
Setelah kepergian Nala membuat Ara duduk termenung dipinggir tempat tidur . Duduk diam melamun entah apa yang dia fikir kan
"Ma , Ara kangen mama"gumam Ara
"Andaikan mama masih ada pasti Ara bisa cerita banyak hal sama mama , pasti mama juga akan telfonin Ara kalau pulangnya telat"ucap Ara yang sudah berlinangan air mata
Seiring keluarnya air mata darah pun ikut keluar dari hidung Ara membuat Ara bergegas mencari tisu untuk mengelap hidungnya
"Mama , Ara nggak kuat lagi . Ara kangen mama , Ara pengen di peluk mama"tangis Ara semakin pecah
Bik Narti yang akan memberikan segelas susu panas untuk Ara langsung terkejut karena mendengar suara tangisan Ara yang begitu kencang
"Neng , buka pintunya sayang bibik bawain susu panas untung neng Ara"bik Narti mengetok-ngetok pintu kamar supaya Ara segera membuka pintu kamarnya . Namun usaha bik Narti sia-sia , karena rasa cemas melanda hati bik Narti pun memutuskan untuk langsung membuka pintu yang ternyata tidak di kunci
"Ya Allah neng Ara"bik Narti berlari mendekati Ara yang sudah menangis dengan tangan memegangi hidung yang berdarah
"Pak , bapak . Ya Allah neng kenapa bisa kayak gini"bik Narti mengambil kotak tisu untuk membersihkan darah-darah yang keluar dari hidung Ara
"Ada apa buk ?"mang Ujang yang baru datang dibuat terkejut dengan keadaan Ara
"Ya Allah neng Ara kenapa buk ?"tanya mang Ujang
"Ibuk juga nggak tau pak"jawab bik Narti
Mang Ujang langsung mengangkat Ara agar berbaring di atas kasur , mengelimutinya agar bisa istirahat dengan nyaman
"Pak ambilkan obat neng Ara didalam laci belajarnya pak"ucap bik Narti
Mang Ujang bergegas menuruti perintah sang istri , setelah mendapatkan obatnya mang Ujang langsung memberikan pada sang istri . Bik Narti meminta Ara untuk meminum obat yang sudah mereka sediakan sehingga membuat Ara tertidur karena pengaruh obat
"Neng Ara kenapa buk ?"tanya mang Ujang
"Ibuk juga nggak tau pak , tadi waktu ibuk mau ngasih susu neng Ara sudah nangis kayak tadi . Ibuk takut penyakit neng Ara semakin parah pak"ucap bik Narti
"Huuus nggak boleh ngomong kayak gitu buk . Kita harus berdoa semoga neng Ara sembuh dan kembali ceria seperti dulu"jelas mang Ujang
"Aamiin pak"jawab bik Narti
"Bapak keluar dulu untuk menelfon Oma , bapak mau ngabarin keadaan Ara sekarang"ucap mang Ujang
"Iya pak , malam ini ibuk tidur di sini ya pak . Ibuk mau nemenin neng Ara , ibuk takut nanti tengah malam neng Ara butuh sesuatu"jelas bik Narti
__ADS_1
"Iya buk"mang Ujang menatap Ara sekilas dan langsung berlalu keluar kamar untuk menelfon Oma Grace
Seperti itulah kedua suami istri ini mengurus Ara , mereka sudah menganggap Ara seperti anak mereka sendiri . Bahkan ketika Ara di nyatakan memiliki penyakit anemia mereka ikut bersedih karena setelah kepergian kedua orangtua Ara , mang Ujang dan bik Narti lah yang mengurus Ara hingga saat ini
*
Mobil taksi yang ditumpangi Nala sudah sampai didepan gerbang rumah Nala . Namun saat ingin membayar taksi Nala kehabisan uang kas , saat Nala ingin meminjam uang pada satpam rumah terdengar klakson mobil dari belakang mobil taksi
"Hehe , pucuk di cinta kak Aisyah pun tiba"Nala langsung berlari mendekati mobil Aisyah
"Kak"Nala mengetuk kaca mobil Aisyah dengan cepat
"Kamu baru pulang ? Anak sekolah mana yang pulang malam seperti ini"Aisyah mengomeli Nala
"Kak , marahnya nanti aja sekarang Nala minta uang dong untuk bayar taksi"ucap Nala
"Uang jajan kamu habis ?"tanya Aisyah
"Nggak , tapi uang kas aku yang habis kak . Buruan entar aku di marahin sama bapak taksinya ni"Nala menggoyang-goyangkan tangannya agar segera diberi uang
Aisyah memberi Nala yang dan bergegas Nala membayar taksi . Setelah membayar uang taksi Nala segera masuk kedalam mobil Aisyah
"Uangnya nggak ada kembalian ya kak , tadi kembaliannya aku kasih semua ke bapak supirnya"jelas Nala
"Kakak sendiri kenapa baru pulang ?"Nala mengembalikan pertanyaan dari Aisyah
"Kalau Kakak jelas pulang dari butik , lha kalau kamu ? Dari mana ?"tanya Aisyah
"Nala tadi ketiduran di rumah Ara"jawab Nala
"Ara Siapa ?"tanya Aisyah lagi
"Sahabat Nala yang tinggal dekat rumah nenek sekaligus pacarnya si Nathan"jelas Nala
"Nathan Nathan , dia itu Abang kamu"ucap Aisyah
"Beda beberapa menit doang"jawab Nala
"Kamu mau kakak kunciin di dalam"Aisyah sudah keluar dari mobil sedangkan Nala masih setia duduk manis di dalam mobil
"Eh , udah sampai ya hehe"Nala hanya cengengesan karena tak sadar sudah berada di depan rumah
__ADS_1
"Sudah princess"jawab Aisyah
"Jangan gitu dong kak , geli Nala dengernya"ucap Nala
"Hahaha , ya udah ayo masuk bunda pasti sudah nungguin kita"Aisyah membukakan pintu mobil untuk sang adik dan menarik tangannya untuk segera masuk bersama
"Kak"panggil Nala
"Hm"jawab Aisyah
"Gendong dong kak"ucap Nala
"Gendong ? Mau sih tapi kamu liat deh Kakak pakai sepatu hak tinggi jadi maaf nggak bisa gendong kamu"jawab Aisyah
"Di copot aja sepatunya"Nala menaik turunkan alis matanya
"Dada Nala"Aisyah berlari meninggalkan Nala sendirian
"Curang banget sih . KAK AISYAH"Nala mengejar Aisyah dengan suara teriakannya
"Assalamu'alaikum"ucap Aisyah masuk kedalam rumah dengan nafas ngos-ngosan
"Wa'alaikumusalam , kenapa kamu lari-larian Syah ?"tanya Adimas
"Hehe , nggak ada"jawab Aisyah yang menyalami tangan kedua orangtuanya , aunty dan Uncle nya
"Aunty mana Putri ?"tanya Aisyah
"Itu lagi main game sama Nathan"jawab Vina
"KAKAK ! Assalamu'alaikum Nala pulang"Nala masuk dengan suara teriakan khasnya
"Wa'alaikumusalam , kenapa teriak-teriak ?"tanya Adimas
"Kakak Aisyah ni pa alasannya sepatu hak tinggi ujung-ujungnya lari ninggalin Nala sendirian"jawab Nala
"Gimana-gimana bunda nggak ngerti"Amanda tak paham dengan ucaoan sang anak bungsunya
"Gini bunda tadi itu Nala minta digendong tapi Aisyah pakai sepatu hak otomatis nggak bisa dong jadi Aisyah cepat-cepat masuk dari pada dimintai yang aneh-aneh"jelas Aisyah
"Heh , alasan"ucap Nala cemberut
__ADS_1
Adimas geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsunya yang sifatnya benar-benar mirip dengan sang istri