![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Kuda-kuda dan gajah-gajah kediaman Mada dikeluarka. Seluruh senjata yang terpajang, diambil oleh tuan-tuannya. Mereka bergerak maju mengikuti sang pria paling berkuasa nomor dua di Bhumi Maja.
Kediaman Mada kosong tanpa penghuni.
Sementara di lain tempat, seorang anak sedang menenangkan ayahnya.
Maya tidak mengerti kenapa ayahandanya gemetaran. Padahal dia sudah meyakinkan ayahandanya, jikalau sang ibunda pasti pulang dengan selamat.
Maya menceritakan berbagai peralatan ajaib di dalam tas ibunda. Dia yakin, meski ibundanya kurang sehat, alat-alat itu akan membantunya.
Hayan semakin gelisah. Penuturan Maya ini, merujuk pada satu orang.
Sebuah tas yang berisi benda-benda aneh adalah milik penculik Maya. Isinya benar-benar ajaib seperti kata Maya.
Ada benda yang dapat mengeluarkan api hanya dengan menyentuh bulatan kecil. Ada pula sebuah benda yang dapat mengeluarkan cahaya.
Banyak benda lain yang tidak ia tahu bagaimana cara menggunakannya.
Hanya saja, dari bahan-bahannya, jelas sekali semua itu sangat mahal, atau lebih tepatnya memiliki kualitas yang sangat bagus.
Hayan berharap, istrinya bukanlah sang tahanan.
Tapi, semua cerita Maya merujuk pada tahanan itu.
"Ayahanda, ibunda akan kembali. Jadi jangan memasang wajah seperti itu," tegur Maya pada Hayan yang terus memasang ekspresi gelisah.
Maya mengerti betapa gelisahnya sang ayahanda ingin berjumpa istri tercinta.
Bertahun-tahun lamanya, Sang Maharaja melakukan perjalanan ke seluruh daerah kekuasaannya. Tiada jengkal yang dilewatinya. Dia akan kembali setiap setengah tahun sekali, guna memastikan kestabilan kekuasaannya.
Awalnya Maya sangat membenci ayahandanya. Setelah tahu perjalanan itu, bukan untuk pekerjaan melainkan mencari jejak ibundanya, Maya tidak dapat marah lagi.
"Maafkan ayahanda, membuat putri ayahanda khawatir."
Hayan menghilangkan raut kelam pada wajahnya, dia tersenyum lalu mengusap kepala Maya.
"Berhati-hatilah dan belajarlah dengan giat."
Maya mencium tangan dan pipi Hayan dengan takzim. Ayahandanya membalas ciuman di pipi.
Kemudian gadis bertubuh sintal itu menaiki kereta kuda. Dia melambaikan tangan pada Hayan yang masih berdiri di tempatnya.
Maya berharap ayahandanya tidak jatuh dalam lubang depresi.
Seringkali ia jumpai sang ayahanda menangis dalam diam di malam hari.
Maya saat itu masih kecil. Namun derasnya air yang mengucur keluar dari mata Hayan tidak dapat dilupakannya.
Semasa Maya belum mulai belajar, Hayan terus berada di sisinya. Maya menyaksikan dengan kedua matanya sendiri, bagaimana kacaunya sang ayahanda di balik tabir kesunyian.
"Yang Mulia, ada pasukan besar datang. Mohon berikan perintah," ucap Huna—tangan kanan Hayan, setelah kereta kuda Maya berjalan memasuki gerbang Sela Wukir.
Sela Wukir adalah gunung suci, yang di dalamnya terdapat berbagai macam eksistensi kekuatan yang dahsyat.
Bhumi Maja dahulunya adalah Kerajaan Maja. Raja pertama menempatkan ibu kota di tempat lain.
Kemudian raja kedua yang lahir dari seorang budak memindahkan ibu kota, setelah dikalahkan pemberontak.
Raja kedua lemah pendidikannya dan lemah statusnya, banyak orang memandangnya remeh.
Walau para menteri setia terus bekerja di bawahnya. Sebagian besar dari mereka tidak terlalu berharap kemajuan datang dari raja itu.
Ratu pertama sekaligus penguasa ketiga Kerajaan Maja, yaitu anak sah raja pertama, menaiki tahta. Dia tidak pernah meremehkan siapa pun, termasuk kakaknya.
Walaupun kakaknya senang bermain perempuan, kakaknya itu mampu merendam belasan pemberontakan.
__ADS_1
Ratu yang juga ibu dari Hayan, tidak melepas pemeriksaan terhadap segala pekerjaan kakaknya.
Dia menemukan fakta menarik yang sama sekali tidak dipikirkan banyak orang.
Raja kedua, Kalagemet atau yang bergelar Jayanagara, menemukan gunung suci tempat moyang mereka bertapa dan mendapat kekuatan besar.
Sela Wukir, tempat bertapa Ken Arok, ayah dari Wangsa Rajasa.
Ratu pun membuka akademik pertama Kerajaan Maja di kaki gunung Sela Wukir. Oleh Hayan, sekarang akademik itu dinamakan akademik Bhumi.
Di dalamnya, hanya para bangsawan tingkat tinggi dari istri sah dan bangsawan-bangsawan terpilih, yang dapat belajar di sana.
Rakyat jelata diberikan jatah dua belas orang. Itu pun harus menunggu dua tahun, menyelesaikan pendidikan tanpa status sebagai murid.
Maya memang belum terlambat memasuki akademik Bhumi. Perempuan masuk saat usia sepuluh tahun, sedangkan laki-laki masuk saat usia tujuh tahun.
Akan tetapi, Maya digadang-gadang akan menjadi seorang Putri Mahkota. Banyak orang berpikir Maya akan mulai pendidikan di akademik lebih awal.
Jadi, banyak orang menilai Maya sudah sangat terlambat, untuk masuk akademik.
Apalagi tersiar kabar, buruknya Maya dalam wawasan dan kekuatan.
***
"Mahapatih! Apa Anda sudah kehilangan akal?"
Indra yang mendengar berita kedatangan pasukan besar, bersegera mengerahkan pasukannya untuk menghadang gapura.
Tidak disangka-sangka, gurunya sendiri yang muncul memamerkan kekuatan.
Djahan melirik pasukannya. Mereka telah dibentuk sejak Hayan merebut Idaline dari sisinya.
Sang istri meyakinkan Djahan agar tidak bertindak gegabah. Djahan pun hanya bisa menahan diri.
Namun dalam benak pasukan, sudah tertanam tujuan yang sangat jelas. Tujuan mereka ialah menyelamatkan nyonya mereka. Membawa kembali nyonya mereka pada pemiliknya.
Djahan mengangkat tangannya. Seperti pesan istrinya, dia tidak boleh gegabah.
Dia harus mengambil istrinya dari tangan Maharaja dan dia juga berharap, tidak perlu ada pertumpahan darah.
"Rakryan tumenggung, mereka akan menunggu di sini."
"Katakan dulu, Anda ingin melakukan apa?"
"Menjemput istriku."
Djahan meraih tali kekang kudanya. Indra yang melihat gerakan itu, lantas menghalangi langkah kuda Djahan.
"Saya tidak mengerti."
"Indra, minggir."
"Guru, saya mohon. Beliau sudah menjadi Maharani sejak sebelas tahun yang lalu."
Indra menutup matanya ketika kabut yang sangat pekat menyeruak. Djahan tidak mau menyia-nyiakan waktu menjelaskan pada muridnya.
"Rakryan, Tuan Mahapatih sudah sampai sana!" teriak anak buah Indra menunjuk ke arah utara.
"Kalian bertahan, jangan saling menyerang," pesan Indra mengejar Djahan.
Hayan terbang menggunakan Kuda Sembrani menuju penjara. Dia berhenti di depan Djahan, membuat kuda yang ditumpangi Djahan terkejut ketakutan.
Dengan terampil Djahan menenangkannya. Dia bergegas turun, menyusul Hayan yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Di dalam penjara, Widya sedang berhadapan dengan Candra, yang terus mendesaknya bicara.
__ADS_1
Widya menghela napas. Toh sahabatnya sudah pulang dengan selamat. Widya pun mengatakan yang sesungguhnya.
"Dia adalah sahabatku."
"Kamu gila mempertaruhkan nyawa untuknya?" Candra heran dengan orang-orang seperti ini. Mau-mau saja tanpa keuntungan, merelakan diri dimanfaatkan orang lain.
"Anda tahu apa? Dia mengajari dan menemaniku, di sana maupun di sini. Pokoknya, Anda tahu apa!?"
Widya bersungut tak senang. Dahulu sahabatnya mempertaruhkan dirinya, demi keluarga baru yang dimiliki Widya.
Sahabatnya pun mengajari banyak hal, hingga dia mampu bertahan di dunia kuno—yang sangat jauh dengan tempatnya besar.
Hari-hari pertama Widya datang ke dunia ini, dia sudah dijebak berkali-kali oleh ibu tirinya.
Barulah setelah Udelia mengetahui keberadaannya, hidup Widya tidak lagi ditindas.
"Gurumu menculik tuan putri."
"Guruku hanya satu!"
Semua orang tahu perihal Widya adalah murid yang diangkat oleh murid Petapa Agung.
"Maaf guru-guru terdahulu. Di sini kan memang dia doang yang mengajari," batin Widya.
Telinga Candra menangkap derap langkah kaki. Seketika dia menghilang dari dalam penjara.
Widya yang juga ingin pergi, terlempar ke belakang akibat dorongan kekuatan besar.
"Di mana Udel?!" tanya Djahan merangsek masuk mendahului Hayan, yang kadang ragu dalam langkahnya.
Djahan membongkar paksa sel Udelia. Bahunya melemas, melihat tubuh kaku yang tergeletak di tanah.
Sedetik kemudian Djahan menegakkan tubuhnya. Dalam uraian air mata, senyum merekah terlukis di bibirnya.
Tanpa membalik tubuhnya, Djahan bertanya pada perempuan yang sangat mencuirgakan gera-geriknya.
"Nona Widya, di mana gurumu?" tanya Djahan.
"Di situ."
"Dia itu pendek. Mayat perempuan ini terlalu panjang."
"Itu hinaan atau pujian?" pikir Widya.
Widya tersadar dari pikirannya kala merasakan bulu kuduknya berdiri. Mata merah Djahan menatap tajam Widya, meminta jawaban yang sebenarnya.
"Di..dia sudah pulang," jawab Widya.
"Syukurlah."
Djahan menangkup wajahnya. Dia menangis lega mendengar ucapan Widya. Biarlah reputasinya rusak.
Dia benar-benar merasaa lega mendengar istrinya telah kembali.
Dia yakin, dunia istrinya jauh lebih mudah dalam menangani luka yang ia torehkan.
Widya melemparkan pandangannya mencari Jana. Anak harimau putih itu sangat kejam, meninggalkannya seorang diri bersama para petinggi Bhumi Maja.
Jana keluar dari penjara, tepat setelah majikan ibunya menghilang. Dia meloncati gerbang berlapis sihir dan kanuragan dengan mudah.
Dalam satu kali lompatan, Jana mampu melewati tembok-tembok itu.
"Anakku, pergilah ke bukit Napa." Ibunya berucap di dalam kepalanya.
"Baik, ma."
__ADS_1
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]