TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 031


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


031 - DIA HANYA MAHAPATIH, BUKAN MAHARAJA!


Lamont dan John, keduanya merasa pusing oleh kelakuan kakaknya di pagi hari yang baru terbit.


Udelia berulang kali menengok ke belakang rumah. Memastikan celana hitam kesayangannya telah kering.


Setelah mendapatkannya, kakak mereka justru membongkar seisi lemari.


Membuat mereka, yang memiliki kerapian tingkat tinggi, merasa jengah.


"Sudah, kak! Mau fitting doang bukan mau ketemu mertua! Pakai baju biasa saja! Calon kakak kan udah termehek- mehek sama kakak. Tidak perlu berlebihan!" tutur Lamont.


"Ya, kak. Kakak baru bangun tidur saja dia terkesima. Sudah, pakai yang ada saja. Kasihan dia menunggu makan. Ibu dan ayah juga menunggu kalian!" kata John menimpali adiknya.


"Biasanya pakai kaos dan celana, ga usah sok- sok an nyari dress segala," cibir Lamont ketika Udelia telah menemukan dress yang dia incar.


"Kalian ini pria yang sukanya cuma pakaian hitam, tidak perlu mengomentari urusan wanita!"


"Wanita dan pria apa bedanya? Bukankah kita setara, kakak sayang?"


"Sudah. Sudah. Sana pergi! Mbak mau ganti baju. Temani kakak ipar kalian! Masa cowok- cowok kumpulnya di sini!"


"Ck. Ada yang ingin kami bicarakan."


Lamont dan John menyelonong masuk. Mereka menutup pintu agar pembicaraan mereka tak terdengar ke luar.


"Apa?" sahut Udelia yang sedang merapikan pakaian yang sudah dia buang- buang ke lantai.


"Mbak beneran mau nikah sama dia?"


Udelia tidak langsung menjawab pertanyaan John. Dia malah memandang aneh pria muda yang sedang membantunya merapikan lemari.


Kedua adiknya sendiri yang membantu lamaran Djahan, tapi masih bertanya?


"Kalian bertanya?" kata Udelia menyuarakan pikirannya.


"Aku menanyakan keyakinan di dalam hati mbak. Kalau di dalam pandangan kami, para lelaki, tanggung jawab adalah identitas kami. Melamar dan menjadikan mbak istri adalah bentuk keseriusan dia. Tapi, hati mbak sendiri, bagaimana?"


"Sebenarnya saat pertama kali melihatnya di pameran waktu itu, mbak seperti melihat orang yang sudah lama dirindukan. Seperti ada yang berkata ... ini dia orangnya. Namun, kereseannya membuat mbak ilfeel."


Apalagi hari itu...


Udelia melanjutkan dalam hati. Tak mungkin dia membeberkan dosanya di hadapan adik- adiknya.


Memalukan.


"Sekarang sudah tidak ilfeel?"


"Bagaimana bisa ilfeel kalau dia berlaku begitu hanya pada mbak? Rasanya ... seperti istimewa. Beda sendiri."


"Cuma karena itu, Mbak?"


"Seperti kata mbak tadi. Ada rasa di dalam hati. Hati manusia itu penuh dengan rahasia."


"Hati ya.."


"Ya. Tanyakan pada hati jika ingin memutuskan pernikahan. Hati tak pernah salah."


Udelia merangkul kedua adiknya. Dengan lembut dia mengusir keduanya ke luar kamar.


Lamont dan John yang sedang memikirkan perkataan Udelia, tidak menyadari kakak mereka sudah mengusir mereka ke luar kamar.


"Hati tak pernah salah, ya?" gumam keduanya.


Mereka tersentak kala menyadari sudah di luar kamar.


Mereka tidak mau kakak mereka berdandan terlalu cantik!

__ADS_1


Nanti akan banyak mata keranjang yang menatap buas kakak mereka.


Sebagai pria, mereka tahu isi pikiran kebanyakan pria di luaran sana.


"Mbak tidak boleh pake baju ini!" sambut Lamont dan John kala Udelia keluar dari kamarnya.


Udelia tidak menyahuti mereka. Dia menuju ruang makan yang sudah dipenuhi oleh makanan.


Setelahnya Udelia dan Djahan berangkat. Udelia menyalimi kedua orang tuanya.


Sementara pada Djahan, bapak Udelia langsung merangkulnya.


Laksana teman, bukannya menantu.


"Mbak, pakai jaket! Udara di luar dingin!"


Bocah- bocah yang over protektif pada sang kakak, memberikan jaket dan syal untuk menutupi dress indah kakaknya.


Udelia mengenakan dress putih, kulit kuning langsatnya memancar indah.


Kaki jenjang yang biasanya tertutup celana panjang, kini terpampang karena dia menggunakan rok di atas lutut.


Djahan sampai terdiam karena melihat keindahan itu.


Makan dan minum tanpa mengalihkan pandangannya.


Akibat belum sempurnanya akal dan pikirannya, akibat tertinggal di ruang dimensi.


Djahan sampai lupa untuk mengawasi dan memperingati Udelia.


Matanya terus saja terpaku pada tubuh indah itu.


Jiwanya baru tersadar, kala dua adik sang wanita memakaikan jaket.


Tapi untuk menegur Udelia di depan umum, Djahan tidak bisa. Ada harga diri yang harus dijaga.


Lebih- lebih cantiknya wanita itu ditunjukkan untuk jalan bersamanya.


Djahan kembali merasa di atas awan.


"Hati- hati, Nona!" ucap Djahan membantu Udelia untuk masuk ke dalam mobil.


Udelia mengulas senyum.


Agak susah baginya untuk duduk nyaman di dalam mobil.


Karakter pecicilannya yang suka duduk sembarang, membuatnya selalu was- was. Takut roknya tiba- tiba teringkap karena ulahnya sendiri.


Mereka berangkat pada hari yang cerah.


Kali ini jalanan ibu kota yang menemani Udelia.


"D' Boetiqs?"


Udelia membaca nama butik yang sangat terkenal dalam wilayahnya.


Itu butik yang dapat dimasuki hanya oleh mereka yang punya VIP.


Selebihnya, orang dapat membeli baju di toko pakaian mereka.


Untuk masuk ke dalam butiknya, harus mempunyai VIP dan sudah memesan jauh- jauh hari.


Bahkan anak presiden perusahaan terkenal, harus menunggu waktu bila ingin mendapat desain di dalam D' Boetiqs.


Sosok pemiliknya yang jarang berinteraksi dengan dunia, membuatnya tidak terlalu patuh pada kekuasaan orang lain.


D' Boetiqs adalah dunianya. Tidak boleh ada yang melanggar peraturan di tempat kekuasaannya.


Semua harus mengantri dengan adil.

__ADS_1


Hanya satu cara yang dapat membuat seseorang bisa menerobos antrian.


Mereka harus bisa menyumbangkan kain- kain terbaik, yang langka di negeri ini.


"Aku seharusnya tidak terkejut," gumam Udelia kala melihat senyum menyebalkan Djahan yang mulai terbit lagi.


Senyuman sombong, yang sialnya pantas dimiliki pria itu.


Kening Udelia mengerut kala melihat salah satu sosok bayangan Djahan duduk di balik kursi kasir.


Ketika mendengar bel pintu berdenting, yang selalu berbunyi tiap kali pintu terbuka, perempuan itu mengangkat kepalanya.


Melepaskan kaca mata dan pena di tangannya.


Menyambut Udelia dan Djahan dengan penuh senyuman.


"Ibu Lili?" gumam Udelia.


Sungguh tak percaya.


Pemandu wisata itu di sini?


Sendirian?


Udelia bukan orang bodoh dan dia tidak akan terkejut lagi bila Djahan menyewa seluruh butik.


Tapi sampai Ibu Lili berada di balik kasir?


Nampaknya perempuan itu bukan hanya pemandu wisata!


"Seperti pemikiran Anda, Nyonya. Saya desainer di sini. Khusus melayani Tuan dan Nyonya," kata Lili seolah paham arti tatapan Udelia.


Udelia membalas dengan senyuman.


"Sepertinya bukan hanya desainer," balas Udelia.


"Anda benar. Saya pemilik butik ini."


Djahan mengangguk kala Udelia memberikan tatapan bertanya.


Udelia tidak akan lagi tercengang!


Bahkan bila presiden negeri ini adalah bawahan Djahan, Udelia tidak akan lupa!


"Silakan mencari gaun yang nyonya inginkan. Kalau ada yang mau Anda buat, saya siap."


Udelia sebenarnya sudah memiliki pandangan tentang baju pernikahan yang dia mau.


Tak ingin membuat Ibu Lili menjadi kecil hati, Udelia berputar- putar sebentar ke seluruh desain pakaian butik yang ada.


Sambil menunjuk contoh- contoh di sana, Udelia mengutarakan keinginannya untuk membuat pakaian kuno.


Mahabusana.


Lili terlihat antusias. Dalam waktu singkat sudah dapat membuat gambaran yang Udelia inginkan.


Sangat sempurna.


Tapi tidak dengan Djahan.


Ada sudut hati tak tenang ketika mendengar mahabusana.


Mahabusana hanya dapat dikenakan oleh Maharaja dan Maharani.


Dia hanya Mahapatih, bukan Maharaja!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2