![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ijen, aku ingin berganti pakaian."
Udelia tidak tahan dengan belitan di tubuhnya.
Untaian emas berbagai makna, melekat sempurna di tangan, kaki, leher, dan kepalanya. Dia memastikan tidak ada yang bergeser walau sedikit.
Sedang untaian melati, yang menghalangi pandangannya telah menghitam dan layu. Semerbaknya belum hilang. Dia hanya tak suka pandangannya terus terhalang.
Udelia menunggu suaminya, sejak upacara suci selesai dilaksanakan.
Langit yang berwarna biru berubah redup, kemudian memerah, dan menggelap. Dia duduk diam menunggu sang suami, tanpa bantahan.
Sempat ia mendengar dari guru yang mengajarnya, perihal berbagai tugas mempelai di hari pernikahan.
Gurunya itu sedang fokus mengajarkan tugas-tugas mempelai wanita, lalu tiba-tiba berhenti. Ekspresinya sangat jelas terkejut. Lupa. Materi itu tidak diperbolehkan diungkit.
Beberapa kali Udelia meminta calon suaminya, agar dia melakukan tugasnya. Suaminya mengiba, memohon padanya untuk diam di kamar.
Udelia tidak membantah. Keramaian tidak terlalu ia sukai. Suami pasti memintanya diam di kamar, karena memahami hal tersebut.
Seutas senyum terbit di bibir Udelia. Perhatian selalu dapat meluluhkannya.
Bulan semakin tinggi, tak tampak tanda-tanda pesta megah itu akan usai.
Udelia memilih mengganti pakaiannya dengan yang lebih layak. Dia pun ingin menyegarkan tubuhnya. Menyambut suaminya dengan bersih dan wangi.
Udelia mempersiapkan pakaiannya sendiri. Hanya saja, setiap emas dan permata di tubuhnya, sulit untuk dilepas seorang diri.
Udelia tidak mau merusaknya, walau barang sedikit.
"Kalau Anda adalah rakyat jelata, setidaknya bertahanlah dengan budaya yang ada," omel Ijen menaruh camilan malam untuk Udelia.
Udelia tertawa dalam hati. Menyebutkan perihal budaya, seharusnya Udelia sedang menyambut tamu.
Candra Ekadanta, suaminya yang hangat itu, dalam sebentar Udelia dapat memahami suaminya bukanlah seorang yang penurut.
Udelia tidak takut dengan omelan. Dia sudah tidak tahan dengan berkilo-kilo emas di tubuhnya.
Sebagian besar emas itu, bertahta di kepalanya. Jika dia berdiri menyambut tamu dan tak sempat makan, dia mungkin berada di ruang perawatan.
Lagi, hati Udelia menghangat. Candra menyiapkan makanan dan camilan, menyuruh Udelia berbuka dari puasa mutih yang dijalaninya selama satu bulan penuh.
"Rasanya kepalaku hampir putus," keluh Udelia menggerakkan kepalanya letih. Bunga-bunga emas di kepalanya ikut bergoyang. Untaian melati yang layu, mulai berguguran.
Ijen tersenyum mendengarkan keluhan istri majikannya. "Baik. Mari kita ganti."
Udelia balas tersenyum. Teduh dan lembut bawahan suaminya yang satu itu, membuatnya penasaran dengan keluarganya.
Candra mengatakan Ijen adalah putri pengasuhnya. Usianya beberapa tahun lebih tua.
Udelia ingin sekali memanggilnya kakak. Namun perempuan itu menolaknya dengan lembut, mengingatkan kasta mereka berbeda.
Halus dan hangat tutur katanya, membuat Udelia yakin sangat beruntung pria yang mendapatkannya.
__ADS_1
Tangan lembut Ijen dengan telaten membuka perhiasan, dimulai dari kepala Udelia. Satu persatu perhiasaan itu diletakkan dengan hati-hati, ke dalam kotak penyimpanan.
Ijen membuka pakaian Udelia, menyisakan jarik yang melilit dari dada hingga mata kakinya
Kemudian Ijen menghapus riasan di wajah Udelia, memegang dagu istri majikannya sambil melihat ke cermin besar di depan mereka.
"Lihatlah wajah Anda tanpa riasan ini ..."
Udelia yang sedang memejamkan mata, seketika membuka matanya dan menatap cermin.
"Dia ingin memuji? Gimana ya nanggepinnya? Tolong jangan ucapkan-" pikir Udelia malu-malu. Dia tidak suka dipuji. Tak tahu bagaimana harus berekspresi.
"... sangat biasa."
Ketika Ijen menyelesaikan kalimatnya, lilin-lilin penerangan mati. Para pelayan yang membantu Udelia beranjak keluar, membawa nampan-nampan yang berisi perhiasan dan hidangan.
"Eh?" Udelia mengerjap, tidak memahami kondisi yang terjadi.
"Bahkan penuh bintik!" imbuh Ijen mencengkeram wajah Udelia.
Dia berpindah ke sisi kanan Udelia dan mendorongnya jauh. Udelia terpental ke tembok, menyebabkan bunyi hantaman yang kuat.
Udelia memegang perutnya, meringis kesakitan.
Wajah dua orang pelaku datar tanpa ekspresi. Seorang pelayan masih berdiri tegak di sisi Ijen, memegang sebuah nampan yang ditutupi kain.
Tangannya terjulur membuka kain tersebut, tampak sebuah mangkuk kecil berisi cairan warna cokelat.
Ijen menyeringai menatap cairan yang masih mengepul. Lambat-lambat kakinya menapak, memberikan waktu untuk Udelia bernapas.
Perempuan itu berjongkok. Sekali lagi mencengkeram wajah Udelia, memaksanya mendongak. Ringan ia katakan, semua yang ada di hatinya.
"Anda tidak cantik, tidak berpendidikan, tidak memiliki kekuatan, dan tidak memiliki keluarga yang setara dengan Ekadanta. Asal usul Anda pun tidak jelas. Tidak ada apa-apanya dibandingkan a.ku."
Udelia mulai mengerti arah penyiksaan ini. Ingin melawan, tapi matanya saja terkulai lemas. Tiada tenaga untuk sekedar menopang tubuh.
"KENAPA KAMU YANG JADI PASANGANNYA?!!"
Terikan itu menggema di seluruh ruangan. Udelia melirik ke sekeliling, berharap ada seseorang yang mendengar ucapan gila Ijen.
Satu kedipan mata. Dua kedipan mata ... tidak ada orang yang datang.
Ijen semakin mengencangkan cengkeraman wajah Udelia, hingga mulut Udelia terbuka paksa. Dia memasukkan cairan cokelat itu ke dalam mulut Udelia.
"Uhuk ... uhuk ..." Udelia mengusap wajahnya yang penuh obat.
Bibir Udelia telah terpisah jauh. Ijen justru menyiramkan cairan itu ke wajah Udelia.
Udelia merasa napasnya hampir berhenti, ketika cairan kesasar di hidungnya. Menghentikan sebentar pernapasannya.
"Sadar dirilah!"
Ijen melangkah keluar. Dia berhenti di samping pria yang telah diantar bawahannya. Dia berbisik dengan menekan suara, "Layani dengan baik!"
__ADS_1
Lalu Ijen menutup rapat pintu. Ruangan itu menjadi gelap gulita. Tiada penerangan, kecuali sinar rembulan yang jatuh dari cela udara.
"Ugh.. hhh." Udelia masih meringis. Tak hanya perutnya, kini dadanya berdetak kian kencang.
Udelia mengesot keluar, usai memastikan Ijen tidak kembali lagi. Jarak ruangan yang di tempatinya, lumayan jauh dari keramaian.
Lirih dia berdo'a, semoga tak tertangkap oleh si kejam.
Mata Udelia bergerak melihat sebuah tapak beralaskan emas. Dia mendongak memastikan kaki itu milik manusia.
Hatinya sedikit lega. Dia menangkap kaki itu lalu memeluknya erat.
"Tolong ..." ucap Udelia lemah berbisik.
Hayan menghentakkan kakinya melepas tangan yang mengait.
Udelia meringkuk merasai perihnya perut. Keringat mengucur deras disertai napas memberat.
Ia menatap nanar kaki yang melangkah meninggalkannya.
"Candra ..."
"Candraaa! To ... long!"
"Candra.. Candra.."
Kaki Hayan terhenti. Telinganya berkedut mendengar bisikan yang terbawa angin.
"Hayan .."
Lembut mengalun namanya dipanggil. Dia terpejam membayangkan wajah cintanya.
"Maharaniku, kamu menyuruhku menolong gadis ini?" Hayan bergumam berharap mendengar sekali lagi suara yang dirindukannya.
Ia kembali. Menjatuhkan tubuhnya ke hadapan perempuan yang tidak ia kenali.
Untung saja ruangan gelap gulita. Perempuan ini tidak akan besar kepala.
Tangan Hayan menelusup di bawah lutut dan leher si perempuan.
"Ahh.. pa.nas.." Udelia mendesah merasakan gelenyar aneh, kala kulitnya tersentuh tangan besar nan hangat.
Hayan mengangkat tubuh ringkih yang hanya berbalut kain tipis.
"Emmmp."
Bagian paling sensitifnya berkedut. Udelia melingkarkan lehernya mencari kenyamanan.
Nahas, tubuhnya semakin tak nyaman.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1