![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Saya tau Anda ada di dalam."
Djahan berdiri di depan bangunan, tempat Hayan tak kunjung keluar.
Dia mengetuk-ngetuk jari di lengan, tak sabar menunggu atasannya, untuk bersegera keluar dari ruangan terkutuk itu.
Tidak akan ada yang berani menegur Maharaja. Tapi bila Maharaja ketangkap basah melakukan penyatuan diri dengan orang rendahan, para bangsawan tingkat tinggi pasti ribut mengusulkan putri-putri mereka.
Masalahnya akan tambah runyam, jika Maharaja terlalu lama menyesap indahnya si wanita, lalu terikat tak mau melepaskan.
"Ada apa?" sahut Hayan sedang memakai kalung.
Kedua sudut bibirnya terangkat. Teringat jelas betapa agresifnya si wanita, menarik kalungnya dengan tak sabar.
"Sudah terlalu lama Anda di dalam!" tegur Djahan tak sabar.
Ingin sekali dia mendobrak pintu di depannya.
Dia tidak melaksanakan niatnya, sebab dia masih memiliki rasa hormat pada Sang Maharaja.
Sementara itu, Hayan mencari-cari sepasang sumping, yang terlepas entah ke mana. Dia menangkap keberadaan perhiasan telinga itu di atas kasur, tepat di samping wanita yang terlelap.
Helaan napas berat lolos dari indra pernapasan Hayan. Satu sayap emas itu patah jadi dua, karena cengkeraman Udelia.
Sumping itu pemberian selir kesayangannya. Perempuan berhati lembut itu akan menangis dan mengeluh, lalu mulai menginterogasinya.
Satu bulan belakangan sudah membuatnya pusing. Selir kesayangannya terus menempel di lengannya, seperti seekor lalat yang mengganggu.
Hayan mulai sedikit jengah.
Maharaninya bila marah justru pergi jauh, membuatnya takut kehilangan.
Bukan melekat tak ada kerjaan, mengganggu pekerjaannya yang segunung.
Hayan menyentuh daun telinganya. Dia sedikit meringis baru mengetahui ada luka goresan, akibat sumping yang patah.
Wanita yang menghabiskan waktu dengannya, sangat agresif. Namun seolah belum pernah melakukannya, dengan terus mencakar dirinya.
"Hei ..." Hayan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tidak tahu nama perempuan yang terlelap di atas tempat perpaduan, yang masih tersisa bekas-bekas pergulatan panas mereka..
Perempuan itu bergerak memutar tubuhnya, memunggungi Hayan dan tidak merespon panggilannya.
"Jangan permalukan dirimu," gumam Hayan membantu wanita satu malamnya memakai jarik dan kemben.
Hayan tertawa dalam hati. Sepertinya ini kali pertama, dia memberi pakaian dalam cincin penyimpanannya pada selain Maharaninya. Bahkan lebih dari satu setel pakaian.
Hayan berdecak, merasa aneh dengan dirinya sendiri. Bergegas dia pergi meninggalkan perempuan, yang sudah berpakaian dengan sopan.
Di depan pintu Djahan menyambut dengan wajah tak senang.
Urusan pribadi Maharaja bukan urusan Djahan.
Ini bukan kali pertama Hayan memadu kasih dengan wanita tak jelas asal usulnya.
Djahan sudah kebal mengurusi hasil dari kesenangan Hayan.
Dia hanya merasa tidak senang.
Perasaan tidak senang memenuhi relung kalbunya.
__ADS_1
Tidak dapat dibendung. Membuat Djahan menunjukkan ekspresi tak suka secara gamblang pada atasannya.
Ini kali pertama Djahan bersikap tidak profesional, setelah dahulu bersiteru dengan Hayan yang merebut istri tercintanya.
"Siapa?"
"Nanti saja."
Hayan menutup pintu rapat-rapat. Bisa marah besar tangan kanannya, bila mengetahui yang Hayan sentuh adalah penghuni kebun belakang tuan rumah, yang mereka datangi.
"Di mana tuan rumah?"
Djahan melirik pintu yang tertutup rapat. Dia menutup mulut, tidak lagi bertanya. Kemudian menunjukkan jalan ke tempat Candra sedang digoda pria-pria beruban.
"Dia sudah tidak sadarkan diri," ucap Djahan menatap Candra yang sedang muntah di selokan.
Wajah pria itu terlihat memerah. Ijen yang berdiri di sampingnya memijat tengkuk Candra, agar mengeluarkan sisa-sisa muntahannya.
"Tuan-tuan selalu menggoda tuan muda terus!" marah Ijen menatap kesal paman-paman Candra.
Orang-orang tua ini terus-menerus memberikan minuman pada Candra. Candra sangat jarang meminum benda itu. Alhasil tidak tahan dan sebagian cairan itu dikeluarkan dari tubuhnya.
"Waduh, Ijen sudah mulai marah," kata salah satu paman Candra, diiringi gelak tawa saudara-saudaranya.
Mereka menghentikan tawa ketika melihat Hayan datang ke arah mereka. Buru-buru mereka bersimpuh menyambut Maharaja, yang sejak tadi tidak nampak di pesta pernikahan.
"Ka-kami memberi salam pada Yang Mulia Maharaja."
"Tidak perlu sungkan. Saya ingin pamit."
"Mohon maaf, Yang Mulia. Tuan rumah sudah tidak sadarkan diri."
"Oh, Yang Mulia ..." ucap Candra berjalan sempoyongan ke arah Hayan.
Bergegas Ijen memapah tuannya yang hendak menghadap pada Maharaja.
"Semoga Anda sampai dengan selamat," kontar Candra.
"Ya, terima kasih. Semoga keluarga impianmu tercapai," balas Hayan.
Candra menyeringai. "Pasti."
Hayan mengangguk. Terbesit rasa kesal di dalam hati Hayan, namun ia tampik dan mengabaikannya. Kemudian Hayan pergi dengan cepat.
"Jangan lupa do'a kan kebahagiaan kami!" teriak Candra.
"Kami selalu mendo'akan kalian," sahut tamu-tamu yang lain.
"Aku butuh do'a Maharaja, bukan kalian."
Para tetua menepuk wajahnya. Keponakan merekea benar-benar sudah kehilangan akal.
"Ijen, bawa tuanmu ke kamar pengantin," titah salah satu dari mereka.
"Tidak. Aku sangat kacau. Pergi ke rumah pribadi saja," sela Candra.
Ijen mengangkat sudut bibirnya. Sedari tadi dia bingung bagaimana caranya membawa tuannya pergi ke tempat itu.
"Baik, tuan."
__ADS_1
Dibantu dengan pengawal, Ijen membawa Candra ke kamar. Mereka dudukkan tuan mereka di ruang tamu, kemudian menyalakan lilin untuk penerangan.
"Selamat beristirahat, tuan." Ijen menutup pintu dan tersenyum lebar. Dia tidak mau membuat keributan. Cukup sepasang mata tuannya, menyaksikan langsung hasil karyanya.
Candra memijat kepalanya yang berdenyut sakit, sembari mengumpulkan kesadaran yang berangsur-angsur datang.
"Kakak tidak boleh ditinggal sendiri."
Candra bergumam pada dirinya sendiri. Dia bangkit hendak menuju kamar pengantin, yang terletak di kamar kepala keluarga.
Tapi langkahnya terhenti, kala telinganya menangkap suara napas teratur dari dalam kamarnya. Pelan-pelan dia melangkah ke dalam kamar, yang telah ditempatinya sejak lahir.
Di atas ranjang tampak sebuah tubuh tergeletak tak sadarkan diri. Dahi Candra mengerut, dia sangat mengenali raga itu. Raga istrinya.
"Sepertinya aku sangat mabuk."
Candra tak percaya dengan penglihatannya. Namun langkahnya terus mengayun memasuki kamarnya. Dia berjalan sempoyongan ke arah ranjang.
Dia menatap intens wajah yang tersiram cahaya rembulan. "Benar-benar kakak," batinnya.
"Kak .." Candra bersimpuh di samping ranjang. Matanya memperhatikan wajah damai perempuan yang baru menjadi istrinya.
Tak lama kemudian dia terkulai, jatuh tertidur di atas perut istrinya.
"Aw ..." Udelia meringis merasakan tekanan di perutnya. Dia terbangun dan melihat kepala Candra tergeletak di atas perutnya.
Tangannya terjulur menggoyang tubuh suaminya. Tak kuasa dia menahan kepala Candra.
"Candra, bangun."
Mata Candra bergerak. Dia bangun dan langsung menegakkan tubuhnya.
"Maaf aku ketiduran."
Candra bangkit meraih kotak obat di pojok kamar. Dia menenggak habis sebotol obat, lantas kembali ke tempat perpaduan.
Udelia baru saja terpejam. Matanya terbuka lebar, merasakan sentuhan basah di antara kakinya. Benda di pusat inti tubuhnya menggeliat, masuk ke cela dalam, membawa getaran aneh di sekujur tubuhnya.
"Candra ..."
"Kakak manis sekali." Candra menjilati bibirnya sendiri. Bergerak sensual membuat Udelia tersipu.
"Candra, jangan bodoh." Udelia menahan kepala Candra, yang hendak menjilati bagian bawah tubuhnya lagi.
"Jangan jorok," imbuhnya menangkup wajah Candra.
"Kalau ingin mencium, di sini tempatnya."
Udelia menempelkan bibirnya, bergerak dengan canggung.
Candra terkejut. Tidak menyangka istrinya terbuka menerima dirinya.
Senyum terbit di bibir Candra. Tak peduli istrinya menerimanya dengan tulus atau hanya karena hilang ingatan, Candra sangat senang dengan penerimaan ini.
Dia menyentuh punggung istrinya. Membimbingnya kembali berbaring. Dan mulai melakukan ritual yang manis.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1