
" terserah kau saja. tapi kau harus tau bunda juga seorang perempuan sama seperti yang lainnya dia butuh seorang pria yang melindunginya, walaupun bunda punya anak seperti kita tapi tetap tidak bisa seperti seorang suami"
" jangan egois hanya karena pemikiranmu, cobalah dan bukalah hatimu untuk paman edward kau akan tau nanti " nasihat aidan lagi .
" ini sudah sore , ayo pulang ricko akan menunggumu nanti "
" kakak pulang saja , aku ingin disini sebentar lagi " tolaknya.
" baiklah jaga dirimu telpon kakak kalau ada masalah "
" hmm "
aidan berdiri dan melihat wajah nita sebentar setelah itu dia berlalu meninggalkan tempat duduknya.
namun nita masih ingin disana , dia ingin sendiri memikirkan segalanya. dia tau dia mungkin egois saat ini yang sebenarnya dia sangat memikirkan bundanya dia takut bunda akan sakit hati lagi nanti sama seperti dengan ayahnya yang banyak menyakiti bundanya.
" mas maaf apa ada charger ?" tanyanya pada pelayan yang lewat.
" ada nona tunggu sebentar " jawab pelayan.
dia ingin mengabari ricko jika dia akan langsung kerumah bunda jadi ricko tidak perlu menjemputnya kemari nanti.
***
pukul 5 tepat ricko sudah selesai mengoperasi pasiennya , dia ingin istirahat sebentar karena berdiri sudah 3 jam dia lelah dan terduduk di sofa.
namun dia langsung mengingat nita dan membuka ponselnya, tapi ketika membuka ponsel dia langsung membuka pesan nita kalau dia sedang diluar dan akan langsung kembali kerumah bunda.
ricko menghembuskan nafas kasarnya lalu segera berdiri untuk mengganti pakaian nya dan pulang menjempu anak - anak.
setelah sampai dia tidak mendapati nita dirumah , anak - anak sedang bersama kakak irene dia menelpon dari tadi tapi tidak ada balasan juga.
jadi dia berniat mengambil vano dan vani di kamar irene.
" kak apa aku boleh masuk ?" tanyanya didepan pintu kamar irene yang terbuka itu.
" eh ricko masuk saja " irene menoleh dan tersenyum pada ricko.
ricko tersenyum dan segera menghampiri anak- anak
" apa mereka merepotkan kakak hari ini ?" tanya ricko.
" tidak ricko mereka sangat pintar tidak menangis " jawab irene.
" eh arga sayang jangan nak sini kembalikan " ujar irene yang melihat arga mengambil mainan vani.
" tidak apa kak , sayang ayo ikut papa kita tunggu mama di bawah " ajak ricko pada vano dan vani.
kedua anak mereka tersenyum menampakkan beberapa gigi yang baru tumbuh .
" mama " gumam vano.
" mama " gumam nya lagi.
" iya sayang ayo kita tunggu mama "
akhirnya ricko membawa kedua anak kembarnya berjalan perlahan - lahan untuk turun kebawah menunggu nita pulang.
pukul 7 malam nita barulah sampai di rumah bunda dia segera turun dari taksi dan langsung masuk kedalam. dia dapat melihat dengan jelas mobil ricko yang terparkir rapi di depan halaman rumah.
dia segera berjalan cepat , namun dari depan tampak bi inah membuka pintu seperti akan keluar.
" eh nona baru pulang ? " tanyanya.
" iya bi" jawab nita seraya tersenyum.
__ADS_1
" dari tadi tuan ricko menunggu di dalam dengan anak - anak mereka terus memanggil mama... mama , mereka sangat menggemaskan " jelas bibi.
" benarkah ? kalau begitu saya masuk dulu bi " ujar nita.
" iya nona silahkan " nita pun berjalan menuju ke ruang tamu , dari tempatnya berdiri dia bisa melihat apa yang dilakukan ricko dan anak - anak.
mereka terus memanggil namanya , dia pun tersenyum dan menghampiri mereka.
" sayang mama disini " ucapnya lalu menggendong vano dan menciumnya.
vano tampak tersenyum padanya , dan ricko masih bermain bersama vani. lalu nita menurunkannya dan mengambil vani.
" dari mana saja ? kenapa pulang jam segini ? " tanya ricko.
" oh tadi aku keluar dengan kak aidan tapi dia pulang duluan kekantor " jawab nita.
" ayo kita pulang sekarang. aku masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan " ajak ricko.
" baiklah , disini juga belum pulang semua , aku ke atas dulu pamit pada kak irene " balas nita.
" hmm "
****
di dalam ruang bekerjanya ricko sedang fokus mengetik di laptopnya , lalu nita datang membawakan teh dan biskuit seperti apa yang ricko inginkan.
" minumlah dulu nanti dingin " kata nita.
" iya sayang " ricko pun berhenti mengetik dan meminum teh buatan nita yang menurutnya paling enak dan juga biskuit kesukaannya.
nita menaruh nampan di meja kosong dan dia membuka jendela diruang itu , ricko sekilas meliriknya.
" sedang memikirkan sesuatu hmm ?" tanya ricko.
" iya , aku harus memikirkannya " jawab nita tanpa menoleh pada ricko.
" bunda "
" bunda ?" ricko pun menutup laptopnya setelah menyimpan berkasnya , lalu dia berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah nita. dari belakang tangannya menembus pinggang nita dan memeluknya.
nita memegang tangan ricko dan mengelusnya " kau sudah tau kan ?" tanya nita.
" hmm aku tau " jawab ricko.
" lalu bagaimana menurutmu ?" tanya nita.
" jika bunda bahagia maka aku ikut bahagia , sayang ... kita tidak boleh melarang sesuatu yang baik apalagi sebuah pernikahan itu hal yang suci. jika ada seseorang yang ingin menikah dengan bunda dan itu orang yang baik kenapa bunda harus menolaknya ? bunda juga butuh suami yang akan selalu ada untuknya "
" jadi kau setuju ?"
" paman edward orang yang baik , dia bukanlah pria yang akan menyakiti bunda. aku juga sayang menyayangi bunda , bunda sudah aku anggap seperti ibuku sendiri" ungkap ricko.
" tapi ricko aku tidak mau bunda tersakiti lagi nanti , ayah sudah banyak membuatnya menderita dalam pernikahannya. aku takut akan terjadi lagi , aku tau paman edward orang yang baik hanya saja ....."
ricko tersenyum mendengarnya dia tahu istrinya bukanlah seseorang yang hanya akan mementingkan dirinya sendiri tapi juga sosok yang memikirkan orang lain. dia mengerti sekarang nita begini hanya karena tidak ingin terjadi sesuatu pada bundanya.
tetapi dia yakin jika dia mengatakan dan menjelaskannya dengan lembut pasti dia akan luluh dan menerimanya.
" kalau begitu , yakinkanlah dulu baru setelah itu ambil keputusaannya. tapi ingat jangan terlalu lama "
" hmm ... terima kasih ricko " ucap nita lembut.
" hanya terima kasih ? tidak ada yang lainnya ?" tanya ricko sambil dia melirik menunduk ke wajah nita dan nita menatap ricko sambil tersenyum.
" kau mau kompensasi apa memangnya ?" tanya nita.
__ADS_1
" haruskah aku mengatakannya ? "
" hmm katakan " nita mengangukkan kepalanya.
" aku mau kamu sayang " bisik ricko di telinga nita lalu beralih mencium pipi nita.
nita tersenyum pada ricko " ada anak - anak dikamar kita " ujar nita.
" hmm kita bisa melakukannya pelan - pelan , atau kita bisa melakukannya disini" lirih ricko yang sudah menciumi leher nita.
" Ricko hen...."
sebelum nita menyelesaikan ucapannya ricko telah membungkam bibir nita dengan bibirnya lalu kemudian mereka saling berpangutan.
***
" hani kapan kau akan menjawab pertanyaanku ?" tanya edward.
kini mereka berdua ada di sebuah pertanian teh , setelah mengadakan pertemuan di perusahaan teh didekatnya mereka memutuskan untuk melihat - lihat pemandangan kebun teh.
" edward " hani melirik kearah edward.
" nita belum menyetujuinya ?" kata edward.
" hmm " hani mengangukkan kepalanya.
" baiklah aku mengerti, mungkin dia belum yakin padaku. tapi aku akan membuatnya yakin jika aku akan menjagamu selamanya , besok aku akan menemuinya " ujar edward.
" maaf karena membuatmu menunggu" ucap hani.
" tidak masalah hani, aku akan terus menunggumu sampai kapanpun " balas edward.
edward pun tersenyum lalu menatap ke pemandangan depan yang menyejukkan menurutnnya.
hani melihat bagaimana cara edward bersabar hingga sekarang , dan juga pembawaannya yang tenang itulah kenapa dia yakin pada edward yang akan bisa menjaga keluarganya dan mengisi kekosongan sosok seorang ayah dalam diri anak - anaknya.
***
dirumah sakit ricko sedang berkeliling taman , memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya dia tersenyum kepada semua suster yang menyapanya.
" ah dokter ricko tampan sekali apalagi pas tersenyum hatiku meleleh " gumam suster yang lewat.
" hey ingat dia sudah punya istri , istrinya juga sangat cantik" timpal teman disebelahnya.
" aku tidak bisa membayangkan bagaimana tidur dengan dokter ricko dan ketika bangun pertama kali yang dilihat wajah tampannya " gumam suster itu lagi seperti seseorang yang sedang mengkhayal.
" hust ayo pergi jangan menyukai suami orang " timpal temannya.
" wedeh ada yang senyum terus nih , seneng banget ya " kata chandra yang berpapasan dengan ricko.
ricko tersenyum menanggapinya " hedeh begini nih punya teman kelewat bucin , oh ya jangan lupa nanti malam " kata chandra.
" aku tidak lupa aku datang dengan nita istriku nanti " jawab ricko.
" kan memang hanya dia istrimu seperti punya banyak istri saja " timpal chandra.
sambil berjalan bersama , dari kejauhan ricko dapat melihat nita yang juga sedang bersama dengan kedua teman susternya siapalagi kalau bukan dian dan loli.
" sayang " panggil ricko.
saat sedang berbincang nita menoleh mencari sumber suara lalu dia mendapat ricko yang berada di hadapannya kira - kira berjarak 10 meter.
" dokter aku duluan ya " kata dian.
" iya aku akan menyusul" balas nita.
__ADS_1
" dokter aku juga " timpal loli.
nita pun mengangukkan kepalanya , lalu dia berjalan mendekati ricko dan chandra yang berdiri disana.