![TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz-2--terlempar-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ibunda.." panggil Rama kebingungan. Pria kecil itu terbangun setelah tak sadarkan diri sejak Candra mengeluarkan senjatanya.
Sengaja sang ayah menidurkan Rama, agar tidak timbul trauma akibat melihat kekejaman di masa kecil.
Candra tidak mau Rama menjadi takut padanya. Dia ingin membangun ikatan ayah dan anak seperti ayahandanya membangun ikatan dengan dirinya.
Tak ingin juga Candra, Rama melihat bengisnya Hayan yang kemungkinan akan berakhir di muara luka dan benci. Dendam tak akan habis bila kebencian tumbuh sejak masa kanak kanak.
Walau tak suka bersaingan dengan Djahan dan Hayan perihal satu wanita yang mereka cintai, Candra tak pernah berharap para penerus mereka bermusuhan akibat perasaan mereka.
Kesatuan negeri adalah salah satu prioritas yang diharapkan Candra tidak akan pernah bubar.
"Tuan muda, Anda sudah bangun–"
"JANGAN SENTUH ANAKKU!" teriak Udelia berlari masuk ke kamar yang ditempati Rama.
Wanita yang sedang menggendong bayi itu menepis tangan dayang yang hendak meraih putra sulungnya.
Bayi dalam gendongannya kaget oleh teriakan sang bunda. Bayi merah itu menangis dengan kencang.
"Owek.. Owek.."
"Cup.. cup.. sayang .. maafkan ibunda. Kaget ya sayang. Maaf ya sayang."
Udelia mengayunkan Raka yang menangis digendongannya. Kemudian dia menatap nyalang dayang yang berwajah datar. Sama sekali tidak nampak rasa bersalah pada wajahnya.
"Keluarlah! Aku ingin bersama anak-anakku," titah Udelia setengah mendesis.
Udelia menggertakkan giginya. Para dayang seperti patung, terus saja berdiri di sisi tembok, tak kunjung keluar sesuai perintahnya.
"Ibunda..?" cicit Rama memanggil sang ibunda. Teriakan Udelia membuat Rama sedikit terkejut.
"Maaf, sayang. Kamu pasti terkejut." Udelia mengusap rambut tebal Rama.
Rama memeluk tubuh ibunya. Dia memang terkejut, tapi tidak sampai takut pada sang bunda. "Sayang bunda," ucapnya.
"Ingat, sayang. Jangan memakan apa pun yang mereka berikan," pinta Udelia dengan mata memohon.
Rama mengangguk dengan patuh. "Baik, Ibunda."
Udelia tersenyum melihat kepatuhan Rama. Dia duduk di sisi ranjang sembari memijat kepalanya yang pening. Semalaman suntuk dia tidak tertidur.
Sejak terpisah dengan Candra, sama sekali Udelia tidak dapat beristirahat. Rasa khawatir terus merajai hatinya. Udelia selalu was was dengan sekitar.
Rumah tempatnya bermalam dijaga sangat ketat, mereka tidak ditinggalkan barang satu detik pun.
Bayangan-bayangan ingatan dalam benaknya pun terus berdatangan, tidak berhenti. Menambah pening kepala Udelia.
"Tahun kemarin ada dua orang yang gatal. Tahun ini masih ada saja yang berani naik ke ranjang baginda?!" Seorang wanita, dengan perhiasan penuh dari ujung kepala hingga ujung kaki, muncul di halaman tempat Udelia menginap.
Dara cantik itu menatap bengis rumah tinggal wanita baru di keraton. Sama sekali tidak dia bayangkan akan ada wanita wanita lain, yang mencoba merangkak menaiki pria bertahta.
Bertahun tahun Maharaja setia pada Maharani, tidak pernah terbayangkan kini terus berdatangan wanita wanita baru.
__ADS_1
Apa kedaton akan penuh, selayaknya raja kedua memiliki banyak selir dan gundik?
Wanita itu menggeram kesal. Membayangkannya saja sudah membuat jengkel. Apalagi sekarang sudah nampak wanita wanita baru.
"Panggil wanita itu!"
"Anda hanya pion tapi merasa sangat berkuasa, nona Samha Mihir. Lebih baik perbaiki sikap jika tidak pernah dikunjungi," cemooh dayang yang berdiri di sisinya. Dalam hatinya selalu dongkol bila melayani wanita di depannya.
"Harusnya maharani yang marah. Namun beliau diam penuh bijaksana," imbuh dayang itu dalam hati. Membayangkan wajah teduh Maharani yang hampir tak pernah marah pada siapa pun.
"Nyonya Selir, Yang Mulia Maharaja memerintahkan wanita itu tetap di dalam kamar dan tidak boleh keluar, satu langkah pun," tutur seorang dayang yang dibawa keluar oleh dayang yang diperintahkan sang selir.
Samha menatap tajam dayang yang berani bertutur dengannya. Dia beranjak masuk tanpa permisi.
"Congak sekali berkata baginda ingin terus bersamamu?!" Samha muncul di depan Udelia.
"Haaa." Udelia menghela napas. Akan begini, seperti pemikirannya.
Ribut dan ribut.
Keraton atau istana, keindahannya hanya dapat dinikmati oleh orang orang yang datang, bukan orang orang yang tinggal.
"Apa ini?" ucap Samha terkejut dengan keberadaan dua bocah di kamar itu. Jari telunjuknya bergantian menunjuk Rama dan Raka.
"Kamu selir baru? Kamu? Anak-anak ini apa?" cecar Samha tak sabar.
Dia jadi berpikir kalau tuannya kali ini membawa anak anak yang telah disembunyikan, jauh dari keraton.
"Saya tidak mengerti yang Anda bicarakan." Udelia mengeratkan pelukan Rama ke tubuhnya. Instingnya mengatakan wanita di depannya bukanlah wanita yang baik.
"Katakan! Apa yang kamu lakukan pada Baginda sampai menerima janda dua anak sepertimu?" Samha menyelidik wanita yang digadang gadang akan menjadi selir baru.
"Saya bukan janda. Suami saya adalah Candra Ekadanta," bantah Udelia menambah geram Samha.
"Kepala keluarga Ekadanta?"
"Benar, nona. Saya tidak tau masalahnya, tapi jika Anda berkenan memberi tahu lokasi penjara, saya akan berterima kasih."
Samha tidak mendengarkan penuturan Udelia. Dia tidak habis pikir dengan kenyataan yang meluncur keluar dari wanita itu.
"Kamu diperebutkan dua lelaki besar? Kamu?"
Samha menjambak konde Udelia. Memang Udelia dipaksa oleh Hayan untuk menuruti para dayang, termasuk didandani para dayang.
"Bahkan di rumah bordil tidak akan ada yang mau melirikmu!" berang Samha tak terima ada wanita yang diperebutkan orang orang besar, selain Maharani yang sempurna.
"Lepaskan!" bentak Udelia.
Tatapan berani Udelia semakin membuat Samha marah. Dia mendorong kepala Udelia hingga terbentur ke tanah. Udelia mengeratkan pelukannya pada Raka yang ada di gendongannya.
"Owek.. Owek.." tangis Raka tidak nyaman.
"Uh." Samha menggigit bibirnya, dia merasa tak enak mendengar tangisan bayi. Bagaimanapun, dia adalah seorang wanita. Dia sudah lama mengharapkan seorang anak.
__ADS_1
"Kalau ucapanmu benar. Pergilah sebelum esok hari. Atau kamu akan benar-benar menyesal,"
"Hiks..ibunda.," Rama mendekat pada Udelia yang berusaha bangun.
"Jangan menangis, sayang. Jangan menangis." Udelia memeluk Rama dengan tangan kanannya, tampak darah segar mengalir di wajahnya.
Rama menatap tajam para dayang yang hanya berdiri dan menunduk. Diusapnya darah di kening Udelia yang mulai tak sadarkan diri.
Rama berlari kecil ke luar dari kamar laknat itu, dia menangkap kaki yang sedang melangkah.
"Nda!" panggil Rama berderai air mata.
"Rama?" Hayan melirik Rama yang menarik ujung bajunya.
"Mohon jaga sopan santun Anda," tegur Huna.
Hayan mengusap wajahnya malu mendengar ucapan Huna. Anak kecil tentu belum tahu norma norma yang ada.
Huna yang merupakan orang besar, semestinya paham hal kecil ini, bukannya berperilaku demikian pada anak kecil.
"Huna, rasanya kamu harus menikah. Anak kecil belum mengerti apa yang mereka lakukan."
Wajah Huna melunak mendengar teguran tuannya. Dia mengendurkan ototnya yang siap menyerang si anak kecil.
"Nda! Hiks. Nda!" Rama menangis mengingat keadaan ibundanya.
"Pekerjaan lebih menggoda," balas Huna dengan wajah datar.
"Hiks.. hiks." Rama mengusap matanya.
"Rama ingin jalan-jalan?" tanya Hayan mensejajarkan dirinya dengan pria kecil yang telah mencuri perhatiannya sejak pertama berjumpa.
"Kan. Nda..." Dengan air mata yang berurai, suara Rama menjadi tidak jelas.
"Kanda?" tanya Hayan bingung. Sebenarnya dia nol besar di hadapan anak kecil. Dia hanya tahu anak kecil tidak boleh dibentak dan harus tersenyum supaya anak kecil tidak takut.
"Kuda kali, Yang Mulia," bisik Huna asal.
"Oh, Rama ingin melihat kuda?" kata Hayan membenarkan ucapan tangan kanannya.
"Bu.kan," ucap Rama terbata bata sambil menggeleng.
"Ibunda!" imbuh Rama menunjuk kamar tempatnya tertidur.
Hayan memperhatikan cairan merah di tangan Rama. Dia menangkap tangan kecil itu dan memperhatikannya dengan serius.
"Darah," gumam Hayan dalam hati.
••••••••••••••••••
ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉
© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]
__ADS_1