TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 050


__ADS_3

050 - AKANKAH ISTRINYA PERGI LAGI?!


Udelia terbangun dengan napas memburu.


Mimpinya amat buruk.


Dia melihat banyak mayat bergelimpangan.


Yang paling buruk ialah ketika dia melihat dua orang saling menunjukkan kerisnya.


Jantung Udelia seakan terlepas dari tempatnya.


Berteriak terus menerus agar mereka bubar, namun tiada yang mendengarkan.


"Sayang.. mimpi buruk?"


Bukan Djahan ataupun Hayan.


Dia adalah Candra yang duduk di kursi dekat dengan ranjang.


Jika bersama Djahan dan Hayan ditentukan waktunya, setiap malam menjelang Candra akan menjemput Udelia untuk menemani nya.


Meminta jatah dengan adil.


Waktu dua jam sehari, amat panjang bagi mereka.


Bukan hanya sekadar menuntaskan hasrat, beberapa kali mereka hanya mengobrol ringan.


Candra adalah suaminya yang paling mengerti tentang pekerjaannya.


Begitu membantu Udelia yang masih menggarap aplikasi permainannya yang hampir selesai.


Jika saja tubuh pria itu utuh sebagai manusia, Udelia tak segan buat memasukan dia ke dalam kantornya.


Kantor yang kini amat megah berdiri di pesisir sungai, setelah berhasil merajai aplikasi foto nasional semi internasional.


Kemudahan fiturnya, membuat perusahaan itu melejit.


Tak tanggung- tanggung, banyak brand terkenal mengajak bekerja sama dan minta dieditkan iklan papannya.


Kepala daerah setempat pun mendukung dengan mengiklankan tanpa bayaran.


Aplikasi yang digarap Udelia tidak perlu lagi banyak beriklan.


Menjadikan Udelia makin semangat.


Tapi...


baru kali ini dia terlelap di tempat Candra.


Gawat sudah.


Di daratan pasti sudah terang.


Tempat tinggal Candra adalah di bawah air. Setiap saat gelap gulita, bila tiada penerangan.


Udelia jadi cemas.


Djahan pasti mencarinya!


"Aku harus pulang," pinta Udelia.


"Tidak masalah. Tapi bisakah kamu berikan jat ahku?"


Candra menyodorkan keningnya.


Udelia merapikan anak rambut Candra. Menci um dalam kening suaminya.


Sedikit banyak ia merasa bersalah pada pria ini.


Selama hampir sembilan bulan, hanya hitungan jari dia mem uaskan dahaga pria itu.


Candra segan menyentuhnya setelah hamil.


"Terima kasih.." ucap Candra.


Dia benar- benar merasa senang.

__ADS_1


"Kalau kamu mau melakukan itu... tak masalah. Usia kandunganku sudah tua. Lebih banyak berhubungan, lebih baik.." jelas Udelia.


Meski dia merasa seperti *** ***, tapi dia harus adil pada suami- suaminya.


Tidak boleh dia berat sebelah.


Ketika kedua orang tua nya sendiri menyuruh ia memiliki dua suami.


"Aku hanya ingin kamu selalu sehat," balas Candra.


Udelia menutup matanya ketika sinar terang menyapa wajahnya.


Seketika dia berada di teras rumah.


Di tangannya terdapat bungkusan ikan segar.


Djahan membuka pintu ketika suara dering bel menggema.


Pria itu mematung, ketika dia dapati orang yang dicarinya sedang berdiri santai di depan rumah.


Dia berlari memeluk tubuh kecil itu.


"Aku mencarimu.." bisik Djahan.


"Maaf tidak izin padamu.." balas Udelia.


"Aku hanya khawatir. Kamu tidak harus meminta izin," ucap Djahan.


Udelia mengulas senyum.


Meski Candra lebih nyambung saat berbicara dengannya, Djahan tetap yang terbaik.


Pria itu selalu memikirkannya.


Sampai mampu berlapang dada dengan keputusannya menikahi pria lain.


Masih teringat dalam bayangan Udelia, berderet wanita yang menunggu Candra di depan pintu utama, tiap kali Udelia datang ke sana.


Dan Hayan, pria itu sudah enam bulan tak terlihat sejak pertemuan terkahir.


Udelia sempat menemukan Hayan sedang bersama wanita yang datang ke rumah mereka.


Tanpa komunikasi, Udelia dan Hayan terpisah.


Maka dari itu, kadang Djahan memiliki ketakutan bila Hayan merencanakan sesuatu dengan menculik Udelia atau sebagainya.


Masalahnya adalah Djahan tidak lagi dapat menggunakan kekuatan ghaib seperti Sang Maharaja.


Kalau Udelia disembunyikan dengan kekuatan ghaib, Djahan akan kesulitan mencarinya.


"Kamu akan berangkat?" tanya Djahan pada istrinya yang masih bersantai.


Jam menunjukkan pukul tujuh. Satu jam lagi kantor istrinya dimulai.


"Sudah tinggal melakukan testing terakhir. Segala bug sudah teratasi. Capaian yang diinginkan sudah dibuat. Timku bisa bersantai sejenak sebelum launching ke publik," jelas Udelia.


Semua ini berkat Candra yang sangat memahami ilmu teknologi.


Udelia berterima kasih pada suaminya itu.


Mungkin nanti malam dia akan menyiapkan kejutan yang manis, agar suaminya tidak lagi segan padanya.


Toh kehamilannya tinggal menghitung hari.


"Baik, sayang. Yang terpenting kalau sudah letih tinggal bilang pada bosmu, ya?" pinta Djahan.


Dia tidak mau kehilangan anaknya lagi.


Sebelum melakukan testing terakhir di siang hari, Udelia bersantai sejenak bersama Djahan di halaman belakang.


Menghirup aroma harum tengkuk Udelia.


Udelia terkekeh geli. Namun dia lebih merapat pada suaminya.


Aroma tubuh suaminya sangat menenangkan.


Mereka saling merangkul hingga denting jam berbunyi. Menunjukkan waktu keberangkatan Udelia.

__ADS_1


Ada yang kacau dalam hati Djahan. Sehingga dia bersikeras mengantarkan pujaan hatinya, meski segala berkas kemiliteran menunggunya selesai sore ini.


Djahan harus memastikan titik pusat rotasi hidupnya baik- baik saja.


Djahan tidak dapat membayangkan hidupnya bila kehilangan Udelia lagi.


"Mbak, gimana ini? Komputer server ngehang. Sepertinya karena tidak dimatikan sampai satu bulan lamanya," ucap seorang anak buah Udelia.


Djahan mengekori Udelia yang pergi ke ruang komputer.


Perempuan berperut besar itu sesekali mengernyitkan dahinya.


"Tenang, sayang. Ini hanya uji coba." Djahan menyemangati.


Dia mengusap bahu Udelia yang tegang.


Udelia mengulas senyum.


Amat bersyukur Djahan menemaninya di sini.


"Aku ke ruang hardware dulu. Ini hanya prosesornya yang eror. Tidak ada masalah besar," jelas Udelia.


Djahan membiarkan wanita itu pergi ke ruang hardware yang masih dalam satu ruangan sama. Terbatas sekat.


Sementara Hayan sibuk terpaku dengan berbagai batu di ruang tamu.


Dia memang satu rumah dengan Dita dan beberapa peneliti lainnya.


Kendati tak nyaman, Hayan memilih menekan pengeluarannya karena dia tahu mencari kepingan- kepingan yang hilang tidak lah mudah.


Niat hati hanya membantu menerjemahkan, Hayan menemukan pesan tersirat yang dituliskan anak cucunya kemudian.


Berita tentang pintu dimensi yang tercecer di masa ini.


Hayan berusaha mencarinya.


Bukan untuk kembali.


Justru untuk mencegah sang dewi pergi berkelana kembali ke masa lampau.


Sang Petapa Agung selalu menyiratkan perihal Udelia yang telah berkali- kali mendatangi masa lampau, membuatnya yakin bukan tak mungkin Udelia kembali pergi ke masa itu.


Lalu apakah nanti Udelia akan terjebak selamanya di sana?


Kemungkinan ini ada.


Bukankah lucu bila seandainya Udelia terjebak di sana, sementara dia mati- matian pergi ke dunia modern?


Hayan lantas menjumpai bahwa gerbang dimensi yang dimaksud ialah pasir yang diberkati.


Pasir ini bukan hanya diberkati Petapa Agung, tapi juga sebagai pijakan pertana bagi tiap jiwa yang datang ke dunia ini.


Di zaman modern, orang jarang sekali yang percaya akan hal ghaib.


Daerah yang tadinya sakral telah berubah menjadi jalanan lenggang ataupun kawasan yang padat penduduk.


Ya. Pasir itu telah berpindah.


"Kamu sedang meneliti daerah itu? Kudengar sebelum dijadikan pemukiman, perusahaan Kim Tech mengambil banyak pasir di sana. Sayang sekali pasir terbaik jatuh ke tangan asing," jelas Dita tanpa ditanya.


"Dijadikan teknologi? Bagaimana?" tanya Hayan yang masih awam akan teknologi.


"Ya. Prosesor atau bahan dasar hardware lainnya. Kandungannya sangat baik," jawab Dita.


"Komputer?"


"Ya. Komponen benda itu."


Seketika Hayan mengingat Udelia yang masih bekerja di depan laptop.


Berbulan- bulan dia tahan rindu agar semua masalah terpecahkan.


Setelah terpecahkan, Hayan merasakan kesia- siaan belaka.


Akankah istrinya pergi lagi?!


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ​ ꧉​꧉​꧉​


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2