TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
058


__ADS_3

"Ayahanda, ikut."


Rama merengek ikut ketika dua bola matanya melihat sang ayahanda memakai perlengkapan naik gunung. Di wilayah Ekadanta, Rama sering ikut ke hutan sejak mulai berjalan. Auman harimau atau desisan ular sudah biasa didengarnya.


"Rama di sini saja jaga ibunda ya."


Terlintas dalam benak Rama kondisi ibunya yang gawat. Dia mengangguk, lalu berjalan masuk dengan wajah cemberut. Matanya membola melihat ibundanya tidak ada di kasur. Dia sudah diwanti-wanti agar sang bunda harus tetap di kasur.


"Ibun... da! Jan jalan."


Rama menarik Udelia yang berdiri dari kasurnya. Perempuan itu sedang menimang-nimang bayinya.


Udelia menunduk, menurunkan Raka ke ranjang kecil. Rama terus saja meminta dirinya untuk rebahan di kasur.


"Rama sayang, ayo tidur siang," ajak Udelia memaksakan senyumnya. Dengan menahan sakit, dia menggendong Rama ke kasur. Dia membaringkan Rama dan ikut naik ke ranjang.


Rama memeluk erat Udelia yang berbaring di sisinya. Dia rindu tidur bersama ibundanya. Dalam beberapa waktu terakhir, dia terus saja tidur sendiri.


"Anakku yang tampan tidurlah.. Malam telah larut.. Kudo'akan hidup dengan mulia.. Jadilah orang yang mengutamakan orangtua.. Jadilah ksatria yang agung.. Lindungi adikmu.. Lindungi negerimu.. Tidurlah sayangku.. Malam telah larut."


Udelia bernyanyi sambil mengipas-ngipaskan tubuh Rama.


"Nda, ini siang," koreksi Rama menatap wajah ibundanya. Mata bulat itu penuh dengan rasa protes.


"Tidurlah sayangku.. Siang telah datang..," ulang Udelia.


"Tidurlah sayangku.. Persiapkan diri menyambut hari yang panjang.. Kudo'akan hidup dengan mulia.. Semua mimpimu tercapai.. Tidurlah sayangku.. Capailah kedamaian.."


Udelia meletakkan kipasnya, jatuh tertidur bersama Rama yang sudah jauh terlelap.


"Dalam keadaan seperti ini, kamu bisa tenang. Memang maharaniku." Hayan mengusap pipi Udelia yang terlelap, kemudian menggenggam erat tangannya. Berkali-kali dia kecup punggung tangan yang memiliki bekas luka itu.


"Uhhh.. ayanda?"


Rama menggeliat ketika pelukan ibundanya terlepas. Matanya mengerjap, dia melihat siulet pria yang membelakangi sinar matahari.


Udelia membiarkan jendela terbuka agar sirkulasi udara di kamar kecil itu tidak terhambat dan tidak membuat suasana menjadi pengap.


"Kemarilah."


Dengan terkantuk-kantuk Rama menerima uluran tangan Hayan, ia memeluk leher orang yang menggendongnya dan kembali tertidur.


Tok. Tok. Tok.


Boco mengetuk pintu kamar gubuk yang ditempati Udelia. Dia baru mengolahnya di rumah yang lain yang masih dalam satu halaman. Meninggalkan sang cucu menantu dan cicit-cicitnya di gubuk yang nampak reot.


"Nak, obatmu telah jadi," ucap Boco. Di tangannya terdapat mangkuk.

__ADS_1


"Nak?" panggil Boco. "Apa sedang tidur?" gumamnya.


"Mbah? Tidak masuk saja?" Candra datang membawa ikan dan buah. Dia ingin memberikan daging rusa, tapi memburunya membutuhkan waktu.


Candra khawatir bila meninggalkan istrinya terlalu lama. Maharaja bukanlah orang yang lemah dan lemot. Pasti tidak akan lama menemukan mereka.


"Sepertinya sedang tidur." Sebagai penyihir, Boco tidak dapat bertindak dengan semena-mena.


"Baik, mbah. Aku saja," ucap Candra sambil membersihkan tangan juga buah yang dibawanya.


"Ya. Minumlah segera." Boco memberikan mangkuk di tangannya.


Candra mengangguk. Dia memasuki kamar dengan mangkuk obat dan buah. Istrinya tidak tahan bila meminum obat pahit tanpa teman yang manis.


"Istriku." Candra mengguncang tubuh Udelia. "Bangunlah. Minum obat dulu."


Udelia membuka matanya. Dia menerima mangkuk obat. Sementara Candra sibuk memotong buah belimbing kuning yang manis untuk dimakan istrinya sebagai teman obat.


Udelia duduk mengumpulkan kesadaran lalu meminum obat dalam satu kali tenggak. Dia pun menerima potongan buah belimbing yang disodorkan padanya.


"Pinter," puji Candra.


Udelia mencebik. Dia merasa seperti Rama saja, dipuji demikian. Tapi pipinya tidak bisa berbohong. Pipinya memerah karena pujian sang suami.


"Aku siapkan makanan dulu." Candra mengambil mangkuk di tangan Udelia lalu mencium kening istrinya. Dia juga mencuri kecupan di bibir yang mencebik itu. Hanya sekilas. Takut dirinya tidak dapat menahan diri.


Di dapur Candra disibukkan dengan urusan masak memasak bak ibu rumah tangga yang telah pandai mengurus masakan. Dia mengolah ikan tanpa kerepotan. Segala bumbu lengkap di dapur kakeknya dan dia dapat menggerus serta memotong dengan rapi.


Kemudian Candra mengupas dan memotong buah mangga sambil menunggu ikan matang. Dia mengulas senyum. Teringat betapa belepotannya mulut Rama saat makhluk kecil itu kali pertama makan buah mangga. Sangat bersemangat.


"Rama, mangga kesukaanmu," kata Candra selesai menata buah dalam piring. "Rama?" panggilnya kembali. Tidak biasanya putranya mengabaikan dirinya.


Candra melongokan kepala ke arah ruang depan. Berpikir kakeknya sedang bermain dengan sang cucu. Namun dia justru melihat kakeknya sedang bersantai memandangi dunia dari jendela.


"Mbah, Rama mana?" tanya Candra.


"Dia sedang tidur bersama istrimu."


Sambil membawa piring buah, Candra kembali masuk ke dalam kamar yang ditempati istrinya. "Istriku, di mana Rama?" tanyanya pada Udelia yang duduk di pinggir ranjang.


"Rama ada di.." Udelia meraba bagian kasur di sisinya. Kosong. Tidak ada sang putra.


"Rama??" Udelia terbelalak menyadari anaknya tidak ada.


Udelia terlonjak saat menyadari sang putra tidak ada di sisinya. Dia yakin, sang putra terlelap di sisinya. Putranya bukan anak yang rewel. Tidak akan bepergian jika tidak bersama dirinya atau ayahnya atau orang yang mereka berdua tunjuk.


Rama adalah anak yang patuh. Tidak mungkin berkeliaran sendirian.

__ADS_1


"Raka? Raka mana?"


"Hati-hati." Candra menangkap tubuh Udelia yang hampir terjatuh akibat buru-buru turun dari ranjang.


Udelia memegang pinggiran ranjang Raka. Dia merasa lega putra bungsunya tidak ikut menghilang. Tanpa aba-aba dia menggendong Raka dan memeluknya erat.


"Raka sayangku." Udelia berseru lega.


Raka menangis kencang. Dia terkejut karena digendong dengan tiba-tiba.


"Oek.."


"Cup.. Cup.. Sayang, maaf ibunda mengagetkan." Udelia menimang-nimang Raka agar kembali terlelap.


Candra turut lega melihat putra bungsunya ada di ranjangnya. Namun dia tetap khawatir karena tidak ada tanda-tanda kepergian Rama dari dalam rumah.


Kedua mata Candra menangkap potongan kertas di atas kasur. Dia mengambil kertas yang tergeletak di atas kasur.


Raut wajahnya mengeras ketika membaca isinya. Dia terduduk dan menyisir rambutnya dengan kasar saat membaca isi dalam secarik kertas.


Kembalilah.


"Biarkan saja," lontar Udelia.


"Apa?" Candra melotot mendengar ucapan sang istri.


"Rama sudah bersama ayah kandungnya. Biarkan saja." Wajah Udelia nampak datar.


"Istriku.."


"Aku sadar dengan ucapanku. Toh jika malam itu tidak terjadi, tidak akan ada Rama. Biarkan saja dia di sana dan kita hidup damai di tempat lain."


"Udelia..."


Candra sungguh tidak menyangka Udelia akan berkata demikian. Meskipun benar Rama lahir karena sebuah kesalahan, tidaklah pantas seorang ibu begitu dingin ketika anaknya menghilang tanpa jejak.


Dia yang tidak memiliki hubungan darah dengan Rama saja sudah begitu menyayanginya sejak makhluk itu masih berupa bayi merah tanpa daya.


Kenapa Udelia yang mengandung, membawanya, menimangnya, menyusuinya, mengurusnya dengan telaten, begitu saja membiarkan Rama dibawa oleh 'orang asing'?


Candra tidak habis pikir.


"Atau kamu ingin aku masuk ke sana?! Biarkan saja Rama bersama ayahnya, dia tidak akan mengganggu kita. Toh aku benci sekali hubungan terlarang. Sangat menjijikan. Harusnya—"


PLAK.


••••••••••••••••••

__ADS_1


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


__ADS_2