Taruhlah Hatimu Di Hatiku

Taruhlah Hatimu Di Hatiku
dimana kau sinyal


__ADS_3

dirumah sakit ricko dan para anak magangnya baru saja selesai memeriksa keadaan pasien di setiap kamar.


" untuk hari ini cukup sampai disini , lakukan tugas kalian yang lainnya kalian boleh bubar" ujar ricko.


' baik dokter' ucap mereka serentak.


ricko langsung membuka handphonenya dia berharap ada pesan atau telpon dari istrinya namun nihil , dia tidur dengan gelisah tanpa sosok istrinya. dia tidak bisa menyusul karena selama beberapa hari kedepan jadwal operasi yang sudah dibuat tidak bisa di cansel. sebelum dokter priyanto spesialis bedah saraf dari rumah sakit yogyakarta datang dia belum bisa pergi.


" ricko semua nya sudah sampai di tempat dengan selamat, semoga saja seluruh anggota medis terlindungi dengan baik" ucap chandra yang baru datang itu.


" kau pasti mengkhawatirkan istrimu. tunggulah beberapa hari lagi kita bisa pergi bersama" chandra menepuk bahu ricko untuk memberi ketegaran.


" semoga kau baik-baik saja " ucap ricko dalam hati yang terus mengkhawatirkan nita.


***


nita dan dua suster itu sedang berada di ruangan medis yang disiapkan untuk menangani korban, satu per satu korban berdatangan, dengan luka memar dan berdarah, ada yang patah tulang, pingsan dan banyak lagi.


melihat ruangan yang telah penuh dengan korban itu dia tidak bisa lagi menampung korban jiwa yang begitu banyak, dia telah menangani pasien sebanyak itu. lalu dia memutuskan untuk keluar.


dia melihat banyak pasien yang mengantri ada seorang tentara yang tengah berusaha membobol jalan yang terutup sepertinya dia seorang kapten lalu dia berlari mendekatinya.


" permisi apa aku boleh meminta bantuanmu?" tanya nita.


tentara itu segera menoleh, dia terlihat gagah dan tampan " apa ada masalah?" tanyanya.


" itu disana ada begitu banyak pasien bisakah kau membuatkan satu tenda untukku" tanya nita.


" untuk dirimu sendiri?" tentara itu mengernyitkan dahinya.


" tidak... maksudku buatkan tenda untuk pasien yang cukup parah, yang tidak terlalu parah aku akan mengobatinya diluar" jelas nita.


" diko...ibram...felix ambil satu tenda dan dirikan disebelah tenda dokter ini" teriak tentara itu.


" terima kasih " ucap nita lalu kemudian dia berlari menghampiri banyak pasien itu.


" dokter apa yang harus kita lakukan ?" tanya suster dian.


" begini kita pindahkan 2 meja itu kita akan membuka klinik di sini, untuk yang tidak terlalu parah kita bisa mengobatinya disini namun jika korban terlihat parah kita akan mengobatinya didalam tenda yang akan didirikan itu" jelas nita.


" baik dokter " jawab mereka berdua.


" ayo kita harus cepat"


mereka bertiga bergotong royong mengatur meja dan peralatan medis juga obat-obatan. setelah selesai pasien pun berdatangan.


" astaga adik kakimu bengkak selali" ujar nita yang memegang kaki seorang anak kecil laki-laki yang berumur sekitar 6 tahunan.


" tolong dokter anakku terus menangis dari semalam, dia terkena reruntuhan batu " jelas ibunya.


nita mulai menangani anak itu, membersihkan lukanya dan memberikan suntik anti tetanus. lalu dia perban luka berdarah di tangan kanan anak itu.


" berilah obat ini setiap hari , jangan biarkan dia kedinginan karena kakinya yang bengkak akan menyebabkan sakit yang berlebihan nanti" jelas nita.


" terima kasih dokter" ucap orang tua anak itu.


nita tersenyum pada orang itu kemudian dilanjutkan dengan pasien lainnya hingga tak sadar sekarang sudah hampir sore dia belum makan sama sekali, bersama suster dian dan loli.


tiba-tiba semangkuk mie datang dihadapan nita , dia pun mendongak keatas lalu melihat fahri yang memberikannya mie.


" dokter apa ini?" tanya nita.


" makanlah kau belum istriharat seharian ini " kata fahri.


" hmm terima kasih dokter, loli ... dian ... ayo kita makan bersama kalian pasti lapar dan lelah" kata nita.


suster loli dan dian pun mendekatinya, nita merebuskan mie untuk kedua suster yang telah membantunya itu.


" ini jika airnya terlalu dikit kalian tambah saja" kata nita.

__ADS_1


" terima kasih dokter" ucap keduanya.


" dokter apa kami boleh mendapatkan mie ?" tanya para anggota tentara yang telah membantunya tadi.


" ah ya duduklah disini aku akan membuatkannya" jawab nita.


" eh ada 4 orang dokter tolong seduhkan 4 mie" kata tentara itu.


" baiklah" jawab nita.


fahri memandang tidak suka para tentara itu menurutnya sangat merepotkan nita. " sini biar aku saja" kata fahri.


" tidak usah dokter biar aku saja " tolak nita.


" makanlah yang benar agar stamina mu bagus" kata fahri.


" sebentar saja" kata nita.


fahri tak lagi bersuara dia hanya memperhatikan nita yang sedang menuangkan air panas itu ke wadah pop mie.


" mie nya sudah siap ambil sendiri ya" kata nita seraya tersenyum


dengan semangat 45 para tentara tampan itu langsung menyerbu mie buatan nita, selain kaptennya yang masih mengawasi lahan sekitar.


namun tiba-tiba gempa susulan seperti nya menyerang lagi, tempat yang mereka singgahi bergoyang, semuanya menyelamatkan diri, dokter fahri menarik tangan nita lalu memeluk nya dan melindunginya dari kayu yang akan menimpanya.


bugh


kayu besar itu mengenai punggung fahri, dia hanya mendesis karena rasa sakit akitbat timpahan itu, para tentara segera menyelamatkan suster loli dan dian. juga para pasien didalam.


gempa pun berhenti , nita merasa telah membuat dokter ricko sakit, lalu melepaskan pelukan fahri dan berdiri untuk membantunya.


" ayo dokter aku akan membantumu" kata nita yang bersusah payah membantu berdiri, setelah membantu korban lain kapten tentara itu melihat nita yang keberatan kemudian membantunya.


" dudukkan di atas batu itu" kata kapten itu.


" iya" jawab nita.


" aku baik-baik saja" jawab fahri.


" sungguh?" tanya nita.


" hmm hanya sedikit saja nanti juga hilang" jawan fahri.


" terima kasih sekali lagi" ucap nita.


" kau jangan khawatir " kata fahri.


" dokter nita apa kau baik-baik saja?" tanya suster loli.


" hmm aku baik! apa kalian berdua baik?" tanya balik nita.


" iya dok kami baik" jawab dian.


" syukurlah" ujar nita.


" kapten kita harus kedesa sebelah, disana banyak korban jiwa kita harus bergegas dan seorang dokter harus ikut" kata si tentara yang bernama kan ibram itu.


" aku akan ikut" kata nita.


" baiklah ayo kita pergi sekarang, bawa semua peralatan medis dan pakaian tebal malam hari cuaca sangat dingin" kata kapten itu.


nita berusaha menjangkau melihat name tag nya namun tidak terlihat karena tertutup kacamata hitamnya.


Namun saat pergi nita melihat kondisi fahri yang sebenarnya tidak parah namun tetap dia merasa bersalah.


" dokter fahri tidak apa kan kami tinggal?" tanya nita.


" iya tidak masalah" jawab fahri.

__ADS_1


nita menganggukkan kepalanya lalu pergi bergegas bersama suster loli, dian dan juga para tentara itu.


" nita" panggil fahri. nita pun langsung menoleh.


" jaga diri baik-baik" kata fahri.


" hmm iya dokter" jawab nita.


diperjalanan itu nita melihat jamnya yang hampir jam 6 dia merasa haus namun lupa membawa air. dia juga mengamati para rekannya yang lain sepertinya juga tidak membawa air minum.


dia harus menahannya , lalu mereka melewati sebuah sungai air nya begitu jernih dia menatap air itu rasanya benar-benar haus.


dia pun duduk di dekat bebatuan dia menyatukan kedua tangannya untuk menggapai air yang kemudian ditepis oleh kapten itu.


" apa kau mau sakit?" kata kapten itu.


" aku.. aku haus dan lupa membawa air" jawab nita.


" ini minumlah" kapten itu menyodorkan air dia segera mengambilnya dan meminumnya dia teguk habis botol itu. kapten itu sesekali memandanginya yang sedang kehausan dia tersenyum tipis melihatnya.


" terima kasih" ucap nita.


" hmm ayo lanjut perjalanan masih jauh" kata kapten.


" i..iya"


akhirnya mereka berdua berjalan dibelakang anggota rombongan tadi, hingga malam hari sepertinya mereka harus beristirahat dan menepi untunglah ada sedikit lahan yang cukup luas.


" sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini , mungkin kita bisa tapi dokter dan suster mungkin sudah lelah. lebih baik pasang tenda saja" kata kapten itu.


" ibram pasangkan tendanya" perintah kapten


" felix cari kayu kabar"


" diko bantu ibram"


" siap" tegas mereka.


suster dian dan loli sepertinya kelelhan mereka berdua terduduk di cumpukan bebatuan itu, nita juga duduk di samping mereka.


" aku lelah sekali" rintih suster loli.


" aku juga" timpal suster dian.


" hmm ini aku ada roti kalian mungkin lapar" kata nita yang memberikan roti lapis pada kedua suster itu.


" aku memang lapar terima kasih dokter" kata loli.


" aku belum mengabari ricko, bagaimana keadannya" ucap nita dalam hati.


dia membuka handphonenya mencari sinyal tapi tetap tidak ada sinyal sama sekali, dia hanya mendesah pelan.


" baru sehari tapi aku sudah merindukannya" ucapnya dalam hati.


" tenda sudah siap masuklah " kata kapten.


" ayo dok kita harus tidur untuk besok" kata dian.


" hmm"


mereka bertiga masuk kedalam tenda yang cukup untuk bertiga itu, setelah membereskan tempat suster loli dan dian tertidur pulas sedangkan nita masih belum bisa tidur.


dia pun memutuskan untuk keluar dari tenda lalu menutup kembali tenda agar rekannya tidak kedinginan. jaket tebal yang dia gunakan seakan tak bisa menghangatkannya , dia terus memandangi handphonenya demi sebuah sinyal.


" ehem...ehemm"


nita tidak menghiraukannya dia terus mencari sinyal.


" ehemm ..ehemm"

__ADS_1


nita pun menoleh dan terkejut ketika mendapati kapten itu berada di belakang.


" kapten" gumamnya.


__ADS_2