![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
Udelia mengeratkan kain di dadanya, es di dalam gentong yang disiapkan Ekata mulai mencair.
Setelah mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat jantung tubuh Idaline berfungsi normal, Udelia disuruh berendam. Dia masuk ke dalam ruangan lain seorang diri.
Bahan-bahannya kebanyakan adalah rempah langka di kaki pegunungan Sela Wukir. Rempah diasap dan direbus, kemudian dimasukkan ke dalam gentong yang penuh dengan es batu dari puncak Sela Wukir.
Udelia bergidik ngeri. Dingin melingkupi ruangan, apalagi bila masuk ke dalam gentong.
"Ini beneran masuk?" tanya Udelia pada Ekata yang berjaga di ruangan lain.
Bisa saja dia sebagai perawat masuk dan membantu pasiennya. Namun melihat tubuh adik seperguruannya adalah pantangan untuknya. Dia tidak boleh menyentuhnya sekali pun Udelia terluka parah.
Maka dari itu, saat Udelia kesakitan di Wanua Mejeng, Ekata hanya bisa memberikan obat yang diubah menjadi uap dan dia tidak akan melanggar pantangan gurunya.
Tidak ada yang spesial dari alasan gurunya, selain karena sang guru jatuh hati pada sepupunya sendiri dan tak suka melihat Udelia disentuh orang lain meski hanya seujung kuku.
Fusena yang selalu meluangkan waktunya untuk berada di sisi Udelia, mendadak sibuk di waktu pernikahan pertama dan pernikahan kedua Udelia.
Tak hadir memberi berkat sehingga sempat terhembus kabar tidak mengenakan tentang hubungan murid dan guru yang rusak oleh keegoisan sang murid.
Murid Petapa Agung hanya boleh menikah dengan mereka yang mampu dan mau berkelana ke seluruh dunia. Petapa Agung dan murid-muridnya adalah milik seluruh kota. Tidak boleh menetap lama di satu titik.
"Iya. Setelah es cair, bunga-bunga putih akan muncul. Anda berendam di sana hingga terbit fajar."
Kematian terasa jelas di pelupuk mata Udelia, ketika memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam gentong. Jantungnya memompa keras agar dapat bertahan di dalam dingin.
Jika biasanya tubuh akan terbiasa setelah lama berendam. Dalam semalaman Udelia terus saja menggigil. Tiada rasa hangat terasa oleh tubuhnya.
Tubuh kaku Udelia dibawa para dayang, dipakaikan baju, kemudian didudukkan di depan Ekata. Petapa Agung itu menyalurkan energinya dari kepala Idaline.
"Tahanlah dan bawa energi ini ke jantung. Jangan biarkan menyebar ke bagian lain. Anda akan merasa nyaman setelah menyatukan seluruh energi masuk ke titik hitam," intruksi Ekata pada Udelia yang tubuhnya menyentak-nyentak kala otaknya menerima saluran energi.
Ketika dapat mengendalikan energi pemberian Ekata, Udelia merasa tubuh Idaline ringan seperti kapas. Tak butuh waktu lama bagi sepasang murid Petapa Agung untuk saling memberi dan menerima.
Hari telah kembali siang. Ekata menyatakan Udelia sembuh total dan titik hitam dalam jantungnya tak lagi berbahaya.
Ekata langsung pergi dari keraton, menolak makanan yang ditawarkan Udelia.
"Hati-hati," ucap Udelia pasrah. Dia belum memberikan apa pun namun Ekata sudah buru-buru pergi.
Sebuah portal terbuka lebar di depan Ekata. Kakak seperguruannya itu mengangguk dan masuk. Amat mudah bagi mereka berdua dan guru mereka untuk bepergian lewat portal.
__ADS_1
Para dayang yang menunggu di depan kamar dan mendengar pintu lemari terbuka, bergegas masuk untuk membantu nyonya mereka.
"Apa kalian sudah kehilangan tata krama?" tegur Udelia. Dia tak suka diganggu saat berganti pakaian.
"Ka-kami biasa melakukannya," cetus dayang diangguki kawan-kawannya.
"Haish. Ya sudah. Siapkan air mandi dan biarkan aku bersiap sendiri." Udelia juga tidak mau menyusahkan mereka. Dia ingin cepat mandi dan bebersih.
"Baik, Yang Mulia."
"Dan ... sampaikan Mahapatih untuk menemuiku. Sekarang. Di sini. Sampaikan padanya untuk menunggu di ruang tamu."
Para dayang saling melirik. Ada Maharaja yang menunggu Maharani di ruang tamu. Tapi Maharani ingin berjumpa dengan Mahapatih. Sementara Maharaja tak menghendaki Maharani untuk berjumpa siapa pun, selain orang-orang yang diizinkan Maharaja.
"Baik, Yang Mulia.. akan kami sampaikan," jawab seorang dayang.
Mereka bergegas menyiapkan mandi Sang Maharani. Tak ingin mengganggu Maharani lebih lama.
Udelia bernapas lega saat kulitnya menyentuh air panas. Dingin semalam berangsur hilang. Tak lama, karena udara dingin kembali mendera. Lebih dingin dari sebelumnya.
Udelia mengikat rambut basahnya dengan kain, ia peluk tubuhnya sendiri yang mulai kembali mendingin.
Dengan berbalutkan handuk, Udelia pergi menuju kumpulan para dayang. Udelia menerima baskom yang disodorkan padanya.
"Di mana Mahapatih?" tanya Udelia mengingat wajah dayang yang disuruhnya, justru sedang menyodorkan baskom padanya.
Tidak mungkin secepat itu bolak balik antara keraton dan kediaman Mada.
"Begitu bangun menanyakan orang lain?" sela Hayan melipir masuk di antara kumpulan para dayang.
"Hayan!" teriak Udelia sambil menutupi raganya. Pria itu sangat mesum! Masuk ke kamar wanita saat wanita sedang bersiap.
"Lanjutkan saja. Hanya ada aku," ucap enteng Hayan memberikan titah dengan menatap satu persatu dayang-dayang di kamar Udelia, tempat raga Udelia berada.
"Kamu keluarlah. Aku malu melakukannya." Udelia tidak mungkin berganti baju di depan Hayan.
"Tapi tidak malu membicarakan Mahapatih saat melakukannya?" Hayan menuangkan botol ke mulut tubuh Udelia.
"Itu kan cuma tanya," kilah Udelia. Dia mengalihkan pandangannya saat Hayan memberikan pengobatan pada tubuhnya, tubuh Udelia.
Hayan mengendik. Tentu saja memalukan membicarakan seorang pria saat wanita sedang berganti pakaian. Jika yang dipikirkan tiba-tiba muncul, apa Udelia tidak akan malu?
__ADS_1
Hayan menatap bilik kayu tempat raga Idaline sedang berganti pakaian. Wanita itu benar-benar malu di hadapannya. Tapi membiarkan Mahapatih menjejaki seluruh tubuhnya.
Mata Hayan bergerak menatap raga Udelia. Masih terbayang bercak-bercak merah dari Mahapatih di tubuh itu.
"Jadi?" seru Udelia dari balik bilik. Dia penasaran kenapa Djahan tak langsung menemuinya begitu sadar. Ada jeda waktu untuknya berobat pada Ekata. Djahan tak mungkin tidak tahu tentang kesadarannya.
"Mahapatih hilang," ujar Hayan dengan nada lemah.
"Apa?!!"
"Petapa Agung Ekata sudah mencari jejak Mahapatih selama tiga bulan ini dan tidak ada hasil. Tidak ada jejak lintas pulau. Mahapatih seperti hilang ditelan bumi ... Waktu itu terjadi guruh besar."
"Oh..."
Udelia tidak percaya dengan pendengarannya. Jadi, prasasti itu tetap saja terjadi. Padahal dia sudah mengirim dara sungut terbaik agar Djahan dapat cepat membaca pesannya dan kembali pulang.
Rupanya Djahan tetap menumpas pemberontak. Lalu hilang tanpa jejak.
Tangan gemetarnya menjatuhkan baskom di tangannya, Udelia bergegas membersihkan pecahan keramik dan asi yang tumpah.
"Kamu bisa terluka..." ucap Hayan. Dia bergegas datang ke bilik saat mendengar suara pecahan.
Hayan menarik tangan Udelia, membersihkan tangan mulus itu dari tanah yang kotor. Hayan tertegun melihat air mata berderai jatuh ke tanah.
"Tidak bisakah kamu pengertian sedikit saja!?"
Udelia enggan menampakkan tangisnya di hadapan orang lain. Udelia ingin menangis kencang.
Hayan menggendong Udelia, lalu mendudukkannya di pojok ruangan. Ia usap mata Udelia, tidak lagi berkata-kata.
Udelia memeluk Hayan. Tangisnya terdengar menyayat hati. Ada raungan tiap kali merasa tak berguna akibat gagal menahan Djahan.
Udelia mengusap wajahnya di pakaian Hayan. Punggungnya yang gemetar menjadi rileks ketika Hayan mengusapnya dan membisikkan kata-kata yang penuh dengan semangat lagi menenangkan.
"Tenanglah, sayang. Mahapatih bukan orang lemah. Dia hanya hendak menyelesaikan masalahnya. Dia pasti kembali. Dia pasti ... me. nemui mu.."
••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1