![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Udelia?!"
"Apa yang tuan lakukan?!!" bentak Udelia pada seseorang yang lancang dengannya.
Bayi kecil dalam gendongan Udelia tiba-tiba menangis kencang. Makhluk mungil itu terkejut karena suara yang menggelar.
Sepanjang sepuluh hari hidupnya, tidak pernah ada suara yang begitu keras terdengar oleh rungunya.
"Maaf sayang, ibu tidak memarahimu." Udelia mengelus punggung Raka yang menangis kencang akibat bentakannya.
"Oek.. Oek.."
"Cup.. cup sayang."
Udelia tidak memedulikan orang yang sudah tidak sopan padanya.
Dia membawa Raka masuk ke kamar. Untuk menenangkannya dan sudah waktunya untuk menyusui bayi merah itu.
"Tuan, mohon maaf sekali. Meskipun Anda adalah Mahapatih, sangat tidak sopan memasuki kamar nyonya begitu saja," tegur pelayan menghalangi Djahan.
Kilatan amarah dalam mata Djahan membuat nyali pelayan menciut, namun tak gentar raganya tetap tegak menghalangi Djahan yang mencoba memasuki kamar pribadi tuan dan nyonyanya.
Djahan mengusap wajahnya dengan kasar. Terlalu terkejut membuatnya tidak sadar tujuannya datang ke kediaman Ekadanta.
Dia tidak boleh gegabah. Akan menjadi masalah bila dia salah mengira.
Meski..
Djahan yakin penglihatannya tak salah.
"Perintahkan nyonya untuk datang. Dengar, ini perintah dari Maharaja!" titah Djahan tanpa bisa dibantah.
"Tuan Mahapatih, Anda memberi tahu akan bertemu saya, bukan istri saya," sela Candra datang dengan memegang secarik kertas yang dibawa merpati.
Pelayan yang berbisik padanya memberitakan kedatangan burung dara merah yang membawa pesan rahasia.
Candra tidak menyangka itu adalah pesan kedatangan Mahapatih.
Tau begini dia akan menyembunyikan Udelia ke tempat yang tidak akan dijangkau Mahapatih, meski mengerahkan seluruh tenaganya!
"Pesannya baru sampai. Jadi saya tidak menyambut dengan benar," imbuh Candra mencoba mengalihkan Djahan dari Udelia.
Candra bersyukur karena para pelayannya bergerak cepat menutup akses dari dalam, menutup pintu dan jendela, agar tidak ada yang dapat mencuri pandang dari luar bangunan.
"Saya mengirim merpati karena semua pelayan ditolak mentah-mentah. Siapa menyangka Anda menyembunyikan hal besar di sini?"
Gigi Djahan bergemelatuk. Bodohnya dia tidak memikirkan kemungkinan ini!
Candra yang sehari- harinya sibuk di istana, bagaimana mungkin bertemu wanita pujaan dengan begitu cepat!?
Sedangkan dia sendiri tahu, Candra menaruh hati pada istrinya, Udelia!
Bodoh! Bodoh! Bodoh!
Djahan merutuki dirinya. Tiga tahun sudah dia dibohongi anak kencur ini!
"Kami tidak pernah menyembunyikan apa pun. Lebih baik kita berbicara di aula, Tuan Mahapatih yang terhormat," ajak Candra.
__ADS_1
"Tuan Ekadanta, Anda harus menjelaskan hal ini terlebih dahulu." Djahan menunjuk rumah megah di depannya dengan tatapan yang tajam.
"Tidak seperti yang Anda pikirkan. Saya berani menjaminnya."
Djahan menarik napas. Mencoba menguasai diri.
Jika dia tergesa-gesa, besar kemungkinan Candra akan bergerak cepat menghilangkan bukti keberadaan Udelia.
Dia harus bermain dengan cantik dan tidak gegabah.
Dia harus melihat terlebih dahulu kebenaran wanita tadi.
Wajahnya tidak terlalu nampak di mata Djahan karena wanita itu terus sibuk dengan bayi dalam gendongannya.
Mungkin, bisa saja Djahan salah kaprah.
"Surat ini ditunjukkan untuk kepala keluarga Ekadanta. Apakah pantas anggota keluarga di kediaman ini tidak muncul saat pembacaan titah?" ucap Djahan setelah menguasai diri.
Dengan cara ini dia dapat memastikan apakah benar yang dilihatnya adalah Udelia atau hanya seseorang yang nampak mirip dengan istrinya.
Hanya ada dua kemungkinan tentang wanita itu, dia adalah Udelia atau seseorang yang mirip dengan Udelia.
Candra tidak langsung membalas ucapan orang nomor dua di negerinya itu.
Dia menimang-nimang mencari keputusan yang tepat.
Mengganti istrinya dengan wanita lain, tak mungkin. Membuat istrinya tak hadir di pertemuan mereka, lebih tidak mungkin.
Djahan sangat peka. Sesungguhnya Candra kehilangan jalan di depannya.
Candra menatap Djahan yang menunggu jawabannya. Dia mengulas senyum dan menjawab, "Tentu tidak, tuan. Silakan."
***
Para pelayan sibuk menyiapkan Udelia untuk bertemu tamu.
Udelia mengernyit kesal karena tamu yang ditemuinya pasti pria yang tadi bertindak kurang aj*r dan juga lelaki itu berasal dari istana.
"Tidak ada hal bagus jika bersangkutan dengan istana," batin Udelia.
Udelia memasuki aula yang penuh ketegangan antara Candra dan Djahan. Mereka saling berhadapan, meminum teh dengan aura yang dapat menghentikan laju napas hingga tercekat.
Anehnya, Udelia tidak merasa takut.
Dia melangkahkan kakinya dengan ringan.
"Hamba memberi salam kepada tuan Mahapatih."
"Udelia–" Djahan menahan bibirnya.
Tadi wanita itu bertindak aneh. Djahan tidak boleh terburu-buru.
"Saya datang memberi perintah Yang Mulia Maharaja bertinta merah," ujar Djahan.
Candra membantu Udelia bersimpuh di depan Djahan Sang Mahapatih, siap menerima titah merah dari Hayan Sang Maharaja.
"Melalui surat yang tertulis ini. Saya, Maharaja Bhumi Maja, mengucapkan apresiasi sebesar-besarnya pada Candra Ekadanta yang selalu berpartisipasi dalam peperangan dan penaklukan tanpa pernah terlewat. Janji tidak mengikutsertakan kegiatan dalam istana tetap berjalan. Namun sebagai bentuk usaha penyatuan wilayah nusantara, masih banyak daerah yang belum sampai. Untuk itu saya memerintahkan Kepala Keluarga Ekadanta, Candra Ekadanta, untuk datang menaklukkan Kerajaan Malano yang memiliki banyak penyihir handal, memimpin pasukan sihirnya seperti sediakala."
__ADS_1
"Hamba menerima perintah Yang Mulia Maharaja."
Dengan berat hati Candra menerima titah itu. Tidak ada jalan lain bila kertas titah telah terukir oleh tinta, entah berwarna hitam, merah, ataupun emas.
Candra menatap nanar surat yang sedang digulung Djahan. Tidak mungkin dia membawa serta istri dan anak -anaknya ke medan perang.
Dia harus memikirkan tempat yang aman bagi mereka bertiga.
Djahan memberikan surat pada Candra. Lantas pria itu menatap Udelia yang menunduk sangat dalam.
"Angkatlah wajahmu," titah Djahan.
Dari postur tubuh Udelia, Djahan sudah dapat memastikan identitas wanita itu.
Dia hanya ingin membuktikan praduganya.
Perlahan wajah itu terangkat. Matanya menatap bingung pada pria aneh nan kurang as*m.
"Ya?" sahut Udelia mengangkat kepalanya dan menatap bingung Djahan.
Biasanya orang-orang keraton tidak peduli dengan wanita di sisi para kepala keluarga.
Beberapa kali datang orang besar. Semuanya sibuk dan fokus hanya pada suaminya. Hanya Rakryan Tumenggung yang membuatnya tidak pernah bersimpuh dan pria aneh di depannya, yang memedulikan keberadaan dirinya.
Sepasang mata yang memiliki bulu mata lentik tertutup rapat ketika tangan Djahan mengarah padanya.
Dia takut pria itu melakukan tindakan kekerasan.
Wajahnya sangat sangar dan dingin.
"Udelia.. kenapa. ti.dak da.. tang padaku?" tanya Djahan, suaranya gemetar.
"Tuan, Anda menakuti istri saya." Candra mendorong Djahan untuk menjauhi istrinya. Kemudian dia membantu Udelia berdiri tanpa perlu izin dari atasannya itu.
"Istri ha!?" ucap Djahan tidak percaya. "Idaline, tidak, Udelia, ikutlah denganku!" Dia memegang tangan Udelia.
"Saya mohon jaga sikap Anda," ucap Candra
"Tuan, lepaskan tangan Anda!" pinta Udelia tegas.
Pria di depannya ternyata benar -benar kurang aj^r.
Djahan melepaskan tangannya pada pergelangan Udelia saat dia mendengar suara tegas Udelia.
Tatapan mata yang seperti menatap orang asing membuat hati Djahan terasa diremas.
Kekasih hatinya yang menikah dengan pria lain untuk kedua kalinya saja, sudah menyakiti hatinya.
Ini ditambah dengan tatapan asing pada dua indra penglihatannya ketika menatap dirinya.
Hancur rasanya dunia Djahan, tidak dikenali oleh Udelia.
"Udelia, ini aku, Djahan."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1