
adi hanya menatap kepergian hani , dari luar dia melihat hani akan menyebrang menunggu jalanan sepi dari jauh dia melihat mobil yang melaju cepat. diapun segera berlari keluar menghampiri hani.
" hani awassss" dia segera menarik tangan hani , hingga tubuh hani berada dalam pelukannya.
semua orang yang berada di area itu menatap mereka berdua.
" kau baik-baik saja kan?" tanya adi yang masih membekap hani dalam pelukannya.
" aku...aku baik baik saja " kata hani yang kemudian melepaskan pelukan adi.
dia berjalan sendirian meninggalkan adi disana, adi tidak bisa melakukan apapun lagi selain melihat kepergian mantan istrinya dan kini ia juga harus menjauhi anak-anaknya.
***
" ricko jika masih ada pasien kau pergilah dulu, aku baik-baik saja" kata nita yang tiduran di brankar pasien.
" tapi sayang tidak ada orang disini, aku khawatir" ujar ricko.
" tidak apa-apa aku juga seorang dokter aku akan menangani diriku sendiri "
" tapi sayang" telak ricko.
" bunda disini nak, bunda yang akan menjaga nya" kata bunda yang baru tiba itu dia sedang menaruh tasnya di meja dan mengeluarkan beberapa makanan dari kantong.
" iya ricko pergilah" timpal nita.
" hmm baiklah aku bekerja dulu ya sayang (ia mengecup puncak kepala nita) bunda aku titip istriku ya" ujarnya yang melihat ke arah bunda.
" iya nak" bunda mengangukkan kepalanya.
sekali lagi ricko mengecup kening istrinya lalu dia meninggalkan ruangan itu sendirian. bunda duduk di kursi dekat ranjang nita dia mengelus tangan putrinya dan tersenyum padanya.
" bunda sudah makan?" tanya nita.
" belum apa nita sudah makan ? mau bunda suapi?" tawar bunda.
" tadi ricko sudah menyuapiku , tapi aku ingin masakan bunda ayo bunda kita makan bersama" ujar nita.
" hmm baiklah " bunda membuka kotak nasi itu ia duduk disebelah nita dan menyuapinya , dia juga ikut makan karena belum makan.
beberapa sendok nita sudah merasa kenyang dia ingin air bundanya segera mengambilkan dan membantu nita meminum air.
" bunda makanlah aku sudah kenyang" kata nita.
" bunda juga sudah kenyang " bunda menutup kotak nasi itu lalu menaruh nya lagi kedalam paper bag.
" bunda baik-baik saja kan?" tanya nita ia melihat wajah bunda sedikit murung.
" eh bunda baik kok , oh ya sayang celine dan karina sudah ditangkap beberapa hari lagi keduanya akan disidang kita akan tau hukuman apa yang mereka terima" jelas bunda.
" apa ayah sudah tau semuanya ?" tanya nita.
" hmm"
" bahkan setelah tau kebenarannya ayah juga tidak datang menjengukku. sebegitu buruknya kah aku dimata ayah " ucap nita dalam hati.
" sayang... sayang apa ada sesuatu yang sakit?" tanya hani yang khawatir saat melihat sorot kedua mata putrinya yang melamun itu.
" tidak bunda" kata nita seraya tersenyum.
tidak ada lagi percakapan diantara keduanya hanya ada keheningan tengggelam dalam pikiran masing-masing. nita merasa sedih karena ayahnya tidak menjengukknya sedangkan hani ia merasa bersalah pada putrinya.
" maaf bunda telah menjauhkanmu dari ayahmu , bunda tidak mau melihatmu menderita untuk yang kesekian kalian " ucap bunda dalam hati.
__ADS_1
***
" aku dengar dokter nita sudah siuman , kabarnya sudah membaik" ujar sekumpulan para suster.
" iya syukurlah dokter nita orang yang baik " timpal yang lainnya.
saat fahri lewat dia mendengar percakapan para suster itu, semua staff dan dokter sudah mengetahui kalau nita masuk rumah sakit. fahri juga tau dia merasa sedih namun setiap kali ingin menjenguk ada begitu banyak orang dia tidak berani menemuinya.
" eh dokter hariyadi apa kau sudah melihat dokter nita ? aku belum menjenguknya karena banyak sekali keluarganya yang menjaganya" tanya suster.
" hmm sudah tadi ada bundanya, tapi seperti dia keluar sebentar dokter nita juga sedang tidur jadi biarkan saja dia istirahat" jawab dokter hariyadi.
" oh begitu" mereka mengangukkan kepalanya.
mendengar itu fahri merasa memiliki kesempatan untuk menemui nita, dia tinggalkan berkas yang ia bawa ke meja resepsionis ia ingin menjenguk nita di kamarnya.
setelah ketemu dia masuk dan ternyata benar tidak ada orang yang menjaganya, dia menutup pintu kamar lalu mendekati nita yang sedang tertidur pulas itu.
dia menatap nita seolah-olah dia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya itu, karena baru pertama kali dia jatuh cinta tapi harus jatuh begitu saja ditampar oleh kenyataan kalau nita sudah menikah.
" aku mencintaimu, aku tidak bisa melupakanmu sedikitpun. setiap malam aku selalu melihat wajahmu dalam mimpiku" ucap fahri dalam hati.
dia mendekat ke wajah nita , entah setan apa yang merasukinya ia bertindak sangat berani sedikit lagi bibirnya hampir menyentuh bibir nita.
ia memejamkan matanya namun ia mengingat dimana nita berkata kalau dia mencintai ricko, ia mengeram menahan nafsunya itu.
lalu menjauhkan wajahnya dari sana " kenapa aku tidak bisa memiliku mu. kenapa bukan aku yang menjadi jodohmu" gumam fahri.
" karena takdir mengikat kami berdua sedari kecil" kata ricko dari belakang.
mungkin dia hanya mendengar itu, jikalau dia tau kalau fahri hampir mencium istrinya mungkin dia akan memukul fahri.
" dokter ricko" gumam nya.
" aku mencintainya itu bukan salahku , karena aku mencintainya tanpa alasan apapun. jangan coba menghentikan nya , dan kau tidak perlu khawatir aku tidak akan merebutnya darimu" balas dokter fahri.
" maka jauhi lah dari sekarang" ujar ricko.
fahri menatap ricko tajam, dan mengedarkan pandangannya pada nita , dirinya segera keluar membiarkan ricko mengurus nita.
ricko duduk disebelah brankar matanya menatap wajah cantik istrinya , tangannya tak pernah berhenti mengelus tangan istrinya.
" kenapa banyak sekali tantangan ku , aku bahagia karena sudah memiliki secara utuh, tetapi aku tetap gusar saat lelaki lain mendambakanmu walaupun aku tau kau tidak akan pernah berpaling dariku" gumam ricko dalam hati.
***
dikamarnya iren tengah mengasuh bayinya , sedangkan nathan sedang membuka laptopnya mengetik sesuatu disana.
melihat nathan yang bekerja keras membuat iren sangat bangga karena suaminya begitu bertanggung Jawab , semenjak kelahiran putra mereka nathan menjadi lebih dewasa.
" sayang makanlah dulu nanti dingin'" kata iren.
" iya sebentar lagi " jawab nathan.
" apa anakku itu sudah tidur?" tanya nathan.
" iya ini dia terus mau digendong" jawab iren.
nathan menutup laptopnya ia menghampiri iren yang sedang menggendong putranya.
" anak papa pipimu sangat gemuk nak bikin gemas saja" nathan menyenggol pipi putranya menggunakan jari nya.
" iya papa arga kan minum susu terus" ujar iren yang membuat suara seperti bayi.
__ADS_1
" kenapa mukamu itu ? memikirkan ayah?" tanya iren.
hingga ia menidurkan anaknya di dalam box bayi.
" ayah terlihat sangat menyesal aku jadi kasihan dengannya" jawab nathan.
iren ikut duduk di pinggiran ranjang, tangannya mengambil tangan nathan.
" aku tau kalau kau menyayangi ayah, sama sepertiku aku juga sangat menyayangi nya aku sudah menganggap nya seperti ayahku sendiri. tetapi biarkan dia merasakan kesalahannya sedikit untuk memberinya pelajaran kalau keluarga itu segalanya. ayah akan lebih memahami arti itu kalau kita membiarkannya dulu" jelas iren dengan lembut.
" iya sayang hanya saja aku kasihan ayah sendirian tanpa anak-anaknya " timpal nathan.
" bersabarlah ini tidak akan lama" imbuh iren.
iren menyenderkan kepalanya di bahu nathan " jangan khawatir apapun yang terjadi akan ada hikmahnya , sekarang ayah sedang menebus kesalahannya jika dia sudah berubah aku yakin bunda akan memaafkannya" ujar iren lagi.
" hmm aku berharap seperti itu" timpal nathan.
***
" ricko kau bisa melepaskan infusan ku ini kan?" tanya nita.
" kenapa sayang mau apa?" tanya ricko.
" aku..ehmm itu lepaskan saja lagipula aku baik-baik saja aku ingin ke toilet " jawab nita.
" aku akan membantu tunggu" ujar ricko yang berhenti mengupas apel.
" cukup lepaskan infus saja aku akan pergi sendiri" tolak nita.
ricko melepaskan jarum infusan itu , nita meringis saat ricko mencabutnya.
" ayo aku bantu kekamar mandi" ajak ricko.
nita tertawa kecil ia harus bilang apa dia sudah gerah tubuhnya juga lengket.
" sebenarnya tubuhku lengket aku tidak nyaman aku ingin mandi" ujar nita.
" sayang jangan mandi dulu, luka operasi itu masih basah" cegah ricko.
" iya aku akan hati-hati boleh ya" pinta nita.
ricko memikirkan sesuatu dulu dia tidak ingin membuat luka itu basah.
" duduk disini aku akan menyiapkan semuanya" perintah ricko , nita hanya melihat ricko yang masuk kedalam kamar mandi itu tak lama kemudian munculah ricko yang membawa sebaskom air dan juga ada kain.
" untuk apa? " tanya nita.
" lap saja , sini lepas dulu bajunya" tangan ricko mulai menyentuh baju nita , tapi nita mencekal tangan ricko.
" ricko jangan . aku saja kau tunggu luar biar aku ya heheh" kekeh nita.
" tapi kenapa aku kan suamimu " ujar ricko.
" iya tapi aku malu" timpal nita.
" ck aku bahkan sudah tau bentuknya seperti apa bahkan ada letak bintik hitam diatas didada kirimu " gerutu ricko.
" astaga kau prontal sekali , sudahlah aku malu kau tunggu diluar ya " pinta nita.
" tidak kau harus menuruti ku , kau tau kan sayang kalau menolak suami itu dosa" ancam ricko .
" huft baiklah" nita pasrah juga
__ADS_1