TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
AKU MENCINTAIMU 2


__ADS_3

"Djahan, kamu masih tidak terima? Kamu belum memaafkanku? Apa ada dendam di dalam hatimu?" buka Udelia setelah melewati gerbang.


Udlia tak tahan dengan ucapan Djahan perihal bayi mereka yang tak selamat.


"Aku salah bicara."


"Itulah yang ada di dalam hatimu." Udelia menggigit bibirnya. Tentu saja tidak ada orang tua yang mau kehilangan anaknya, meski anaknya belum nampak ke dunia.


"Andai tidak keguguran, anak kita sudah jadi ksatria hebat ataupun wanita jelita seperti dirimu," ucap Djahan mengelus pipi Raka yang sedang menyusu langsung pada sumbernya, tidak seperti semalam, Raka menyusu melalui dot susu yang dibuat Udelia.


"Itu kalau lahir dari rahim Idaline, aku tidaklah rupawan." Udelia merasa rendah hati. Dia sudah hafal secantik apa Udelia sang Maharani Bhumi Maja.


Di dalam raga Idaline, tiap kali berkaca, dia dapat membayangkan seberapa besar perbedaan mereka.


"Sayangku adalah wanita hebat. Jangan rendahkan dirimu, sayang. Tegakkan kepalamu dengan bangga." Djahan mengecup pelipis Udelia. Dia mencintai Udelia, bukan Idaline.


"Jika aku tidak datang merasuki Idaline, apa tetap kamu akan berkata begitu?" Udelia tersenyum pesimis.


"Tidak ada kata jika. Semua sudah terjadi dan aku sudah menambatkan hati padamu." Lagi, Djahan mengecup pelipis Udelia.


Perkataan Hayan mengganggunya. Djahan rasanya tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya. Dia terus menerus mencium pelipis Udelia, mengabaikan bocah kecil yang menatapnya garang.


"Kamu menambatkan hati padaku atau pada Idaline? Pertama berjumpa kamu menusuk hingga aku terbaring selama berbulan-bulan."


Udelia menggeser sedikit putranya hingga tampak bekas tusukan yang belum hilang.


"Kamu mencintai Idaline, bukan diriku. Bukankah setiap hari kamu selalu menatap Idaline, berharap ia kembali seperti dahulu?"


Djahan memang selalu menatap Idaline. Berkunjung ke kediaman Maharani hanya untuk menatap Idaline. Dia berahap Idaline kembali seperti dahulu dan Idaline tidak akan kembali seperti dahulu tanpa Udelia merasukinya.


Jelas dia menunggu Udelia. Bukan menunggu Idaline merubah sifatnya kembali menjadi seperti Udelia.


Djahan mengusap pipi basah Udelia. Djahan menempelkan hidungnya ke rahang Udelia lalu berbisik lembut, "Jangan menangis. Jangan menangis."


"Djahan, aku mencintaimu tapi tak pantas bersamamu. Aku akan kembali, kamu hiduplah dengan benar."


Udelia menyenderkan kepalanya ke bahu Djahan. Membiarkan pria itu memberikan kecupan.


"Aku lelah sekali."


"Beristirahatlah tapi jangan menghilang."


"Tempatku bukan di sini."


"Tuan, sudah sampai kediaman," ucap kusir yang membawa kereta kuda.


Djahan menangkup wajah Udelia. Menatap lekat manik hitam Udelia. "Sayangku, sesulit apa pun, ingat kamu masih punya aku."

__ADS_1


"Aku memanggilmu setelah mendapat siksaan dari Candra. Kamu malah menusukku," lontar Udelia bagai pisau yang mengarah ke jantung Djahan.


Setiap saat Djahan selalu menyesali masa itu. Andai waktu dapat diputar, dia akan mencari tahu terlebih dahulu alasan Maya yang pintar tidak menghukum para penculiknya..


"Maaf," sesal Djahan.


"Kamu berhak melakukannya. Aku telah menghilangkan anakmu."


"Kemarikan."


Djahan meletakkan Raka yang terlelap ke atas keranjang bayi. Lalu ia betulkan pakaian Udelia. Membalut tubuh yang menggoda itu dengan kain yang menutupi.


"Terima kasih sudah bertahan dan mau berjumpa denganku," tutur Djahan.


Air mata meluncur dari ujung mata hitam Udelia, Udelia memeluk erat kekasih hatinya.


"Djahan, aku tidak pantas jadi ibu, aku tidak pantas memiliki dan dimiliki, aku tidak pantas atas apa pun. Aku tidak mempunyai keahlian, kecantikan, kekayaan, status, atau sekedar sifat yang bagus. Aku sungguh tak pantas."


Udelia tidak merasa pantas untuk menjadi seorang ibu. Apalagi anak berlatar keluarga terbaik, dengan kecerdasan dan prestasi luar biasa. Udelia merasa tak pantas. Dia merasa belum pantas menyandang gelar ibu. Ilmunya masih jauh dari kata cukup.


"Sst sayangku, sayangku." Djahan menempelkan jari telunjuk di bibir Udelia agar wanita itu tidak mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya sendiri.


"Djahan jangan bohongi dirimu. Kamu juga merasa kan?" lirih Udelia.


Djahan mengambil kembali bayi yang terlelap di dalam keranjang. Meletakkan Raka di gendongan Udelia, lalu dia dorong tangan Udelia hingga suara napas Raka terdengar jelas di telinga Udelia. Memberikan kedamaian melalui napas teratur Raka.


Djahan menuntun Udelia keluar dari kereta. Djahan menggendong Udelia yang sedang menggendong Raka, hingga ketiganya masuk ke kamar.


Kamar yang telah lama tidak ditempati Djahan. Kamar yang telah lama ditinggalkan Udelia.


Djahan menadahkan tangannya meminta Raka. Udelia memberikan dengan hati-hati, kemudian Djahan menaruh Raka ke ranjang kecil yang sudah dipersiapkannya.


Usai memastikan si kecil aman sentosa, Djahan mendekati Udelia dan menggenggam tangan wanita yang sedang duduk di atas ranjang itu.


"Udelia, aku mencintaimu. Sejak pertama berjumpa, juga di hari pernikahan, dan sekarang, cinta itu terus tumbuh."


Udelia meraskaan genggaman tangan Djahan mengetat di tangannya.


"Maafkan kesalahanku dan terima kasih telah datang. Hidupku jadi berwarna setelah kedatanganmu dan kembali dingin ketika engkau menghilang."


Suara Djahan terdengar gemetar.


"Aku tidak bisa memaksamu untuk tinggal, tapi ingatlah ada yang selalu mencintaimu dan menunggumu."


Udelia mengalihkan pandangannya dari tatapan Djahan. Dia tidak mau melihat wajah kesakitan itu.


Udelia benar-benar tidak dapat tinggal lebih lama. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk pulang ke dunia modern, untuk kembali ke dunia ini dengan jalan yang mudah.

__ADS_1


Negosiasi akan dia lakukan dengan Boyo. Jika negosiasi gagal, mungkin dia sendiri yang akan menjadi pemegang kunci dimensi.


"Aku akan terus menunggumu, ini bukanlah sumpah ataupun janji, hanya sebuah perkataan dari hati terdalam. Terima kasih telah datang. Aku mencintaimu, istriku."


"Apa aku pantas dicintai?"


"Bahkan jika dirimu meragukan diri sendiri, aku tetap mencintaimu."


Udelia memajamkan matanya. Perkataan Djahan membuat sebuah batu besar terangkat dari dadanya.


Prianya mencintainya. Pria yang dicintainya mencintainya.


"Aku juga," gumam Udelia mencoba menangkap wajah Djahan yang semakin samar.


"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu," ulang Djahan meraih tangan Udelia dan meletakkannya di wajahnya.


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉


© Al-Fa4 | TIKZ 2 [ Terlempar Ke Zaman Keemasan ]


TERIMA KASIH SUDAH SETIA MEMBACA HINGGA BAB INI


SEHAT SELALU SEMUANYA . CIUM JAUH DARI WANITA PEMILIK HATI YANG BIMBANG BANGET SANGAT.


UNTUK INFORMASI DAN LAINNYA HUBUNGI AUTHOR DI ...


F B : leelunaaalfa4 (lee lunaa alfa4) || I G : alsetripfa4


... Untuk season 1 ada di profil author.


Judul: TIKZ [Berpindah ke Zaman Keemasan] SUDAH END


Author: Al-Fa4


... Untuk season 2 sampai pada bab delapan puluh empat atau judulnya = MEREKA BERTARUNG DENGAN HEBAT


Judul: TIKZ 2 [Terlempar ke Zaman Keemasan] SUDAH END


Author: Al-Fa4


... Akan dilanjut menjadi season 3 pada season 2 kali ini


Judul: TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


Author: Al-Fa4

__ADS_1


__ADS_2