Suamiku Idola Kampus

Suamiku Idola Kampus
Baikan


__ADS_3

Seli dan Vani masih mondar mandir tidak jelas menunggu Zela di bawah, mereka gelisah, takut jika bena benar terlambat, ini hari senin tidak akan baik jika itu benar terjadi, maka tamatlah riwayat mereka.


Seli dan Vani terus melirik jam yang sudah menunjukan pukul setengah 7 kurang, artinya masih ada waktu untuk mereka pulang mengambil keperluan untuk sekolah.


Mereka melirik ke tangga, tapi belum ada tanda tanda Zela turun, bahkan ponsel Zela juga masih berada di kamar bawah yang mereka tempati tadi malam.


Membuat kedua gadis cantik itu kalang kabut sendiri jadinya.


Sedangkan Dimas dan Xelo duduk santai sambil terus mengamati kedua gadis cantik yang sedang gelisah itu, mereka tersenyum penuh arti.


Sebentar lagi saatnya kedua gadis cantik itu meminta bantuan ke mereka, jika tidak maka mereka sendiri yang akan menawarkannya.


" Astaga.. Zela ngapain sih lama banget..." Gumam Vani yang sudah mulai kesal.


" Samperin aja yuk Sel.." Ajak Vani kepada Seli, yang dijawab Seli dengan anggukan kepala.


Tapi ketika mereka akan naik ke atas untuk memanggil Zela, tiba tiba tangan kekar Dimas menghentikan langkah kaki Seli, yang membuat Seli terkejut dan juga berhenti.


Begitu juga dengan Vani yang juga ikut berhenti sama seperti Seli.


" Nggak usah panggil Zela.. Kita sarapan dulu aja.. Setalah itu biar Kakak yang antar kalian..." Ucap Dimas akhirnya kepada Seli dan Vani.


Tentu saja karena tadi Seli maupun Vani sama sama tak meminta bantuan kepada Dimas dan juga Xelo.


Membuat kedua cowok itu memang harus lebih peka tentunya, terlebih mereka sekarang tau bagaimana perasaan kedua gadis cantik itu kepada mereka.


Bukankah itu sama halnya dengan lampu hijau, tinggal beberapa langkah lagi mereka akan benar benar mendapatkan gadis cantik di depannya ini.


Terutama Dimas dan Seli yang jauh lebih dekat, dibanding dengan Xelo dan Vani yang masih malu mengakui perasaan mereka masing masing, meskipun sebenarnya baik Vani maupun Xelo sama sama mempunyai rasa kagum.


Seli melirik Vani, yang dijawab Vani dengan anggukan kepala.


" Ya udah.. Tapi tolong lepasin dulu tangan Gue Kak.." Jawab Seli membuat Dimas tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Seli.


" Pepet terus.." Bisik Xelo kepada Dimas dengan senyum jailnya.


Dimas menatap Xelo, tapi tak menjawabnya.


" Tapi tunggu... Nanti kalau Zela marah gimana..?? Tadi dia minta kita buat tungguin, secara Zela sama Kak Ray kan lagi marahan.." Cletuk Vani tiba tiba membuat Seli berfikir lagi.


" Zela nggak akan marah sama kalian.. Percaya deh.. Justru nanti dia yang akan merasa tidak enak.. Nggak percaya..?? " Jelas Dimas kepada Seli dan Vani.


Seli dan Vani menggelengkan kepalanya bersamaan, pertanda mereka memang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dimas.


" Makanya kalian sekarang sarapan dulu.. Setelah itu kalian berdua langsung aja berangkat nggak usah tungguin Zela... Nanti kalian akan tau jawabannya di sekolah.." Kali ini Xelo yang menjelaskan kepada Seli dan Vani.


Kembali mereka bingung dengan perkataan cowok ganteng di depannya, tapi ya sudahlah mereka akhirnya menurut.


Cukup mengerti bagaimana nanti reaksi Zela di sekolah, benar apa tidak yang dikatakan oleh Dimas dan juga Xelo.


Toh.. Jika Zela benar benar telat nanti, dia ada suaminya yang nanti pasti akan mengantarkannya, berbeda dengan Seli dan Vani yang sampai sekarang masih bersetatus jomblo.


Cantik sih.. Tapi demen jomblo, itulah ungkapan yang cocok untuk mereka sekarang ini.


Bukan karena nggak laku, tapi ketiga gadia cantik itu memang pemilih, sebelum akhirnya kenal dengan cowok cowok tampan itu.


Jika kisah Xelo yang dulu pernah menyukai Zela tapi selalu di tolak oleh Zela, tentu saja karena mereka memang tidak berjodoh.


Akhirnya mereka sama sama sarapan bersama di kediaman Zafano, meskipun tuan rumah masih menikmati pergulatan di pagi hari ini.


Tapi ya sudahlah.. Biarkan saja Brayen menghukum istrinya yang sudah berani mengerjainya kemarin, meskipun hal itu sebenarnya tak terjadi.


Mereka sarapan tanpa adanya suara sedikitpun, hanya suara sendok yang berbenturan dengan piring.


Tentu saja karena mereka masih sama sama merasa canggung dari kemarin hanya tatapan kesal yang mereka tunjukan satu sama lain.


Dan sekarang mereka harus sarapan bersama, itu terlalu aneh jika tiba tiba saja mereka menjadi akrab lagi seperti biasanya.


" Kakak anter aja ya Sel..?? " Tawar Dimas kepada Seli.


" Nggak usah Kak.. Biar sama Vani aja.." Jawab Seli dengan nada yang sesopan mungkin.


" Vani biar di antar Xelo, dari kemarin Xelo udah bilang pengen banget nganter Vani.." Jelas Dimas membuat Vani seketika melotot.


Begitu juga dengan Seli yang terkejut, tapi masih tak ada jawaban.


Jangan ditanya, Xelo sudah pasti jadi salah tingkah karena dibuat Dimas untuk alasan, meskipun sebenarnya memang Xelo juga sangat ingin mengantarkan Vani.


" Udah ayo.. Nggak ada waktu lagi keburu telat.." Sambung Dimas lagi membut kedua gadis cantik itu akhirnya menyetujuinya.


Dimas mengantarkan Seli dengan menggunkan mobil Seli, sedangkan Xelo mengantar Vani dengan mobilnya, kareba dari kemarin memang mobio Xelo berada di kediaman rumah Zafano, sebelum akhirnya membuntuti ketiga gadis cantik itu.


Kini Dimas dan Seli sudah berada di mobil, Dimas yang menyetir dan Seli yang dudui disebalah Dimas.


" Ada lagu apa aja..?? " Tanya Dimas untuk menyairkan suasana.


Akh.. Rasanya terlalu aneh, padahal kemarin kemarin mereka sudah bisa mengobrol tanpa kecanggungan, bahkan juga tertawa bersama.


" Bukannya Kak Dimas tau ya.." Jawab Seli yang membuat Dimas tersenyum, merutuki kekonyolannya menanyakan hal itu.


Dengan segera Dimas menyalakan lagu lagu yang di rasa enak didengar untuk pagi ini.


Bahkan sesekli Dimas melirik ke arah Seli yang menatap lurus kedepan jalanan.

__ADS_1


Dimas tersenyum menatap wajah Seli yang terlihat hanya dari samping saja, tapi sungguh itu tak membuat kecantikan Seli berkurang sama sekali.


" Cantik..." Gumam Dimas tanpa dia sadari.


Yang membuat Seli menoleh ke arahnya dengan malu, tapi juga tersenyum.


Sedangkan kini Zela sedang bersiap siap, bahkan tadi Brayen sudah menyuruh pelayan untuk membawakan sarapan kepada Zela, tak lupa susu bumil juga sudah disiapkan oleh pelayan.


Zela sedang mengeringkan rambutnya yang basah, tentu saja karena kelakuan Brayen barusan.


" A.. Lagi yank.." Ucap Brayen yang ternyata sedang menyuapi Zela.


Kini Brayen harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya kepada Zela, bukan tanggung jawab menikahi Zela, karena Zela memang sudah menjadi istrinya, melainkan menyuapi Zela agar tidak terlambt sekolah.


Tentu saja itu karena ulah Brayen sendiri yang tidak tau waktu mengerjai Zela.


Bahkan sedari tadi Zela terus mengoceh karena di beri bekas kiss mark yang begitu banyak oleh Brayen.


Meskipun tadi Zela begitu menikmati tapi nyatanya sekarang Zela terus saja menyalahkan Brayen.


Oke.. Lagi lagi Brayen memang harus extra sabar menghadapi bumil yang satu ini.


" Kak Ray... ini Gimana...?? " Tunjuk Zela kepada Brayen.


Brayen tersenyum setelah mengamatinya, ternyata memang begitu banyak bekas kiss mark darinya.


" Biarin aja lah yank.. Indah gini kok.." Jawab Brayen enteng seketika membuat Zela melotot ke arah Brayen.


Melihat Zela yang akan meledakan amarahnya seketika membuat Brayen menciumnya .


Cupp..


Brayen mencium bibir Zela, membuat Zela memang terdiam tak lagi melanjutkan omelannya.


Bahkan selalu saja Zela menikmati kecupan singkat yang Brayen berikan, meskipun singkat dan dadakan tapi itu mampu menggetarkan jiwa Zela.


" Son.. Jaga Mommy kamu yang Cantik ini ya untuk Daddy...." Ucap Brayen terenyum manis dan mengelus perut Zela yang sudah mulai sedikit buncit, tentu saja itu sukses membuat Zela tersenyum malu.


Selalu saja Brayen tak kalah akal untuk membuat Zela tak lagi meneruskan ocehannya.


" Selalu aja deh.. Pake jurus itu.." Ucap Zela membuat Brayen tersenyum ke arahnya.


Dengan gemasnya Brayen menarik hidung Zela gemas.


Setelah selesai, mereka turun ke bawah untuk berangkat, Zela baru tersadar jika kedua sahabatnya tadi malam menginap di rumahnya, bahkan mereka tidur bersama dan tadi Zela juga meminta Seli dan Vani untuk menunggunya.


Astaga kenapa Zela lagi lagi lupa..??


" Mereka udah di anter Dimas sama Xelo yank.." Jawab Brayen menjelaskan kepada Zela.


Membuat Zela menatap Brayen tapi masih dengan kesalnya.


Tanpa kata Zela langsung pergi begitu saja meninggalkan Brayen yang sedang menghela nafasnya.


" Son.. Please.. Jangan buat Mommy marah marah terus sama Daddy.." Ucap Brayen seperti berbicara kepada calon anaknya yang masih berada di perut Zela.


Padahal Zela sekarang juga tak berada di sisinya, melainkan sudah duduk di mobil masih dengan kesalnya.


" Kak Ray.. Ayo..." Teriak Zela dari dalam mobil, membuat Brayen menggeleng dengan senyumannya.


Mau semarah apapun Zela kepada Brayen, tapi tetap saja dia tidak akan pernah bisa tanpa Brayen.


Dengan segera Brayen masuk kedalam mobilnya, mengacak rambut Zela pelan lalu melajukan mobilnya menuju ke Sekolah istrinya.


Sampai di depan gerbang sekolah, Zela turun tapi sebelum turun Brayen menarik tangan Zela.


Membuat Zela menoleh ke arahnya.


" Belum telat kok.." Ucap Brayen dengan tersenyum tampan.


" Apa..?? " Tanya Zela pelan.


Kini nada suara Zela tak lagi seperti tadi sebelum berangkat yang terdengar kesal.


" Jangan nakal.. Saranghaeyo.." Ucap Brayen kepada Zela, yang terdengar begitu manis menurut Zela.


Zela tersenyum kepada Brayen, lalu


Cuppp..


Zela menciun bibir Brayen sekilas.


" Beyangkat duyu ya Dad.. Temenin Mommy.." Ucap Zela menirukan suara anak kecil yang membuat Brayen tertawa.


" Oke Son.. Baik baik ya.. Bilang kalau Mommy nakal.." Jawab Brayen yang ntah kenapa sekarang sikapnya jadi berubah 180° .


" Ciap Dad.." Jawab Zela yang akhirnya keluar dari mobil Brayen, melambaikan tangan dan masuk kedalam sekolahnya.


Begitu juga dengan Brayen yang langsung melajukan mobilnya, Brayen hari ini tidak kuliah, dia akan pulang ke apartemen untuk melanjutkan tidurnya.


Berbeda dengan Zela yang harus sibuk dengan kegiatan sekolah, apa lagi hari ini hari senin sudah dipastikan mapel hari ini akan terisi semua.


Zela berjalan pelan menuju ke kelas, belum sampai masuk ke kelas ternyata bell masuk sudah berbunyi, membuat dia bernafas lega, lagi lagi tidak jadi telat karena skill suaminya yang sangat tinggi jika menyetir.

__ADS_1


Tak lama munculah dua sosok wanita cantik yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


Baik Seli dan Vani sedikit merasa tidak enak karena meninggalkan Zela, pergi tanpa pamit terlebih dahulu, begitu juga dengan Zela yang merasa tidak enak karena membuat kedua sahabatnya menunggu terlalu lama.


" Sorry.." Ucap mereka bertiga bersamaan.


Seketika membuat mereka tertawa.


" Sorry ya Gue bikin kalian nunggu lama.." Ucap Zela akhrinya.


" Justru kita yang minta maaf, karena udah pergi gitu aja.." Jawab Seli yang sama halnya dengan Zela mengungkapkan rasa bersalahnya.


" Gue rasa diantara kita nggak ada yang salah deh.. Nggak ada yang telat juga kok.." Jelas Vani membuat Zela dan Seli mengacungkan jempolnya.


" Kalian beneran di anterin Kak Dimas sama Kak Xelo..?? " Tanya Zela sambil menaruh tasnya di dalam laci meja sekolah.


Mereka mengangguk bersama, membuat Zela tersenyum.


" Astaga.. Gue hampir marahan lagi sama Kak Ray gara gara ini.. Hufh.." Jawab Zela sambil menarik hidung Seli dan Vani.


" Auw.. Zela ikh.." Kesal Seli kepada Zela.


Yang hanya di jawab Zela dengan cengiran tanpa bersalahnya.


" Jadi Loe udah baikan nih sama Kak Ray..?? Cieee yang udah di kasih enak enak mah ya..." Ucap Vani meledek Zela yang seketika langsung dibungkam oleh Seli.


" Sssttt.. Jangan kenceng kenceng..." Ucap Seli mengingatkan Vani, juga melepas tangannya dari mulut Vani.


" He..he..he.. Sorry kelepasana.." Jawab Vani dengan cengiran.


" Kelepasan,, kayak kentut Lo aja Van yang sering kelepasan.." Jawab Zela membuat mereka bertiga tertawa, dan berjalan menuju lapangan upacara.


" Kalian hutang cerita ya ma gue.." Bisik Zela kepada Seli dan Vani yang di acungi jempol oleh keduanya.


Setelah selesai upacara, semua siswa siswi langsung menuju ke kelas masing masing, begitu juga dengan Zela, Seli dan juga Vani.


Baru mereka duduk di kursi kelasnya, tiba tiba suara ribut terdengar dari arah luar.


Tapi mereka tidak begitu memperdulikan, ketiga gadis cantik itu masih asik dengan curhatan mereka masing masing.


" Jadi tadi Kak Dimas malah yang keliatan salting..?? " Tanya Zela dengan ketawa.


" Ya gitu deh.." Jawab Seli membuat Zela dan Vani lagi lagi tertawa.


" Terus kalau Lo gimana Van sama Kak Xelo..?? ," Tanya Zela yang juga penasaran dengan cerita Vani.


" Akh.. Malas Gue bahas itu.." Jawab Vani kesal .


" Lho.. Kok gitu..?? Kenapa Van..?? Kak Xelo nggak nyakitin Lo kan..?? " Tanya Zela yang mulai khawatir dengan Vani.


Vani menggeleng.


" Terus..?? " Tanya Seli kepada Vani.


" Tadi suasananya lagi tenang tenangnya kan..??.." Ucap Vani yang diangguki oleh Zela dan Seli.


" Kak Xelo play lagu yang romantis gitu, sampai Gue juga terhanyut oleh musik dan moment itu.. Tapi..." Jelas Vani menggantung dia sudah memanyunkan bibirnya kesal mengingat kejadian tadi pagi.


" Tapi kenapa..?? " Tanya Zela yang sudah penasaran.


" Lanjtu dong Van ikh..." Sambung Seli juga yang sudah penasaran sama seperti Zela.


" Tapi Kak Xelo malah kentut.. Mana suaranya besar banget lagi.." Jelas Vani kembali dengan nada kesalnya, karena mengingat kejadian itu.


Seketika Zela dan Seli tertawa terbahak, mendengar apa yang dikatalan oleh Vani.


" Terus bau nggak Van..?? " Tanya Zela kepada Vani.


"


" Sedikit sih.. Tapi kan tetep aja bikin gue ilfil gaes.." Jawab Vani lagi.


" Terus bunyinya gimana..?? Prett... Duddhh... Atau Prutt..?? " Tanya Seli masih dengan tertawa ngakaknya.


" Seli... Ikh.. Jorok banget Lo ya.." Jawab Vani mendengar Seli menirukan bunyi suara kentut.


Tapi Zela dan Seli masih tertawa tak hentinya, bahkan mereka masih tak memperduliakan jika teman teman kelasnya sudah pada keluar tinggal mereka bertiga saja di dalam kelas.


" Ha..ha...Ha... Kalian emang pasangan serasi.." Ucap Seli masih dengan tawanya.


Sampai baru mereka sadari jika di dalam kelas tak ada lagi siswa selain mereka bertiga .


Semua siswa siswi sudah berada di depan, bahkan sampai ada yang menjerit karena begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Catat gaes ini bukan hanya siswi siswi centil yang keluar tapi juga semua siswa.


Ada apa sebenarnya...?? Ditunggu next episodenya ya..


Jangan Lupa **Like, Comment and Vote


Vote....Vote...Vote...Vote**...


Big Thanks.. 🙏🙏😘😘

__ADS_1


__ADS_2