
Sementara Nala di kamarnya sedang asyik mengobrol dengan Ara . Seharian ini Nala tak bisa bertemu dengan sahabat kesayangannya yang satu ini membuatnya begitu rindu berat
"Bagaimana hasil pemeriksaannya ?"
"Kata dokter ada sedikit mukjizat yang membuat penyakit Ara sedikit membaik , tapi dokter tetap menyarankan kalau Ara nggak boleh kecapekan , harus selalu minum vitamin dan nggak boleh banyak fikiran"
"Syukur Alhamdulillah gue seneng dengernya"
"Tapi akhir-akhir ini Ara masih suka pusing , apalagi kalau melakukan banyak kegiatan"
"Mungkin itu efek sebentar lagi Lo sembuh . Ingat Lo harus rajin minum vitamin dan jangan sampai kecapekan ingat itu"
"Iya , tapi Ara liat Nala cantik banget hari ini pakai hijab"
"Iya nih bunda yang nyuruh gue pakai hijab soalnya entar setelah sholat magrib ada pertemuan keluarga gue sama keluarga calon kak Aisyah"
"Wah pasti asyik banget , Ara doain semoga acaranya lancar ya"
"Lo mau kesini nggak ? Entar biar gue suruh Nathan buat jemput Lo , atau Lo mau gue langsung yang jemput Lo biar sekalian kita berburu jajan pinggir jalan"
"Nggak usah , itukan acara keluarga kamu Ara nggak enak"
"Nggak apa-apa gue malah seneng kalau Lo disini jadi gue ada temen ngobrol . Males gue kalau harus pura-pura jadi anak yang manis didepan orang yang nggak gue kenal"
__ADS_1
"Haha , semangat ya Nala . Ara yakin Nala pasti bisa"
"Jadi Lo benar-benar nggak mau kesini ?"
"Nggak ah , kan udah malam lagian besok Ara udah masuk sekolah"
"Lo fikir gue nggak masuk sekolah juga besok"
"Hehehe siapa tau Nala ketiduran"
Saling mengetahui kebiasaan masing-masing tak lantas membuat mereka menjauh tapi malah semakin akrab bahkan sudah seperti saudara . Nala yang kadang suka mencaci maki , dan suka marah-marah padanya tak membuat Ara marah pada Nala bahkan Nala sering kali dibuat kesal karena kepolosan Ara . Nala bahkan sering berfikir kalau sifat yang dimiliki Ara adalah sifat kebodohan karena dia tak pernah membalas perbuatan Nala padanya
Namun dibalik semua itu hanya Nala seorang yang boleh mencaci dan memarahi Ara yang lain tidak boleh . Apabila ada yang berani menyakiti Ara maka dia akan berhadapan dengan Nala , bahkan banyak juga yang bilang kalau pawang Ara adalah Nala . Nala yang berteman dengan banyak anak jalanan membuat dia tau setiap informasi tentang kegiatan Ara bahkan bisa dibilang banyak yang menjaga Ara dari kejauhan berkat pertemanan Nala yang luas
"Nathan ! Lo kalau masuk kamar orang itu ketuk pintu dulu dong . Sampai kaget gue"ucap Nala yang kesal karena terkejut
"Hai sayang"Nathan langsung mendekati layar laptop Nala yang ada gambar Ara disana
"Woy gue lagi ngomong ni dengerin kek"ucap Nala
"Ssssttt , jangan berisik"Nathan meletakkan jari telunjuknya didepan mulut Nala membuat Nala langsung terdiam
"Nathan"sapa Ara yang sudah melambai-lambai kan tangannya di layar laptop
__ADS_1
"Ara kangen"Nathan bicara seraya merengek seperti anak kecil
"Hahaha , besok kita ketemu . Sebentar ya Ara dipanggil bik Narti"Ara bergegas pergi dengan panggilan yang masih menyala . Namun disaat Ara pergi Nathan melihat banyak obat terletak diatas meja belajar Ara
"Obat itu kemaren sudah tinggal sedikit kenapa sekarang banyak lagi"ucap Nathan menatap pada Nala
"Dia baru selesai kontrol mungkin saja dokter memberinya obat lagi"seolah Ara tau apa yang akan Nathan bicarakan
Tak lama dari itu Ara sudah kembali dengan segala susu hangat ditangannya . Memperlihatkan susu tersebut didepan kamera agar Nala dan Nathan diseberang sana dapat melihat apa yang sedang dia bawa
"Buruan diminum susunya mumpung masih panas"ucap Nala yang dijawab anggukan oleh Ara
"Sayang , kamu lagi sakit ?"tanya Nathan tiba-tiba membuat Nala dan Ara terkejut bahkan Ara yang sedang meminum susunya hampir tersedak oleh pertanyaan Nathan
"Ng-nggak Ara sehat kok"jawab Ara
"Terus itu dimeja belajar obat siapa ?"tanya Nathan to the poin
"Ooh , itu vitamin Ara"jawab Ara berbohong
"Vitaminnya banyak banget ya"ucap Nathan
"Iya , kata dokter biar sehat dan nggak ada virus yang menempel"jelas Ara
__ADS_1
Nala yang mendengar jawaban dari Ara dibuat terdiam , ada rasa sesak di dadanya saat mendengar sang sahabat harus berbohong pada orang yang sudah tau kenyataanya