TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]

TIKZ 2 [Terlempar Ke Zaman Keemasan]
S3 - 007


__ADS_3

TIKZ 3 [Bertemu dengan Dirimu]


007 - WITING TRESNO JALARAN SOKO KULINO


"Ada tamu?" tanya pemimpin tempat Udelia bekerja.


"Iya, bos. Tamunya Emi. Bungkus saja buat dia," jawab Doni mewakili Udelia yang berdiri di sampingnya.


Sang bos mengangguk. Sama sekali tidak keberatan, salah satu karyawannya tinggal untuk menemui tamu.


Kecuali Emi, mereka semua pergi dari gedung itu. Ditraktir makan besar oleh bos, atas kerja keras mereka selama satu pekan.


Walau sederhana, mereka sangat senang untuk menyantap hidangan bersama- sama. Di kantor, tidak ada ruang besar untuk duduk dan makan bersama.


Tidak mengherankan banyak orang asing lalu lalang di gedung kantor, tempat mereka bekerja. Sang bos hanya menyewa empat lantai untuk keperluan wirausahanya.


Kantor mereka masih menyewa.


Membangun gedung di kota tidaklah mudah, sementara hasil dari aplikasi buatan mereka belum nampak, selain untuk gaji dan sewa gedung.


Kepulan asap dari jejeran mangkuk di tengah- tengah meja, menggelitik hidung tiap orang yang duduk berkeliling. Mereka menelan liur dengan susah payah.


Saat perut salah seorang berbunyi keras, yang lain tertawa kecil. Mereka saling melempar candaan layaknya keluarga yang berbahagia.


Udelia dan rekan- rekannya menahan diri untuk tidak memulai makan, sebab yang punya hajat sedang asyik menelepon di luar gedung.


Baru saja muncul dalam pikiran Udelia, bosnya mendekat ke meja mereka sambil mengantongi ponselnya.


"Maaf. Maaf. Teleponnya lama. Udelia, ayo kembali ke kantor," ajak bos pada Udelia.


"Saya?" tanya Udelia dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kalian silakan nikmati baksonya! Kalau ada yang nambah ambil aja, ok?"


"OK!"


Udelia menahan diri untuk tidak menangis. Bakso menggiurkan, dia tinggalkan di belakang.


Perutnya keroncongan. Hidungnya terus mendamba aroma kenikmatan di atas meja.


Udelia tak bisa menutupi ekspresinya. Dia merenggut. Masuk ke dalam mobil dengan sedikit menghentakkan pintu mobil kantor.


Kesal.


Dari pagi belum makan karena enggan. Siang ini mau makan, disuruh menemani bos pulang ke kantor sebelum waktunya.


Dia sudah mengerjakan penelitian dan desain aplikasi, apa masih harus menemani bos menemui seseorang?


Sang bos yang duduk di sebelah Udelia, tersenyum kecil.


Walau Udelia mencoba berekspresi dengan datar, kesal yang terpancar pada wajahnya tetap dikenali sang bos.


"Tenang. Sudah kubungkuskan!"


Ekspresi Udelia mendadak ceria. Matanya secerah langit pada hari itu. Dia menerima bungkusan yang disodorkan bos, tanpa rasa sungkan.


"Bos baik sekali," puji Udelia dengan cengar- cengir.


"Kalau tidak, nanti akan ada yang marah-marah," sindir bos pada anak buahnya yang sudah dia anggap sebagai teman sendiri.


Wajah Udelia memerah malu. Sepanjang jalan dia membuang muka.


Ketika mobil telah terparkir, Udelia bergegas keluar dari mobil. Dia menunggu sang bos di pintu lift.

__ADS_1


Udelia berdiri beberapa meter di samping pemimpinnya itu.


"Saya Tresno datang menemui Pak Muda," ucap bos di depan pintu yang terbuka.


Pria itu terlihat sungkan untuk masuk ke dalam. Udelia berdiri dengan tegang. Pak Muda adalah pemilik perusahaan.


Pak Muda tidak selalu berada di tempat, karena perusahaan software hanyalah satu dari puluhan bisnis yang digelutinya.


Tahu begini, Udelia tidak akan benar- benar mau mengikuti bosnya!


Pak Muda bukan orang yang mudah. Walau akrab, kritik dan ketatnya tidak pandang bulu. Seperti menghadapi robot yang sudah terprogram, hasil kerja mereka haruslah sempurna sesuai bayangannya.


"Masuk saja Pak Tresno," sahut Pak Muda.


"Mampus aku. Pak Muda kan suka bu Emi," batin Udelia kala netranya melihat Emi dan Djahan ada di dalam.


Lupa. Bos besarnya suka pada temannya yang elegan dan anggun itu, Emi Widjadja.


"Nona Udelia, kita berjumpa lagi."


Seorang wanita dari sisi yang tak terlihat pandangan, keluar dengan wajah tersenyum. Lili berdiri, menyambut Udelia.


"Lia, mereka ini tamumu. Silakan gunakan ruangan dengan nyaman,"kata Pak Muda.


"Baik bapak." Udelia tersenyum canggung pada Muda.


Jika Pak Muda yang berbicara, maka tamu- tamu itu adalah tamu yang bersangkut paut dengan pekerjaan.


Dan Udelia dituntut untuk sempurna dalam mengerjakan proyek ini!


Membayangkannya saja sudah melelahkan.


"Ayo nona!" ajak Lili menuntun ke tempat duduk, usai Pak Muda dan Tresno meninggalkan ruangan.


"Museum budaya kami semakin besar, sudah saatnya menggunakan teknologi untuk membantu para tamu dan para pekerja kami."


Udelia menarik dua ujung bibirnya. Tersenyum dengan profesional.


"Anda datang ke tempat yang tepat!" kata Udelia.


Dada Djahan berdegub kencang. Rasanya sudah beribu- ribu tahun tak melihat senyuman itu.


Wajah Udelia. Senyuman Udelia. Bahkan hal yang lebih, Djahan rindukan.


Ingin sekali dia merengkuhnya sekarang.


Namun matanya memandang dia dengan asing. Dia tak mau menjadi pria bejat dalam sejarah hidup wanita pujaannya, seorang wanita yang sudah bersumpah bersama dengan dirinya di dalam ritual bernama pernikahan.


Fusena membanting gelas, mengundang suara keras yang membahana.


Dia sangat tahu yang terjadi di atas gedung tinggi, yang terletak di depan kafenya.


Tidak perlu CCTV. Tidak perlu mata- mata. Dia tahu semuanya.


Dia selalu lepas kendali bila itu menyangkut Udelia.


Fusena amat kesal dengan kedekatan Djahan dan Udelia. Mereka berada dalam satu ruangan sudah membuatnya sesak.


Tatapan Djahan pada Udelia, membuatnya amat kesal.


Bila itu orang lain, Fusena tidak akan mengkhawatirkannya.


Dua puluh enam tahun lebih, Udelia tidak tertarik pada mereka.

__ADS_1


Hanya fokus mengembangkan bakat yang dimilikinya.


"Tuan, hati- hati!" pekik pelayan kafe. Pecahan gelas terlalu banyak berserakan di lantai.


Fusena menarik napas. Menenangkan dirinya. Beruntung dia telah memasang tembok yang kedap suara di sekitarnya.


Tidak ada yang mendengar suara lemparan gelasnya.


Sang karyawan masuk untuk mengingatkan tentang makan bersama nona pegawai di seberang kafe. Melihat pecahan gelas berceceran, dia mengingatkan tuannya.


"Kamu keluarlah."


"Akan saya bersihkan, tuan! Dan tuan, janji makan siang setiap Rabu dengan nona..."


"Kubilang ke. lu. ar!"


Wajah Fusena bersungut- sungut. Hatinya memanas. Kepalanya bagai muncul tanduk setan.


Kendatipun senyuman Udelia hanyalah senyuman formal. Fusena tetap tidak rela.


Djahan pasti menganggap senyuman Udelia adalah senyuman yang manis.


"Tidak akan kubiarkan kamu mencuri kesempatan!" desis Fusena.


Wajah ceria Djahan mendadak berubah. Fusena adalah sosok yang ingin sekali dia hindari dari permusuhan.


Sedari tinggal di alam sana, Djahan sudah mencium bau- bau tak sedap dari perhatian Fusena terhadap Udelia.


Hanya saja, sepertinya pria itu menahan diri karena statusnya sebagai Petapa Agung.


Orang agung yang tidak memiliki keterikatan khusus dengan seseorang, terlebih seorang wanita.


"Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Udelia. Semua orang di ruangan itu hanya terdiam.


Udelia gemas dengan pekerjaan yang belum selesai. Terutama pekerjaan kali ini sudah mendapat arahan dari Pak Muda.


Udelia akan kehilangan pekerjaannya andaikata sekali lagi mengecewakan.


Absennya sudah banyak. Pekerjaan penting ini harus diselesaikan.


"Kamu tidak perlu khawatir. Detailnya akan aku kirimkan. Aku juga termasuk anggota di sana," jelas Emi.


Udelia langsung memahami maksud perkataan Emi. Berkas- berkas penting untuk bahan pembuatan aplikasi, sudah dipersiapkan Emi yang mana termasuk anggota museum budaya dan mengenal seluk beluk tentang museum budaya.


"Pantas," batin Udelia melirik Djahan.


Pria itu jatuh cinta pada Emi. Pasti karena terbiasa bersama. Cinta karena terbiasa.


Witing Tresno Jalaran Soko Kulino.


"Senang mendengarnya. Kalau begitu, apa ada hal lain?" tanya Udelia. Biasanya orang menginginkan sebuah model.


"Benar. Tuan kami ingin berbincang dengan ka ... ehm Anda nona."


Emi menunjuk Djahan dengan jempolnya sambil sedikit membungkukan badan.


Udelia merasa aneh. Gerakan Emi terlalu berlebihan. Namun yang paling penting ialah dia tahu lebih dahulu, dengan jelas apa- apa yang diinginkan kliennya.


"Silakan.."


••• ••• ••• ••• ••• ••• ••• •••


ꦧꦺꦂꦱꦩ꧀ꦧꦸꦁ ꧉꧉꧉

__ADS_1


© Al-Fa4 | TIKZ 3 [ Bertemu dengan Dirimu ]


__ADS_2