
Dokter dan suster keluar dari ruangan IGD membawa Diva yang akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, sementara itu bik Minah baru datang dengan nafas yang ngos-ngosan
"Non"bik Minah langsung mendekati Diva
"Ibuk tebang aja, pasien sudah dalam keadaan baik-baik saja kita hanya menunggu sampai dia siuman"jelas dokter
"Syukur Alhamdulillah"ucap bik Minah
Bik Minah mengikuti dokter beserta suster yang membawa Diva ke ruang rawat inap, sementara Reyhan sedang membayar uang administrasi
"Maaf bik, saya dokter Vito adik ipar dari dokter Reyhan. Kalau boleh memangnya Diva dari mana mau kemana sehingga dia bisa kecelakaan ?"tanya Vito penasaran
"Non Diva pamit sama bibik mau pergi menemui kedua orangtuanya, tapi sudah lama pergi non Diva tidak memberi bibik kabar, jadi bibik telfonin terus dok. Lama banget baru di angkat, dan waktu non Diva angkat telfon bibik non Diva sedang menangis"jelas bik Minah
"Menangis ? Kenapa ?"tanya Vito
"Bibik kurang tau juga dok, tapi yang bibik ingat non Diva nangis sambil bilang kalau dia di buang dan nggak ada yang sayang sama non Diva. Bibik bingung dengan ucapan non Diva nah bibik tanya lagi tapi nggak di jawab sama non Diva, yang bibik dengar cuma suara tangisan non Diva dan nggak lama dari itu bibik dengar ada suara kecelakaan"jelas bik Minah lagi
"Apa karena orang tuanya Diva jadi seperti ini ?"tanya Vito
"Bibik kurang tau dok"ucap bik Minah seraya duduk di samping tempat tidur Diva
Hening, begitulah keadaan ruang rawat Diva sampai dering ponsel mengagetkannya. Vito berpamitan pada bik Minah untuk mengangkat telfonnya, kepergian Vito berganti dengan kedatangan Reyhan
__ADS_1
"Bik, bagaimana keadaan Diva ?"tanya Reyhan
"Kata dokter non Diva tidak apa-apa dok, kita tinggal nunggu sampai non Diva siuman"jelas bik Minah
"Syukur Alhamdulillah"ucap Reyhan
Bik Minah beserta Reyhan yang selalu setia di samping Diva menantikan kapan dia akan sadar, hingga sore hari menjelang pergerakan tanggan kanan Diva membuat Reyhan kembali bersemangat
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga"Diva mengerutkan keningnya seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing
"Mas"ucap Diva
"Ya sayang"jawab Reyhan
"Gelap"ucap bik Minah
"Nggak sayang, disini terang"jawab Reyhan
"Tapi kenapa Diva nggak bisa lihat apapun ? Apa Diva buta ? Diva nggak bisa liat apa-apa, dimana bik Minah ?"tanya Diva yang sudah mulai ingin menangis
"Non, bibik disini sama non"bik Minah langsung menggenggam tangan kiri Diva sementara Reyhan yang melihat Diva panik langsung memanggi dokter
"Bik, Diva nggak bisa liat bik semua gelap"Diva mulai menangis
__ADS_1
"Non, jangan nangis lagi. Non Diva nggak kenapa-napa kok percaya sama bibik"bik Minah berusaha menenangkan Diva
"Permisi, biar saya periksa dulu"dokter yang baru datang langsung meminta Diva untuk tenang
"Bagaimana dok ?"tanya Reyhan
"Nona Diva mengalami buta yang di sebabkan oleh benturan keras pada bagian kepala sehingga merusak saraf mata"jelas sang dokter
"Apa ? Bik, Diva buta bik"Diva menangis seraya memeluk bik Minah
"Masih bisa operasi kan dok ?"tanya bik Minah
"Bisa, selagi ada pendonor nona Diva bisa melakukan operasi mata"jelas sang dokter
"Non Diva dengar itu, kita masih bisa lakukan operasi jadi nanti non Diva bisa melihat lagi"bik Minah berusaha menghibur Diva agar dia berhenti dari nangisnya
"Kenapa hidup Diva seperti ini bik ? Tuhan nggak adil"ucap Diva
"Terimakasih ya dok"Reyhan mengucapkan terimakasih kepada dokter dan kembali mendekati Diva
"Sayang, hey kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Allah sayang sama kamu makanya Allah kasih kamu cobaan karena Allah yakin kamu bisa menjalani cobaan itu"jelas Reyhan namun Diva tak menjawab perkataan Reyhan dan terus menangis di pelukan bik Minah
"Kamu sabar sebentar saja ya"Reyhan mengelus puncak kepala Diva
__ADS_1