TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 042


__ADS_3

042 - SABDA WAHYU DARI LANGIT


"Atas permintaan Bapak Wara. Kami sekalian telah meminta petunjuk pada- Nya. Semalam saya sudah menyerahkan sebaris lontar pada kotak bergembok ini."


Seorang pria besar berpakaian serba putih menunjukkan kotak dengan ukiran rumit di tangannya.


Wajah teduh pria itu membiarkan satu persatu orang melihat kotak di tangannya.


Lantas mengembalikannya pada sebuah meja datar di depannya.


"Dari pihak Bapak Wara dan pihak lain, sudah mendatangkan satu orang kepercayaan. Maka sudah mengerti kalau tidak ada sabotase pada isian kotak ini?"


"Mengerti," jawab serempak semua orang.


"Baik. Saya buka.."


Udelia menggenggam tangan Djahan dengan cemas.


Takut isiannya tidak sesuai harapan mereka.


Djahan tenang. Sudah ada lawan yang setara kekuatannya untuk Sang Tuan.


Masalah janjinya pada pria itu, Djahan sama sekali tidak keberatan.


Udelia hanya mencintainya seorang.


Meski mungkin juga mencintai pria lain; itu adalah Hayan. Bukannya Candra.


Candra tidak akan dapat memaksa Udelia untuk bersama dengannya.


Pemimpin upacara mulai membuka kotak yang dipegangnya.


Semua orang menanti dengan hati berdebar.


Hayan mencoba menorehkan kalimat dalam lontar yang mulai nampak wujudnya.


Candra bergegas menolak kekuatan Hayan.


Hayan yang terperangkap dalam tubuh muda dan Candra yang kini setengah manusia setengah siluman, mereka menjadi setara dalam pertarungan ghaib.


Pria suci di atas altar terdiam. Memandangi lontar di tangannya tanpa ekspresi yang dapat ditebak.


Kendati wajahnya teduh, tiada dapat mereka membaca apakah isian lontar itu.


Pria itu membalikkan lontar di tangannya. Menunjukkan pada semua yang hadir tentang isinya.


Sebuah gambar yang menunjukkan bintang dikelilingi banyak matahari.


Lima kah? Tujuh kah?


Mataharinya terlihat abstrak.


Yang jelas ada empat matahari yang menonjol di empat arah mata angin.


"Seperti yang kita tahu, bintang melambangkan seorang wanita, sedang matahari melambangkan seorang pria."


Dengan amarah di pelupuk matanya, Djahan meraih lontar di tangan pemimpin upacara.


Segenap kekuatan mencoba mematahkannya.


Sayangnya lontar itu terlampau kuat.


Djahan sampai terlempar jauh jatuh ke bawah.


"Sayang...!" teriak Udelia.


Tergopoh ia menuruni tangga.


Djahan terbatuk oleh darah. Sigap Udelia menghapusi darahnya yang keluar.


"Jangan bermain- main dengan Lontar Sabda Wahyu, tuan!"


Pemimpin upacara itu menatap tajam Djahan. Di sisinya, Lontar Sabda Wahyu terbang melayang.


"Kalian sudah melihat isian wahyunya. Silakan jika Nona hendak menikah lagi. Kami akan buatkan prosedur dan dokumennya. Harap jangan main- main dengan wahyu yang turun."


Bersama para pelayannya, pria itu meninggalkan altar.

__ADS_1


"Ini pasti akal- akalan kalian kan?!" murka Udelia.


Dia tidak mau menjadi wanita murahan. Menikahi lebih dari satu pria.


Wajah ayah Udelia menggeram marah.


"Jaga ucapanmu, Nak! Ini kuil suci!"


Udelia berdecih. Dia menyuruh para pelayan Djahan di luar kuil untuk membawa tuannya yang mengerang kesakitan.


Cemas Udelia padanya. Tidak memedulikan kedua orang tuanya ikut serta.


"Kamu jangan main- main dengan Sabda Wahyu. Kami akan mempersiapkan pernikahan kalian dua pekan lagi. Semoga menantu cepat sembuh," ucap ayah Udelia ketika dokter menyatakan Djahan tidak mendapatkan penyakit serius.


Hanya terlalu terkejut dengan suatu hal, yang menyebabkannya pingsan dan belum sadarkan diri.


Udelia berdecak kesal. Belum selesai dia memarahi dokter yang dia yakini salah diagnosis, ayahnya malah melenggang pergi dengan ucapan yang memberatkan otaknya.


"Dokter, Anda yakin suami saya tidak apa- apa!? Dia muntah darah!!"


"Tubuh Tuan baik- baik saja. Muntah darah adalah hal lumrah untuknya. Nyonya tidak perlu khawatir. Saat sadar, Tuan sudah diperbolehkan pulang."


Udelia meninggalkan dokter di depan pintu.


Masuk ke kamar. Meringis melihat lemahnya Djahan di atas ranjang.


Tangannya mencoba menggenggam erat.


Tangan Djahan terus saja terlepas dari genggamannya.


Seolah tak mau disentuh olehnya.


"Kamu marah, sayang?"


Sehari semalam Djahan tak kunjung sadarkan diri.


Jawaban dokter ketika ditanyakan kondisi Djahan, selalu sama.


Udelia hanya disuruh bersabar hingga Djahan sadarkan diri.


Di balik pintu kaca, seseorang memandangi Udelia dan Djahan tanpa kata.


Membiarkan wanitanya bolak -balik melewatinya yang duduk di depan ruangan.


Membiarkan wanita itu memberikan perhatian penuh pada suaminya yang sedang sakit.


Udelia baru menyadari keberadaannya saat Djahan telah sadar dan sedang diperiksa dokter.


Wanita itu seolah mengembalikan fokusnya pada sekitar.


Menyadari pria yang dibawa Djahan masih menunggu.


Pria yang menikahinya di alam lain.


Udelia sudah pusing duluan melihatnya.


Pria ini pasti hendak menuntut!


"Semangatlah. Mahapatih bukan orang selemah itu. Dia akan kembali sehat."


Ucapan semangat Candra seketika merubah pandangan Udelia tentangnya.


Punggung Udelia yang semula tegang, kembali rileks seperti saat mendapati Djahan telah sadarkan diri.


Pria itu tidak mengatakan apa pun tentang pernikahan atau hubungan mereka.


Seharian membantunya mengurus Djahan.


Suaminya itu kembali tidak sadarkan diri setelah diberi vitamin pemulihan diri.


Bedanya kali ini dia hanya tertidur, tidak pingsan seperti saat dibawa.


"Mbak, setelah kakak ipar sadar dan sembuh. Kamu harus pisah rumah dengannya. Dua pekan lagi kamu akan menikah. Jangan dulu bercampur baur!"


Ucapan Lamont mematik amarah dalam diri Udelia.


Tangan mulusnya menampar keras wajah Lamont.

__ADS_1


Bagaimana adiknya tak punya hati!?


Bahkan jika dia atau para perempuan di dunia ini tidak mengenali seseorang perempuan, tapi perempuan itu diduakan suaminya, seluruh perempuan di dunia ini akan marah.


Bagaimana Lamont mengatakan hal sekeji itu untuk golongannya sendiri!?


Poliandri? Hah. Bahkan suami satu saja tidak ada habisnya.


Adiknya banyak berubah.


Apa Hayan telah mencuci otak adik- adiknya dan kedua orang tuanya!?


"Aku tahu Mbak akan tidak nyaman. Tapi tidak ada larangan untuk melakukan Poliandri. Kalau Poligami saja boleh, kenapa Poliandri tidak? Sebuah keberuntungan bila Mbak menikahi Kangmas Hayan," celoteh Lamont.


"Apa yang kamu maka darinya sampai berpikir begini!?" kesal Udelia.


"Aku sangat sadar, Mbak."


Lamont berekspresi setenang air.


Tidak ada lagi wajah konyol atau celotehan absurd yang biasanya terlontar dari adiknya.


Usai mengatakan hal gila dan memberikan masakan ibu mereka, Lamont pergi pulang ke rumahnya.


Udelia memijat kepalanya. Pusing.


Candra sudah sigap menata makanan buatan mertuanya di atas meja.


Seharian Udelia enggan makan. Dia juga khawatir padanya.


"Ayo makan," ucap Candra.


Dia tidak mau mengomentari perihal perseteruan adik beradik itu.


Belum.


Belum saatnya dia bersuara.


Membiarkan Udelia nyaman di sisinya.


Djahan bangun pada pagi hari.


Dia hanya terdiam memandangi Candra yang tak kunjung pergi.


"Sudah gagal, masih punya muka, kamu?" sindir Djahan.


"Tuan tahu sendiri, aku dan dia sudah bertarung dengan hebat. Lontar itu memang berisikan Sabda Wahyu dari langit," kata Candra tegas.


Udelia menggigit dinding bibirnya. Takut Djahan kembali drop karena teringat kejadian kemarin.


Mata Djahan dan Udelia saling bertemu. Binar pria itu menitahkan Udelia untuk mendekat.


Diraihnya tubuh Udelia, Djahan memeluk erat Udelia. Membaui rambutnya.


Udelia sudah tak lagi canggung terhadap bawahan Djahan.


Candra yang tak pernah berubah menjadi siluman saat sehari semalam bersamanya, membuat Udelia yakin kalau pria ini hanyalah bawahan Djahan —yang mirip dengan siluman buaya di tepi laut.


"Maaf.."


Udelia tercekat.


Tak dapat dia bayangkan bila Djahan yang diperintahkan untuk mendua.


Dia dapat membayangkan rasa sakitnya.


Tiada kata maaf mampu mengurangi rasa sakit itu.


"Bukan salahmu, sayang.." balas Djahan.


Kalau dia menjaga jarak pada Udelia karena hal ini, maka Hayan pasti akan berada di tengah- tengah mereka.


Selama Udelia hanya mencintainya, Djahan yakin, tidak akan ada pernikahan kedua.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2