
Mendengar ucapan sang papa ada rasa tak percaya, Nathan meminta untuk segera pulang. Namun tidak untuk langsung sampai rumah melainkan menuju rumah sang kekasih terlebih dahulu
"Nathan, kita langsung pulang saja ya nak. Kamu belum sehat 100%"bujuk Amanda namun tak di dengarkan oleh sang anak
Sampainya di gerbang rumah Ara, Nathan langsung keluar dari mobil begitupun seluruh keluarga. Adimas mengikuti Nathan berjalan dengan sempoyongan mendekati pos satpam
"Mang Ujang, buka gerbangnya Nathan mau ketemu Ara"ucap Nathan
"Maaf, ada yang bisa saya bantu ?"ucap sang satpam
"Bapak siapa ? Mang Ujang mana ?"tanya Nathan yang terkejut melihat satpam baru dirumah Ara
"Saya satpam baru dirumah ini, mang Ujang beserta istri nya sudah pulang kampung beberapa jam yang lalu"jelas sang satpam
"Pulang kampung ? Bagaimana mungkin, kalau mereka pulang kampung yang ngurus pacar saya siapa ?"ucap Nathan dengan tegas
__ADS_1
"Maaf den, pacar Aden siapa ?"tanya sang satpam
"Nathan, udah nak ayo kita pulang. Bunda sudah menunggu nak"bujuk Adimas yang tak tega melihat kelakuan sang anak
"Ara, Arabelle Jovita Grizelle pacar saya"jawab Nathan
"Maaf tapi bukankah non Ara sudah meninggal dan tadi siang jenazah nya dibawa ke Belanda"jelas pak satpam
"Pa, jadi semua itu bener pa. Nathan nggak mimpi pa"Nathan menangis dalam pelukan sang papa begitupun Adimas juga ikut menangis melihat sang anak begitu terpuruk
"Papa juga pernah mengalami hal yang sama nak"batin Adimas mengingat bagaimana dia ditinggal untuk selama-lamanya oleh almarhumah sang istri
Selama perjalanan pulang Nathan hanya terdiam dengan tatapan kosong, membuat sang bunda dan papa semakin khawatir melihat keadaan Nathan
"Nat"panggil sang bunda seraya mengelus tangan Nathan dengan lembut
__ADS_1
"Nathan nggak apa-apa kok bunda"Nathan menatap sang bunda dengan senyuman paksa
"Ara sudah nggak kesakitan lagi kan bunda ?"tanya Nathan dengan air mata yang berlinang
"Iya sayang, Ara sudah bahagia disana jadi Nathan jangan sedih lagi ya"ucap sang bunda
"Kamu tenang aja, Oma Grace sudah memaafkan kamu dan berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Ara"jelas Adimas
"Iya pa"Nathan kembali menatap jalanan dengan tatapan kosong
Selama perjalanan Nathan melihat banyak pedagang kaki lima dimana Ara suka jajan di pedagang kaki lima dibanding di tempat-tempat mewah. Nathan ingat betapa konyolnya Ara merengek untuk jajan di pinggir jalan, walaupun Nathan sudah melarang namun ke kukuhkan hati Ara tak ada yang bisa mengalahkan. Amanda yang duduk di samping Nathan dibuat terkejut ketika melihat anaknya tertawa kecil
"Nathan, kamu kenapa nak ?"tanya Amanda dengan cemas
"Ara suka jajan di kaki lima bunda, dulu Nathan udah larang Ara untuk jajan di pinggir jalan tapi dia merengek-rengek seperti anak kecil hal itu membuat hati Nathan luluh dan mengizinkan Ara untuk jajan di kaki lima"jelas Nathan dengan senyuman namun senyuman ceria itu secara perlahan kembali hilang mengingat kepergian Ara yang untuk selamanya
__ADS_1
"Nathan pasti kuat nak"batin Amanda
Sebagai sang bunda, Amanda harus bisa menguatkan sang anak dan menjadi sport sistem untuk sang anak. Apalagi disaat seperti ini, Nathan benar-benar membutuhkan pelukan sang bunda sampai luka di hatinya kembali pulih