![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Budayakan LIKE dan Fav sebelum baca.
Terima kasih.
Happy reading!
.
.
Udara dingin diiringi alunan merdu nyanyian para penghuni kolam, membuat manusia-manusia penghuni rumah ingin berlama-lama di pinggir jendela, sembari menikmati minuman ataupun makanan yang menghangatkan tubuh.
Menghirup aroma tanah basah menjadi kesenangan sendiri bagi sebagian orang.
Termasuk Udelia perempuan berambut hitam legam, sedang menikmati teh hangat di bawah rintik hujan, serta menghirup tanah basah yang menenangkan jiwanya.
Beberapa saat kemudian, adik-adiknya masuk ke dalam kamarnya, memaksanya berhenti menikmati hujan.
Dua pria dewasa itu, satunya menutup jendela, satunya lagi membawa Udelia kembali berbaring di kasur, dan menimbun selimut di atas tubuh kakaknya.
"Angin tidak bagus," ucap John, adik pertama Udelia, setelah menutup tirai jendela.
"Dingin, mbak." Lamont, adik kedua Udelia, mengganti teh kakak sulungnya dengan teh baru dari nampan yang dibawanya, usai meletakkan lima lapis selimut untuk menghangatkan kakaknya.
"Hei. Aku sudah sembuh!"
Udelia merenggut. Dia selalu diperlakukan seperti anak kecil oleh adik-adiknya, hanya karena dirinya jatuh koma akibat kelelahan bekerja.
Padahal dia sudah bangun dari koma tiga bulan yang lalu dan sudah kembali sehat tanpa sedikit pun kekurangan fungsi anggota tubuh.
"Kalian berdua, bawakan hidangan untuk tamu kita," perintah Watika, ibu mereka yang muncul di depan pintu.
"Baik, nyonya!" ucap John dan Lamont bersamaan. Mereka melesat pergi menuju dapur.
"Nak Eva dan ...?" Watika berbicara pada dua perempuan yang berdiri di sampingnya.
Dari pandangan Udelia, dua tamu itu terhalang tembok.
"Perkenalkan saya Dina, sepupu Eva," kata perempuan berambut pendek.
"Ah iya. Nak Eva dan nak Dina datang berkunjung, nok. Silakan berbincang dengan santai." Watika mempersilakan keduanya untuk masuk ke kamar sang putri.
"Terima kasih bun," ucap Eva, teman sepermainan Udelia yang merupakan kakak kelasnya saat di sekolah.
"Baik bu," sahut Dina.
Keduanya memasuki kamar, memunggungi Watika yang menatap nanar putrinya.
Beberapa kali Watika mendapati putrinya sedang melamun, seolah dunia telah hancur. Tapi jika ada orang lain, Udelia akan tersenyum lebar bak tidak memiliki beban.
Putrinya itu seperti menyembunyikan luka yang besar.
Watika menarik kedua sudut bibirnya saat matanya bertemu dengan mata putrinya, kemudian dia meninggalkan Udelia bersama teman-temannya.
"Maaf baru datang," sesal Eva.
Eva merupakan tetangga Udelia dan teman sepermainannya, meski di sekolah berbeda dua tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Eva bekerja di perusahaan besar yang ada luar kota. Kota yang sama dengan kota tempat Udelia bekerja.
Udelia memahami betapa sibuknya perusahaan-perusahaan di kota itu. Serta jarak antara kota itu dan kampung halaman mereka, tidak memungkinkan untuk pulang bila hanya libur sepekan.
"Ngga apa-apa kok. Memang waktu padat bulan-bulan ini." Udelia meringis mengingat nasib dirinya.
Waktu yang dia habiskan berbaring di atas ranjang sangat lama. Pasti pekerjaannya di kantor terbengkalai, atau justru kantor tidak lagi membutuhkan dirinya.
Udelia belum memastikan, karena aturan ketat dari para serdadunya.
Adik-adiknya berkata Udelia butuh istirahat yang panjang.
__ADS_1
"Bukannya koma sudah terhitung istirahat?!" batin Udelia. Dia selalu kesal diperlakukan sedemikian manjanya.
"De' Li, kubawakan kue red velvet kesukaanmu. Cokelat juga masih banyak diskon." Eva meletakkan bungkusan di sebelah Udelia.
"Jadi rindu cokelat satu kilo dulu," ucap Udelia mengintip isi bingkisan.
"Napa mikir cokelat panjang gitu? Bagusan ini bentuknya lope." Eva mengambil cokelat dalam bingkisan lalu meletakkannya di dada Udelia.
"EHEM!!" Dina berdeham keras.
Dia merasa dikacangi. Padahal Eva yang menariknya datang berkunjung, karena merasa malu datang seorang diri.
Setelah berjumpa dengan temannya, adik sepupunya malah melupakannya!
"Oh iya." Eva menampilkan senyum kudanya. "Ini kak Dina, kakak sepupuku. Kuat banget loh, dulu pernah bawa kamu waktu pingsan." Eva berkata dengan semangat.
"Maaf tidak ingat," sesal Udelia.
"Tentu saja kamu tidak ingat. Saat kamu bangun, aku sudah pergi. Tapi kalau hal lain?" tanya Dina penasaran.
Dia dan Udelia telah menghabiskan waktu yang lumayan panjang di tempat nan jauh, yang tidak bisa dijangkau mobil ataupun pesawat.
Tempat yang telah menorehkan banyak kenangan indah bagi Udelia.
Dina tidak percaya Udelia melupakan kenangan-kenangan itu. Sebab semua yang kembali dari dunia itu baik-baik saja.
Dunia di mana semua pulaunya sama, tetapi peradabannya masih kuno. Seperti sebuah masa lampau, yang berjalan beriringan dengan masa kini.
"Maaf. Ingatanku pendek. Banyak hal yang kadang ingat kadang tidak."
"Sumpah? Bahkan kekasihmu?" desak Dina meminta Udelia mengingat tentang kekasihnya di dunia sana.
Dengan begitu, Dina bisa minta penjelasan tentang keberadaan kakeknya yang tersesat di dunia itu.
"Ih mba jangan menggodanya!" sentak Eva.
Eva tahu Udelia tidak punya kekasih. Gadis tua ini mengabdikan hidupnya untuk belajar dan bekerja.
Budaya kita adalah melamar lalu menikah!
"Aku benar-benar lupa.." gumam Udelia.
Tiba-tiba air mata meluncur deras di pipi Udelia. Dadanya terasa sesak, kepalanya terasa akan pecah, namun yang paling menyakitkan adalah dia tidak ingat apa pun.
Eva memeluk Udelia dan mengelus punggungnya, kakak sepupunya itu memang kadang suka membicarakan hal-hal aneh, yang hanya bisa dimengerti oleh dirinya sendiri.
Eva merasa bersalah karena telah membawa manusia aneh, ketika berkunjung menjenguk temannya yang sedang sakit.
"Aneh sekali. Kamu ingat keluargamu dan Eva tapi lupa hal berharga dalam dirimu?" Dina masih penasaran.
"Sumpah ya mba Dina!" geram Eva.
"Aku bukan lupa ingatan, mba. Memang kadang ga inget aja," sela Udelia tidak mau kedua saudari itu saling bertengkar.
Eva memelototi Dina yang hendak melemparkan pernyataan lain.
"Bagaimana Widya? Sudah tiga bulan sadar, anak itu masih tidak menghubungiku. Handphoneku mati total karena tertinggal di loker kantor dan tidak ada yang mengetahuinya," tanya Udelia teringat sahabatnya.
Biasanya perempuan itu yang paling rempong bila tahu dirinya sakit.
Tatapan marah Eva pada Dina berubah lunak. Dina menggelengkan kepalanya, agar Eva tidak menceritakan kecelakaan yang menimpa Widya pada Udelia.
Bahkan mereka belum menemukan jasad Widya, kala kapal yang dinaiki Widya karam di lautan.
"Ha.ha. tidak usah memikirkan ucapan mba Dina. Akan kuceritakan taman kita, mangga dan anggurnya sudah berbuah! Rasanya manis sekali." Eva berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.
Dina menatap tangannya. Dia lupa sedang membawa keranjang buah, sebagai buah tangan. Sepertinya kini ia sedikit mengerti tentang kerja otak Udelia.
"Wah aku juga jadi pelupa. Nikmati mangga dan anggur ini~" Dina meletakkan keranjang buah di atas lemari kecil yang ada di kamar itu.
__ADS_1
"Terima kasih. Tapi rasanya kita menanam bunga deh?" Udelia terheran-heran.
"Begitulah." Eva tersenyum canggung.
"Abangku yang sangat cerdas itu membawa kerbaunya pulang, kerbaunya sakit ingin dia rawat sendiri. Tapi kerbau itu malah menghancurkan taman kita. Ketika aku pulang dia sedang menanami buah, lebih mudah dirawat katanya," jelas Eva.
"Pfft apa sih? Haha." Udelia jadi membayangkan kejadian itu. Kakak laki-laki Eva, semuanya memang absurd!
"Mau lihat?" tanya Dina tersenyum. "Tanamannya sudah berbuah banyak loh!"
"Kayanya bagus tuh. Kamu juga belum keluar 'kan?" timpal Eva. Dia mendengar selama tiga bulan pemulihan, Udelia terus berada di rumah.
"Mm ... ini aku juga mau ke air terjun, gimana?"
"Oke, seperti biasa." Eva mengedipkan matanya. Mereka berdua memang sering pergi ke air terjun, saat ada waktu luang.
"Jadi, kali ini mau ke air terjun mana?" Eva mengambil buku di atas lemari yang penuh tumpukan buku.
Eva menganggap rumah Udelia sebagai rumahnya dan begitu pula sebaliknya.
"Sekar Langit."
"Air terjun tujuh bidadari?" tanya Dina.
Udelia menjawabnya dengan anggukan, entah kenapa dia ingin sekali pergi ke sana.
"Tapi biasanya kamu suka ke air terjun yang masih jarang didatangi orang," ucap Eva heran.
Udelia tidak suka saat berenang dilihat orang lain. Kata Udelia tidak pantas mempertontonkan diri.
"Sesekali. Sudah lama tidak bertemu banyak orang."
"Aku yang akan menyiapkannya. Eva masih harus bekerja dan de' Li masih penyembuhan," usul Dina.
Setelah memiliki modal, Dina membangun restoran di desanya. Dialah orang yang paling senggang di antara ketiga orang tersebut.
Seorang wirausahawan bisa bekerja dan berlibur sesuka hati.
"Terima kasih," kata Udelia tersenyum canggung. Dia masih belum terbiasa dengan Dina.
"Ngomong-ngomong banyak undangan pernikahan temanmu. Ingin berkunjung?" ujar Eva yang diketahui khalayak sebagai teman dekat Udelia.
Setiap orang menitipkan undangan pada Eva bila tidak dapat menemui Udelia.
"Menikah? Siapa saja?"
"Banyak~ angkatanmu ada tujuh belas orang."
"Itu pernikahan massal apa gimana?" Udelia terkekeh.
Eva menyebutkan satu persatu pasangan pengantin dan tanggal pernikahan mereka, kemudian mereka lanjut membahas masa lalu.
Eva dan Dina pamit saat cahaya rembulan mulai nampak.
"Mba Dina bilang kenal de' Li di luar kota. Tapi keliatannya dia tidak ingat sama sekali," selidik Eva setelah mereka berada di dalam mobil.
"Mungkin lupa karena sakitnya," balas Dina tersenyum kaku.
"Agak aneh sih kalo ganggu kalian yang biasa ke air terjun berdua. Kubuat perjalanan untuk kalian saja?" tawar Dina mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak mau Eva mengeruk cerita darinya dan menemukan fakta bahwa Dina dan Udelia berkenalan di dunia lain.
Ya, di dunia lain.
"Tidak mba. Mungkin aja dengan rileks dia jadi ingat. Mohon bantuannya mba," jawab Eva.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1
LANJUT???