dimas karena Zela menghubungi Brayen di saat semua masalah sudah terselesaikan.


Dengan semangat 45 Brayen langsung mengangkat teleponnya, tapi tidak lama sambungan telepon dari Zela di putuskan, membuat Brayen mengernyitkan keningnya bingung, di saat Brayen akan mencoba menghibungi Zela balik, ponselnya kembali berdering, pesa singkat dari Zela yang mengatakan jika tadi Zela menghubunginya karena kepencet dan tidak sengaja, Zela juga meminta maaf karena sudah menganggu Brayen.


Hufh...


Brayen menghela nafasnya.


Lo gangguin gue terus juga nggak papa yang, gue nggak akan marah tapi malah seneng Batin Brayen sedikit kesal karena rasanya seperti di prank oleh Zela.


Jangan Lup Like , Comment and Vote..

__ADS_1


Di tunggu lho.. Vote ya jangan sampai tidak, Big Thanks


Yang kemarin minta " My Naugthy Brother " up, secepatnya aku lanjutin ceritanya ya Kak..


__ADS_2