
" mau masuk bersama?" tanya seorang pria. dan tiara segera menoleh kearah sumbee suara itu.
" ayo kita pesan " katanya lagi.
" aaidan" guman tiara.
" ayo" aidan mulai memegang tangan tiara.
" kenapa ? " tanya aidan.
" itu aku... aku terpaksa " jawab tiara.
" ikut aku " aidan langsung menarik tangan tiara hingga memaksanya masuk kedalam mobilnya.
" aidan ini apa-apaan, kenapa kau memaksaku sih" gerutu tiara.
" diam kau diam saja "
tiara tak lagi bicara dan hanya menuruti ucapan aidan. hingga mereka sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi , itu adalah apartemen yang dibeli aidan dari temannya.
" aidan ini apa ?" tanya tiara.
" kebun binatang... huft (aidan menarik nafas dalam) ini apartemen tiara kau akan tinggal disini" jelas aidan.
" apa ? tidak..tidak aku tidak boleh menerima bantuan mu lagi aidan , kau memberiku pekerjaan saja sudah cukup bagiku "
" aku tidak memberikan ini gratis , aku juga mau imbalan"
" imbalan apa ?" gumam tiara.
" masuklah dulu "
sesampainya mereka di lantai 29 nomor apartemen 058 dia membuka pintu itu begitupun tiara yang ikut dibelakangnya.
tampak terurus dan rapi juga semua peralatan sudah lengkap didalamnya.
" aidan " panggil tiara.
" ya " aidan segera menoleh kepadanya.
" kenapa kau sangat baik padaku?" tanyanya.
" hmm karena aku peduli padamu. bukan hanya kau jika temanku sedang kesulitan aku akan membantunya " jawab aidan sedikit berpikir.
" kau membuatku berpikir hal lain " ucap tiara dalam hati. matanya terus menuju ke mata aidan.
" aku tau kau tidak mau menerima ini secara gratis maka aku akan menyewakan apartemenku ini. kau bisa membayar berapun setiap bulan kepadaku. ini sudah malam aku pulang dulu jaga apartemenku dengan baik oke "
" tu.." tiara tidak bisa menghentikan aidan yang pergi begitu saja, dia berjalan mengeliligi apartemen dan membuka pintu kamar dan mencoba duduk diranjang itu
" sangat nyaman. sudah berapa lama aku tidak tidur di kasur seperti ini" gumamnya.
" tapi kenapa aidan terus melakukannya, jika terus begini maka aku bisa berharap hal lain nanti" pikirnya.
keesokan paginya
ricko dan nita sudah selesai ke makam ayah , mereka berdua kembali kerumah bunda , setelah sampai mereka pun mandi.
dirumah sedang ada persiapan untuk makan bersama dan menyantuni anak-anak yatim dan panti asuhan. keduanya tidak kerumah sakit hari ini begitu juga dengan semua orang yang tidak bekerja melainkan tetap dirumah.
" sayang baju apa yang harus kupakai?" tanya ricko.
" ada di kursi meja hias " teriak nita dari kamar mandi.
ricko menoleh dan ternyata benar nita sudah menyiapkan baju berwarna coklat dan celana panjang hitam.
__ADS_1
brak
pintu kamar mandi terbuka nita sudah memakai baju didalam sana dan mengelap wajahnya menggunakan tisu.
" kau turun duluan saja , makanlah aku akan menyusul" ujar nita.
" aku tunggu saja disini"
" Ricko pagi tadi kau tidak sarapan , jangan membantah" kata nita.
" nita...nita...nita " panggil aidan yang masuk begitu saja.
" ada apa kak?" tanya nita.
" ada ricko disini " kata aidan.
" ck tidak apa kak katakan saja" kata nita.
" hmm baiklah, begini. oh tunggu sebentar " aidan sadar kalau dia belum menutup pintu kamar nita.
" dengarkan kakak ya , bukan kakak bermaksud apa. tapi... kakak ingin dengar pendapatmu tentang bunda dan paman edward "
" memangnya ada apa dengan bunda dan paman edward? tanya nita.
" kakak tau ayah baru meninggal 1 tahun yang lalu, mungkin seperti orang jahat jika kakak mengatakan ini tapi selama beberapa bulan terkahir kakak sering berpikir tentang bunda "
" dari dulu paman mencintai bunda , hingga sekarang mungkin. tapi aku tau bahwa paman masih sangat mengharapkan bunda. aku juga merasa orang yang paling tepat untuk menjadi pendamping bunda hanya paman edward"
" bagaimana jika kita bantu paman edward ? kau setuju kan ? " tanya aidan pada nita.
" ricko?" sambung aidan.
Ricko melirik ke arah nita yang masih mencerna ucapan aidan itu , " kakak apa ini permintaan paman edward?" tanya nita.
" tidak dia tidak meminta apapun dari kakak, tapi kakak dan kak nathan setuju jika bunda menikah dengan paman edward"
" kau tidak mau bunda menikah dan hidup bahagia ? " tanya aidan.
" kakak nita tidak seperti itu dia hanya ingin hari ini kita menyelesaikan acara ini dulu baru setelah itu kita membicarakannya" lerai ricko.
" baiklah aku mengerti , tapi jika kau melihat wajah bunda setiap bersama paman edward kau pasti sangat setuju" ujar aidan. lalu dia segera bergegas pergi.
" sayang " panggil ricko.
" ya " kata nita.
" aku lapar ayo kita turun" ajak ricko.
" oh iya tunggu sebentar" dia membuka laci mejanya dan mengambil handphonenya.
" ayo "
***
selama acara berlangsung nita terus memandangi bagaimana paman edward memperlakukan bunda. dia memang orang yang baik juga sangat menghormati perempuan.
paman edward dan bunda sedang membagikan makanan untuk anak-anak dan memberikan mereka uang.
dia memang tidak pernah melihat bunda tersenyum tanpa beban seperti itu, itu senyuman yang paling murni yang pernah dia lihat.
" sayang kenapa disini sendirian ? ayo kesana ketempat kakak" ajak ricko.
ricko tau kemana arah mata kedua istrinya menuju, dia mengambil tangan nita dan menggengam nya.
" jangan terlalu dipikirkan biarkan semua nya berjalan sesuai dengan langkahnya, bunda tau dimana kebahagiaannya" kata ricko.
__ADS_1
nita tersenyum pada ricko dan mencubit hidungnya " pintar berpuisi " kata nita.
" mau lagi ? aku masih banyak simpanan puisi " ujar ricko.
" nanti saja sekarang ayo kita kesana " tunjuknya ditaman luar.
malam harinya setelah selesai acara itu , keluarga itu berkumpul di ruang keluarga. dengan paman edward yang menggendong revano dan bunda menggendong rivani dan arga yang bermain di lantai dengan mainannya.
" hani lihatlah semua wajah ini mirip dengan ricko" ungkap edward pada baby rivani.
" kau benar , seperti copy paste matanya , hidungnya dan semuanya" timpal hani.
" ricko harus paman akui kau berbakat dalam membuat keturunan" ujar paman edward.
orang hang dituju tersenyum dan tertawa kecil mendengarnya begitupun dengan yang lain.
" iya dong kan banyak rintangan ketika ricko usaha" timpal aidan.
" kakak aidan tid..."
" kakak aidan tidak ada yang mengatakan mu bisu kalau tidak bicara" ujar aidan yang tau akan kelanjutan dialog itu.
" dasar duda tua" umpat nita.
" iya nih aidan kamu kapan ngenalin calon ke bunda dan kami-kami" timpal irene.
" oh kakak ... kakak aidan itu sudah berniat menduda untuk selamanya dia trauma" ucap nita yang bercanda itu.
" nita tida...."
" Nita tidak ada yang akan mengatakanmu bisu kalau kau tidak bicara" potong nita pada ucapan aidan itu.
" awas kau ya " desis aidan.
" kita impas " saut nita.
" sayang sudahlah jangan hiraukan kakakmu, mungkin dia ingin menemukan wanita yang benar-benar mencintainya dulu" bela bunda pada aidan.
" bunda sungguh aku sangat menyayangimu" ujar aidan.
" apa kau mau paman kenalkan dengan anak teman om , dia wanita yang baik ... cantik dan sangat mandiri" kata paman edward.
" terima kasih paman tapi aku sudah menemukan wanita itu" gumam aidan seraya tersenyum.
" hahhah paman apa kau percaya?" ledek nathan.
semuanya terkekeh dan tertawa mendengarnya " aku serius" tegas aidan.
" sudahlah kalau tidak percaya aku akan buktikan nanti" ujar aidan.
" Nita bagaimana pekerjaanmu apa lancar-lancar saja?" tanya paman edward.
" eh hhmm i..iya paman" jawab nita.
" pasti kau sangat sibuk setiap hari bekerja dan mengurus keluarga bukan ? kenapa tidak memakai jasa asisten rumah tangga saja?" tanya paman.
" tidak perlu paman , aku dan ricko saling bekerja sama menara rumah. dia juga setiap hari membantuku " jawab nita.
" ricko benar-benar suami yang sempurna " puji paman.
" terima kasih paman , tapi apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan segala pengorbanan istriku " ucap ricko lalu matanya memandang kearah sebelahnya.
" memangnya apa yang aku lakukan ? " tanya nita.
" dek apa kau tidak mengerti juga ricko itu mengucapkan terima kasih untuk pengorbananmu karena telah melahirkan bayi untuknya dan mengurusnya dirumah" jelas irene.
__ADS_1
" itu memang tugasku , iyakan bunda ?