TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
MEMERIKSA YANG ADA DI DALAM SANA


__ADS_3

"Apa ada yang kurang?" tanya Balaputra dari balik tirai ruangan Udelia.


Udelia ditempatkan di satu ruangan besar. Mereka berada di sebuah rumah besar yang merupakan istana kecil terbengkalai milik Sunda Galuh.


Niskala memiliki akses pada semua poperti bekas keluarga Kerajaan Sunda sebagai kompensasi kerusakan yang dibuat Sri Sudewi dan sebagai kompensasi atas dilarangnya Niskala dan keluarga ikut campur dalam urusan kepemerintahan.


Sepupunya yang congak berpikir semua sudah berjalan dengan benar. Mengintai segala tempat yang dimiliki Niskala. Wanita itu hanya memeriksa tempat yang indah dan bersih, menganggap Niskala sebagai anak manja seperti belasan tahun lalu.


Sri Sudewi tidak memeriksa gua-gua yang pernah disinggahi Niskala dan juga tidak memeriksa istana terbengkalai yang sengaja tidak dipugar.


Semua tempat-tempat kumuh itu dipenuhi dengan mitos setan dan jin jahat, membuat orang urung datang. Suasana dan bangunan yang dipilih Niskala mendukung segala mitos yang disebarkannya, tidak ada orang berani mendekati tempat persembunyiaannya.


Gua dan bangunan terbengkalai mungkin mengerikan jika dilihat dari luar. Kontras dengan bagian dalamnya yang nyaman dan bersih. Seperti istana terbengkalai yang diberikan Niskala pada Balaputra.


"Aku ingin pulang."


Udelia ingin pulang. Ingin kembali ke kehidupan yang damai. Hari-hari yang damai. Masa depan yang damai. Rencana masa depan yang datar, hancur sudah.


Rencana masa depan Udelia sangat sederhana. Dia hanya ingin menghabiskan masa kecil anak-anak bersama dengannya dan sang suami, memasukkan mereka ke akademik, lalu menikahkan mereka dengan orang yang tepat, dan berakhir dengan menyongsong masa tua bersama cucu-cucu yang imut.


Semua hancur ketika Mahapatih datang. Semakin hancur ketika Candra memeluk wanita tanpa memikirkan perasaannya.


Udelia melirik tirai yang disibak, Balaputra melangkah memasuki kamarnya. Buru-buru Udelia membenahi pakaiannya, berdiri menyambut tuannya.


Selama dia masih dalam genggaman Balaputra, dia hanyalah seorang budak rendahan yang diambil dari medan pertempuran.


Para pelayan terus membisikkan doktrin itu supaya wanita yang dibawa tuannya tidak mencoba melarikan diri. Baru kali ini kesalahan-kesalahan ringan mereka tidak digubris Balaputra.


Juru masak dan kelompok pelayan yang menghidangkan masakan, tidak dihukum kala mereka memberikan nasi pulen yang keasinan.


Mereka sudah bersiap diri untuk menyambut kematian, sebagaimana rekan-rekan mereka sudah mendahului.


Menunggu hingga waktu makan usai, bahkan terus menunggu hingga dua kali waktu makan berlalu, tuan mereka tidak memarahi mereka, hanya karena wanita dari medan perang bersama anak laki-lakinya tidak protes menghabiskan hidangan yang ada.


"Saya masih berdarah, tuan," jelas Udelia takut-takut.


Penyakit mematikan adalah salah satu ketakutan terbesarnya.


Dia dengar dari guru yang mengajarinya, jikalau sedang keluar darah harus berani menolak untuk berhubung badan, atau kalau tidak darah akan terus menerus keluar, hingga selanjutnya tidak akan bisa berhenti dan tubuh akan kehabisan darah.

__ADS_1


Jadi lebih baik mengulur waktu hingga sepekan dua pekan, daripada mati kehabisan darah.


Udelia tidak mau mati kehabisan darah.


Balaputra mengambil tangan Udelia lalu menumpuknya di atas paha wanita itu, kemudian dia meletakkan kepala di atas tangan Udelia yang menumpuk.


Wajahnya tampak damai dan nyaman.


"Aku lelah sekali. Tapi kalau aku pulang tanpa menyelesaikan ini, rasanya tidak nyaman."


Udelia tidak tahu harus merespon apa. Sepertinya yang dibicarakan si tuan adalah tentang penyerangan.


Jika dia menyemangati, dia telah berkhianat dengan negeri suaminya. Jika menyuruhnya berhenti, dia mungkin akan dibunuh.


"Kak, apa kita bisa kembali?"


Udelia diam. Tidak paham arah pembicaraan Balaputra. Mulutnya terkunci, tidak ingin ada salah kata yang membuat lehernya terancam.


"Aku adik tompel yang selalu kakak bicarakan dengan teman kakak. Aku itu yang pernah kakak selamatkan dari sungai. Maaf aku mengintai kakak. Mencuri dengar tentang kakak, membaca pesan kakak, meretas sosial media kakak. Aku hanya ingin tahu banyak tentang kakak sebelum bertemu kakak. Kakak malah menyukai masku. Haishhh. Aku sangat bingung."


Balaputra berceloteh dengan gembira. Mulutnya selalu tersungging senyum nan manis.


Atau kalau tidak, dia akan pergi bersama Balaputra. Menjauhi masa lalu dan hidup dengan damai bersama dengan dua anaknya. Rama kelak akan dia berikan pengertian yang baik.


Rencana itu tiba-tiba saja tersusun mengingat jahatnya Candra memeluk wanita lain.


"Karena kita ada di sini, berdua dari dunia yang sama, apa kakak mau kita tinggal bareng daripada kembali?"


Udelia terlonjak. Pria itu ternyata punya rencana yang sama dengannya. Tapi pria itu membicarakan orang lain. Udelia tidak ingat dengan semua yang diceritakan Balaputra.


Tidak mungkin Udelia ikut dan hanya menjadi pengganti. Nanti saat bertemu wanita yang sesungguhnya, dia akan didepak dengan dingin.


"Kamu salah orang," kata Udelia.


Balaputra menegakkan kepalanya. Dia menatap lekat Udelia. Sedikit kecewa atas ucapan dingin pujaan hatinya. Hanya sedikit, karena dia paham kenapa Udelia bersikap demikian.


"Yah, kakak pasti lupa," ucap Balaputra ringan.


Pria bertubuh besar itu bangkit. Dia memegang kain di pinggangnya. Sontak saja membangkitkan kewaspadaan Udelia.

__ADS_1


"Aku baru lahiran enam belas hari lalu," jelas Udelia.


"Pasti ada yang memanfaatkan kakak selama ini," balas Balaputra.


Nada suaranya selalu saja santai. Udelia bingung. Balaputra serius ataukah bercanda. Dia masih menatap awas Balaputra yang sedang membuka gulungan kain di pinggangnya.


Balaputra mengambil kalung dari sela-sela kain. Dia menunjukkan kalung itu di depan wajah Udelia.


Udelia berbinar melihat kalung miliknya tidak hilang diambil kawanan prajurit. Binar matanya meredup saat Balaputra mendekat padanya.


Udelia memejamkan matanya, takut Balaputra melakukan sesuatu dengan iming-iming kalung itu. Udelia bukan wanita murahan, dia tidak mau menukar sebuah benda dengan tubuhnya.


"Kakak selalu memakai ini. Untuk hal ini tidak mungkin kakak lupa kan?" kata Balaputra sambil memakaikan kalung tersebut.


Udelia yang memejamkan mata, membukanya perlahan kala dagunya diangkat oleh jari jemari panjang.


Balaputra berlama-lama menatap mata hitam Udelia, memeriksa yang ada di dalam sana.


"Kakak sudah dipengaruhi sihir. Aku akan coba sembuhkan," tutur Balaputra melepaskan tangan dari dagu Udelia.


"Kamu mengenalku?" tanya Udelia.


Pria itu menyediakan makanan yang layak, tempat tidur yang layak, serta mainan yang layak untuk Rama putranya.


Sikapnya yang baik dan tidak menyuruhnya melakukan sesuatu sebagai seorang budak, menunjukkan Balaputra memperlakukannya seperti seorang tamu, bukan budak seperti yang dikatakan para pelayan.


"Tidak. Tapi aku tahu banyak"


"Ceritakan."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERI MA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4

__ADS_1


__ADS_2