
" kau selalu mengatakannya terus " ucap nita yang merasa malu sendiri mendengarnya.
" wajar sayang kalau aku merindukan istriku sendiri " timpal ricko yang semakin mempererat pelukannya.
" pasti ada sesuatu kan " kata nita.
" tidak ada, aku benar-benar merindukanmu. aku sangat lelah karena pekerjaan beberapa hari ini ... aku pikir aku sudah banyak mengabaikanmu "
" Ricko " gumam kecil nita.
" hmm "
" lepaskan dulu aku mau bicara " ujarnya.
" katakan saja sayang aku sedang ingin berada di posisi ini " lirih ricko yang menutup matanya.
" aku lapar "
" lapar ?" Ricko membelalakkan matanya , dia pikir nita akan mengatakan hal penting tetapi hanya itu.
" sayang kupikir malam ini kau mau memberiku hadiah "
" kau tidak berulang tahun kenapa aku harus memberi hadiah. lepaskan tanganmu aku belum makan "
akhirnya ricko melepaskan tangan nita dan membiarkan nita mengambil bekalnya di atas meja lalu duduk di sofa.
" sayang "
" hmm " katanya yang sambil memakan nasinya itu.
" dimana pita nya ? rambutmu menghalangi wajahmu " ricko melirik ke arah meja dan sebuah toples kaca berisi ikat karet rambut dia mengambilnya satu dan mengikat rambut panjang nita itu.
" terima kasih " ucap nita.
dalam posisi itu ricko bisa melihat leher jenjang putih milik istrinya , dia raba menggunakan tangannya perlahan - lahan.
" uhuk...uhuk "
" sayang pelan - pelan " ricko memberikam air dengan satu tangannya sedangkan yang lain fokus ke leher itu.
" ricko kau membuatku tidak fokus makan , singkirkan tangannmu dari leherku " gerutu nita.
" makan ya makan ini tidak ada hubungannya, nanti malam ya " bujuk ricko.
" ya ampun bilang saja mau itu, iya ... iya tapi biarkan aku makan dulu " ungkap nita.
" makan saja sayang ... aku memijat lehermu aku lihat tadi terus menunduk menjahit luka pasien kan "
nita tidak lagi menjawab, setiap dijawab pasti ricko akan menjawabnya lagi. dia hanya terus memakan karena sudah sangat lapar.
" nanti malam tidak perlu menjemput anak - anak karena bunda dan ayah akan mengantarnya kerumah " ungkap ricko.
nita mengangukkan kepalanya , tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.
" dokter nitaaaaaa" kata dokter gavin dengan ciri khasnya.
" ada apa ?" tanya nita.
" tidak jadi heheh maaf dokter Ricko sudah menggangu kalian hehehe " perlahan - lahan dokter gavin menutup pintunya .
" huft uuntung saja aku masih mengendalikan mulutku " desis dokter gavin.
" kenapa dia kemari , apa dia suka masuk keruanganmu ?" cerca ricko.
" ya ... biasa dia duduk dikursi ini , paling tidak mau buat laporan pasien " jawab nita santai.
" dia dokter baru tapi sudah berani denganmu " kata ricko yang akhirnya selesai memijat leher dan berlalu duduk disebelah nita.
" umur kami sama , tidak masalah kan kita dekat dengan orang baru jika kita tidak mengajaknya bicara bagaimana kami bisa bekerja sama. lagipula dokter gavin dia orang yang baik sifatnya seperti dokter hariyadi tapi masih ada sedikit lakinya "
" kau memujinya sayang ?"
" tidak , itu benar adanya. kau sengaja ya mengirimkan dokter dokter seperti itu kebagian departemenku agar aku tidak bisa dekat dengan pria cool , pria tampan dan berwibawa "
" ya itu juga termasuk , kedua mata ini hanya boleh melihat wajah tampanku , dan mulut ini hanya boleh membicarakan hal lain selain memuji laki - laki diluaran " tunjuk ricko pada kedua mata nita dan bibirnya.
" dasar suami pencemburu " kata nita.
" memang iya , tidak suka ?"
" hahaha kau kesal ya "
__ADS_1
****
didalam rumah itu , bunda dan irene sedang menjaga anak - anak di taman. sambil menikmati teh hangat dan beberapa biskuit.
harinya tidak terlalu panas jadi sangat mendukung sekali. tak lama tiara datang membawa kue di nampan yang dia bawa.
" bunda... kakak nikmatilah aku membuatnya barusan " katanya.
" kue coklat almond " ujar irene
" iya kak "
" duduklah nak , seperti nya kau pandai membuat kue " puji bunda.
" tidak terlalu bunda hanya beberapa . bagaimana kak apa enak ?" tanyanya dengan raut muka penasaran.
" hmm ini enak sekali tiara , bunda cobalah. lain kali ajarkan kakak ya , kakak hanya bisa membuat kue coklat biasa "
" terima kasih kak , iya nanti aku bantu " ujar tiara.
" iya sayang ini enak sekali " puji bunda yang ikut memakan kue itu.
" nenek vano juga mau kue " pinta vano karena dia memang suka sekali dengan kue coklat.
" vano ... sini nak ini kuenya " kata tiara , segera vano berlarian kecil untuk mengambil kue yang akan diberikan tiara padanya.
" terima kasih " ucap vano.
" sama - sama , vani sayang arga sayang kalian mau tidak ?" tanya tiara.
" mauuu " jawab mereka serentak dan segera berlari mengambil kue itu.
" wah... wah ... wah , rupanya ada yang buat kue " kata edward dia baru pulang dari kantor .
" kau sudah pulang ?" tanya bunda.
" iya , apa mau sekarang kita kerumah nita ?" tanya edward.
" iya sekarang saja , nanti mereka menunggu terlalu lama sepertinya mereka juga akan pulang " jawab bunda.
" eh bunda mau pergi sekarang ya , boleh titip untuk nita tidak ? " tanya tiara yang berdiri dari duduknya.
" iya sayang boleh "
***
" oke , oh ya untuk pasien di kamar 341 aku sudah memperbolehkannya pulang besok , jadi kau tidak perlu membuat laporannya lagi aku sudah membuatnya "
" terima kasih , besok aku traktir minuman di kantin dahhh" nitapun keluar dan tak lupa menutup kembali pintu ruangannya itu
" ya... ya terserah saja " balas gavin.
***
shitt
suara decitan rem mobil berwarna hitam itu , keluarlah bunda dan edward lalu mereka membuka pintu belakang dan mengambil kedua cucu kembar mereka yang tak lain adalah vano dan vani.
rumah masih terkunci , itu tandanya Ricko dan Nita belum sampai kerumah. tapi mereka tetap ingin menunggu di depan.
" holee kita pulang " sorak vani yang kegirangan.
" cucu nenek sangat merindukan rumahnya ya " ujar bunda sambil menciumi pipi cucunya itu.
" iya nek , dilumah papa suka membuat puding untuk vani " balasnya.
" vano juga " timpalnya yang tak mau kalah.
" sepertinya mereka masih di jalan, jika lelah berdiri tunggu saja didalam mobil " kata edward yang memperhatikan bunda.
" tidak masalah sebentar lagi juga biasanya mereka sampai "
benar saja , mobil Ricko sudah memasuki halaman rumah. ricko memberhentikan mobilnya tepat disamping mobil edward.
" bunda " panggil nita yang langsung keluar dari mobil dan menghampirinya.
" sayang kau baru pulang ?" tanya bunda .
" iya , apa aku membuat bunda menunggu lama. eh sebentar aku buka pintunya dulu " ucapnya sambil membuka pintu rumah.
" Ricko " panggil edward.
__ADS_1
" iya ayah " ricko melangkahkan kakinya mendekat ke ayah setelah dipanggil.
" mama mama gendong " rengek vani.
" sayang mama baru pulang tidak baik minta gendong seperti itu bagaimana kalau mama lelah " ujar bunda.
" tidak apa bunda , sini sayang , astaga anak mama sudah berat ya " ujarnya yang menggendong vani.
vani hanya tersenyum dan melingkarkan tangan kecilnya di leher nita. " mama... kenapa kulit mama panas ?" tanya vani.
" sayang kau demam , sini coba bunda lihat " bunda langsung memeriksa keadaan nita dan menggerayangi kening nita meraba - raba merasakan suhu panas.
" sayang kau demam " ujar bunda.
" hanya sedikit demam bunda aku baik - baik saja aku sudah biasa seperti ini "
" apanya yang biasa sayang , bunda tidak pernah melihatmu seperti ini , vani sayang turun dulu ya biarkan mama istirahat " vani pun menurut dan nita menurunkannya , bunda menggeret pelan tangan nita untuk duduk di sofa.
" bunda percayalah aku tidak sakit , kepalaku tidak pusing aku bisa merasakannya aku kan dokter "
" dokter ya dokter , tapi bagi bunda kau tetap anak kecil bunda yang butuh bunda " omel bunda.
" bunda sudah lama tidak bicara seperti ini " kata nita.
" bunda ambil air dulu , dimana obat nya ? bunda tidak sempat memarahimu dulu tapi sekarang bunda punya waktu untuk memperhatikanmu "
" papa....papa , mama demam " vani berlarian kecil kearah ricko yang baru masuk dengan edward dan vano ada di gendongannya.
" benarkah ? sayang turun dulu ya " dia menurunkan vano dari gendongannya dan berlari ke tempat duduk nita.
" nak kerumah sakit saja , ayah takut terjadi sesuatu padamu "
" oh eh pa ... paman tidak perlu, Ricko tidak usah takut sebenarnya sebelum aku pulang aku tadi minum obat antibiotik jadi efeknya seperti ini "
" paman tidak perlu takut ini efek biasa saja, lagipula aku seorang dokter jika ada sesuatu pada diriku aku bisa tau " sambungnya.
" ini ... minumlah dulu air putihnya, obat yang bunda cari tidak ada sepertinya sudah habis , lain kali sediakan obat - obatan untuk dirumah. bagaimana bunda tenang jika meninggalkanmu seperti ini "
" ahh terima kasih bunda " nita menengak habis air putih itu bunda pun mengambilnya.
" ini sudah malam sebaiknya paman dan bunda pulang. aku takut nanti dirumah sana mencemaskan bunda juga paman"
" sayang tapi benar tidak ada apa - apa kan ?" kata bunda yang ragu itu.
" bunda , aku ada disini jika ada masalah aku akan menghubungi bunda " ujar ricko.
" nak istirahatlah lebih awal. jangan mengerjakan sesuatu yang membuatmu letih ya " kata edward.
" iya paman "
" ya sudah kami pamit dulu ya " timpal bunda yang masih dengan raut muka cemas.
" tidak usah mengantar ricko , jaga nita saja " kata edward.
" sayang kemarilah " panggil nita pada kedua anaknya yang sedang menatapnya.
" mama tidak sakit kan ?" tanya vano.
" tidak sayang " nita menggelengkan kepalanya.
" mama jangan sakit ya , vano sedih melihatnya "
" vani juga " timpalnya .
" kalian menyayangi mama ya "
" sangat mama , papa bilang kami beldua harus menyayangi mama kalena mama yang melahilkan vano dan vani "
" ricko " gumam nita.
" Aku memberitahu pada anak - anak kita sebelum menyayangi papanya. maka sayangi mamanya terlebih dahulu " ujar ricko.
" sini sayang "
kini vano duduk di pangkuan nita dan vani berada di pangkuan ricko , mereka berempat saling menatap satu sama lain. betapa bahagianya hidup mereka saat ini tanpa kekurangan apapun hanya tinggal menambahkan bumbu ... bumbunya saja untuk menjadi dekorasi tambahan dikeluarga kecil mereka.
" mama ... mama ... mama dan papa " ujar vano.
" iya kan pa ?"
" iya sayang " ricko mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
" vano , vani dengar ... mama dan papa ada diposisi yang sama , mama memang melahirkan kalian berdua tapi papamu yang setiap hari menunggu kalian berdua datang kedunia ini "
" tanpa papa kalian mama tidak bisa berada di posisi yang paling membahagiakan saat ini. terima kasih " kata nita yang tatapannya penuh cinta, rasanya setiap hari tatapan itu akan terus memancarkan betapa mencintainya dia.