Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Makan Malam bersama


__ADS_3

Masih di perjalanan. Zela masih diam dan menahan rasa dinginnya, jujur saja Zela sudah tidak tahan rasanya, sekujur tubuhnya seperti mengigil, begitu juga dengan Brayen yang juga tidak tahan dengan dinginnya yang berada di mobil seperti berada di pegunungan.


" Yang sorry aku dingin banget." Ucap Brayen sambil mematikan ACnya.


Tidak ada jawaban dari Zela, meskipun sebenarnya Zela juga merasa lega karena akhirnya dia juga tidak tersiksa dengan dinginnya AC mobil. Tetap di cueki oleh Zela membuat Brayen memikirkan ide gila agar istri cantiknya tidak lagi marah dengannya.


Dan seperti doa yang terjawab, tiba-tiba ponsel Brayen berbunyi, panggilan telepon dari Dimas yang akan menanyakan tentang rencana makan malam nanti di hotel. Brayen sudah menyuruh Dimas untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Tapi anehnya, Brayen malah dengan sengaja berbicara yang sama sekali tidak Dimas mengerti, Brayen terus berbicara tentang rencana dadakannya ke New York pekan ini. Dan tentu saja apa yang Brayen katakan membuat Zela mau tidak mau mendengarnya dengan seksama.


Jika tadi Zela akan bersikap cuek dengan Brayen, kali ini Zela diam-diam memperhatikan Brayen. Sedangkan Dimas di sebrang telepon tampak kebingungan dengan sikap aneh Brayen. Dimas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, perkataan Brayen tidak nyambung sama sekali dengan rencana makam malam nanti.


" Oh... Dasar Ray edan." Gumam Dimas sambil mematikan teleponnya.


Setelah telepon di matikan, Brayen susah payah menahan tawanya karena sikap konyolnya, sampai membuat Dimas kebingungan tadi. Begitu juga melihat wajah Zela yang sudah memerah karena mendengar jika Brayen akan meninggalkannya ke New York dengan keadaan Zela sedang hamil besar.


Tapi sebisa mungkin Brayen bersikap biasa, atau di buat sedikit mellow sekarang ini.


" Kak."


" Yang." Ucap Zela dan Brayen barengan.


Membuat Brayen tersenyum, rencana membuat istri cantiknya tidak lagi marah sepertinya akan berhasil.


" Kenapa?." Tanya merek barengan lagi, yang membuat keduanya tersenyum, tapi jika Brayen mirip senyuman devil saat ini.


" Kak Ray dulu aja." Jelas Zela kepada Brayen.


" Kamu dulu aja yang, wanita kan harus di dahulukan." Jawab Brayen lembut yang sontak membuat Zela hampir meleleh.


Hufh....


Zela menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya agar tidak sedih ataupun semakin marah dengan suami tampannya yang berada di sebelahnya.


" Aku mau ikut." Ucap Zela singkat tapi mampu membuat Brayen menghentikan mobilnya.


Ssssstttt.... Brayen ngerem mendadak, tapi tidak terjadi apa-apa di antara mereka.


Brayen menatap ke arah Zela yang sedang memainkan tangannya, rasanya Brayen ingin tertawa karena sudah bisa membuat Zela gelisah saat ini, jahat memang cara Brayen, tapi sekarang Zela kalau sudah ngambek susah sekali di baikin setelah hamilnya semakin besar. Dan Brayen tau itu semua karena mungkin bawaan dari jagoan kecil mereka.


Brayen masih menatap Zela tanpa kata, membuat Zela langsung memeluknya.


" Aku mau ikut, aku nggak mau di tinggalin Kak Ray jauh." Sambung Zela lagi menjelaskan, membuat Brayen semakin tersenyum smirk.


Brayen mengusap pundak Zela dengan lembut, dia juga merasa senang karena Zela tidak lagi marah dengannya. Tentu saja karena ide gila dia sendiri. Konyol memang, tapi demi kebaikan tidak masalah.


" Nggak sayang, aku nggak akan pergi tanpa kamu." Jawab Braye membuat Zela seketika melepaskan pelukannya. Zela menatap Brayen seperti meminta penjelasan.


" Percaya, aku nggak akan pergi tanpa kamu, aki sudah pernah berjanji kan sama kamu?." Jelas Brayen membuat Zela mengangguk.


" Berati Kak Ray akan bawa aku kan ke sana?." Tanya Zela yang membuat Brayen cukup terkejut.


" Iya, tapi bukan sekarang, kamu kan lagi hamil yang, sudah semakin besar juga, aku tidak mau kamu dan baby kenapa-kenapa." Jelas Brayen yang sempat membuat Zela membrengut kesal, tapi akhirnya juga tersenyum.


" Janji nggak akan pergi?." Tanya Zela yang di angguki oleh Brayen dengan mantab.


" Janji." Jawab Brayen mantab, lalu mengecup kening Zela.


sorry ga gue harus bohong Batin Brayen.


Jam sudah menunjukan 06.30. Brayen dan Zela sudah bersiap rapih untuk menuju hotel di mana mereka akan mengadakan syukuran kecil berupa makan malam dan doa bersama nanti.


Setelah selesai semua, kedua pasangan muda itu turun untuk menemui Bunda Wina dan Pak Riko yang sudah menunggu mereka sedari tadi.

__ADS_1


" Aduh... Menantu Bunda semakin hari semakin cantik saja." Puji Bunda Wina sambil mengelus perut buncit Zela lembut.


" Makasih Bund, Bunda juga tetap awet cantiknya." Puji Zela tidak mau kalah dengan Ibu martuanya.


" Kamu ini, bisa saja sayang." Jawab Bunda Wina malu-malu. Membuat Zela tersenyum.


" Sudah siap semua kan ini?." Tanya Pak Riko yang di angguki oleh mereka.


" Sudah dong Yah, ayo kita berangkat saja." Ajak Bunda Wina, yang di setujui oleh mereka.


Mereka berangkat dengan 2 mobil. Pak Riko dengan Bunda Wina, sedangkan Brayen dan Zela.


Sampai akhirnya, mobil mewah mereka berhenti di gedung tinggi dan megah yang juga bertuliskan nama belakang Ayah dan Anak itu. Tulisan Zafano yang begitu besar dan mengagumkan jika di lihat.


Zela dan Brayen turun dari mobil. Mereka segera masuk ke dalam hotel untuk menuju restorant hotel itu. Setelah sampai terlihat keluarga Adafsi yang sudah lebih dulu datang, begitu juga dengan sahabat Zela dan Brayen yanh sudah duduk menunggu mereka.


Setelah menyalami kedua Orang tuanya, Zela langsung menghampiri kedua sahabatnya, Seli dan Vani memeluk Zela dengan hangat. Mereka seperti baru saja bertemu setelah sekian lama, padahal tadi di Sekolah juga tidak terpisahkan.


" Gimana udah di USG belum?." Tanya Seli penasaran. Zela mengangguk dengan senyum.


" Terus gimana hasilnya? Cewek apa cowok Zel ponakan Gue?." Sambung Vani menanyakan.


" Cowok." Bisik Zela kepada kedua sahabatnya. Yang langsung membuat Seli dan Vani heboh bukan main.


" Yeay...!!." Ucap mereka girang sampai membuat semua Orang yang berada di sana menoleh ke arah mereka.


Begitu juga dengan Brayen, setelah menyalami kedua martuanya, Mamah Hana dan Pak Adam, Brayen menghampiri Dimas dan Xelo, juga Jova yang ikut hadir bersama keluarga Adafsi.


" Wuih.... Calon Daddy." Ucap Jova sambil bersalaman khas cowok.


" Doain aja Kak." Jawab Brayen singkat yang dapat anggukan kepala dan juga tepukan di bahunya dari Jova.


" Kita ke tikung Ray duluan Dim." Cletuk Xelo yang di angguki oleh Dimas dengan kekehan.


" Iya... Kalau Lo pengen, bikin duluan nggak papa Xel, udah ada patnernya kan?." Jawab Dimas tapi yang hanya bisa di dengar oleh mereka.


Sejak kapan seorang Xelo jadi benar seperti ini perkataannya, mereka kira sejak pacaran dengan Vani, baik Xelo maupun Vani akan semakin konyol, tapi nyatanya mereka malah berubah terbalik dengan sifat aslinya yang dulu ketika masih sama-sama jomblo.


Tapi jangan di tanya jika Xelo dan Vani sedang bersama, kekonyolan dan keromantisan ada pada hubungan mereka akan tetap ada. Dan itu yang membuat mereka bisa bertahan sampai saat ini.


" Wuih... Jangan bahas itu dong, Gue merasa jadi pendosa ini." Sambung Jova yang membuat Brayen, Dimas, dan Xelo menatap ke arahnya dengan diam. Lalu mereka tertawa.


" Abang udah kecebur, jadi nikmati aja lah bang." Jelas Xelo membuat Brayen dan Dimas semakin tertawa. Begitu juga dengan Jova yang tidak merasa tersinggung sama sekali dengan ucapan Xelo. Karena memang itu kenyatannya.


Zifa dan Dara menghampiri Zela dan kedua sahabatnya, setelah tadi sebelumnya sudah menyalami Bunda Wina dan Pak Riko.


" Dek, gimana hasil USGnya?." Tanya Zifa kepada Zela.


" Aman kak Zif, semua sesuai dengan keinginan kita, dan Gue bersyukur banget." Jawab Zela membuat Zifa mengangguk.


" Selamat ya Zel... Bentar lagi jadi Ibu." Ucap Dara memberi selamat kepada Zela.


" Thanks Dar." Jawab Zela dengan senyuman manisnya.


" Bukan Ibu Kak Dara, tapi Mommy Zezel." Celtuk Vani menjelaskan. Membuat yang lain tertawa.


" Btw Sel, kapan makannya nih kalau ngobrol terus?." Bisik Vani kepada Seli. Sontak saja membuat Seli melotot tidak percaya dengan isi otak Vani yang tidak jauh dari makanan, kalau bukan makanan ya Babang Xelo pastinya.


" Astaga... Makanan mulu di otak Lo, tadi malam juga Lo udah makan banyak banget kali Van di rumah Zela, sampai CD Lo tiba-tiba membesar kan karetnya." Jelas Seli sengaja, membuat Vani langsung memelototi Seli, agar Seli tidak lagi membicarakan tentang masalah itu.


Paslanya ini cuma rahasia mereka berdua, bahkan Xelo sang pacar juga tidak mengetahui tentang kejadian itu. Sedangkan Zela tersenyum simpul, Dia tau apa yang terjadi dengan perut Vani yang tiba-tiba membesar, tentu saja karena Seli yang sudah menceritakan.


" Tenang Van, sebentar lagi makan malamnya, dan rahasia Lo aman kok di kita." Bisik Zela yang semakin membuat Vani melotot, Zela tau masalah memalukan ini dan Vani langsung menatap Seli dengan tajam. Meskipun yang dia tatap hanya nyengir tanpa rasa berdosanya.

__ADS_1


" Lo lebay deh, ma Gue aja pake acara malu." Ucap Zela kepada Vani.


" Ya kan Gue makan banyaknya di rumah Lo Zezel." Jawab Vani membuat Zela tersenyum dan menarik pipi Vani gemas.


" Gimana Kak Xelo bisa tahan ya nggak narik pipi Lo, kalau Lo nggemesin kayak gini." Ucap Zela gemas kepada Vani.


" Ih... Kalian pada nggak tau aja, kalau pipi sama hidung Gue udah nggak bisa di hitung lagi dapat tarikan gemas dari ayang Beb." Jelas Vani membuat Zela dan Seli tertawa.


Sedangkan Zifa hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah anak-anak SMA itu, Dara jangan di tanya lagi, dia ikut tersenyum bahagia, meskipun masih ada sedikit rasa sakit pada hatinya, tapi sekarang Dara mencoba untuk menghilangkan rasa kagumnya kepada Brayen yang begitu berlebih. Sesulit apapun itu, Dara akan terus mencoba, karena tidak seharusnya dia menyukai lelaki yang memang bukan di takdirkan untuknya, laki-laki yang sebentar lagi akan mempunyai seorang anak dari saudaranya, dan Dara tidak mau sampai perasaannya semakin dalam.


Kini saat yang Vani tunggu tiba, semua sudah duduk di kursi meja makan, dengan berbagai makanan yang di sediakan oleh chef handal di hotel Zafano. Vani mengelus perutnya agar sabar sampai Tuan rumah mempersilahkan untuk makan.


Tidak lama Pak Riko mengumumkan tentang maksud di adakannya acara makan malam bersama sekarang ini, meskipun tadi malam sudah mengadakan acara syukuran di rumahnya untuk calon cucunya. Malam ini hanya sekedar doa bersama karena mereka yang begitu bersyukur akan mendapatkan calon penerus di kedua belah pihak keluarga.


Pak Riko memberitahukan jika calon anak Zela dan Brayen nanti laki-laki, sesuai keinginan dengan kedua belah pihak keluarga. Meksipun mereka sudah tau mengenai hal itu, tapi sekali lagi mereka begitu bersyukur dan bahagia.


Kini giliran mereka mendoakan untuk Zela dan juga calon anaknya nanti, agar di jauhkan dengan mara bahaya. Semua hening dan begitu khusyuk mendoakan Zela dan calon anaknya. Setelah selesai kini saatnya mereka untuk menikmati makanan yang sudah di hidangkan oleh pihak hotel.


Hufh...


Vani menghela nafasnya, dia tersenyum setelah sekian lama menahan rasa lapar dan inginnya untuk segera menyantap berbagai makanan di depannya.


Ketika Vani sudah membuka mulutnya untuk memakan, tiba-tiba terdengar suara yang tidak di inginkannya.


" Doa dulu Van." Bisik Seli cekikan.


Vani menatap Seli kesal, karena sudah mengganggu mood makannya, tapi dia juga menuruti apa yang Seli katakan. Setelah selesai berdoa, Vani segera membuka mulutnya lagi untuk memakan makanan yang sudah sangat menggoda lidahnya.


Tapi lagi-lagi terhenti, kali ini karena Xelo yang terus menatapnya dengan senyum tampannya. Membuat Vani lagi-lagi harus mengurungkan niatnya untuk merasakan kenikmataan makanan yang sedari tadi sudah menggodanya.


Antara laki-laki dan para wanita memang terpisah tempat duduknya, jadi posisi Xelo seperti berada di depan Vani saat ini.


Xelo memberi isyarat agar Vani segera memakan makanan yang sudah di sendokan tadi, membuat Vani tersenyum dengan tingkah konyolnya yang terkesan sok jaim di depan Xelo.


Dengan segera Vani membuka mulutnya lagi, dan kali ini benar-benar merasakan kenikmatan yang haqiqi di dalam mulutnya. Xelo tersenyum dengan tingkah pacarnya yang begitu menggemaskan, lalu melanjutkan makannya.


Begitu juga dengan Vani yang tersenyum dengan tingkahnya barusan.


" Ciee... Yang mau makan aja malu karena di liatin doi." Bisik Seli lagi-lagi menganggu Vani.


Vani menatap Seli kesal, tapi kemudian tersenyum.


" Sweet kan pacar Gue? Nggak kayak Kak Dimas nggak ingat Lo kalau lagi makan." Jawab Vani cekikan membuat Seli sedikit terkejut.


Seli menatap ke arah Dimas yang memang begitu lahap dengan makannya, sampai tidak ingat keberadaan Seli di depannya sama sekali. Jangankan ingat Seli, menatap Seli saja tadi tidak sama sekali.


Membuat Seli membrengut kesal, ternyata apa yang di katakan oleh Vani benar, Dimas sama sekali tidak ingat dengannya. Astaga... Memikirkan hal itu membuat mood makan Seli jadi berkurang.


Ting


Bunyi pesan singkat dari ponsel Seli, karena merasa tidak mood dengan makannya, mebuat Seli buru-buru membuka isi pesan itu, dan ternyata dari cowok menyebalkan yang sekarang sedang lahap dengan makannya, tanpa memperdulikan Seli sama sekali, dengan malas Seli membuka pesan yang Dimas kirimkan.


Dimas


setelah makan, temui aku di belakang mi


Isi pesan yang Dimas kirimkan kepada Seli, membuat Seli mengernyitkan keningnya, pasalnya kapan Dimas mengetik pesannya jika sedari tadi terlihat sibuk dengan makannya.


Seli menatap Dimas yang juga sedang menatapnya dengan senyum, membuat Seli juga tersenyum dengan pacar tampannya yang selalu saja tidak bisa di tebak olehnya.


Buat author yang mau promo silahkan, aku nggak pernah ngelarang, tapi tolong mending nggak kasih rating dari pada di turunin.


Dan buat kalian yang udah baca cerita ini

__ADS_1


Jangan Lupa berikan Like, Comment and Vote ya gaes... Vote, Vote, Vote...


Kasih rating juga ya gaes.. Big Thanks 🙏🙏😘😘


__ADS_2