
Ketika bertemu Satria, dan ia sama sekali tidak mengingat Zeva. Hal itu membuat Zeva kesal, entah mengapa hal itu terjadi, tapi ia benar tak suka kalau ternyata Satria tak mengingatnya,,,
Zeva kembali menuangkan bir ke dalam gelasnya, menghabiskannya dalam sekali teguk. Ia kemudian menghela nafas berat, dan kembali menuangkan bir, dan meminumnya sekali teguk.
"Nona Agatha!!" Sapa seseorang ketika Zeva ingin menuangkan kembali birnya ke dalam gelas.
Zevapun menunda menuangkan bir. Dan menengok kepada yang memanggilnya. Bingung karena ia tak mengenali orang yang menyapanya.
"Hai, Aku Nadine penerus perusahaan Violent group, kau pasti tidak mengenalku tapi, aku mendengar banyak tentangmu" Jelas gadis bernama Nadine itu, yang sudah duduk di kursi kosong dihadapan Zeva, dengan menadahkan tangannya kedepan.
"oh, Senang bertemu denganmu Nadine" Balas Zeva menerima jabatan tangan Nadine.
"Kau sedang minum?" tanyanya melihat botol bir di meja Zeva.
"Ya begitulah, kau mau?? " tawar Zeva
"Tidak terimakasih, aku harus menyetir" ucapnya menolak dengan sopan.
***
Hanya ada suara air mendidih yang mengisi ruang dapur Satria. Saat ini ada sedang membuat ramen. Ia berdiri di dekat kompor, sekekali ia mengaduk ramennya yang masih dimasak itu.
Siapa Agatha itu sebenarnya? mengapa wajahnya seperti sangat familiar? tapi dia bilang kita tak pernah bertemu.
Satria bergumam dalam hati, Ia pun memastikan ramen yang di buatnya sudah matang. Ia segera mengangkat teflon nya ke atas meja, dan memakan ramennya dari situ.
***
Zeva baru memasuki apartment nya, ia mengganti sepatunya dengan sendal rumah. Berjalan seperti orang mabuk pada umumnya.
Ia langsung membaringkan tubuhnya dikasur tanpa mengganti bajunya, ia meletakkan jaket dan tasnya ke sembarang arah. Alhasil kamarnya menjadi berantakan.
"Auh,,, kepalaku pusing sekali" Ucap Zeva sembari bangun dan memegang kepalanya.
Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 6 pagi. Iapun berjalan menuju kamar mandi.
Selesai dari mandi, Zeva langsung memakai pakaian kerjanya, tak lupa ia memoleskan sedikit makeup di wajahnya dan menyemprotkan parfum.
Dering telpon terdengar di atas meja samping tempat tidur, Zevapun meraih benda pipih itu.
Presdir BYA terpampang nama si penelepon.
__ADS_1
Zevapun mengangkat telpon itu sembari berjalan meninggalkan apartment nya.
"Ya Daniel?" ucap Zeva menerima telpon itu
"Okey aku akan ke tempatmu nanti" balas Zeva lalu menutup telponnya.
Sesampainya di perusahaan seperti biasa Zeva disambut oleh para karyawannya.
"Sekertaris Hang, aku ada jadwal jam 2 siang ini, jika ada janji di jam itu, majukan saja" tintah Zeva
"Baik nona" balas Sekertaris Hang lalu pergi.
***
"Apa aku terlambat?" kata Zeva memasuki ruang meeting perusahaan BYA.
"Sama sekali tidak Agatha, kami baru hendak memulai" balas Daniel
Ia melihat hanya ada 4 orang di ruangan itu, Daniel, Satria, dirinya, dan Nadine. Orang yang menyapanya tadi malam.
"bawakan 4 kopi" tintah Daniel lewat telpon kantornya
Ruangan itu terlihat seperti ruang santai di dalam ruang meeting.
"Jadi aku pernah tinggal di kota C, di sana aku tinggal kurang lebih selama setahun saat umurku 5 tahun." Cerita Daniel
"Jadi aku ingin kita bekerja sama untuk menawarkan jasa mengasuh anak anak selama liburan musim panas ini" jelas Daniel
"Jadi kau ingin kami mencarikan orang untuk jadi pengasuhnya?" Tanya Nadine
"Tidak, kita yang merawat mereka" Ucap Daniel
"Apa?? Tapi aku tak bisa mengurus anak anak" balas Nadine lagi.
"Kenapa tidak, kita ada berempat,dan kita semua juga belum menikah! ini pasti akan jadi pengalaman berharga, Bagaimana Agatha, Satria? " tanya Daniel meminta pendapat Zeva dan Satria.
"Aku setuju, karena aku juga pernah tinggal disana selama hampir 3 tahun. Sejak umurku 3 tahun. menurutku disana adalah tempat yang cocok untuk anak anak, dimana disana dia akan berlari seperti yang dia inginkan, tempatnya asri, dan jauh dari kota" Jelas Satria mengajukan pendapatkan.
"Ya, Sepertinya Satria benar. Aku setuju dengannya" Ucap Zeva setuju dengan pendapat Satria.
"Baiklah. Ini akan di adakan satu bulan lagi. Dalam satu bulan kita akan perlatih untuk mempersiapkan diri saat kita mengasuh anak anak."
__ADS_1
"Anak anak ini berusia 4 tahun keatas kan?" Tanya Satria
"Ya, di usia itu yang paling merepotkan" Jawab Zeva.
"Benarkah?? " Sahut Nadine
"Ahh, aku harus mempersiapkan diriku" Gumam Nadine pelan. Membuat semuanya tertawa.
"Apa kalian sudah makan siang?" tanya Satria.
"Belum" jawab mereka bertiga bersamaan membuat keempat nya tertawa setelahnya.
"Aku akan traktir kalian hari ini" Tutur Satria
"Benarkah? Wahhh" Jawab Daniel terkesan
Merekapun pergi kesebuah restaurant menggunakan mobil Satria. Mobil Satria berhenti di depan sebuah restaurant Tiongkok.
"Di sini makanannya sangat lezat, kupastikan kalian menyukainya" ucap Satria lalu mematikan mesin mobilnya.
***
"Sekertaris Hang, aku akan ada pekerjaan mengasuh anak anak bulan depan, menurutmu apa yang harus aku persiapkan?" Tanya Zeva saat Sekertaris Hang masuk ke kantornya untuk memberi berkas.
"Apa?? anda mengurus anak anak?" Tanya sekertaris Hang balik, tak percaya kalau Zeva akan mengurus anak anak.
"Kenapa??? Kau tak percaya aku bisa mengurus anak anak?!" Jawab Zeva dengan nada tinggi.
"Iya nona. Maaf, anda pasti bisa melakukan segala" Ucap Sekertaris Hang sambil membungkukkan tubuhnya di depan Zeva.
"Ahh, ya aku bisa belajar yoga untuk anak anak, siapa tahu aku bisa dapat lisensi psikologi anak" kata Zeva mendapat ide setelah mengingat perkataan Daniel, kalau mereka juga akan mendapatkan lisensi.
"Aku yakin kepala koki nya adalah Daniel" Gumam Zeva karna Daniel pandai memasak.
Zevapun mencari sesuatu di ponselnya.
"Apa kau punya nomer Sanchia?" Tanya Zeva kepada sekertaris Hang.
"Ada Nona" jawab sekertaris Hang lalu memberikan Ponselnya
(Jadi Sanchia ini ceritanya temennya Zeva yang pelatih Yoga)
__ADS_1