TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 021


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


021 - SAMA SEPERTI DIRINYA


"Kamu sudah makan? Makan dulu sana. Ada promo gratisan loh di resto ini."


"Jangan tergiur gratisan terus, mbak!"


Fusena memundurkan kepala Udelia dengan jarinya. Jarak mereka terlalu dekat.


"Memang ada acara apa?"


"Launching aplikasi."


"Hanya karena launching aplikasi?"


Fusena keheranan dan Udelia pun ikut merasa heran.


"Iya ya. Apa gunanya launching aplikasi dan menggratiskan semua menu?"


Udelia mengetuk kepalanya. Berpikir dengan keras.


Restonya besar di rumah sakit besar. Kalau satu dua menu sebagai penghargaan atas jasa instalasi aplikasi resto, bukan masalah.


Tapi semuanya?


Memikirkan scam, jelas untuk apa?


Dia bahkan tidak punya mobile banking di ponselnya!


Udelia selalu takut kalap bila ada aplikasi itu. Dia tidak mau menghabiskan gaji satu bulannya hanya dalam waktu satu hari.


"Mungkin ada orang dermawan sedang merayakan sesuatu. Udah sana makan. Makanan gratis itu enak loh."


"Nyonya, tuan menunggu Anda."


Jantung Udelia mencelos kala mendengar bisikan suara berat di telinganya.


Seorang pria dengan senyum formal menyambut penglihatannya.


Udelia mengingat wajah pria itu, wajah yang sama dengan bawahan Djahan di ruangannya.


"Siapa?"


"Saya Andreas. Tuan Djahan menunggu bubur pesanannya. Beliau sangat kelaparan."


Sudah makan hidangan rumah sakit, masih lapar?


Udelia bertanya- tanya.


Tapi, orang sakit memang kadang ada yang suka laparan.


"Sena, kamu makan yang banyak supaya tak sakit. Aku antarkan bubur pada pria itu. Ingat, jangan beranjak sebelum kamu kenyang!"


Udelia melenggang pergi setelah memberikan perintah.


Dia menaiki lift didampingi Andreas.


Pria itu seperti hendak memastikan dirinya sampai pada ruang rawat Djahan.


Atau takut dia melakukan sesuatu pada bubur Djahan?


Udelia harus terbiasa diawasi seperti ini.


Setidaknya sampai dia menjauh dari pria bernama Djahan.


"Mangkuk dan sendok..."


Kalimat Udelia tergantung ketika dia merasakan angin berhembus kencang.


Andreas berlari kencang menuju bagian dapur.

__ADS_1


Udelia meneruskan langkahnya. Baru satu langkah memasuki ruangan Djahan, Andreas datang dengan dua mangkuk, dua sendok, dan dua gelas kosong.


Pria itu menata barang bawaannya di atas nakas. Udelia menyodorkan bingkisan bubur yang telah dibukanya.


Djahan menyipitkan matanya melihat keduanya begitu dekat. Dia terbatuk keras.


Sontak Udelia dan Andreas mendekat serempak.


"Tuan, ada apa?" ucap Andreas.


"Mana yang sakit?" tanya Udelia.


Djahan memberikan tatapan tajam pada Andreas yang langsung dimengerti pria itu. Mimik wajahnya berubah menyedihkan kala ditatap Udelia.


Entah bagaimana dia tiba- tiba menjadi pucat.


"Tenggorokanku sakit."


"Sudah minum obat?"


"Kan belum makan."


"Tadi bukannya makan nasi dan sayur bening dari dapur rumah sakit?!"


"Cuma sekepal nasi, cuma jadi camilan."


"Ya sudah. Coba mendongak."


Dengan telaten Udelia mengusapkan kayu putih ke leher Djahan. Dia bahkan tak malu untuk membuka kancing teratas pakaian Djahan dan mengusap- usapkan kayu putih ke dadanya.


Napas Djahan tercekat.


Batuk palsunya membuat bagian tubuh lainnya benar -benar sakit.


Andreas bergerak dengan kaku. Menuangkan bubur dan minuman, sudah diselesaikannya dari tadi. Namun dia terlalu takut untuk memulai percakapan.


Tatapan tuannya seperti hendak membunuhnya.


Udelia menengadahkan tangannya. Andreas bergegas memberikan mangkuk bubur pada Udelia dan kabur dari ruangan itu selagi tuannya tidak memperhatikan dirinya.


Udelia menyuapkan bubur pada Djahan yang bertingkah seperti bayi besar.


Belepotan.


"Anda ini anak kecil apa?! Katanya Mahapatih, makan segitu saja belepotan!"


"Kata siapa Mahapatih tidak bisa belepotan makannya? Jangan- jangan kamu juga berpikir Mahapatih itu tidak bisa melakukan proses reproduksi? Manusia suci yang tidak butuh semua itu? Coba diingat- ingat lagi, Udelia."


"Mesum!"


"Hanya padamu."


"Yakin?" kata Udelia tak yakin.


Djahan mengangguk dengan yakin.


"Di buku sejarah, Mahapatih yang Legendaris sudah berumur. Walau tidak tahu rupanya, masa iya tidak pernah mencicipi surga dunia? Tidak tertera kehidupan pribadi Mahapatih."


"Kalau begitu masukilah kehidupan pribadi Mahapatih ini. Kamu akan lihat dunia yang berbeda. Urusan negara dan urusan ranjang, sangat berbeda. Di luar dan di dalam, tidak selamanya sama."


"Kamu mau melakukan hal nista itu lagi?"


"Sebenarnya kita sangat boleh melakukan hal itu, sayang."


Djahan menghembuskan napas panjang. Meraih tangan wanita yang sedang merenggut.


Jika ingat yang mereka lakukan terakhir kali di dunia sana, Djahan sama sekali tidak menyangka penolakan Udelia sekuat ini.


"Udelia, aku tidak akan memaksamu, melakukan itu ataupun teringat. Aku hanya minta kesempatan darimu. Akan kulakukan dengan benar. Maafkan tingkahku yang lalu. Aku terlampau bahagia berjumpa denganmu."


Udelia tidak bisa menyalahkan Djahan. Dia juga ikut terlibat. Berperilaku jal*ng di depan pria itu.

__ADS_1


Udelia mengangguk. Dia memberikan kesempatan pada Djahan untuk membuktikan dirinya.


Karena dia pun, merasakan perasaan yang asing.


Setelah dia meninggalkan rasa kesal dan risihnya pada pria asing yang terus mencoba mencuri perhatiannya.


Lalu, dia perlu bertanya pada Fusena tentang namanya yang terseret oleh lidah Djahan.


Udelia merebuskan obat untuk Djahan. Pria itu tidak memakan pil dan obat kimia. Semua pengobatannya sangat sederhana dan tradisional.


Udelia sudah mampu menyeduh obat setelah kegagalan sepuluh kali.


"Hati- hati panas."


Djahan menenggak obat seolah tiada rasa pahit. Padahal Udelia sudah mencium aroma pahitnya bahkan sebelum diseduh.


Wajah Udelia menekuk ngeri. Obat tradisional lebih pahit dari pil yang diperjual belikan oleh apoteker.


Sementara itu, di lantai dasar, di resto besar rumah sakit. Fusena duduk diam memperhatikan sekitar.


Pelayan yang mendatangi meja Udelia merasa bingung karena targetnya telah berubah.


Jadi, haruskah dia memberikan pelayanan dan hidangan gratis bagi pria di meja itu?


Si pelayan menatap manajernya. Pria dengan jas mahal di tubuhnya mengangguk singkat.


Dia tidak mau menimbulkan curiga pada keluarga targetnya.


Dia telah mendengar target dipanggil 'mbak' oleh pria yang duduk diam di meja bekas targetnya.


"Silakan, tuan. Anda beruntung sekali kami sedang mengadakan promo. Gratis untuk Anda memakan apa pun selama satu pekan ke depan."


Fusena masih diam memperhatikan.


Dia sudah menebak siapa orang di belakang layar.


Uang memang memudahkan segalanya.


Dan pengaruh seorang tokoh besar dapat menundukkan orang- orang beruang.


Fusena akan menepukkan tangannya di depan Djahan atas prestasinya dalam berdiplomasi.


Hanya dalam waktu tiga sampai empat bulan, Djahan dapat mengukuhkan posisinya di kepulauan ini.


Jika masih berambisi, mungkin Djahan akan menguasai negara kurang dari satu tahun.


Tapi nampaknya tidak begitu, fokus Djahan hanya untuk Udelia.


Sama seperti dirinya.


Fusena memutuskan kontaknya dari sekitar. Dia membaca buku menu yang menyediakan makanan tradisional dan masakan yang bercampur baur.


Jari -jemari Fusena menunjuk menu- menu yang mampu menelan ludah pelayan.


Tangan pelayan itu gemetar saat menuliskannya.


Jika pelanggannya bayar, dia akan berseru senang. Tapi, ini semua gratis dari bosnya.


Apakah boleh demikian?


Lima puluh menu teratas, termahal, dan terlezat dipilih Fusena.


"Anda dapat menghabiskan semua itu? Syarat mendapatkan gratis harus dihabiskan di tempat," ucap pelayan membuat peraturan sendiri.


Dia dapat mendengar ceramah panjang manajernya, jika melihat menu yang dia tuliskan.


"Buat dua porsi. Akan kuhabiskan seratus porsi buatan kalian."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2