
Operasi sudah berjalan dengan lancar dan sang ibuk pun sudah di pindahkan keruangan rawat inap VVIP . Diva yang masih setia berdiri di samping anak sang ibuk seraya menenangkan nya agar berhenti menangis
"Kamu jangan nangis terus entar matanya bengkak . Emang kamu mau nanti waktu mama kamu sadar terus melihat mata kamu yang bengkak karena kelamaan nangis terus mama kamu sedih dan itu akan membuat kesembuhannya menjadi lama"jelas Diva
"Nggak mau kak"jawabnya
"Nah , makanya kami harus diam jangan nangis terus . Jangan banyakin nangis tapi banyakin berdoa , lagian kan mama kamu sudah dipindahkan keruangan rawat inap dan aku yakin sebentar lagi mama kamu pasti sadar"jelas Diva kembali
"Iya kak . Kak Ana boleh masuk kedalam nggak ?"tanya Anna pada Diva
"Masuk aja , tapi jangan nangis ya"ucap Diva
"Iya kak"Anna dan Diva masuk kedalam ruangan rawat inap untuk melihat kondisi mamanya Anna yang tubuhnya masih benuh dengan alat-alat rumahsakit
"Kak"Anna melihat Diva dengan raut wajah yang sudah ingin menangis karena melihat kondisi sang mama yang terbaring lemah dengan alat rumah sakit
"Kamu tenang aja , mama kamu pasti sadar percaya deh paling juga sejam lagi sadar"ucap Diva seraya melihat jam tangannya . Diva dengaja berkata asal karena tak tega melihat Anna yang terus menangis
"Kakak yakin ?"tanya Anna
"Nggak sih"batin Diva
"Udah pokoknya kamu harus yakin kalau mama kamu akan segera sadar"jawab Diva dan Anna pun hanya mengangguk seraya tersenyum
"Mama , Anna disini bangun ya ma"Anna menggenggam tangan sang mama
__ADS_1
"Biarkan mama kamu istirahat , sekarang ikut kakak kita makan dulu"ucap Diva
"Nggak kak , Anna mau disini saja menemani mama"balas Anna
"Ya sudah kamu tunggu disini jangan kemana-mana"ucap Diva
"Iya kak"jawab Anna dengan senyuman
Tanpa menunggu lama Diva langsung keluar ruangan karena perutnya sudah menahan lapar dari sejam yang lalu . Berjalan mencari kantin rumahsakit , setelah memesan makanannya Diva memilih tempat duduk di pojok dekat jendela kaca . Menyantap pesanannya seraya memainkan ponsel genggamnya tanpa dia sadari ada sepasang mata yang menatapnya dari kejauhan berjalan me dekatinya
"Diva"Diva yang merasa dipanggil langsung melihat siapa yang menaggilnya dengan mulut yang penuh dengan makanan
"Ah , ternyata benar"ucapnya yang langsung duduk di depan Diva
"Pelan-pelan makannya"ucapnya seraya tersenyum
"Dokter Reyhan kenapa bisa disini ?"tanya Diva bingung
"Seharusnya mas yang nanya ke kamu kenapa kamu bisa disini ? Kamu sakit ?"tanya Reyhan
"Diva nggak sakit"jawab Diva
"Terus kenapa bisa disini ?"tanya Reyhan kembali
"Cuci mata , liatin dokter ganteng"Diva menunjuk ke semua dokter yang saat ini berada di kantin rumah sakit
__ADS_1
Mendengar ucapan Diva , Reyhan langsung menyentil kening Diva dengan tanpa rasa bersalah
"Aduuh , sakit"ucap Diva seraya mengusap-usap keningnya
"Memangnya satu dokter tampan aja nggak cukup buat kamu ?"tanya Reyhan
"Satu aja nggak punya"jawab Diva
"Ini yang duduk didepan kamu"ucap Reyhan menaik turunkan kedua alis matanya
"Apaan sih modus"balas Diva
"Huuft , buruan makannya"ucap Reyhan
"Kenapa emangnya ?"tanya Diva
"Kepo deh"jawab Reyhan
Diva memanyunkan bibir nya melihat kelakuan Reyhan yang sama seperti teman-teman sekolahnya . Bukannya makan dengan cepat Diva malah semakin memperlama makan namun Reyhan tetap setia menunggu dan terus menatap Diva
"Jangan diliatin terus entar suka"ucap Diva dengan tetap fokus dengan makanannya
"Memang udah suka"jawab Reyhan membuat Diva kembali tersedak
"Hahaha , pelan-pelan dong"lagi dan lagi Reyhan memberikan air minum pada Diva sedangkan Diva meminum air pemberian Reyhan dengan ruat wajah yang kesal
__ADS_1