TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
036


__ADS_3

Udelia terkulai lemah bersandar di dada bidang Candra.


Rasanya tubuh dia tercerabut dari akarnya. Kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya sendiri.


Candra memeluk erat Udelia, tapi tak urung membawanya naik. Mereka masih menikmati berendam di kolam mata air.


"Mas ..."


Pipi Udelia merona, pria ini selalu saja mencium atau menggigitnya ketika dipanggil dengan sebutan mas.


Udelia pura-pura merenggut kesal dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Candra.


"Kenapa sih selalu gitu kalo dipanggil mas? Candra ga mau dipanggil mas?"


"Suaramu saat memanggilku mas, seperti sedang menggodaku."


Berkata Udelia sedang menggodanya, Candra justru menangkap dagu Udelia dan menghujaninya dengan tatapan cinta.


"Aihh." Udelia mencebikkan mulutnya. Terbayang dalam benaknya mereka ada di pertemuan formal dan Candra spontan melakukan hal itu.


Udelia menikmatinya, tapi akan sangat memalukan bila bayangannya benar-benar terjadi.


Candra mengecup singkat bibir yang cemberut itu. Lantas membawa Udelia naik ke atas, supaya tak lagi mengulang adegan panas.


Bisa-bisa sampai esok hari mereka baru naik ke daratan.


Candra mengeringkan tubuh istrinya dan memakaikan pakaian dengan cekatan. Dia bahkan menata rambut istrinya dengan sempurna.


Udelia menyandarkan tubuhnya di dada Candra. Detak jantung Candra terdengar sangat keras. Pria itu mengecup sepasang mata yang menatapnya intens.


Udelia tersenyum hangat. Kelembutan Candra menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatinya.


Pada awalnya dia menikahi Candra karena tak tahu arah dan tujuan.


Selain itu, perhatian Candra membuatnya merasa nyaman dan aman. Oleh karenanya, dia setuju untuk bersanding dengan pria rupawan itu.


Kelembutan Candra yang tidak pernah berubah, kendatipun Udelia tak lagi sempurna, menumbuhkan benih cinta dalam relung hati Udelia yang terasa kosong.


Besarnya cinta sang suami membuatnya tak lagi ragu pada perasaannya.


Udelia kurang memahami arti cinta. Yang dia tahu, dia tidak mau jauh dari pria ini, dia senang menerima perhatian pria ini, yang mana di saat bersamaan, dia merasa enggan menerima kebaikan orang lain.


"Mas, kamu menerimaku walau sudah dinodai pria lain?"


"Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Apa tadi aku tidak menunjukkannya?"


"Tapi para pria bisa melakukan itu dengan pelacur."


Candra tidak menjawab keluhan istrinya. Dia membiarkan istrinya berkeluh kesah.


Dia mengusap bahu istrinya dan menatap wajah istrinya dari cermin, memberikan sebuah tatapan percaya pada istrinya yang sedang rendah diri.


"Mas ..." panggil Udelia.


"Ya, sayang?"


"Aku mencintaimu."


"A-apa?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Candra Ekadanta."


Selama beberapa saat Candra terbengong, mencoba mencerna ucapan istrinya.


Kemudian Candra memekik senang. Dia berjingkrak-jingkrak bahkan mengangkat istrinya tinggi-tinggi.


Lalu dia memeluk istrinya dan mencium wajahnya bertubi-tubi.


Udelia yang takut terjatuh, melingkarkan kakinya di tubuh Candra. Wajahnya merah padam ketika dihujani ciuman dan merasakan sebuah tonjolan besar.


"Katakan lagi," ucap Candra dengan suara gemetar. Air menggenang di matanya.


Udelia mengusap cairan bening itu. "Aku mencintai kangmas."


Candra memagut bibir yang berkata manis itu.


Lagi, mereka menyalakan panas di kamar itu.


***


Pada pagi hari yang hangat, sekelompok pelayan wanita berjalan jinjit agar tidak menimbulkan suara. Mereka meletakkan semangkuk bubur dan lauk-pauk penambah stamina.


Ketika siang datang, hidangan yang mereka buat masih tidak tersentuh. Mereka mulai menggantinya dengan hidangan baru.


Seorang pelayan muda bertindak ceroboh. Dia memekik tanpa suara dan menjatuhkan semangkuk kuah kaldu.


Dia menunjuk ke arah ranjang seolah melihat hantu.


Di sana tampak seorang perempuan duduk di pinggir ranjang dengan rambut acak-acakan. Tubuhnya yang polos penuh dengan bercak merah.


Kepala tim pelayan melotot pada anak buahnya. Dia mengintruksikan dengan matanya, untuk kembali fokus bekerja.


Udelia bangun dengan letih, tidak menyadari keributan yang terjadi di kamarnya.


Udelia berjalan lunglai ke arah cermin. Dia berdecak melihat tubuhnya yang seperti terkena penyakit. Dia tidak percaya semalaman suntuk bergulat dengan suaminya.


Dia menerka-nerka apa semua pria sama kuatnya? Satu malam tanpa tidur dan istirahat, terus menggempur istrinya.


Kalau benar demikian, pantaslah mereka punya banyak istri, selir, dan gundik. Seperti ayah mertuanya.


Saudari-saudari Candra banyak yang seumuran, Udelia jadi membayangkan mereka dibuat bersama.


Udelia menggelengkan kepalanya. Dia tidak boleh memikirkan hal senonoh.


Udelia mengulet dan menggerakkan tubuhnya. Kemudian bersiap menyambut keluarga yang baru datang.


Sebagian keluarga Candra atau lebih tepatnya keluarga dari menantu-menantu Ekadanta, banyak yang terlambat sebab berbagai kendala.


Kemarin atas titah dari Maharaja, kediaman Ekadanta sementara tidak menerima tamu.


Jadi tamu yang telah menunggu kemarin dan yang baru datang hari ini, datang bersamaan.


Udelia meringis dalam hati. Banyak orang menyindirnya secara terang-terangan.


Dia adalah rakyat jelata, datang terlambat, membuat semua tamu menunggu hingga siang hari. Habis sudah dirinya dicecar banyak orang.


"Kamu ini perempuan kok bisa-bisanya bangun siang?" omel seorang nenek.


"Mah, coba bilang pada menantumu, perempuan jelata mana bisa ngurus kediaman Ekadanta. Masih mending Klenting Abang. Dia putriku, bangun pagi, dan bisa banyak keahlian." Seorang wanita menor mengusulkan putrinya yang tersenyum malu-malu.

__ADS_1


Senyum pada wajah Udelia pudar, bersamaan dengan pudarnya rasa hormat pada orang-orang di depannya.


Dia tidak masalah dimarahi atau dicela. Tapi bila menyangkut keutuhan rumah tangganya, Udelia tidak bisa diam.


Dia tahu seorang wanita harus menerima suaminya mendua, mentiga, mengempat, bahkan mengdua puluh di negeri ini.


Udelia sangat memahami arti wanita dan kedudukan bagi seorang pria.


Tapi dia tidak mau. Dia tidak mau suaminya mendua. Dia tidak menerima wanita lain.


"Maaf. Suamiku hanya menerima satu istri."


"HAH!? Kamu mau mengekang suamimu? Bahkan bila Klenting Ijo dan Klenting Biru masuk ke kediaman ini, kamu tidak berhak melarang!"


"Ibu ini siapa ya? Kok mengatur kediaman Ekadanta? Padahal selir Ningrum sangat lembut hatinya. Kok punya kakak kasar sekali. Mau memberikan semua putrinya pada satu orang."


"Kamu yang siapa!? CUMA RAKYAT JELATA!"


"Aku NYONYA Ekadanta. Istri Candra Ekadanta. Jika meragukan, silakan ke kantor administrasi! Silakan kalian bilang tidak percaya dengan dokumen yang mereka keluarkan. Permisi."


Randha—ibu dari Klenting Abang, Klenting Ijo, dan Klenting Biru terbungkam.


Bila mereka nekat datang ke Kantor Administrasi dan mempertanyakan dokumen resmi, mereka akan dipenjara sekurang-kurangnya sampai satu musim, karena mempertanyakan integritas para pejabat.


Randha tidak mengakui kekalahan ini. Dia menatap nyalang punggung Udeli ayang berjalan menjauh.


"LIHAT RAKYAT JELATA ITU! Sama sekali tidak berpendidikan! Tidak ada hidangan untuk tamu—"


Ucapan Randha terpotong ketika Udelia kembali datang. Dia membawa banyak makanan yang menggiurkan.


Makanan ini adalah makanan dari Kedai Hasta, sebuah kedai yang sangat sulit untuk reservasi bahkan sejak satu bulan sebelumnya.


"Silakan dinikmati!" ucap Udelia.


"Kamu apa tidak punya sopan santun? Temani kami dulu."


"Maaf. Saya harus berkeliling."


Udelia mendesah panjang. Ucapan Randha sama sekali tidak mengganggunya, dia lelah dengan banyaknya tamu yang datang.


Ingin dia mengakhiri acara. Namun semua ini adat yang harus dijalankan.


"Kamu mencari Mbok Randha?" tanya Udelia pada seorang wanita berkebaya kuning.


"Kok tahu?"


"Hm corak bajumu sama seperti anak-anaknya. Kamu sepertinya putri bungsu Mbok Randha, Klenting Kuning?"


Perempuan ayu bernama Klenting Kuning itu tiba-tiba tertawa kencang. Di rumah diperlakukan seperti seorang pembantu, di luar diaku sebagai seorang anak.


"Sebenarnya aku anak angkat."


Udelia menaikkan satu alisnya. Yang dia dengar, Klenting Kuning adalah orang yang ayu nan anggun. Candra sempat melarang Udelia untuk mengundangnya.


Sekarang Udelia curiga di antara keduanya sempat terjalin cinta.


Jika tidak, bagaimana suaminya bisa sangat khawatir dan melarangnya mengundang keluarga Mbok Randha?


••• BERSAMBUNG •••

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2