TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 027


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


027 - MENUNJUKKAN JALAN UNTUK ISTRINYA


"EHEM!!"


Dehaman kencang menyentak jantung Udelia. Sementara Djahan masih saja memandangi wajah kekasihnya dari dekat. Tidak melepaskan pandangannya barang satu detik pun.


"Lia, apa kamu butuh kamar hotel? Ini di jalan!"


"Terima kasih. Kami akan memesannya sendiri. Kami mandiri."


Teman Udelia kaget dengan penuturan Djahan. Dia kira keduanya akan malu, si pria malah menanggapi serius sindirannya.


Udelia menunduk malu. Dia menarik Djahan ke tempat sepi.


Tak habis pikir dengan kelakuan Djahan.


Pun dirinya yang seperti hilang pikiran.


Mau saja berbuat mesum di tengah jalan!


"Djahan, bisa kendalikan dirimu? Jangan membuatku malu di tengah jalan!"


"Aku tidak merasa di tengah jalan. Kita berada di dalam gedung."


"Haduh. Kudengar pria kuno itu menjunjung tinggi nilai kesopanan. Kenapa kamu mesum sekali!"


"Aku mesum hanya padamu."


"Bullshit."


"Apa itu?"


"Kamu."


"Aku bukan orang bodoh, sayang. Meski tak tahu, satu detik kemudian aku akan tahu."


Djahan mengutak atik benda pipih di tangannya.


Meski dahulu dia sangat terkejut dengan benda sihir ajaib bernama ponsel, yang mampu mengeluarkan suara dan mengambil gambar, sekarang dia sudah berdamai dengan benda bernama ponsel itu.


Bahkan dengan ponsel, dia dapat mengintai kegiatan pujaan hatinya.


Walau tak lagi mempunyai kekuatan ghaib, Djahan tetap bisa menatap jauh ke depan tanpa perlu bersusah payah.


"Hmmm. Jadi kamu mengira aku bohong padamu?"


Udelia mengangguk. Sedetik kemudian dia tersadar dan menggeleng dengan keras.


"Coba Udel sayang, kamu baca prasasti Omah Darmo Wongso. Kamu sangat paham kan apa yang para sarjana tak paham? Karena kamu istriku. Kamu paham bahasa kami."


Udelia sedikit tertegun. Rumah adipati Darmo, salah satu adipati paling berkuasa di era setelah Mahapatih Yang Legendaris.


Dia adalah abdi rumah Mahapatih. Memperhatikan hidup kalangan atas dan menuangkannya dalam tulisan berupa prasasti.


Karena kemampuannya membaca cela, dia yang tak pernah duduk di bangku kebangsawanan, mendadak mendapat penghargaan dan kekuasaan dari keturunan Maharaja.


Menjadi penguasa di tempatnya.


Hingga kini anak keturunannya jelas. Tali persaudaraan terikat kuat.


Karena satu hal.


Menyimpan prasasti kuno di rumah moyang mereka. Prasasti yang tidak diakui oleh negara, namun prasasti itu selalu jadi tempat penyembahan kalangan penyembah nenek moyang.


"Ini. Bacalah."


Djahan menyodorkan ponselnya. Menunjukkan gambar prasasti adipati Darmo.


Banyak bagian hidup Djahan, tentang hidup pribadinya.


Dikatakan Djahan adalah orang suci. Tidak pernah menyentuh wanita.

__ADS_1


Tapi kemudian adipati Darmo melukiskan sebuah pohon mangga. Ada rambut yang melambai dari dua sisi pohon.


Djahan menunjukkan ujung gelombang rambut di salah satu sisi.


"Lihat. Sama dengan rambutmu," tutur Djahan menyamakan ujung rambut Udelia dengan lukisan di fotonya.


Lalu dia menunjukkan ujung rambutnya sendiri.


Udelia tertegun. Sama. Rambut mereka sama. Gelombangnya. Bentukannya.


"Kita sedang apa emangnya?"


"Membuat keturunan Mada. Sayangnya kita harus memulai ulang di masa ini."


"Kita tidak punya anak?" heran Udelia.


Katanya mereka lama bersama, kenapa tidak punya anak?


Apa dia MANDUL?!


Wajah Udelia seketika mendung.


"Hampir."


"Hampir?"


Udelia menatap wajah Djahan yang mendung.


Pria itu menjatuhkan kepalanya di bahu Udelia. Bayinya yang bahkan tidak dia lihat jasadnya, meski hanya segumpal darah.


Djahan selalu merindukannya. Dia bahkan hampir gila, tiap kali melihat anak- anak.


Apa anaknya akan tumbuh sebesar itu, jika selamat?


Selalu itu yang tercetus dalam benaknya.


Udelia merasakan perih kala mendengar tangis Djahan. Dia mengangkat tangannya. Mengusap punggung Djahan.


Mereka berada di tangga darurat. Tidak akan ada orang waras yang lewat sana.


"Istriku, aku tidak akan sanggup kehilangan lagi. Cukup calon anak kita yang meninggalkanku. Kamu jangan."


Djahan berkata dengan sedih. Memantik rasa tak nyaman di dalam hati Udelia.


Dia mengangguk.


Djahan menangkup wajahnya dan menciumi wajahnya dengan sayang.


Tidak ada nafsu seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.


Sisa di hari pertama bekerja, Udelia habiskan waktu di tangga darurat.


Mendengarkan kisah Djahan dan ... dirinya.


Awalnya Udelia menampik keras. Kriteria wanita dalam cerita Djahan, sama sekali bukan dirinya.


Dia bukan wanita yang pemberani. Selalu malu- malu.


Tapi menilik kelakuannya beberapa hari belakangan.


Dia yang bahkan bisa menolak pesona Djahan.


Dia yang enggan dengan segala kemewahan pemberian Djahan.


Mampu berkata 'tidak' ketika biasanya dia selalu berkata 'iya' untuk segala permintaan.


Mungkin saja, jiwanya benar- benar seorang wanita pemberani.


Hanya karena otaknya mendikte dia adalah seorang wanita pemalu, menjadikan dirinya tidak mampu melangkah jauh.


Udelia sangat optimis. Dia merasa bisa menjadi sosok membanggakan dalam cerita Djahan.


"Ajari aku caranya menjadi wanita itu, Djahan," cetus Udelia kala Djahan t elah menyelesaikan ceritanya dan hanya memandangi wajahnya terus menerus.

__ADS_1


"Tidak," tolak Djahan dengan tegas.


Udelia mendadak menciut. Berpikir, apakah Djahan tidak mau lagi bersama dengan dirinya?


Hatinya menjadi lega, saat Djahan tersenyum manis dan membawanya ke dalam pelukan.


"Tidak peduli kamu pemberani ataupun penakut. Aku tidak akan membedakan kamu dahulu dan kamu sekarang. Kamu adalah kamu. Bersikap bagaimana kamu mau. Aku akan selalu menerimamu. Karena kamu adalah istriku. Belahan jiwaku. Aku akan selalu menerimamu."


Udelia tersentuh dengan ucapan Djahan.


Pria itu, tidak memaksanya berubah. Menerima segala kondisinya.


Hati Udelia berbunga- bunga.


Dia merasa hatinya menjadi lebih baik.


Tanpa ragu dia menatap manik hitam Djahan.


Mata yang tak lepas menatap dirinya.


"Aku akan belajar mencintaimu. Tolong jangan hilangkan rasa cinta yang besar ini, jika kelak aku telah mencintaimu."


Udelia takut. Takut jika dia hanya dijadikan bahan percobaan oleh rasa penasaran di dalam dada.


Kemudian tidak akan lagi dicintai bila hatinya telah tertaut.


Ada banyak pria yang hanya penasaran.


Meninggalkan dengan tega ketika sudah mendapatkan hati.


Udelia tidak mau menjadi korban.


"Aku berjanji."


"Bersumpah demi langit dan bumi?"


"Bersumpah akan tersambar petir bila benar aku berpaling, ketika kamu telah mencintaiku."


Udelia berhambur ke pelukan Djahan. Dia merasa senang.


Sumpah bukanlah hal yang main- main.


Djahan tersenyum lembut. Dia sangat senang dengan inisiatif istrinya.


Tangannya melingkar erat.


Mereka melepaskan diri ketika sudah letih satu sama lain.


Di hati Udelia masih ada satu hal mengganjal.


Benarkah pria itu benar- benar dari zaman kuno?


Dia yang sudah terbiasa dengan logika, kadang tidak mempercayai pernyataan ini.


Tapi mata Djahan selalu memancarkan kejujuran, saat menatap manik matanya.


Mata Udelia bergerak dengan gelisah. Haruskah dia tuturkan rasa tak percaya ini?


"Sayang, ada yang membuatmu ragu?" tanya Djahan.


Tatapannya teduh. Suaranya tegas.


Udelia merasa mabuk hanya dengan mendengar suaranya.


"Aku penasaran. Di mana Fusena bertapa? Masih ada orang bertapa di zaman ini?"


Djahan tidak menghilangkan senyumnya saat Udelia mengatakan keraguannya. Dia justru menunjukkan jalan untuk istrinya.


Pergi ke gunung tempat Petapa Agung bertapa.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2