
setelah pesta usai, kini nita dan ricko kembali kerumah bunda. anak - anak sudah tidur ricko membawanya kedalam kamar sedangkan nita masih duduk di sofa , irene dan nathan masih ada dijalan.
keadaan rumah itu dalam kondisi tak bercahaya , hanya ada lampu dari luar taman yang masuk menerangi rumah.
memgedarkan padangannya disekeliling rumah mewah dan megah itu namun tampak sepi.
" kini semuanya sudah berubah , rasanya sama seperti dulu saat aku habis pulang kuliah ,rumah yang gelap tanpa sosok bunda. hari ini sudah ada laki-laki yang akan menjaganya , aku mengatakan diriku untuk menerimanya dengan segenap hati , tapi rasanya tidak sama " pikirnya.
" nita kenapa kau tidak menghidupkan lampu , rumah menjadi gelap.seperti tidak berpenghuni" kata nathan yang baru sampai dia langsung mencari saklar lampu menghidupkan seluruh lampu rumah dan sekarang barulah terlihat kemegahan rumah itu.
" kakak sudah sampai " ujar nita.
" mas aku keatas ya arga sudah tidur " kata irene yang mengendong arga.
" iya " jawab nathan.
melihat nita yang duduk sendirian sambil melamun itu nathan langsung mendekatinya dan duduk disebelahnya , tapi sebelum itu dia menuangkan air digelas untuk diminum.
" kau punya masalah ?" tanya nathan lembut.
" tidak ada " jawab nita juga dengan lembut.
" nita kenapa kau lemas sekali seperti tidak punya energi bangunlah" nathan menarik nita yang tiduran di bantal itu hingga menyenderkan kepalanya di sofa.
" ricko sudah diatas apa kau tidak mau menemuinya "
" setelah ini bunda mungkin akan ikut dengan paman edward , jadi rumah ini akan sepi " sambung nathan dia mengucapkannya dengan mata yang berkaca - kaca.
" itu tidak akan terjadi "
" bagaimana kau tau ?"
" karena bunda akan tetap tinggal disini. paman edwardlah yang akan datang kesini "
" ha ? " nathan sedikit berpikir kenapa nita mengatakan itu , tak lama dia mengingat bagaimana nita bisa menerima edward.
" jadi kau setuju karena ..."
" ya ... aku menyetujuinya jika paman edward memenuhi persyaratanku , bunda harus tinggal dirumah ini bersama kita semua paman edwardlah yang harus datang kesini "
" nita apa yang kau lakukan , sekarang itu terserah mereka berdua kita tidak mencegahnya karena semua tanggung jawab ada di paman edward "
" kakak sekarang coba kakak pikirkan , paman edward sudah lama tinggal di amerika , apa kakak akan merelakan bunda jika dia membawa bunda tinggal di amerika ? aku tidak mau bunda jauh dariku " kata nita yang masih santai.
" jujur saja kau belum menerima paman edward bukan " kata nathan dengan hati - hati.
nita melirik kearah nathan dengan dalam lalu dia bangun dari sandarannya " jika aku tidak menerimanya kenapa aku membolehkan bunda menikahinya "
" karena kau tidak ingin membuat bunda sedih , tapi jika bukan kau lakukan dari hati dan jika bunda tau apa maksudmu kau pikir bunda akan senang ? kenapa kau tidak mencoba untuk menerimnya dengan benar "
" kakak bunda sudah menikah sekarang , aku tidak akan memikirkan banyal hal tentang paman edward aku akan menganggapnya seperti biasa ... seperti sebelumnya "
" ayah ... panggil dia ayah " cercah nathan.
" paman edward "
" ayah nitaaaa "
" paman edward "
" ayah "
" kenapa kalian jadi bertengkar ha ? ini sudah malam tidak niat untuk tidur " kata irene dari atas tangga.
" kakak bawa masuk suamimu dia terus menggangguku" kata nita.
" sayang dia harus memanggil paman edward ayah sekarang iyakan , dia terus menolak itu tidak baik " bela nathan.
" mau ayah atau paman edward itu terserah nita mas , bagaimana nita suka saja , tapi memang alangkah bagusnya menyebutnya ayah " ujar irene.
" nah bener kan " timpal nathan.
" sayang ayo tidur aku sudah mengantuk " kata ricko sambil berjalan melangkah kan kakinya ke arah nita , semua orang melihatnya dan nita segera berdiri.
" kau tidak mau makan lagi ? tadikan makan sedikit " ujar nita.
" besok saja , sekarang aku lelah " ricko menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
__ADS_1
" baiklah "
" kak kami tidur ya , selamat malam " ucap nita.
" selamat malam " jawab irene dan bersamaan.
ricko menggandeng tangan nita seperti orang mau nyebrangan padahal kan hanya naik tangga didalam rumah 😆 . melihat selendang transparan itu masih menempel di punggung nita dia berinistiatif melepaskannya.
" lepas ya " ujarnya .
" nanti saja didalam , ini di tangga ayo kita masuk dulu "
tapi tangan ricko sangatlah jahil berulang kali dia mempermainkan selendang itu , membuat nita geram dan sering kali menyuruh ricko melepaskan tangannya.
" hahha sayang kau lucu sekali kalau sedang marah begini"
" tutup pintunya , aku mau ganti baju jangan mempermainkan aku ya awas saja "
ricko hanya tersenyum mendengarnya dia naik keranjang memperhatikan buah hatinya yang sedang tertidur lelap itu , mengelus kepala dan terkadang menciumi pipinya.
" ricko mereka sedang tidur kau hanya akan mengganggunya tidur " kata nita yang baru keluar dari walk in closet dia hanya memakai baju tidur panjang berwarna hitam polos dan rambut yang sudah dia gerai.
" sayang lain kali jangan mau pakai baju itu lagi kita beli yang lain saja "
" iya iya , oh ya ricko kau besok ada jadwal tidak ? " tanyanya.
" ada apa ? mau mengajakku kencan " tanya balik ricko.
nita yang sedang membersihkan make up nya itu pun lantas menoleh dan mengerutkan dahinya " apa kita sudah lama tidak kencan ? aku pikir 1 minggu yang lalu " ujar nita seraya tersenyum.
" hmm ( ricko berdiri dan memakai sendal nya lalu kearah nita yang sedang di depan meja rias lalu memeluknya dari belakang ) wangi sekali " gumam ricko.
" ingin aku temani kemana besok ?" bisik ricko.
" tidak aku hanya bertanya saja karena besok aku akan datang ke seminar kesehatan di kampus kedokteran "
" aku akan mengantarmu " ujar ricko yang sudah mempermainkan rambut nita.
" sayang "
" boleh aku meminta sesuatu ?"
" minta apa ?" katanya yang masih fokus mempersihkan wajahnya itu.
" aku ingin kau memanggilku dengan sebutan " mas " sama seperti kak irene memanggil kak nathan "
" ha ? ricko apa kau demam ?" nita menyentuh dahi rikco dan meraba - rabanya.
" tapi tidak panas " ujar nita.
" ck sayang aku tidak demam , aku serius. kau terus memanggilku rikco, ricko kadang juga kau. bagaimanpun aku lebih tua 5 tahun kan "
" hmm aku tau , tapi... aku sudah biasa memanggilmu seperti itu, jadi aku pikir aku sangat tidak biasa "
" sayang bisa belajar dari sekarang coba sebut aku " pinta ricko.
" aku ?"
" ck bukan begitu aku juga sayang , tapi mas ... mas ! " tekan ricko.
" kau bilang panggil aku yasudah aku panggil " omel nita.
" coba , mas "
entah kenapa nita merasa sangat kaku saat ingin membuka mulutnya dia menggerakkan bibirnya berkali kali sampai 5 kali tapi tidak juga terucap.
" mm ..ma , ma "
" mas sayang mas "
" emmas "
" bukan emas sayang hanya mas , mas !"
" sudahlah ricko aku tidak biasa , aku panggil nama saja banyak orang menikah hanya memanggil nama kan "
" tapi aku suka sayang "
__ADS_1
" baiklah , aku akan belajar tapi tidak bisa sekaligus aku ingin menyesuaikan dengan lidahku oke "
" hmm terima kasih " ucap ricko lembut kemudian memeluk nita dengan erat.
***
keesokan harinya , di meja makan sudah tertata rapi sarapan pagi yang dibuat oleh bi inah. hanya ada beberapa macam lauk karena dirumah hanya ada beberapa orang saja jadi bi inah tidak memasak banyak.
menata piring dengan rapi kemudian mengelap sendok dengan telaten bi inah melakukannya. saat nita turun dia melihat bi inah sendirian jadi dia berinisiatif untuk membantu.
" bi sini biar aku saja , maaf ya aku baru bangun jadi tidak sempat membantu " kata nita yang ikut mengelap sendok.
" tidak apa nona ini sudah tugas bibi , seharusnya nona tidak usah membantu " ujar bi inah.
" bibi tidak boleh bicara seperti itu , dirumah ini semuanya sama jika bunda ada pasti bunda juga membantu kan "
" iya nona "
" apa hari ini nona tidak kerumah sakit ?" tanya bi inah.
" hari tidak kerumah sakit bi tapi aku ada seminar di universitas Kedokteran jadi agak siangan " jawab bi inah.
tin....tin...tin
suara klakson mobil terdengar , membuat nita dan bi inah curiga siapa yang datang pagi pagi begini , bi inah pun pergi untuk melihat siapa yang datang sedangkan nita masih mengelap sendok.
" nyonya selamat datang , tuan selamat datang " ucap bi inah memyambut bunda dan edward.
" selamat pagi bi , bi apa nita semalam mengingap disini ?" tanya bunda.
" iya nyonya, nona muda ada di meja makan " jawab bi inah.
" aku temui dia dulu " ujar bunda pada edward , edward pun memganggukkan kepalanya.
" sayang selamat pagi " ucap bunda pada nita.
" bunda ? " dia menoleh kearah suara dan menghentikan aktivitasnya.
" iya sayang , beberapa hari ini menginap ya disini , bunda ingin semua berkumpul dirumah "
" iya bunda "
dan sekarang semuanya sudah ada di meja makan kecuali aidan dan tiara belum kembali dari hotel, kini posisi nya berubah edward lah yang duduk di tempat biasa yang adi tempati dulu.
terkadang sesekali nita melirik kearah kursi itu , setiap makan ayahnya selalu mengatakan sesuatu yang dulu tidak dia sukai karena keegoisan adi. tapi sekarang posisinya kini berubah.
dia menelan beberapa sendok nasi kedalam mulut , sesekali meminum air putih dia sudah rapi dengan pakaiannya. karena dia akan seminar dia memakai setelan blezer berwarna hitam dan kemeja putih.
" ayah bagaimana dengan rumahmu yang sekarang , apa akan dijual ?" tanya nathan.
" untuk rumah tidak nak , nanti suatu saat rumah itu pasti dibutuhkan " jawab edward.
" sayang kenapa hanya makan sedikit , makanlah yang banyak agar kenyang " ujar bunda pada nita.
" oh hmm iya bunda " jawab nita.
" berikan padaku tidak habis kan " ricko mengambil piring nita dan memumpahkannya di piringnya.
" kenapa sayang apa kau sakit ?" tanya bunda yang khawatir itu karena beberapa hari terkahir dia tidak memperhatikan nya.
" tidak bunda aku baik - baik saja " jawab nita.
" Nak kau akan bekerja sekarang ?" tanya adi yang tertuju pada nita , tapi nita tidak menjawab karena dia tidak siapa yang adi sebut sebagai nak.
semua orang melihatnya nita hanya mengole selai di atas roti " nita apa kau tidak dengar ayah memanggil " kata nathan.
" ayah ? siapa ?" tanya nita yang masih belum paham.
" sayang ayah edward bertanya padamu " kata bunda lembut.
" oh eh i..iya paman " jawab nita terbata - bata.
" paman" gumam edward.
bunda melirik ke adi , dan juga nita dia paham bagaimana perasaan adi yang ingin di panggil ayah oleh nita. tapi nita masih terus memanggilnya paman dari semalam.
edward pun tersenyum dia tau hani akan merasa tidak enak padanya tapi dia tersenyum untuk membuat hani tidak khawatir.
__ADS_1