TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
038


__ADS_3

Acara perjamuan pernikahan Udelia dan Candra benar-benar telah berakhir.


Candra mengakhiri acara lebih cepat. Udelia tidak dapat membantah sebab raganya lemah akibat sihir yang gagal.


Udelia dirawat dengan intensif setelah dinyatakan terluka parah. Dia berada di ruangan khusus dengan tubuh yang terkulai lemas.


Orang-orang berkata Udelia sangat beruntung sebab tak mati dari dahsyatnya kekuatan yang gagal dilakukan Udelia.


Namun Udelia tidak serta merta lega. Dia khawatir suaminya akan ditindas oleh wanita-wanita gatal.


Suaminya terlalu polos untuk didekati wanita-wanita murahan.


Pagi-pagi buta tadi ada seorang wanita bersolek dengan indah, tapi pakaiannya ditanggalkan. Udelia mendengar dengan jelas wanita itu berkilah tidak ada waktu untuk pergi ke ruang ganti, karena menunggui dirinya.


Padahal Udelia merasa sendirian dalam tidurnya. Dia pun sudah terbangun dan melihat wanita itu membuka pakaiannya yang sudah rapi, membukanya dengan kedua tangannya sendiri.


Lagipula siapa sih yang  berias sangat cantik tapi berkata hendak mandi!?


Mau merayu setan kamar mandi!?


Suaminya tidak menghukum saudari jauhnya itu. Dia hanya memperingatkan dengan sebuah ucapan.


Udelia ingin sekali sembuh sekarang juga!


Saat malam menyapa, Candra meninggalkan Udelia untuk menemani para tamu dari pihak keluarga yang masih betah tinggal di rumahnya.


Kalau saja dia bukan seorang kepala keluarga dari keluarga besarnya, dia enggan sedetik saja meninggalkan istri terkasihnya.


Dengan berat hati dia mengikuti intruksi ayahnya. Tentu dengan hidangan yang dia ajukan. Tidak ada daging dan makanan pesta. Candra memastikan keluarga besarnya tak betah tinggal lebih lama.


"Loh loh kok makanannya ringan semua? Isinya sayuran tok. Apa begini pesta megah yang diidam-idamkan tuan kepala keluarga? Atau perempuan itu bukanlah idaman tuan?" sindir seorang ibu yang menyuapkan potongan sayur ke mulut putrinya.


"Pesta? Sudah berakhir. Lagipula istriku sedang tidak baik. Tak patut merayakan pesta tanpa kehadirannya."


"Istrimu saja yang tak becus. Kenapa dari perkumpulan para pria dia bersimbah darah? Apa kamu sudah kecolongan, Tuan Candra yang terhormat?"


Candra tidak bersuara. Namun tiba-tiba saja perempuan dewasa yang masih tampak cantik itu, memekik kesakitan. Lehernya terlihat luka yang amat jelas dan mulutnya mengeluarkan busa.


"Kepala keluarga! Hentikan!" sentak seorang pria yang merupakan adik dari wanita itu.


"Apa yang harus kuhentikan? Makanku?" tanya Candra menyodorkan tangannya yang penuh dengan kue manis.


Mengikuti jejak istrinya, Candra selalu memakan yang manis-manis bila sedang dilanda kegundahan hati.


Dia sama sekali tidak bisa makan makanan berat, selama istrinya masih berbaring tak berdaya.

__ADS_1


Sungguh dia menyesali kejadian malam itu hingga istrinya jatuh sakit.


Andai saja dia tidak tertidur pulas.


Sementara itu sesosok bayangan mengendap-endap masuk ke dalam kamar Udelia.


"Mau apa?" tanya Udelia menatap Klenting Kuning yang mendekatkan wajahnya.


"Oh sudah bangun."


"Ya."


Tanpa aba-aba, Klenting Kuning memberikan dua kali cambukan ke tubuh Udelia.


Udelia yang masih lemah dan tidak bisa banyak bergerak, tidak mampu menghindari cambukan Klenting Kuning.


Udelia memekik sakit ketika merasakan panas di sekujur tubuhnya. Apalagi salah satu sasaran Klenting Kuning ialah mencambuk pipinya!


Dalam sisa-sisa kesadarannya, Udelia melihat Candra datang dan menyeret keluar Klenting Kuning.


"Sayang, jangan tidur. Tetaplah sadar!" seru Candra mengusap wajah Udelia, berusaha membuat istrinya tetap sadar.


Namun Udelia tidak mampu menahan kantuk yang menyergapnya. Dia memejamkan matanya, tanpa menghiraukan teriakan Candra.


Tak lama kemudian Udelia terbangun dengan ekspresi yang aneh. Dia menatap bingung Candra yang sedang merangkulnya.


Suara Udelia sehalus sutra. Tapi begitu menyayat hati Candra. Pipi istrinya terluka lebar. Lagi-lagi karena kelalaiannya.


Tanpa menjawab pertanyaan Udelia, Candra menyodorkan gelas berisi jamu. "Minumlah, kak."


Udelia yang merasakan perih di wajahnya pun menenggak habis obat itu.


Lalu Udelia kembali terlelap.


Candra menunggu Udelia dengan sabar.


***


Pagi hari bersinar terang. Sehangat segumpal daging di dalam tubuh Udelia. Dia merasa senang karena telah kembali bugar dan tidak ada luka yang membekas.


Candra juga berwajah segar. Namun wajah segarnya pudar ketika melihat Klenting Kuning masih tinggal di kediaman Ekadanta.


Dikatakan Klenting Kuning itu keponakan dari salah satu selir yang dimiliki Aji, ayah Candra. Namun adiknya menghilang dan ternyata ditemukan telah diadopsi oleh janda beranak tiga.


Ayah Candra dan ibu Candra yang notabene istri sah dan pernah memiliki kendali penuh atas kediaman Ekadanta, membiarkan Klenting Kuning tinggal bersama keluarganya.

__ADS_1


Keadaan keluarga itu tidak baik. Apalagi terdapat desas desus Klenting Kuning tidak terlalu baik diperlakukan dalam keluarga itu. Alhasil mereka menyuruh Klenting Kuning untuk tinggal tanpa pendapat Candra.


Keluarga dari Randa, ibu angkat Klenting Kuning, diperbolehkan tinggal sampai mendapat pekerjaan layak. Karena bagaimanapun selama belasan tahun Klenting Kuning tinggal di rumah yang serba pas-pasan itu.


Tapi jika Candra menilik lebih dalam, bukan Randa atau anak-anaknya yang berkuasa atas Klenting Kuning. Justru wanita kasar itu terlihat seperti pengendali penuh.


Seperti pagi ini, Candra dan Udelia sengaja berjalan-jalan ke sisi rumah yang sepi, Klenting Kuning sedang menindas saudara-saudara angkatnya dengan menyuruh mereka melakukan berbagai hal, seperti memijat, memasak, dan mengipasinya.


Ketiganya begitu telaten. Seolah sudah biasa. Bahkan Klenting Kuning tak perlu mengeluarkan suara untuk mendapatkan hal yang diinginkannya.


Jika baru saja di rumah ini Klenting Kuning melakukan hal demikian, tak mungkin lah ia memiliki banyak benda pribadi yang dibawanya dari rumah lama.


Candra yakin, berita itu hanya bualan.


"Sudah, sayang. Ngapain liat orang yang kurang kerjaan begitu. Ayo pergi."


"Hmmm entah mas. Ini kok kaya aku ngerasa aneh ya?" tanya Udelia pada dirinya sendiri.


"Aneh gimana?"


"Ya. Aneh aja gitu. Rasanya Klenting Kuning ga pantas dibegitukan. Ah bukan begitu. Rasanya kaya ga pas aja gitu. Eh gimana sih? Pokoknya ya gitu deh," tutur Udelia disertai cengiran kuda.


Dia juga tidak mengerti maksud dirinya sendiri.


Pandangan Udelia dan Candra bersibobrok. Mereka saling mengunci pandangan satu sama lain hingga melupakan yang terjadi.


Tanpa mereka sadari, keempat Klenting itu sudah berdiri di samping mereka.


"(Nguping yah?)" tanya Klenting Kuning menaikkan sudut bibirnya.


"Iya," sahut Udelia tanpa sadar.


Sontak saja kekehan terdengar dari mulut Klenting Kuning. Dia memandang pasangan suami istri itu dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ternyata benar," gumam Klenting Kuning hampir tidak terdengar oleh orang di sekitarnya.


Candra menarik Udelia menjauh dari Klenting Kuning. Dia akan menindak keluarga itu, setelah menyelesaikan urusannya dengan sang istri.


"Orang itu ga waras. Sayangku ga usah dekat-dekat!"


Udelia mengangguk dengan patuh. Dia juga merasa ada sesuatu yang aneh dari gerak-gerik Klenting Kuning.


Hari itu Candra pastikan sendiri keamanan Udelia. Tidak dia pedulikan para tamu yang masih berkeliaran. Dia masih memberi hormat pada ayah dan semua ibunya.


Dua pekan atau sepuluh hari sudah cukup untuk orang luar menginap. Candra akan mengusir mereka esok hari.

__ADS_1


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2