TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
026


__ADS_3

"Kak, bangunlah."


Sepasang bibir berwarna merah muda, tanpa pewarna, berbisik di depan telinga Udelia.


Gadis itu membuka matanya memindai sekitar.


Candra menyodorkan semangkuk obat. Perempuan yang ada di lengannya langsung membuka mulut.


"Pintar sekali," puji Candra.


"I..ni di mana?" Udelia tak sanggup berucap.


Berhari-hari sudah ia tersadar, namun lisannya masih kelu. Tidak mampu berkata-kata.


Netranya masih mengelilingi sekitar. Asing dengan tempat yang sedang ditinggalinya.


"Istirahatlah dengan tenang. Tidak perlu memikirkan hal lain."


Candra meninggalkan Udelia di sebuah kamar. Dia melintasi ruang tamu dengan tas yang terpasang rapi di pinggangnya.


"Kamu akan pulang, cu?" tanya Boco. Pria tua itu sedang menikmati secangkir secang.


"Iya, mbah. Beberapa hari ini aku tidak akan kembali, mohon jagalah kakak."


"Tenang saja! Akan kujaga calonmu itu!"


Meski tidak menceritakan penyebab luka di tubuh Udelia, Candra mengatakan Udelia adalah kekasihnya.


Jadi Boco merasa ikut bertanggung jawab menyembuhkan Udelia, hingga pulih kembali.


Candra menatap gubuk reyot. Berat hatinya meninggalkan Udelia di sisi sang kakek.


Kakeknya mungkin merasa bertanggung jawab. Tapi jika Udelia telah sembuh, kakeknya bisa-bisa menekannya dengan berbagai ujian.


Dari tubuh Udelia, Candra tidak merasakan kekuatan besar, seperti saat perempuan itu berada di raga Idaline.


Ujian kakeknya sangat gila. Bisa-bisa tak selamat bila tak memiliki kekuatan


Sekuat tenaga Candra memacu kudanya, agar sampai keraton tepat waktu.


***


"Anda selalu terlambat akhir-akhir ini," tegur Indra begitu Candra sampai di ruang keamanan.


"Saya datang tepat waktu," balas Candra. Di mejanya berserakan banyak kertas dan tinta. Pengetatan keamanan ibu kota kali ini melibatkan seluruh elemen.


Setelah peraturan pengetatan keamanan dicabut, Candra mesti membuat laporan yang menyebalkan.


Pria berkulit seputih susu itu lebih senang berada di lapangan.


"Benar. Padahal biasanya satu jam sebelum waktu yang ditentukan, Anda sudah menunggu dengan manis."


Indra dan Candra selalu datang jauh sebelum waktu yang dijadwalkan. Ini adalah didikan dari satu perempuan yang sama.


Lama kelamaan mereka menjadi dekat dan berbincang banyak hal, sampai masuk ke ranah pribadi.


Candra tidak menyahuti Indra. Dia sibuk membuat laporan dan memastikan isinya telah tepat, sehingga tidak perlu revisi.


"Saya permisi," kata Candra setelah membereskan meja.


Indra yang masihh bergulat dengan berkas, memberikan anggukan pada rekan seruangannya.


Candra menuju ruangan Djahan untuk memberikan laporan.


Djahan memeriksa laporan Candra dengan saksama lalu mengangguk dan menggulungnya, tanda Sang Mahapatih sudah menerima laporan Candra.


"Apa Yang Mulia Maharaja dapat ditemui?"


"Kepentinganmu apa?"


"Saya ingin mengundurkan diri."

__ADS_1


"Alasan?"


"Saya akan mewarisi gelar kepala keluarga. Saya ingin fokus pada usaha keluarga."


Saudari-saudari Candra menikah tanpa membawa aset keluarga.


Kakak tertuanya, Ekata Ekadanta yang merupakan murid pertama Petapa Agung, terus berkeliling dunia.


Pria itu bukan lagi milik Bhumi Maja, apalagi hanya setingkat keluarga Ekadanta. Ekata adalah milik semua orang. Setiap hari Ekata akan memberikan berkat di tanah yang ia pijak.


Candra memiliki satu kakak laki-laki lain, dia adalah Bayu Ekadanta, anak seorang selir.


Sejak tujuh tahun yang lalu, Bayu telah pindah dari kediaman Ekadanta. Dia merupakan salah satu pengawal bayangan Maharaja.


Bayu hanya mau menerima satu kediaman dari ayahnya. Setelah itu, dia berlepas tangan dari semua urusan keluarga.


Toko, tambang, tanah, dan lainnya, Bayu tidak mau pusing dengan semua itu.


Adalah rahasia umum, bahwa Candra digosipkan akan meneruskan keluarga Ekadanta.


"Padahal Anda menolaknya selama ini," tutur Djahan.


Candra merupakan aset terbaik. Bhumi Maja tidak kekurangan orang.


Namun Candra adalah orang asli Kerajaan Maja, kekuatannya besar, keluarganya tinggi, kecerdasannya luar biasa, dan kesetiaannya jangan ditanya.


Djahan menyayangkan orang seperti itu, bila keluar dari tubuh kepemerintahan.


"Saya sudah memikirkannya dengan seksama."


"Baiklah. Akan kusampaikan."


"Terima kasih, tuan Mahapatih."


Candra mempersiapkan diri untuk mundur dari posisinya di keraton. Mendapatkan tanda setuju dari Hayan ternyata tidak semudah dalam pikirannya.


Padahal dia sering kali mendampingi Hayan. Mereka berdua pun kadang berjumpa saat mengunjungi Maya.


Tapi ketika dia minta undur diri, Candra sama sekali tak pernah melihat batang hidung tuannya.


Usai upacara melelahkan yang berlangsung selama berhari-hari, dia mesti mempelajari seluruh rahasia keluarga.


Keluarga Ekadanta merupakan satu-satunya keluarga penyihir Bhumi Maja.


Rahasianya begitu banyak. Tidak cukup dipelajari hanya dalam semalam.


***


"Maaf, ternyata sampai dua bulan." Candra yang baru datang bergegas menghampiri Udelia.


Dia mengambil sisir dari tangan gadis itu dan menyisir rambut hitam legam yang tampak semakin panjang.


Udelia sudah bisa bergerak, namun luka di perutnya masih basah.


Bekas cambukan Candra telah hilang sepenuhnya.


Sayangnya bekas dari tusukan paku, mungkin tidak akan hilang.


"Kakak, maukah menikah denganku?" lontar Candra memperhatikan Udelia yang diam tidak membalas pernyataan maafnya.


"Candra, aku merasa sangat familiar denganmu, namun juga sangat asing ..."


"Kakak bisa mengenalku dan perlahan ingat setelah menikah."


Candra mendapati Udelia tidak ingat apa pun. Beberapa kali dia mencoba membangkitkan ingatan Udelia, perempuan itu tetap tidak ingat apa pun.


"Cu, jangan memaksanya," sela Boco yang sejak tadi dikacangi.


Kakek tua itu berada di pojok ruangan, sedang menikmati gorengan buatan Udelia.


"Tapi nak, cucuku ada benarnya. Kamu tidak bisa terus tinggal bersama mbah. Dan kalau tinggal sendirian, sangat gawat. Menikahlah saja. Cucuku ini, sampai berusia sangat tua tidak kunjung menikah, karena menunggumu."

__ADS_1


Candra bercerita pada Boco perihal kekasihnya ini, ialah alasan dirinya selalu menolak perjodohan.


Ketegasan di mata cucunya, membuat Boco percaya. Maka dia akan membantu cucunya sekuat tenaga, tanpa pemaksaan.


"Tua?" beo Udelia.


Udelia silau dengan wajah mulus Candra. Tanpa jerawat. Tanpa kantung mata.


Matanya kembali menjurus ke cermin buram di depannya. Meski samar, Udelia melihat bekas jerawat dan kantung mata yang hitam di wajahnya.


"Mbah jangan bercanda! Aku baru berusia dua puluh lima!"


"Dan orang harusnya menikah di umur dua atau tiga belas tahun, paling mentok lima belas tahun."


"Aku kan sibuk."


"Semua orang juga sibuk."


Udelia mengetuk-ngetukkan telunjuknya di meja, dahinya mengernyit, serius berpikir.


"Baiklah, Candra. Ayo menikah," putus Udelia


Dia tidak tahu tempat dituju. Ingatan-ingatan yang datang selama pemulihan, justru semakin membuatnya bingung. Suasana yang muncul saling tumpang tindih.


Selama tinggal di gubuk, Udelia sering mendapati Boco menyelamatkan orang dan memulangkan mereka setelah sembuh.


Pasien-pasien ini bercerita banyak dengan Udelia.


Kekejaman dunia di luar sana, belum tentu Udelia mampu menghadapinya.


Dia sudah menemukan orang-orang yang baik, hanya orang bodoh yang melepaskan mereka.


Terlebih, Candra senantiasa mengirim orang membawakan setiap yang dibutuhkannya. Salah satunya ketika dia datang bulan.


"Nona, saya datang membawa pembalut. Silakan, begini caranya."


"Loh? Kok tahu aku haid hari ini?"


"Tuan selalu memikirkan Anda."


"Lalu kakak berjanjilah jangan meninggalkanku," ucap Candra menyadarkan Udelia dari lamunan.


"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu." Udelia mengucap janji dengan ringan.


Asalkan pria ini setia, tentu dia tidak akan meninggalkan orang yang setia.


"Tapi Candra, aku terus kepikiran ..."


"Tanyakanlah, kak."


"Kamu dua puluh lima tahun, kenapa memanggilku kakak? Aku baru berusia dua puluh tahun."


"Kakak ingat?"


"Semua terasa menumpuk. Tapi aku yakin ingatan yang satu itu."


"Usiaku akan terus bertambah, sedangkan kakak tidak,"jelas Candra. "Kakak ingatlah janji yang telah terucap!" imbuhnya memperingati.


"Asal kamu setia."


Candra mengangguk pasti. Yang dia cintai hanyalah Udelia.


"Karena harus dipingit, kakak sehatlah selalu. Pelayan-pelayanku akan ke sini."


"Eh? Bukannya kita akan jalan-jalan hari ini?" protes Udelia.


Dia sudah mempersiapkan diri dengan mandi rempah dan bunga, menyiapkan berbagai camilan, dan menentukan tempat-tempat yang akan mereka kunjungi.


"Luka kakak bisa terbuka. Bersabarlah selama satu setengah bulan. Luka kakak akan benar-benar pulih dan kita bisa jalan-jalan setelah menikah."


"Kamu benar." Udelia memegang perutnya yang masih nyeri.

__ADS_1


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2