
shittt
suara decitan rem mobil ricko di parkir depan halaman rumah sakit. dia mematikan mesin mobil dan melepaskan selt belt nya.
" terima kasih , aku pergi ya " ucap nita lalu dia memajukan wajahnya dan ricko mencium keningnya lalu bibirnya hanya sekilas.
" aku akan menjamput nanti sore " ucap ricko.
" baiklah ... dah " ujarnya melambaikan tangan dan segera keluar dari mobil ricko. dia akan mengawasi nita terlebih dahulu untuk memastikan masuk kedalam rumah sakit barulah pergi , dari jauh dokter gavin juga datang bersamaan dan mereka seperti akrab dengan nita karena memang satu departemen.
dia menghidupkan mesin mobilnya setelah dipastikan nita masuk kedalam rumah sakit dengan aman.
" dokter Nita kau pergi menggunakan taksi ?" tanya dokter gavin.
" Ricko mengantarku tadi , oh ya jam 11 ada operasi nanti kita harus memeriksa pasien dengan cepat pagi ini " ucap mereka berjalan berdampingan menuju keruangan bersama.
" oke "
" selamat pagi dokter " sapa suster yang lewat , keduanya hanya tersenyum menanggapinya.
" dokter gavin aku ke ruangan dokter alex dulu ya , mau mengumpulkan hasil resume "
" baiklah segera kembali , aku juga harus berganti kostum"
kini keduanya berjalan berlawanan arah , nita terus berjalan menuju keruangan dokter alex dengan senyum yang cerah hari ini.
***
" papaaaaa " teriak vano sambil berlari ke arah ricko yang baru sampai dirumah itu , dengan cepat ricko mengambilnya dan mengendongnya.
" papa, mama sudah bekelja ya " tanyanya.
" iya sayang " jawab ricko.
" vani sayang kau sedang apa ?" tanya ricko.
" dia sedang main bonekanya , dari tadi terus memanggil mamanya " jawab bunda.
" sayang jangan marah , kan mama bekerja. bagaimana nanti sore kita jemput mama mau kan ?" bujuk ricko .
" vani kangen mama " ucapnya.
ricko terus mendengarnya , vani sangat mirip dengan nita ketika sedang merajuk. akan menjawab singkat dengan nada yang sedikit ketus.
" papa juga rindu mama , bukan vani saja vano juga kan ?"
" iya vano juga " timpal vano.
" mama punya vani bukan papa " jawabnya.
" benarkah ?" ujar ricko.
" lihatlah nak , dia sangat mirip dengan istrimu saat kecil dulu " ucap bunda.
" iya bunda. aku tau hanya dengan melihat wajahnya " jawab ricko.
***
" huft punggungku " desis dokter gavin yang berperawakan tinggi , putih dan rambut klimis sedang mendesis kesakitan punggung nya karena terlalu lama di ruang operasi.
" istirahatlah ... biar aku yang mengurusnya nanti " kata nita yang tau gavin sudah lelah walaupun dia juga sudah lelah tapi dia tidak ingin diperlihatkan.
" terima kasih dokter , aku keruanganku dulu" ucap gavin.
nita melirik ke arah jam dinding depan kamar ternyata sudah jam 4 , operasi selama 5 jam berdiri terus begitu melelahkan memang. dia belum makan sangat lapar sekali. perutnya berbunyi krukkk ....kryukkl.
" ah perutku " gumamnya.
dia memutukan untuk mengganti pakaiannya di dalam ruangannya , dia kembali memakai baju dokter putihnya. dan setelah itu kekantin untuk makan siang , lebih tepatnya makan sore.
dia makan dengan lauk yang ada , sangat lapar hingga dalam beberapa menit saja piringnya bersih tak tersisa. dia melirik kearah jam yang sudah hampir jam 5 itu berarti sebentar lagi waktunya pulang.
dia membawa piringnya dan menaruhnya kedalam wastafel tempat piring kotor. lalu meninggalkan kantin rumah sakit dan membereskan tasnya untuk pulang.
drtt....drttt
dia membuka ponselnya yang ternyata dari ricko dia bilang kalau sudah dibawah , dia segera berlari keluar dan turun menggunakan lift.
__ADS_1
" dokter mau pulang ya ? " tanya suster dian.
" iya suster " jawab nita.
" hati - hati dokter " ucap dian.
" terima kasih , duluan ya " balas nita.
dia melanjutkan jalannya hingga bisa melihat ricko menunggunya di depan mobil sambil menggendong vani, dia segera menghampirinya dengan berlarian.
" sayang mama " ujarnya.
" mama vani kangan " gumamnya.
" hmm anak mama , mama juga kangen sayang. vani jemput mama ya sama papa mana kakak vano ?" tanyanya melirik kesana kemari kedalam mobil pun tidak ada.
" vano tidak ikut katanya menunggu kak aidan dirumah " jawab ricko.
" oh jadi hari ini pulangnya " gumam nita.
" mama malem ini vani bobok sama mama ya beldua " pinta vani.
" sayang papa juga ikut " ujar ricko.
" tidak papa , mama punya vani " tegasnya .
" sayang tapi mama itu istrinya papa " ujar ricko yang tak mau kalah.
" mama juga mamanya vani " ujarnya.
" eh sudah...sudah baiklah , mama tidur sama vani malam ini ya " lerai nita .
" terima kasih mama " ucapnya.
" sama - sama sayang " balas nita.
" sayang kau akan membiarkan aku tidur sendirian begitu" bisik nya ditelinga nita.
" tidak ricko jangan bertengkar dengan anakmu sendiri , kau harus mengalah oke "
" ha ? tidak sayang papa enggak marahin mama kok ,papa kan sayang mama , iyakan sayang " ricko mengedipkan sebelah matanya pada nita.
" dasar , sudah jangan bertengkar lagi kita pulang ya "
***
" selamat datang sayang" ucap bunda memeluk tiara yang baru datang kerumah itu , mereka baru saja menghabiskan honeymoon bersama ke swiss.
" terima kasih bunda " jawab tiara.
" dimana adik bun, apa dia pulang ?" tanya aidan.
" ricko sedang menjemputnya , dua hari mereka pulang kerumah bunda menyuruhnya tinggal disini sementara " jelas bunda.
" oh begitu " aidan mengangukkan kepalanya tanda mengerti.
" mari masuk nak jangan biarkan istrimu terus berdiri atau dia akan kelelahan " timpal edward.
" eh iya ayah , ayo tiara " ajak aidan , tiara menurut dan kemudian mereka duduk di ruang tamu.
" kak nathan dan kak irene dimana bunda ?" tanya aidan lagi karena sedari tadi dia tidak melihat kehadiran kedua kakaknya.
" mereka sedang keluar kota mengajak arga. ada urusan bisnis katanya " jawab bunda.
" ohh "
dari depan terdengar suara langkah kaki , yang ternyata itu adalah Ricko dan Nita , dimana nita yang menggendong vani karena sedari tadi dia tidak ingin lepas.
" iya ! nanti malem ya " ujar nita.
" holeeee" ujarnya semangat.
" Eh ada pengantin lama " kata aidan.
mendengar suara itu dia pun menoleh ternyata kakak nya aidan , dia menoleh kesana kemari membuat aidan dan semua orang bingung.
" hey aku disini. matamu jangan berkeliaran " ketus aidan.
__ADS_1
" kakak mengolok - olokku?" tanyanya.
" ya , tentu saja ! kami pengantin baru siapa lagi yang disini sudah lama menikah " jawab aidan.
" sayang ke papa dulu ya sebentar " nita memberikan vani kepada ricko lalu dia menghadap aidan .
" ehhh kau mau apa " ujar aidan karena nita menarik dasinya dan didekatkan ke wajahnya, dia menelusuri wajah kakaknya dengan intens. lalu tanpa sengaja dia bisa melihat leher aidan yang merah dia menahan tawanya.
" kau kenapa tertawa ?"
" kakak kenapa dileher mu merah begini " bisik nita.
" bunda lihatlah ka..."
" hmmm" sebelum nita menyelesaikan ucapannya terlebih dahulu aidan membungkan mulut nita.
" diam atau kakak tidak akan memberimu oleh - oleh " ancam.
" aidan lepaskan sayang dia adikmu " ujar bunda.
" nak apa yang kau lakukan lepaskan dia kesakitan " bela edward.
" mama... papa lihat paman aidan jahat " tunjuk vani.
" kakak " ujar ricko.
" tidak heheh dia tidak kesakitan sini adikku sayang lihat kami tidak melakukan apa - apa " kini posisinya berubah menjadi pelukan tetapi aidan membekap nita kedalam pelukannya hingga tak bisa bersuara.
" hmmm " nita terus meronta untuk dilepaskan.
" berjanjilah untuk diam atau aku tidak akan melepaskannya " bisik aidan.
nita mengangukkan kepalanya lalu aidan melepaskan nita.
" bundaaa apa bunda tau .."
" nita " teriak aidan.
" kenapa sayang ?" tanya bunda karena nita mendekatinya .
" kakak membuat aku tidak bisa bernafas tadi karena aku melihat ... "
" lihat apa sayang ?"
nita menggantungkan kalimatnya hingga membuat semua orang penasaran.
" Nita diamlah " tekan aidan.
" lihat kakak bahagia sekali sampai - sampai setelah menikah tidak pernah menelpon untuk memberi kabar huu "
aidan bisa bernafas lega karena nita tidak memberi tahunya , dia pun tertawa lalu mendekati bundanya " bunda maaf ya , kami berdua terus berlibur mengelilingi semua tempat disana jadi kami tidak sempat. tiara sering menyuruhku tapi aku terlalu lelah hehhe "
" dasar anak nakal , sudahlah yang penting kalian sehat dan bahagia disana. adikmu benar sekali kakaknya yang satu ini akan lupa saat ada wanita cantik bersamanya "
" tiara kemarilah sayang " panggil bunda.
tiara pun tersenyum lalu mendekat ke arah bunda dan juga aidan.
" kau cantik sekali, jika nanti aidan melakukan kesalahan juga membuatmu sakit hati kau bisa bicara pada bunda dan bunda akan memberi tahunya jika dia tidak boleh melukai hati istrinya "
" anggap bunda seperti orang tuamu sendiri "
" dan anggap suami bunda seperti ayahmu sendiri "
" iya nak , kami senang menerimamu dikeluarga ini... bukan hanya sebagai menantu , tetapi sebagai putri kami"
timpal edward.
" terima kasih bunda , ayah. aku senang sekali bisa mendapatkan mertua sebaik kalian dan keluarga yang sehangat ini " kata tiara dengan mata yang berkaca - kaca.
" bunda bagaimana bisa aku menyakiti hatinya sedangkan aku memiliki bunda dan adik seperti nita. aku tidak akan bisa menyakitinya karena aku percaya apa yang aku lakukan pasti akan berbalik kepada ku , aku tidak takut jika menimpaku tapi aku takut jika yang aku lakukan hasilnya bisa melukai bunda atau Nita , karena aku menyayanginya "
" aku menyayangi semua perempuan yang ada di rumah ini apalagi bunda , bunda yang mengajariku untuk menghormati wanita dan tidak pernah membuatnya untuk sakit hati "
tiara takjub mendengarnya dia memperhatikan aidan yang sedang berbicara serius itu, walau aidan suka bercanda tapi kali ini ucapannya serius dia tidak main-main.
" terima kasih telah hadir dan memberikan laki - laki sebaik ini kepadaku sebagai suamiku. terutama wanita yang ada dihadapanku ini yang telah melahirkan laki - laki ini dan membimbingnya dengan tulus aku sangat berterima kasih tuhan " ucap tiara dalam hati.
__ADS_1